Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.
Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Kaki Lana di Kampus Elite
Pagi itu, udara di dalam penthouse terasa jauh lebih tegang daripada biasanya. Bukan karena ada masalah bisnis atau serangan siber pada sistem Jeno, melainkan karena hari ini adalah hari pertama Lana menapakkan kakinya di Universitas Internasional Nusantara—salah satu kampus paling prestisius di negeri ini, tempat di mana Rian mengabdi sebagai dosen muda kebanggaan senat.
Lana berdiri di depan cermin besar di kamarnya, menatap pantulan dirinya yang tampak sangat asing. Di atas tempat tidurnya, berserakan kotak-kotak bermerek ternama yang dikirimkan Arka dan Ezra sejak subuh tadi. Ia tidak lagi mengenakan kaos kuning pudar atau celana batik kusamnya.
Kini, Lana mengenakan kemeja katun linen berwarna putih bersih dengan potongan yang sangat jatuh di tubuh mungilnya, dipadukan dengan celana kulot berwarna beige yang senada. Di pundaknya melingkar tas kulit kecil berwarna cokelat tua pilihan Ezra—elegan namun tidak berlebihan. Di pergelangan tangannya, jam tangan military grade dari Gaza melingkar dengan gagah, memberikan kontras yang aneh pada kulitnya yang halus.
"Lana... ini beneran Lana?" bisiknya pelan, menyentuh pipinya sendiri.
"Gak asik banget kalau lo bengong terus di depan cermin, Lan. Buruan keluar, Arka udah nunggu di lift," suara Jeno terdengar dari balik pintu, disusul ketukan yang tidak sabar.
Lana menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup seperti genderang perang. Ia melangkah keluar kamar dengan sepatu flat kulit yang sangat empuk—pilihan Jeno yang katanya "anti lecet". Di ruang tengah, ketujuh pria itu sudah berkumpul seperti sedang menunggu tamu kenegaraan.
Kenzo adalah yang pertama bereaksi. Ia bersiul panjang, matanya memindai penampilan Lana dengan puas. "Nah, ini baru namanya mahasiswi bimbingan Rian. Cantik, bersih, dan nggak kelihatan kayak mau jualan jamu lagi."
Rian, yang sudah rapi dengan kemeja flanel dan kacamata dosennya, mendekati Lana. Ia menyerahkan sebuah ID Card kampus yang sudah tercetak rapi. "Lo masuk lewat gerbang khusus dosen sama gue hari ini, Lan. Biar lo nggak bingung nyari gedung fakultas lo."
"Nggak usah lewat gerbang khusus, Rian," potong Arka dengan suara bariton yang tak terbantahkan. Ia berdiri dari sofa, membetulkan letak jam tangannya. "Biar dia masuk lewat gerbang utama. Dia harus belajar menghadapi dunia luar, bukan cuma sembunyi di balik punggung lo."
Arka berjalan mendekati Lana. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Isinya adalah sebuah pulpen logam berwarna perak dengan grafir nama Lana di batangnya. "Pakai ini buat nyatet. Jangan pakai pulpen seribuan yang tintanya belepotan. Ngerti nggak lo?"
Lana menerima pulpen itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Kak Arka. Lana... Lana berangkat dulu ya Kakak-kakak semua."
"Semangat, Lan! Jangan mau ditindas! Kalau ada yang rese, kasih tau gue, biar gue hack akun media sosialnya!" seru Jeno sambil mengepalkan tangan ke udara.
Lana tersenyum kecil, namun saat ia melangkah masuk ke dalam lift bersama Rian, rasa takut itu kembali menyergap. Baginya, pakaian mewah ini hanyalah sebuah kostum. Di dalamnya, ia tetaplah Lana si gadis desa yang takut akan keramaian.
Perjalanan menuju kampus terasa sangat singkat bagi Lana, namun sangat panjang bagi pikirannya. Saat mobil mewah milik Rian memasuki gerbang universitas, mata Lana terbelalak. Bangunan kampus itu lebih mirip istana daripada tempat belajar. Pilar-pilar beton yang megah, taman-taman yang tertata simetris, dan deretan mobil mewah yang terparkir rapi membuat nyali Lana menciut.
"Turun, Lan. Gak asik banget kalau lo cuma diem di mobil," ucap Rian sambil membukakan pintu untuk Lana.
