"Ayah, katakan sekali lagi bahwa ini hanya lelucon April Mop yang terlambat," suara Aletta rendah, namun penuh penekanan.
Di belakangnya, Surya Maheswari, pria yang telah membangun dinasti ini dari nol, tampak hancur. Pria itu duduk di sofa kulit dengan bahu yang merosot dalam. Laporan audit yang tersebar di atas meja menunjukkan angka-angka merah yang mengerikan. Defisit yang diciptakan oleh pengkhianatan direktur keuangan mereka telah membawa Maheswari Group ke jurang kebangkrutan dalam waktu satu malam.
"Dia satu-satunya yang memiliki likuiditas sebesar itu, Al," bisik Surya parau. "Bank sudah menutup pintu. Investor lain melarikan diri seperti tikus dari kapal yang tenggelam. Hanya Dirgantara Corp yang menawarkan bantuan."
Aletta berbalik dengan gerakan anggun namun tajam. "Dirgantara? Arkananta Dirgantara? Pria yang menghancurkan tender kita di Singapura? Pria yang selama lima tahun terakhir ini menjadi mimpi buruk bagi setiap ekspansi bisnis kita? Ayah, dia bukan penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEPIT BEBEK DAN DETAK JANTUNG YANG BERPACU
Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit daripada lift yang mogok kemarin. Ny. Saraswati berdiri dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja menjatuhkan vonis mati. Di tangannya, sebuah pemantik kecil dengan lampu LED merah yang berkedip terhubung secara nirkabel ke peledak yang ternyata sudah tertanam di bawah meja kerja jati kebanggaan Arkan.
"Ibu... apa maksud semua ini?" suara Arkan rendah, bergetar antara amarah dan luka yang mendalam. Ia masih menekan tubuh Radit di lantai, namun matanya terkunci pada wanita yang melahirkannya.
Saraswati tersenyum tipis, tipe senyum yang tidak mencapai matanya. "Arkan, kau terlalu lembek. Kau membuang waktu sepuluh tahun hanya untuk mengawasi gadis ini dari jauh. Dirgantara Corp butuh dominasi total, bukan drama pernikahan kontrak yang konyol. Jika Maheswari hancur malam ini, dan kau selamat sebagai pahlawan yang 'gagal' menyelamatkan istrimu, seluruh aset mereka akan jatuh ke tangan kita tanpa sisa."
Aletta merasakan lututnya lemas. Jadi, ia bukan hanya alat balas dendam Arkan, tapi juga target eliminasi ibu mertuanya sendiri?
"Tapi aku mencintainya, Ibu!" teriak Arkan, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Pengakuan itu keluar begitu saja, jujur dan maskulin, membuat jantung Aletta mencelos.
"Cinta adalah liabilitas, Arkan. Ayahmu mati karena cinta, dan aku tidak akan membiarkanmu mengikuti jejak bodohnya," balas Saraswati dingin.
Di tengah ketegangan yang bisa meledakkan saraf siapa pun, Aletta melakukan sesuatu yang sangat... Aletta. Ia perlahan merangkak kembali ke bawah meja kerja Arkan.
"Aletta! Apa yang kau lakukan?! Keluar dari sana!" seru Arkan panik.
"Diamlah, Mas Arkan! Aku sedang mencari 'bug' di sistem ini!" suara Aletta terdengar teredam dari kolong meja.
Saraswati tertawa mengejek. "Kau pikir kau bisa menjinakkan bom militer dengan otak IT-mu yang hanya tahu cara meretas website, Nona Kecil?"
Aletta tidak menjawab. Di bawah meja, ia melihat kotak hitam kecil dengan kabel-kabel yang sangat rapi. Ia merogoh tas kura-kuranya, namun ia menyadari tang potongnya tertinggal di dapur saat ia memasang jebakan kaleng soda tadi pagi.
"Sial... aku butuh sesuatu yang tajam dan kuat," gumam Aletta. Ia meraba rambutnya, lalu matanya berbinar. Ia mencabut jepit rambut bebek kuning miliknya yang terbuat dari baja tahan karat dengan ujung yang cukup runcing.
"Mas Arkan! Alihkan perhatian Ibu! Aku butuh tiga puluh detik!" teriak Aletta.
Arkan, yang sudah mengenal istrinya lebih baik dari siapa pun, langsung berdiri. Ia melepaskan Radit dan melangkah mendekati ibunya. "Ibu, lihat aku. Jika kau menekan tombol itu, kau tidak hanya membunuh Aletta. Kau membunuh anakmu sendiri. Karena aku tidak akan beranjak dari ruangan ini tanpa dia."
Saraswati ragu sejenak. Ibu jari tangannya gemetar di atas tombol merah. "Jangan mengujiku, Arkan."
Sementara itu, di bawah meja, jemari Aletta bergerak lincah. Ia menggunakan ujung jepit bebeknya untuk mencongkel penutup sirkuit. Ia melihat kabel berwarna biru dan merah. Klasik, tapi mematikan.
"Merah untuk ledakan, biru untuk pemicu... atau sebaliknya? Mas Arkan! Kalau kau harus memilih antara kaktus dan alpaka, kau pilih mana?!" tanya Aletta tiba-tiba dengan nada tinggi.
Arkan mengernyit bingung di tengah konfrontasi mautnya. "Apa?! Al, ini bukan waktunya kuis!"
"JAWAB SAJA!"
"Kaktus! Karena kaktus punya duri untuk melindungimu!" jawab Arkan asal.
"Oke, hijau itu kaktus, merah itu alpaka yang meludah. Aku pilih hijau!" Aletta dengan nekat menusuk kabel berwarna hijau (yang ia asumsikan sebagai jalur komunikasi data) menggunakan jepit bebeknya, lalu memutarnya hingga putus.
