NovelToon NovelToon
Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Romansa Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:502
Nilai: 5
Nama Author: Nayla Zidan

Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34: [Volume 2] — Resonansi Sunyi

Udara di koridor apartemen ini terasa sesak. Aku bisa mendengar detak jantung Kurumi yang tidak beraturan di belakangku. Logikaku mengatakan bahwa setiap suara kecil yang kami buat adalah undangan makan malam bagi makhluk-makhluk di luar sana.

"Lepas sepatumu," bisikku hampir tanpa suara.

"Hah? Kenapa?" Kurumi balas berbisik, matanya membelalak.

"Sol sepatumu terlalu keras. Bunyinya beresonansi di lantai beton ini. Pakai kaus kaki saja, atau bertelanjang kaki jika perlu. Kita harus bergerak seperti hantu."

Kurumi menurut tanpa membantah. Dia melepaskan sepatunya dan mengikatnya di ransel. Kami mulai menuruni tangga darurat dengan sangat hati-hati. Aku memimpin di depan, menggunakan indra thermal dan pendengaranku yang tajam untuk memindai setiap sudut.

Di lantai dasar, keadaan jauh lebih buruk. Pintu kaca lobi sudah hancur total. Di luar sana, di tengah jalan yang berkabut, tiga sosok Screamer sedang berdiri mematung. Leher mereka yang bengkak berdenyut pelan, mengeluarkan suara klik-klik halus seperti lumba-lumba yang sedang melakukan sonar.

"Logika sistem: Area ini adalah sarang sementara," gumamku dalam hati.

Aku memberi isyarat pada Kurumi untuk merangkak di balik deretan mobil yang terparkir. Kami bergerak inci demi inci. Keringat dingin mengucur di pelipis Kurumi, tapi dia berusaha keras untuk tidak mengeluarkan suara.

Tiba-tiba, seekor tikus mutasi berlari keluar dari kolong mobil dan menabrak kaleng minuman kosong.

KLANG!

Suaranya tidak keras bagi manusia, tapi bagi para Screamer, itu seperti ledakan bom. Ketiga makhluk itu langsung menoleh serempak ke arah kami. Leher mereka mengembang, bersiap untuk mengeluarkan teriakan frekuensi tinggi.

"Lari ke gang sebelah kiri, SEKARANG!" teriakku sambil menarik tangan Kurumi.

SKREEEEEEEEEEEEEEEE!!!

Suara teriakan itu bukan sekadar suara. Itu adalah gelombang kejut yang membuat kaca-kaca mobil di sekitar kami pecah berantakan. Telingaku berdenging hebat, dan aku bisa merasakan darah mulai keluar dari hidungku akibat tekanan suara tersebut.

Kami melompat ke dalam gang sempit tepat saat salah satu Screamer mendarat di kap mobil tempat kami bersembunyi tadi. Besi mobil itu langsung melesak dalam.

"Zidan! Telingaku... aku nggak bisa dengar apa-apa!" Kurumi berteriak panik sambil memegangi telinganya.

Aku tidak menjawab. Aku berbalik, urat hitam di lenganku kembali berdenyut. Aku mengambil sebuah batu besar dan melemparnya sekuat tenaga ke arah gedung di seberang gang.

PRANG!

Batu itu menghancurkan jendela lantai dua gedung seberang. Para Screamer yang tadi mengejar kami langsung mengalihkan perhatian ke sumber suara baru itu. Mereka melompat ke dinding gedung dengan lincah, memanjat seperti serangga raksasa.

Aku segera menarik Kurumi masuk ke dalam sebuah ruko tua yang pintunya setengah terbuka. Kami bersembunyi di balik meja kasir yang berdebu.

"Bernapas pelan-pelan, Kurumi," bisikku sambil menutup mulutnya dengan tanganku. "Gunakan hidungmu. Jangan bicara."

Kami terdiam dalam kegelapan selama beberapa menit. Di luar, suara klik-klik para Screamer masih terdengar, mencari-cari mangsa yang tiba-tiba menghilang. Setelah beberapa lama, suara itu perlahan menjauh menuju atap gedung.

Aku melepaskan tanganku dari mulut Kurumi. Dia langsung lemas, terduduk di lantai sambil menyandarkan kepalanya di bahuku. Tubuhnya gemetar hebat.

"Hampir saja..." bisiknya lirih. "Aku pikir kita bakal mati tadi."

"Secara logika, peluang kita selamat tadi hanya 15%," kataku datar. "Tapi 15% masih lebih baik daripada nol."

Kurumi menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada air mata di sudut matanya, tapi dia memaksakan diri untuk tersenyum tipis. "Kamu selalu punya angka buat segalanya ya, robot gila."

Aku tidak membalas. Aku menatap telapak tanganku yang masih sedikit gemetar. Mutasi ini menyelamatkanku, tapi setiap kali aku menggunakannya, aku merasa ada bagian dari diriku yang hilang.

Catatan Penulis:

Chapter 34 menunjukkan betapa berbahayanya musuh baru di daratan utama. Pertempuran fisik bukan lagi pilihan utama; strategi dan ketenangan adalah kunci. Zidan mulai merasakan beban fisik dari mutasinya, sementara Kurumi mulai melihat sisi rentan dari Zidan di balik topeng logikanya. Perjalanan menuju pusat kota masih panjang dan penuh teror suara.

1
Nadja 🎀
waah kyk anime saja! kereen!
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
Garuda Bayang
mayan lah yaaaa kurang pake gambar ajaaa
Zidanmahiru
apanya kak yg dipisah?
Zidanmahiru: judul nya kah?kalau iya ga sengaja ke pisah
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!