Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Pertanyaan Dati Masa Lalu
15 Oktober 2024. Pukul 22.00 WIB.
Museum Sejarah Jakarta.
Alina kembali.
Malam ini dia membawa bekal lebih banyak: termos kopi, roti lapis, jaket tebal, dan tumpukan buku sejarah. Dia sudah meminta izin kepada kepala museum untuk melakukan "inventarisasi lembur", sebuah alasan klasik yang selalu disetujui karena Alina memang dikenal workaholic.
Museum Fatahillah di malam hari memiliki aura yang berbeda. Jika siang hari ia adalah tempat wisata yang riuh, malam hari ia adalah makam kenangan. Setiap langkah kaki Alina menggema di lorong batu, memantul di dinding-dinding yang pernah menyaksikan penyiksaan tahanan di masa kolonial.
Alina masuk ke Ruang Konservasi, mengunci pintu dari dalam.
Dia duduk di depan mesin tik Remington itu. Benda itu tampak diam, dingin, dan mati. Hanya sebuah objek besi tua.
"Ayo," bisik Alina. "Tolong, bicaralah lagi."
Dia menunggu. Jarum jam dinding berdetak monoton. Tik. Tok. Tik. Tok.
Satu jam berlalu. Alina mulai merasa bodoh. Mungkin kejadian semalam hanyalah kebetulan kosmik yang terjadi sekali seumur hidup. Mungkin lubang cacing waktu itu sudah tertutup.
Alina meletakkan kepalanya di atas meja, di samping mesin tik. Matanya mulai terpejam karena lelah.
TAK.
Satu hentakan keras.
Alina tersentak bangun. Jantungnya melompat ke tenggorokan.
Dia menatap mesin tik itu. Tuas huruf 'T' baru saja menghantam pita, meninggalkan jejak hitam di kertas putih yang sudah dia pasang sejak tadi.
TAK. TAK. TAK. TAK.
Mesin itu mulai mengetik. Lambat, ragu-ragu, tapi pasti. Alina menahan napas, matanya tak berkedip membaca huruf demi huruf yang muncul secara ajaib.
T e r i m a k a s i h .S a y a m a s i h h i d u p .
Air mata Alina merebak seketika. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan isak tangis lega. Perasaan ini begitu intens, padahal dia sedang berbicara dengan hantu.
Alina segera memposisikan jarinya di atas tuts. Dia mengetik balasan dengan cepat.
Syukurlah. Aku mencarimu di arsip pagi ini. Koran bilang kamu lolos. Kamu baik-baik saja? Apa mereka melukaimu?
Ada jeda sejenak. Mungkin Arya di tahun 1930 sedang membaca tulisan yang muncul di kertasnya.
Hanya harga diri saya yang terluka karena harus bersembunyi di selokan seperti tikus. Tapi badan saya utuh.
Nona Alina... atau siapapun kau... kau bilang kau dari tahun 2024?
Alina menarik napas. Ini bagian tersulit. Menjelaskan konsep waktu pada orang dari tahun 1930.
Benar. Aku ada di tempat yang sama denganmu, di Gedung Stadhuis. Tapi 94 tahun di masa depan. Di sini gedung ini sudah jadi museum. Tempat orang-orang belajar sejarah.
Mesin tik itu diam cukup lama.
Museum? Jadi tempat ini bukan lagi kantor Gubernur Jenderal?
Bukan. Indonesia sudah merdeka sejak 1945, Arya. Belanda sudah pulang. Kita bangsa yang bebas sekarang.
TAK-TAK-TAK-TAK-TAK.
Kali ini ketikannya sangat cepat dan keras, seolah emosi Arya meluap.
1945... Lima belas tahun lagi. Masih lama sekali. Tapi... setidaknya itu nyata. Kami tidak berjuang sia-sia.
Alina bisa merasakan kepedihan dan harapan dalam kalimat itu. Bagi Alina, 1945 adalah bab di buku sejarah. Bagi Arya, itu adalah mimpi yang dia kejar dengan nyawa.
