Untuk visualnya, silahkan kunjungi Instagram noer_azzura16
Kakak Bella ditemukan dalam keadaan mabukk dan menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa Lusi, adik Leo. Membuat ibu dan ayah Leo terpukul hebat.
Sementara Bella dan Leo baru saja kembali dari bulan madu. Kebahagiaan itu hancur seketika, melihat keluarga yang akhirnya menatap Bella sebagai seorang adik dari pembunuhh orang yang mereka cintai.
Setelahnya Bella bahkan tidak bisa menatap cinta itu lagi di mata suaminya. Meski kakaknya bahkan di penjara. Dia masih harus menanggung akibat dari apa yang dilakukan kakaknya itu.
Dua orang yang tadinya saling mencintai, dendam telah mengalahkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11- CKOD 11
"Kamu pikir begitu? kamu pikir aku dan mas Sony seperti itu?" lirih Bella yang tangisnya semakin pecah.
"Itu bukan pertanyaanku, Bella! jangan membuatku marah! katakan dimana dia menyentuhmu!" pekik Leo lagi.
Bella tak tahu lagi bagaimana menjelaskannya pada Leo. Jika seseorang memang tak ingin mendengarkan penjelasan. Maka mau Bella bicara seperti apapun, Leo pasti juga tak akan percaya.
"Aku pingsan, aku tidak tahu...."
Tangan Leo menjauh dari rahang Bella. Tapi justru meraih tangannya dan alat penggosok punggung yang ada di kamar mandi itu.
Bella memalingkan wajahnya, dia benar-benar takut melihat Leo yang sangat marah. Namun Bella kembali harus terkejut, ketika Leo menarik tangannya dan tiba-tiba membuka pakaian Bella.
"Mas..."
"Kamu tidak tahu bagian mana yang disentuh kak Sony kan? maka aku akan bersihkan semuanya!"
Bella tersentak, Leo membuang pakaiannya di lantai. Dan mulai menggosok lengan Bella dengan sangat kasar, pinggangnya, perutnya, lehernya. Benar-benar kasar, rasanya panas dan perih. Tapi apa boleh Bella mengeluh? tentu saja tidak. Setiap keluhannya hanya akan jadi alasan Leo semakin marah.
Namun meskipun begitu rasa sakit itu benar-benar tak bisa Bella sembunyikan. Bella menatap Leo dengan semua rasa sakit yang dia rasakan. Tapi apa suaminya perduli? jawabannya sama sekali tidak. Rasanya Bella sedih sekali. Kenapa suaminya tak percaya padanya. Bagaimana mungkin Leo berpikir hal lain tentang Bella dan kak Sony?
Bella menelan salivanya, setelah dipikir-pikir lagi sekarang dia paham, sekarang dia tahu betul. Kalau memang Leo dan orang tuanya, juga kakaknya tidak akan pernah membiarkan ada satu orang pun perduli pada Bella.
Bella yakin, kalau saat ini keadaan Sony, meski tidak seburuk dirinya. Pasti juga sedang dapat masalah karena pria itu membantu Bella kemarin. Dia benar-benar hanya akan membuat orang-orang yang perduli padanya kesulitan. Bella sungguh merasa tidak berguna. Merasa sangat bersalah.
Sedangkan di gudang, Vivian yang baru bangun. Segera pergi ke gudang, untuk memastikan kalau menantunya itu tidak mati. Tentu saja, Vivian memang tidak akan membiarkan Bella matii dengan mudah.
Karena membiarkan Bella matii dengan mudah. Hanya akan membuatnya tidak bisa membalaskan apa yang sudah terjadi pada anak bungsunya. Setidaknya dia harus membuat wanita itu menderita, sampai merasa hidupnya lebih buruk dari kematian.
Dan sebenarnya, Vivian sudah berhasil. Tanpa tahu apa salahnya, Bella bahkan sudah merasa hidupnya sungguh lebih buruk dari mati. Kalau bukan demi kakaknya, demi keselamatan kakaknya, Bella mungkin sudah mengakhiri hidupnya sejak lama.
