Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Rapuh dalam pelukan iblis
Kediaman Bramasta yang biasanya megah dan penuh wibawa, malam ini terasa seperti sebuah mausoleum yang sunyi. Cahaya lampu dinding yang temaram hanya menyinari separuh dari lorong-lorong panjang berbahan marmer hitam. Di tengah keheningan itu, Aluna melangkah dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Kepalanya terasa seperti dihantam palu godam setiap kali kakinya menyentuh lantai. Bunyi detak jantungnya sendiri terdengar begitu bising di telinganya, berpacu dengan rasa mual yang terus naik ke kerongkongan.
Semua kejadian di kampus hari ini—tatapan tajam Anwar yang terus mengikutinya, bisik-bisik menghina dari teman-teman seangkatan, hingga keberanian Rio yang menyelipkan secarik kertas di tangannya—telah menguras seluruh cadangan energi mentalnya. Aluna merasa seperti sebuah baterai yang dipaksa bekerja hingga titik nol persen. Ia sudah lelah berdebat, lelah merasa malu, dan lelah menjadi pusat perhatian yang tidak ia inginkan.
Ia melewati ruang tengah tanpa menoleh. Di sana, Bram sedang duduk di sofa kulit favoritnya, memegang segelas wiski di satu tangan dan tablet digital di tangan lainnya. Cahaya biru dari layar tablet memantul di wajah tegasnya, memberikan kesan dingin yang tak tersentuh.
"Aluna? Kau pulang terlambat sepuluh menit dari jadwal yang ditentukan Anwar," suara bariton itu meluncur tenang, namun getarannya sanggup membuat Aluna berhenti mendadak di anak tangga pertama.
Aluna tidak menjawab. Ia tetap memunggungi Bram, bahunya merosot lesu. Rambut panjangnya yang biasanya tertata rapi kini tampak kusam dan berantakan. Ia hanya ingin mencapai kamarnya, mengunci pintu, dan tenggelam di bawah selimut tebalnya selamanya.
"Aku bicara padamu, Sayang. Berbaliklah," perintah Bram lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih rendah, tanda bahwa kesabarannya mulai menipis.
Aluna perlahan memutar tubuhnya. Wajahnya yang biasanya cerah kini pucat pasi, nyaris transparan di bawah lampu lobi. Matanya yang sembap tampak kosong, menatap ke arah Bram tanpa fokus yang jelas.
"Aku lelah, Daddy. Aku... aku hanya ingin tidur. Tolong, jangan sekarang," bisik Aluna. Suaranya serak, nyaris hilang tertelan sunyi.
Bram meletakkan gelas wiskinya. Ia berdiri dengan keanggunan seorang predator dan berjalan mendekati Aluna. Setiap langkah sepatunya yang mantap di atas lantai marmer terasa seperti lonceng kematian bagi pertahanan Aluna. Bram berhenti tepat di depan gadis itu, menjulang tinggi seperti menara yang menutupi cahaya lampu di belakangnya.
Ia meraih dagu Aluna, mengangkatnya agar mata mereka bertemu. Bram segera menyadari sesuatu yang salah. Suhu tubuh yang terpancar dari kulit wajah Aluna terasa panas menyengat, kontras dengan jari-jari Aluna yang dingin dan gemetar. Melalui sensor di gelang emas putih 'B' yang melingkar di tangan kiri Aluna, Bram sudah menerima peringatan sejak sepuluh menit lalu bahwa detak jantung gadis itu sedang tidak stabil dan suhu basal tubuhnya melonjak ke angka 39 derajat Celcius.
"Kau sakit," ujar Bram singkat. Matanya yang tajam memindai wajah Aluna dengan campuran antara kecemasan tulus dan kepuasan karena ia tahu, dalam kondisi lemah seperti ini, Aluna tidak akan bisa melawannya.
"Aku hanya... pusing sedikit," gumam Aluna. Tiba-tiba, dunianya berputar hebat. Lampu kristal di langit-langit seolah bergoyang dan jatuh menimpanya. Lantai di bawah kakinya terasa seperti air yang tidak bisa dipijak.
"Aluna!"