Pip.
Lampu merah di tangan Saraswati mendadak mati. Alat itu tidak lagi berfungsi.
Aletta keluar dari bawah meja dengan rambut berantakan dan jepit bebek yang kini bengkok. "Sistemnya sudah crash, Nyonya Ratu. Maaf, tapi bebekku lebih kuat dari teknologimu."
Tepat saat itu, pintu ruangan kembali terbuka. Surya Maheswari masuk bersama tim kepolisian dari unit khusus. Ia langsung memeluk Aletta erat-erat.
"Ayah...?"
"Maafkan Ayah, Al. Ayah pura-pura bekerja sama dengan mereka agar bisa mendapatkan bukti pengkhianatan Saraswati. Ayah tidak pernah bermaksud menyakitimu," bisik Surya dengan penyesalan yang mendalam.
Polisi segera mengamankan Ny. Saraswati dan Radit Verhoeven. Sebelum dibawa pergi, Saraswati menatap Arkan dengan tatapan yang sulit diartikan. Arkan hanya berdiri mematung, wajahnya menunjukkan luka seorang pria yang baru saja kehilangan sosok ibu, namun mendapatkan kembali hidupnya.
Satu jam kemudian, rumah itu kembali sunyi. Garis polisi sudah terpasang di beberapa bagian, namun ruang kerja Arkan tetap menjadi tempat paling tenang.
Arkan duduk di lantai, bersandar pada kaki meja yang tadi hampir meledakkannya. Aletta duduk di depannya, sibuk mengobati luka gores di tangan Arkan akibat pergulatan dengan Radit tadi.
"Mas Arkan..." panggil Aletta pelan.
"Hmm?"
"Tadi... kau bilang kau mencintaiku. Itu bagian dari taktik pengalihan atau...?" Aletta bertanya dengan nada ragu, matanya fokus pada plester yang sedang ia pasang.
Arkan menarik tangan Aletta, memaksa gadis itu menatap matanya. Wajah Arkan kembali menjadi sangat maskulin dan serius, namun kali ini ada kelembutan yang meluap-luap.
"Aletta, aku sudah mencintaimu sejak kau memberikan pita biru itu. Aku mencintaimu saat kau menjadi CEO yang angkuh, aku mencintaimu saat kau memberiku nasi goreng gosong, dan aku sangat mencintaimu saat kau menyelamatkan nyawaku dengan jepit bebek konyol itu."
Arkan menarik Aletta ke dalam pelukannya. "Kontrak itu berakhir malam ini, Al. Kau bebas pergi. Maheswari Group sudah aman. Ayahmu sudah bersih."
Aletta terdiam sejenak, lalu ia mencubit perut Arkan dengan gemas. "Siapa bilang aku mau pergi? Aku belum memenangkan semua boneka di mesin capitmu! Dan kau masih punya denda 'Mas Arkan' selama dua belas jam karena tadi kau sempat membentakku di depan Ibu."
Arkan tertawa lepas, suara tawa yang paling bahagia yang pernah Aletta dengar. Ia mengecup dahi istrinya dengan penuh kasih. "Baiklah, Nyonya Dirgantara yang keras kepala. Kau boleh tinggal selamanya. Tapi janji satu hal."
"Apa?"
"Jangan pernah ganti tas kura-kuramu. Aku ingin tahu di mana istriku berada hanya dari suara gantungan kuncinya yang berisik."
Aletta tersenyum manis, lalu ia mengeluarkan sebuah benda dari kantongnya. Sebuah pita biru tua yang baru, yang ia beli secara rahasia kemarin. Ia mengikatkan pita itu di pergelangan tangan Arkan.
"Pita ini untuk mengingatkanmu, bahwa serigala sehebat apa pun tetap butuh peliharaan yang ajaib seperti aku," ucap Aletta bangga.
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang mulai mengintip dari balik awan, Sang Singa dan Sang Serigala akhirnya menemukan rumah mereka yang sebenarnya. Bukan di dalam gedung pencakar langit atau tumpukan saham, melainkan di dalam detak jantung satu sama lain yang saling menjaga.
"Mas Arkan..."
"Apa lagi, Sayang?"
"Besok kita beli kaktus yang baru, ya? Duri Jahanam butuh teman yang namanya 'Duri Mertua' agar dia tidak merasa sendirian."
Arkan hanya bisa menghela napas pasrah sambil tersenyum. "Apapun, Al. Apapun."
nnti tu kapal tanker klakson ny jd gntii klaksoon motor ,,
badan gede tp klakson ny ' tiiin ,, tiin ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
pengganggu bisa gx marahan dluu ,,
jgn deket2 sama pasangan ini truus ,,
sana cari serigala dn gadis kaktus yg lain ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruu niih ,,
gx kebayang siih seorang arkan tidur sambil meluk boneka bebek🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
lanjuuut kak ,,
makiin seruu nih tiap bab ny ,,
kasus baruu udh muncuul ,,
Selamat menikmatiii,,,👏👏👏👏
lanjuuut kak
semua masalah pasti bisa di selesaikan dg taktik ajaib Aletta,,
lanjuuut kak
gx mungkin kn Aletta punya sekte kaktus ajaib 🤭🤭🤭🤭 ,,
lanjuuut kak ,,
😁😁😁
lanjut kak ,,
tumbuhan ny emnk di setting bgtu Pak arkan ,,
😁😁😁
bsok2 bikin Tempe Amazon yx Al ,,
sxan pake sup palung Mariana biar makin joosssss ,,
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruuu ,,
pengkhianatan paling menyakitkan yg dtg dr org paling dekat dg qta ,,
penasaran ma kelanjutan ny yx