Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.
Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.
Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.
Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29—Dua Tangan dan Benang
Di atas bukit, tempat Yuofan biasa berlatih bersama Wuxu. Terlihat di tengah area terbuka itu, Yuofan duduk diantara dua boneka besar dengan penampilan yang tidak biasa dan terasa menyeramkan jika dilihat lebih jelas.
Boneka pertama duduk tegak dengan postur tinggi dan kokoh. Rambutnya panjang berwarna putih, menjuntai lurus hingga hampir menyentuh betisnya. Kulitnya terbuat dari kayu padat dengan tekstur keras yang terlihat tahan terhadap serangan. Garis mulutnya terlihat kaku dan berbentuk kotak, seperti bagian yang bisa terbuka dan tertutup secara mekanis. Tubuhnya dibalut jubah putih yang tampak bersih dan rapi, kontras dengan kesan dingin yang dipancarkannya. Boneka ini diberi nama Chen Hufa.
Di sisi lain berdiri boneka kedua yang tampil lebih aneh. Rambutnya pendek dan tidak teratur, sementara kedua matanya tertutup oleh kain hitam yang terikat rapat. Ia juga memiliki mulut yang sama seperti boneka sebelumnya, dengan tubuhnya dibungkus pakaian hitam panjang, hampir menutupi seluruh bentuk tubuhnya dan membuat gerakannya sulit ditebak. Boneka ini disebut Chen Lingyan.
Kedua boneka itu adalah milik Chen Huo, biasanya ia menggunakan boneka ini untuk bertarung, tetapi saat ini ia menjadikan kedua boneka tersebut sebagai patung praktek Yuofan.
“Ketika seorang ibu sedang melahirkan, posisi tubuh yang tepat akan sangat membantu proses keluarnya bayi,” ucap Chen Huo dengan nada tenang.
“Ibu sebaiknya berada dalam posisi setengah duduk atau berbaring dengan punggung sedikit ditinggikan. Kedua kakinya dibuka secukupnya agar jalan lahir tidak tertekan. Posisi ini membantu bayi bergerak turun dengan lebih mudah.” Ia berhenti sejenak, memastikan Yuofan memperhatikan.
“Selanjutnya, perhatikan posisi bayi. Idealnya, kepala bayi berada di bawah dan menghadap ke arah punggung ibu. Itu adalah posisi yang paling aman dan paling umum. Jika posisinya tidak tepat, proses persalinan bisa menjadi lebih sulit.” ucap Chen Huo seraya mengambil sepotong kayu kecil dan menggambar sederhana di tanah.
Chen Huo menjelaskan dengan sangat detail tetapi sederhana, apalagi ia juga memberikan ilustrasi yang hebat membuat Yuofan sangat paham dan dengan mudah menangkap penjelasan dari pria itu.
“Hal terpenting adalah tetap tenang, karena kepanikan hanya akan membuat semuanya menjadi lebih sulit. Jika kau bisa menjaga pikiranmu tetap jernih, maka tindakanmu juga akan lebih tepat.” ucapnya seraya menepuk pundak Yuofan.
Saat ini adalah bulan dimana seharusnya ibu Yuofan melahirkan, jadi Chen Huo fokus membahas materi tentang kehamilan dan kelahiran.
Selama beberapa minggu terakhir, Chen Huo benar-benar mengajari Yuofan banyak hal. Beberapa di antaranya seperti membuat pil, menjahit luka dengan rapi, mempelajari berbagai penyakit, serta ilmu kesehatan lainnya yang membuat Yuofan sangat berterima kasih. Bahkan bukan hanya itu, Chen Huo juga mengajarkan cara pembuatan rune yang tidak hanya berhubungan dengan kesehatan, tetapi juga dapat digunakan dalam pertarungan.
Hal itu Chen Huo ajarkan karena menurutnya seorang alkemis maupun pakar kesehatan tetap harus mampu melindungi dirinya sendiri, meskipun tidak harus menjadi sangat kuat dalam bertarung.
Selama saat-saat itu jugalah hubungan keduanya menjadi sangat dekat, Yuofan sendiri sekarang sudah memanggil Chen Huo sebagai guru, begitu Chen Huo yang menganggap Yuofan sebagai muridnya yang sangat baik.
“Sekarang, mari kita mulai prakteknya.” ujar Chen Huo yang kemudian memasukkan sebuah batang kayu yang tidak terlalu besar maupun kecil kedalam perut boneka hitamnya.
Yuofan pun mendekat kearah boneka hitam dan mulai bersiap untuk mempraktekkan proses melahirkan yang telah di jelaskan oleh gurunya.