Kau bilang namamu Alina? Siapa kau? Kenapa kau bisa bicara padaku?
Alina berpikir sejenak. Apa yang harus dia katakan?
Aku seorang kurator. Aku merawat benda-benda bersejarah. Mesin tik ini... seseorang menemukannya dan membawanya ke museumku. Mungkin mesin ini rindu pada pemiliknya, jadi dia menghubungkan kita.
Kurator... penjaga kenangan. Pekerjaan yang mulia. Mesin ini saya beli bekas dari seorang Tionghoa di Glodok. Barang rongsokan, sebenarnya. Huruf 'A'-nya sering macet.
Alina tertawa kecil sambil menangis. Dia baru saja memperbaiki huruf 'A' itu kemarin.
Sudah kuperbaiki. Sekarang lancar.
Terima kasih. Kau baik sekali pada barang rongsokan dan pada buronan.
Hening sejenak. Lalu mesin tik itu bergerak lagi.
Alina, boleh saya bertanya sesuatu yang mungkin terdengar bodoh?
Tanyakan saja.
Di tahun 2024... apakah Batavia indah? Apakah banjir masih merendam Kampung Pulo setiap musim hujan? Apakah trem uap masih berisik di jalanan?
Pertanyaan sederhana itu membuat hati Alina nyeri. Arya tidak bertanya tentang siapa presidennya, atau seberapa maju teknologinya. Dia bertanya tentang kotanya. Kota yang dia cintai.
Alina mengetik dengan lembut.
Namanya bukan Batavia lagi, Arya. Namanya Jakarta. Dan ya, masih indah, meski dengan cara yang berbeda. Gedung-gedung pencakar langit menyentuh awan. Lampu-lampu kota lebih terang dari bintang. Trem uap sudah tidak ada, digantikan kereta listrik yang cepat dan dingin.
Tapi banjir... yah, itu musuh lama yang masih sering mampir.
Dari seberang waktu, Arya membalas.
Jakarta. Nama yang gagah. Seperti nama ksatria dalam wayang. Jayakarta. Kemenangan yang sempurna.
Senang rasanya mengetahui kota ini akan tumbuh besar.
Percakapan mereka mengalir begitu saja. Di tengah malam yang sunyi, terpisah oleh 94 tahun, dua jiwa yang kesepian saling menemukan. Alina menceritakan tentang Monas, tentang macet, tentang kopi instan. Arya menceritakan tentang harga beras yang naik, tentang diskusi rahasia di warung kopi, tentang ketakutannya kalau ibunya di desa tahu dia jadi buronan.
Tanpa sadar, kertas di roller sudah hampir habis.
Arya, ini sudah larut di masaku. Kamu harus istirahat. Kamu masih dalam bahaya.
Benar. Saya tidak bisa lama-lama di sini. Besok saya harus pindah ke tempat persembunyian baru di Kwitang.
Alina...
Ya?
Terima kasih sudah menjadi teman bagi orang yang seharusnya sudah mati. Besok malam... apakah kau akan ada di sini lagi?
Alina tersenyum. Senyum tulus pertama yang dia rasakan setelah berbulan-bulan hidup monoton.
Aku akan di sini. Selalu. Jaga dirimu, Arya.
Selamat malam, Nona Masa Depan.
Mesin tik itu berhenti bergerak.
Alina menyandarkan punggungnya di kursi. Dia menatap lembaran kertas penuh tulisan itu. Ini adalah artefak paling berharga yang pernah ada di museum ini. Sebuah transkrip percakapan lintas waktu.
Di luar, hujan mulai reda. Tapi di dalam hati Alina, badai baru saja dimulai. Dia tahu, dia tidak boleh terlalu terlibat. Mengubah sejarah punya konsekuensi.
Tapi saat dia membayangkan Arya sendirian di tahun 1930, kedinginan dan ketakutan, Alina tahu dia tidak akan bisa berhenti. Dia sudah terlanjur peduli.