Sebelum tubuh mungil itu menghantam lantai, lengan kekar Bram sudah lebih dulu menangkap pinggangnya dengan sigap. Aluna jatuh pingsan dalam dekapan pria yang sepanjang hari ini ia benci. Kepalanya terkulai di dada bidang Bram, napasnya pendek dan panas. Bram tidak memanggil pelayan. Dengan satu gerakan mantap, ia menggendong Aluna ala bridal style, membawanya menuju kamar utama dengan langkah cepat namun hati-hati.
Tiga jam berlalu dalam ketegangan yang sunyi. Kamar Aluna kini berubah menjadi ruang perawatan pribadi yang sangat mewah. Aroma minyak aromaterapi lavender dan uap dari mesin humidifier memenuhi ruangan. Dokter pribadi keluarga Bramasta baru saja pergi setelah memberikan suntikan penurun panas dan vitamin dosis tinggi melalui infus.
Bram duduk di sisi tempat tidur Aluna. Ia telah melepas jas dan dasinya, menyisakan kemeja putih dengan kancing atas yang terbuka dan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kuat namun kini bergerak dengan sangat lembut saat ia memeras handuk kecil dalam baskom perak berisi air hangat.
Aluna mulai mengerang kecil. Kelopak matanya bergerak-gerak sebelum akhirnya terbuka perlahan. Hal pertama yang ia lihat bukan lagi bayangan hitam Anwar yang menyeramkan, melainkan wajah Bram yang sedang menatapnya dengan penuh perhatian. Dalam kondisi setengah sadar dan di bawah pengaruh obat-obatan, memori buruk Aluna tentang kejadian di kampus seolah terhapus sementara. Rasa kesal, benci, dan keinginan untuk bebas menguap begitu saja, digantikan oleh naluri dasar seorang anak yang mendambakan kenyamanan dari sosok pelindungnya.
"Daddy...?" suara Aluna sangat lirih, nyaris tak terdengar.
Bram segera meletakkan handuk hangat di dahi Aluna. "Ya, Sayang. Aku di sini. Jangan banyak bergerak dulu. Kau demam tinggi," ucapnya dengan suara paling lembut yang pernah ia miliki.
Aluna merayap kecil di atas tempat tidur, mencari sumber panas yang nyaman. Ia menyandarkan kepalanya di paha Bram, melingkarkan tangannya yang masih lemas ke pinggang pria itu. Ia menduselkan wajahnya ke kemeja Bram, menghirup aroma parfum kayu cendana dan tembakau mahal yang selalu identik dengan rasa aman baginya sejak kecil.
"Kepalaku sakit sekali, Daddy... jangan pergi. Tolong jangan tinggalkan aku sendiri," rintih Aluna manja. Air mata kecil mengalir di sudut matanya yang tertutup.
Bram mengulas senyum tipis—senyum kemenangan yang tersembunyi di balik kasih sayang yang manipulatif. Inilah yang ia inginkan. Ia menyukai saat Aluna sakit, karena hanya pada saat itulah Aluna benar-benar melepaskan segala durinya dan kembali menjadi gadis kecil yang patuh dan bergantung sepenuhnya padanya. Bram mengusap rambut panjang Aluna dengan gerakan ritmis yang menenangkan, sesekali mengecup puncak kepalanya dengan posesif.
"Aku tidak akan ke mana-mana, Aluna. Kau aman di sini. Tidak akan ada yang berani mengganggumu lagi. Tidak ada teman yang jahat, tidak ada dunia luar yang bising. Hanya ada kau dan aku," bisik Bram.
Ia kemudian meraih mangkuk berisi bubur halus yang disiapkan koki. Dengan kesabaran yang luar biasa, Bram menyuapi Aluna sendok demi sendok. Aluna menerima setiap suapan itu dengan patuh, matanya yang sayu terus menatap wajah Bram dengan binar ketergantungan yang dalam. Ia seolah lupa bahwa pria di depannya inilah yang memberikan perintah pada Anwar untuk memperlakukannya seperti tawanan tadi siang. Dalam pikirannya yang sedang kacau karena sakit, ia merasa Bram adalah satu-satunya orang yang peduli saat ia terjatuh.
"Daddy... besok aku tidak mau ke kampus. Teman-teman jahat... mereka melihatku dengan aneh," gumam Aluna sebelum pengaruh obat kembali membuatnya mengantuk.