Di sisi lain, di desa yang tak jauh dari hutan. Lima orang pria dengan pakaian berwarna kuning yang dipadukan warna putih, didada bagian kanan pakaian mereka terdapat sebuah simbol melingkar dan dua tangan dengan masing-masing jari memiliki benang. Mereka juga membawa masing-masing satu tas besar dipunggung mereka yang hampir seukuran tubuhnya.
”Haishh, kemana perginya tuan muda ini.” ucap salah satu pria yang memiliki tubuh tinggi dengan rambut panjang yang di kepang satu. Wajahnya terlihat bingung sekaligus frustasi mencari sosok yang dikenalnya.
”Tidaklah mungkin dia meninggal begitu cepat.” seru pria lain yang memiliki luka sayatan disalah satu wajahnya.
Seorang pria dengan ikat kepala putih mengangguk setuju, “Jejak terakhirnya berhenti di desa ini, kemungkinan besar ia diselamatkan oleh salah satu warga desa.” ujarnya.
“Sudahi diskusi nya, waktu kita tak banyak!” kata dua orang pria kembar secara serempak.
Ketiga pria lainnya mengangguk setuju dan segera merekapun kembali berlarian mengelilingi bagian desa untuk menemukan sosok yang mereka cari.
Kembali pada Yuofan dan Chen Huo. Terlihat Yuofan telah menyelesaikan prakteknya dengan sempurna, bahkan Chen Huo sendiri merasa sangat bangga memiliki murid sepintar Yuofan. Hanya bermodalkan penjelasan singkat darinya, bocah itu bisa langsung paham.
“Yuofan,” panggil Chen Huo pelan seraya merapihkan kembali bonekanya kedalam tas besar.
“Mauk-” belum selesai dengan ucapannya, sebuah ledakan besar terjadi membuat keduanya terkejut.
Wuxu keluar dari dalam tubuh Yuofan, rubah itu langsung terbang keatas langit dan memeriksa keadaan disana. Sementara Yuofan memanjat pohon tertinggi disana untuk ikut melihat keadaan, tetapi sebelum ia sampai Wuxu berteriak.
“Seekor beruang berjalan menuju gua!” teriak Wuxu membuat Yuofan terdiam terkejut.
Dengan gerakan cepat Yuofan melompat turun dari pohon dan segera berlari panik menuju gua tempatnya tinggal, meninggalkan Chen Huo yang masih belum memahami situasi nya.
Chen huo awalnya berniat ikut dengan Yuofan, tetapi tiba-tiba sekumpulan pria mengelilinginya. Lima orang pria berpakaian kuning itu tersenyum lega menemukan sosok yang mereka cari.
“Untung saja kita langsung pergi ke sini.” ujar pria dengan luka diwajahnya.
“Kalian…” Chen Huo terdiam melihat kelima pria itu.
“Maaf tuan muda, kami tidak memiliki waktu banyak. Cepat ikut dengan kami!” Dua pria kembar langsung memegangi kedua tangan Chen Huo.
Dengan wajah panik Chen Huo berusaha melawan, “Berikan aku sedikit waktu! Ada yang harus aku lakukan disini!” teriaknya, tetapi dengan cepat seorang pria dengan satu kepang rambut memukul leher belakangnya. Membuat Chen Huo jatuh pingsan.
Disisi lain, Yuofan yang merasa Chen Huo tak kunjung datang merasa bingung.
“Dia di sergap oleh lima pria dan dibuat pingsan.” ucap Wuxu yang terbang mengikuti kecepatan lari Yuofan.
“Apa?!” Yuofan menengok kebelakang dengan wajah khawatir.
Bocah itu menggigit bibirnya hingga berdarah, didalam hatinya ia tahu bahwa gurunya itu belum sembuh sepenuhnya yang membuat pria itu tak memungkinkan untuk bertarung. Tetapi disisi lain, ibunya saat ini sedang terancam.
“Maafkan aku guru!” Yuofan kembali menatap kedepan dan mempercepat larinya.
Sementara itu, kelima pria itu melemparkan masing-masing tas besar yang mereka bawa ke depan mereka. Tas-tas itu jatuh sejenak di udara, lalu berhenti seolah ditahan oleh kekuatan tak terlihat.
Tanpa ragu, kelimanya melangkah naik dan menginjak tas tersebut sebagai pijakan. Energi qi mulai mengalir dari tubuh mereka, menstabilkan tas-tas itu agar tetap melayang di udara. Begitu kendali mereka stabil, tas-tas itu pun bergerak perlahan, lalu melesat semakin cepat.
Dalam hitungan detik, kelima pria itu sudah terbang menjauh, meninggalkan wilayah tersebut dari udara dengan cara yang tidak biasa.