NovelToon NovelToon
STREET FIGHTER

STREET FIGHTER

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang pria yang jago berkelahi dan memulai petualangannya di sebuah kota dan bertemu cinta sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 8

Malam itu, Pelabuhan Tanjung Priok tidak tidur. Kabar tentang rencana penggusuran lahan "Sekolah Cahaya Bahari" menyebar lebih cepat daripada tetesan oli di permukaan air laut. Andi tidak pergi ke markas preman atau gudang senjata. Ia pergi ke kedai-kedai kopi pinggiran, ke kolong jembatan tempat para buruh bongkar muat beristirahat, dan ke bengkel-bengkel kecil tempat Rian biasa berkumpul.

Ia tidak membawa kepalan tangan. Ia membawa buku catatan teknik peninggalan ayahnya dan kunci gudang literasi itu.

"Ini bukan tentang tanah," ucap Andi di depan puluhan buruh yang wajahnya legam terpapar garam laut. "Ini tentang apakah anak-anak kalian akan tetap memanggul beras seumur hidup mereka, atau suatu saat nanti mereka yang akan merancang kapal yang kalian bongkar."

Pagi harinya, saat fajar baru saja menyembul di cakrawala utara Jakarta, tiga ekskavator raksasa dan dua bus berisi pria-pria berbadan tegap dengan seragam hitam tanpa identitas tiba di lokasi lahan. Mereka membawa surat perintah palsu dan wajah yang penuh ancaman.

Namun, langkah mereka terhenti.

Di depan gerbang lahan yang masih berupa semak belukar dan reruntuhan pondasi tua, tidak ada barikade polisi. Yang ada hanyalah barisan manusia. Ratusan buruh pelabuhan berdiri diam, lengan mereka saling bertautan. Di barisan paling depan, Andi berdiri berdampingan dengan Rian. Andin berada sedikit di belakang, memegang tumpukan dokumen hukum asli yang sudah dilegalisir semalam oleh Elena.

"Minggir!" teriak mandor penggusuran dari atas jip. "Tanah ini milik sengketa! Kami punya perintah untuk meratakannya!"

Andi melangkah maju satu tindak. Ia tidak berteriak. Suaranya tenang, namun memiliki resonansi yang membuat bulu kuduk berdiri. "Perintah siapa? Jika kau menghancurkan satu inci saja dari tanah ini, kau tidak hanya berhadapan dengan hukum, kau berhadapan dengan sejarah yang mencoba bangkit kembali."

Salah satu pria berseragam hitam mencoba memprovokasi dengan mendorong pundak Andi. Rian nyaris meledak, namun Andi menahan lengan anak itu. Andi menatap mata pria tersebut—sebuah tatapan kosong yang dulu pernah membuatnya ditakuti sebagai Sang Cobra. Pria itu seketika surut, merasakan aura predator yang sedang tertidur namun sangat terjaga.

Tiba-tiba, dari arah belakang kerumunan buruh, muncul beberapa mobil stasiun televisi nasional. Elena keluar dari salah satu mobil, memegang mikrofon dengan logo kantor berita terkemuka.

"Siaran langsung dalam tiga, dua, satu..." bisik Elena sambil memberi kode pada juru kamera.

"Selamat pagi pemirsa," suara Elena menggema, tajam dan berwibawa. "Kami melaporkan langsung dari lahan Yayasan Sulistyo. Di sini, kita melihat upaya pembersihan paksa atas aset yang secara hukum telah dikembalikan kepada ahli waris korban pembunuhan PT. Delta. Di tengah pengawasan publik yang sangat masif, sepertinya sisa-sisa kekuatan korporasi lama masih mencoba menggunakan cara-cara premanisme."

Melihat kamera dan kerumunan buruh yang semakin solid, nyali sang mandor ciut. Para pria berseragam hitam itu mulai saling lirik. Mereka dibayar untuk mengintimidasi orang lemah, bukan untuk menjadi musuh publik di televisi nasional.

"Tarik mundur!" teriak mandor itu dengan kesal. "Kita urus ini di kantor!"

Saat alat berat itu menderu menjauh, sorak-sorai pecah di pelabuhan. Rian bernapas lega, tangannya yang gemetar perlahan rileks. Ia menatap Andi dengan penuh kekaguman.

"Kita menang tanpa memukul, Bang?" tanya Rian hampir tidak percaya.

Andi menepuk pundak Rian, lalu menoleh ke arah Andin yang tersenyum lega sambil mendekap map dokumen itu. "Itu karena kita punya sesuatu yang tidak mereka punya, Rian. Kita punya kebenaran yang didukung oleh orang banyak."

Satu jam kemudian, di tengah lahan yang masih berdebu itu, Andi mengambil sebuah cangkul tua. Ia menggali lubang pertama, bukan untuk mengubur rahasia, melainkan untuk menanam tiang pertama sekolah mereka.