"Tentu, Sayang. Kau tidak perlu ke mana pun. Besok kau akan tetap di rumah bersamaku. Aku akan membatalkan semua rapatku untuk menemanimu," jawab Bram. Tangannya terus mengelus pipi Aluna yang panas, sementara matanya tertuju pada gelang di pergelangan tangan Aluna yang kini memancarkan cahaya hijau stabil—tanda bahwa ritme jantung Aluna sudah mulai tenang karena kehadirannya.
Begitu Aluna benar-benar terlelap dalam tidur yang dalam, ekspresi lembut di wajah Bram menghilang seketika, digantikan oleh sorot mata dingin yang mematikan. Ia menarik tangannya dari pelukan Aluna secara perlahan agar tidak membangunkan gadis itu.
Bram berjalan menuju kursi tempat tas dan pakaian Aluna tadi siang diletakkan oleh pelayan. Ia meraih ponsel Aluna yang tergeletak di sana. Dengan mudah ia membuka kuncinya—ia tahu semua kata sandi Aluna. Matanya berkilat marah saat melihat beberapa notifikasi pesan dari Rio yang masuk sejak sore tadi.
Rio: Luna, balas pesanku jika kau sudah sampai rumah. Aku khawatir.
Rio: Jangan takut pada dia, Luna. Kita akan cari jalan keluar.
Bram mendengus sinis. Tanpa ragu, ia memblokir nomor Rio, menghapus seluruh riwayat percakapan, dan menginstal aplikasi pelacak tambahan yang lebih tersembunyi di dalam sistem ponsel tersebut.
Namun, perhatiannya teralih pada rok kampus Aluna yang berada di keranjang pakaian kotor di pojok kamar. Ia teringat laporan Anwar tentang Rio yang sempat masuk ke ruang VVIP tadi siang. Bram berjalan mendekat, merogoh saku rok tersebut dengan jari-jarinya yang panjang.
Ia menemukan apa yang ia cari. Secarik kertas kecil yang sudah agak kusut.
Bram membuka lipatan kertas itu di bawah lampu meja. Matanya membaca tulisan tangan Rio: "Aku akan menyelamatkanmu, Aluna. Bersabarlah. Aku tidak takut pada 'Daddy'-mu. Kamu tidak sendirian."
Bram meremas kertas itu hingga hancur menjadi gumpalan kecil di dalam telapak tangannya. Rahangnya mengeras, dan urat-urat di lehernya menonjol penuh amarah yang tertahan.
"Menyelamatkannya?" desis Bram dengan suara yang sangat rendah, nyaris seperti geraman binatang buas. "Kau bahkan tidak akan bisa menyelamatkan masa depanmu sendiri besok pagi, Rio."
Ia menatap Aluna yang sedang tidur pulas dengan wajah yang begitu damai setelah bermanja-manja padanya tadi. Bram kembali mendekati tempat tidur, menyelimuti Aluna hingga ke dagu, dan mengunci tangan Aluna dalam genggamannya.
"Dunia luar hanya memberimu rasa sakit dan penyakit, Aluna," bisik Bram ke arah telinga gadis itu. "Hanya di sini, di bawah kuasaku, kau akan tetap murni dan aman. Aku akan menghancurkan siapa pun yang mencoba memberimu harapan palsu tentang kebebasan."
Malam itu, Bram tidak tidur sedikit pun. Ia tetap duduk di kursi di samping tempat tidur Aluna, memandangi wajah gadis itu sepanjang malam seperti seorang penjaga yang obsesif. Ia mendengarkan detak jantung Aluna melalui earpiece-nya, menikmati setiap embusan napas Aluna yang kini sepenuhnya menjadi miliknya kembali.
Bram tahu, besok pagi saat Aluna terbangun, gadis itu mungkin akan mencari kertas itu. Namun ia sudah menyiapkan rencana. Ia akan membuat Aluna percaya bahwa kertas itu hanyalah halusinasi akibat demam tingginya, atau mungkin ia akan memutarbalikkan fakta bahwa Rio hanyalah orang asing yang berniat jahat.
Sementara di luar sana, di kegelapan malam, Bram sudah mengirimkan instruksi singkat kepada tim hukum dan tim "pembersih"-nya. Besok, saat matahari terbit, hidup Rio tidak akan pernah sama lagi.