Lana melangkah turun. Begitu kakinya menyentuh aspal kampus, ia merasa seperti seekor domba yang masuk ke kandang serigala. Di sekelilingnya, mahasiswi-mahasiswi berlalu-lalang dengan gaya yang sangat kontras dengan dirinya.
Ada yang mengenakan gaun pendek dengan sepatu hak tinggi yang runcing, membawa tas bermerek yang harganya mungkin bisa membiayai sekolah seluruh anak di desa Lana. Rambut mereka dicat dengan warna-warna trendi, wajah mereka dipoles dengan makeup yang sangat sempurna, dan cara bicara mereka terdengar sangat angkuh dan cepat.
Lana menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut hitam alaminya. Ia merasa sangat kecil. Meskipun pakaiannya mahal, ia merasa cara berjalannya tetap canggung. Ia merasa semua orang sedang memperhatikannya, menilai setiap inci tubuhnya.
"Lan, tegak. Jangan nunduk terus," bisik Rian di sampingnya. Rian sengaja menjaga jarak profesional, namun matanya tetap mengawasi Lana dengan protektif. "Inget apa kata Kenzo, lo harus punya kepercayaan diri."
Mereka berjalan menuju gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Di koridor yang luas, sekelompok mahasiswi sedang berkumpul sambil memegang kopi branded. Saat Lana lewat, pembicaraan mereka tiba-tiba berhenti. Suasana menjadi hening sejenak, hanya terdengar suara langkah sepatu Lana yang canggung.
Lana bisa merasakan tatapan mata mereka yang tajam, memindai dari tas kulitnya hingga ke ujung sepatunya. Salah satu mahasiswi berambut pirang kecokelatan berbisik pada temannya sambil menutup mulut, lalu mereka tertawa kecil yang terdengar sangat sinis di telinga Lana.
"Ih, liat deh. Gayanya sok minimalis gitu," bisik salah satu dari mereka, cukup keras untuk didengar Lana. "Tasnya asli nggak ya? Kok mukanya... muka-muka orang pinggiran gitu?"
Hati Lana mencelos. Ia meremas tali tasnya erat-erat. Kata-kata "muka orang pinggiran" terasa seperti tamparan yang sangat keras. Semua barang mewah yang diberikan Arka dan Ezra mendadak terasa berat dan membebani. Ia merasa seperti seorang penipu yang memakai baju pangeran.
Rian menyadari perubahan raut wajah Lana. Ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah sekelompok mahasiswi tadi dengan tatapan dingin khas dosen yang paling ditakuti. Seketika, tawa mereka terhenti dan mereka berpura-pura sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Abaikan mereka, Lan. Mereka cuma orang-orang yang isi kepalanya lebih kosong dari dompet lo sebelum lo tinggal di penthouse," ucap Rian tegas.
Lana hanya bisa mengangguk lemah. Ia ingin sekali kembali ke rumah, kembali ke kamarnya yang sunyi, atau bahkan kembali ke desanya di mana ia tidak perlu merasa dinilai oleh selembar kain yang ia pakai. Jejak kaki pertamanya di kampus elite ini tidak terasa seperti kemenangan, melainkan awal dari perjuangan batin yang sangat melelahkan.
Ia berhenti di depan pintu kelas pertamanya. Pintu kayu besar yang tampak sangat berat. Lana menatap Rian dengan mata yang berkaca-kaca. "Kak Rian... Lana boleh pulang nggak?"
Rian terdiam sejenak. Ia ingin sekali memeluk Lana dan membawanya pergi dari tempat itu, namun ia teringat pesan Arka. Lana harus kuat. Rian memegang pundak Lana sebentar, memberikan kekuatan lewat sentuhannya.
"Masuk, Lan. Buktikan kalau otak lo lebih mahal dari gaya mereka. Gue bakal nunggu lo di kafetaria jam makan siang nanti. Gak asik banget kalau lo nyerah sekarang."
Lana menarik napas dalam, membetulkan posisi tasnya, lalu mendorong pintu kelas itu perlahan. Di dalam sana, puluhan pasang mata sudah menunggunya, dan Lana tahu, harinya baru saja dimulai. Jejak kakinya mungkin masih gemetar, tapi ia sudah melangkah masuk ke dunia yang akan menempanya menjadi sesuatu yang berbeda—entah itu menjadi berlian yang berkilau atau arang yang hancur karena tekanan.