Dan di arsip Wikipedia, tanda tanya pada tahun kematian Arya (1905 - ?) kini terasa seperti tantangan pribadi bagi Alina.
Dia bertekad akan mengisi tanda tanya itu dengan angka yang panjang. Sangat panjang.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Nyawa seolah dalam genggaman penjahat.
Damai sekejap, lepas beban berat
tapi belati dan peluru kembali mengintai.
Jika cinta butuh pengorbanan,semua telah berkorban.
Mengalah
Melepaskan
Merelakan dalam keikhlasan.
Bertahan walau hidup serasa di parit busuk.
Melindungi sekeping hati dari duka.
Menjaga dan mencoba memperpanjang kontrak hidup
mati-matian mencari jalan keluar
Pontang- panting dengan akses masa depan yang canggih
semoga kali ini bisa lolos lagi dari si mata satu
mau marah ke orang yang sedang kasmaran itu kog yo ndak tega😄.
cinta kadang membuat orang bodoh dan ahh ...sudahlah.
Sarsinah, terimakasih berkat kenekatanmu mesin itu kembali bertemu pemiliknya.
Bagaimana rasanya jika nanti kamu ikut membaca semua kata cinta Arya untuk Alina?
mungkin nanti ini jalan keluar terbaik, meski harus babak belur hatimu Sarsinah.
Lanjutkan sejarah bahwa kau bahagia dengan Sudiro, punya putra putri dan cucu.
Yakinlah kebahagiaan itu di ciptakan sarsinah ,bukan datang sendiri.
doktrin dirimu, doktrin otakmu bahwa kau akan bahagia meski awal berlayar akan banyak ombaknya
masa lalu yang tua tak mau mengalah begitu saja.
masa depan yang muda ngotot mempertahankan sesuatu yang ghoib.
Cinta memang suatu kekuatan maha dahsyat.
Beruntungnya Arya di cintai dua wanita cerdas di masanya.
Atas dasar cinta ,tindakan kecil menimbulkan kecerobohan.
kecurigaan dan rasa yang masih membara mencoba mencari jawaban.
Semoga perang rasa ini ,tidak membunuh ketiganya dalam kehampaan .
kehancuran dan terbongkarnya kedok "mati" ala Arya dan di sutradarai Alina🤣
hayooo kira2 dengan cara apa supaya alur sejarah tidak berubah drastis dan masih berjalan di rel yang benar.
kerinduan yang terasa hendak berkarat.
naluri perempuan yang kadang terkesan hebat.
Yang tercinta ,susah payah menyembunyikan identitas.
Yang mencinta kalang kabut mencari cara untuk bisa berkomunikasi.
Bertemu dengan beban yang mencuat
rindu yang terpaksa di padam kan ,demi sebuah hati yang lain.
kerumitan baru segera muncul ,apakah alina rela memberitahu sarsinah bahwa arya masih hidup??
menunggu kelanjutannya thor
hidup berjalan sesuai realita, menikah ,punya anak cucu dan bahagia di usia senja adalah impian semua makhluk hidup, termasuk Arya sekalipun mungkin tak dapat bersama .
bagaimana jadinya kalau ,si mata satu tidak membunuh dengan menembak? tapi menikam dengan belati tajam dan berkarat? terjadi tetanus justru akan efektif mencabut nyawa ...
Meski rumit tapi semangat lah mengobrak abrik takdir yang coba kalian lawan. ..
semoga takdir mau berbaik hati ,membelokkan sekian detik nasib Raden mas Arya ...
dan jalinan lintas dimensi ini ikut abadi di abad beda
rasa takut kehilangan itu wajar adanya
hari2 kosong ,tiba-tiba terisi dan ketika akan habis masa nya ,maka hati lah yang bicara
tak peduli logika diantara ada dan tiada tapi kau terasa nyata.
salah kah jika ada harapan untuk bisa bersama, walau itu mustahil
Semua memenuhi rongga dada ,hingga sesak mendera