Namun, di tengah keriuhan itu, Andi melihat sebuah mobil sedan hitam terparkir jauh di seberang jalan. Kacanya gelap, tidak bergerak. Andi tahu, meski naga lama sudah tumbang, sisiknya masih tersebar di mana-mana. Ia tahu perjuangan menjaga sekolah ini akan panjang, tapi setidaknya sekarang, ia tidak lagi berjuang sendirian di kegelapan.

Sedan hitam itu perlahan meluncur pergi, meninggalkan kepulan asap tipis yang segera hilang ditelan angin laut. Andi tidak melepaskan pandangannya sampai kendaraan itu benar-benar lenyap di tikungan gudang logistik.

"Bang?" Rian menyenggol lengan Andi, membuyarkan lamunannya. "Lihat, Pak RT dan warga sudah membawa tumpeng. Mereka bilang, hari ini harus ada perayaan kecil."

Andi memaksakan senyum, mencoba menyembunyikan kewaspadaannya. "Ya, pergilah bantu mereka, Rian. Pastikan semua buruh yang tadi ikut berjaga dapat bagian."

Saat Rian berlari menjauh, Elena mendekat. Ia melipat catatan kecilnya dan memasukkan ponsel ke dalam saku blazer. Wajahnya yang biasanya ceria saat mendapatkan berita besar, kini tampak tegang.

"Kau melihatnya juga, kan?" bisik Elena tanpa menoleh ke arah Andi.

"Kaca gelap, mesin V8, plat nomor yang tidak terdaftar di pangkalan data umum," jawab Andi datar. "Bukan gaya preman pelabuhan. Itu gaya orang-orang yang terbiasa duduk di ruangan ber-AC sambil memutuskan hidup orang lain."

Elena mengangguk pelan. "Aku sempat memotretnya tadi sebelum mereka bergerak. Aku punya teman di intelijen perbankan. Jika itu mobil sewaan atas nama perusahaan cangkang, aku akan menemukannya. Tapi Andi... kau harus hati-hati. PT. Delta mungkin sedang sekarat, tapi raksasa yang terluka justru paling berbahaya."

Andin datang membawa segelas air mineral untuk Elena. Ia melihat raut wajah keduanya dan segera memahami ada yang tidak beres. "Apa ini belum benar-benar berakhir?"

Andi menarik napas panjang, menatap pondasi tua yang kini mulai dibersihkan oleh para buruh secara gotong royong. "Dunia tidak akan membiarkan sesuatu yang baik tumbuh begitu saja tanpa ujian, Ndin. Tapi kita sudah punya benteng sekarang. Rakyat di sini adalah benteng kita."

Tiba-tiba, ponsel Elena bergetar. Ia mengangkatnya, mendengarkan sejenak, lalu wajahnya berubah pucat. "Apa? Kau yakin?"

Ia mematikan sambungan telepon dan menatap Andi dengan tatapan yang sulit diartikan. "Itu dari kantorku. Dewan redaksi baru saja menelepon. Mereka memerintahkan untuk menarik berita siaran langsung tadi dari semua platform media sosial dan melarang penayangan ulang di berita malam."

"Alasannya?" tanya Andin tidak percaya.

"Masalah administrasi teknis, katanya. Tapi kita tahu apa artinya itu," Elena mengepalkan tangan. "Seseorang yang lebih besar dari PT. Delta baru saja menekan tombol 'bungkam'."

Andi terdiam. Ia melihat ke arah Rian yang sedang tertawa bersama para buruh, sejenak melupakan beban berat di pundaknya. Ia menyadari bahwa kemenangan pagi ini hanyalah sebuah ilusi kecil dalam permainan yang jauh lebih besar.

Namun, alih-alih merasa takut, Andi merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dalam dirinya: ketenangan seorang pemburu. Ia tidak lagi mengejar kebenaran untuk dirinya sendiri, melainkan untuk melindungi tawa Rian dan harapan para buruh itu.

"Andin," panggil Andi pelan.

"Ya?"

"Besok, kita tetap mulai membangun. Jangan kurangi satu sak semen pun. Jika mereka ingin membungkam berita, biarkan mereka. Kita akan membangun sekolah ini sedemikian rupa sehingga ia menjadi terlalu besar untuk disembunyikan di balik layar televisi."

Andi lalu menoleh ke Elena. "Teruslah menggali, El. Jika mereka menutup pintu media utama, gunakan setiap celah yang ada. Aku akan menjaga garis depan di sini."

Malam pun jatuh di pelabuhan. Di bawah cahaya lampu kerja yang dipasang darurat, Andi berdiri di tengah lahan, sendirian. Ia mengeluarkan sepasang knuckle kuningan dari sakunya, menimbangnya sejenak di telapak tangan, lalu dengan gerakan tegas, ia melempar senjata itu jauh ke tengah laut.

Ia tidak akan butuh itu lagi. Kali ini, jika mereka datang, ia akan menyambut mereka dengan sesuatu yang lebih mematikan daripada pukulan: sebuah struktur yang sah, dukungan rakyat yang nyata, dan nama ayahnya yang kini bersinar di atas gerbang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!