"Nyonya..."
"Ada apa? kenapa kamu tidak berjaga di depan gudang?" tanya Vivian pada penjaga yang memang dia tugaskan untuk menjaga di depan gudang.
Mencegah supaya tidak ada siapapun yang bisa memberi Bella makan atau minum.
Penjaga itu jadi lumayan ketakutan untuk mengatakan yang sebenarnya. Karena Vivian sudah melotot padanya.
"Itu nyonya..."
"Itu apa? jangan bilang ada yang memberinya makan? siapa? Sony? atau bibi Okta?" tanya Vivian.
Dan cara Vivian bertanya pada penjaga itu dengan membentak. Penjaga yang tubuhnya sebenarnya lebih besar dari Vivian itu sampai menelan ludahh sangking kagetnya.
"Nona Bella, sudah dilepaskan!"
Tambah lebarlah jadinya mata Vivian. Tangannya bahkan terkepal.
"Siapa yang berani melepaskan wanita siall itu?" pekik Vivian lagi.
"Itu, tuan Leo"
Vivian mendengus kasar. Dia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.
"Leo, kenapa dia melepaskan Bella?" gumam Vivian.
"Pergi kamu dari sini! dasar tidak berguna!" kesalnya pada penjaga yang langsung pergi dengan cepat itu.
Vivian kembali ke dalam rumah. Ketika dia masuk, dia melihat Desy yang masih cemberut di meja makan.
"Ada apa?" tanya Vivian yang duduk di samping Desy.
"Mas Sony! dia pergi semalam!"
Vivian terkejut.
"Semalam?"
"Iya, lewat tengah malam. Beberapa jam yang lalu. Aku kesal sekali padanya, Bu! aku katakan padanya supaya dia tidak lagi perduli pada wanita sialann itu! tapi dia terus bilang wanita itu tidak bersalah!"
Tangan Desy terkepal. Sebenarnya apa yang dirasakan Desy saat ini adalah lebih pada kecemburuan. Dia cemburu pada Bella. Dia berpikir terlalu jauh. Padahal Sony itu pria baik, dia bukan pria yang punya pemikiran lain, pemikiran yang tidak pantas. Sama sekali tidak seperti itu.
Vivian tak kalah kesal.
"Wanita siall itu memang murahan. Dia bahkan bisa membuat Leo melepaskannya dari gudang"
"Apa?" tanya Desy terkejut.
"Semalam Leo melepaskannya!" kata Vivian tidak senang.
Tapi Desy yang yakin kalau Leo sangat membenci Bella mendesah kasar.
"Huh, paling juga buat di siksa. Justru bagus kan kalau Leo yang siksaa dia. Penderitaan paling menyakitkan, adalah disiksaa suami sendiri!" kata Desy.
Vivian melirik setuju. Wajah mereka terlihat begitu puas. Mereka sepertinya sangat tahu. Apa yang memang paling membuat Bella menderita. Benar kata mereka, yang paling menyakitkan bagi Bella adalah rasa tidak percaya Leo padanya, tatapan penuh kebencian dari suaminya itu. Dan sikap Leo yang semakin lama seperti hanya menjadikannya pemuass nafsunya di atas ranjang saja, tanpa perduli rasa sakit yang dirasakan Bella, akibat sikap kasar Leo padanya itu.
Dan di dalam kamarnya, Leo mengambil sebuah handuk dan melemparkannya ke wajah Bella.
Bugh
Wanita itu bahkan tak bisa menangkap handuk itu. Dia yang terduduk di lantai kamar mandi yang sangat dingin, sudah tak mampu lagi menggerakkan tangannya.
"Jangan sampai aku dengar! Kamu merayu kak Sony lagi! tahu malu lah sedikit!"
Kata-kata yang rasanya menusukk sangat dalam di dalam hati Bella. Tapi matanya juga sudah tidak bisa meneteskan air mata lagi.
"Cepat ganti baju! buatkan aku teh!"
Setelah bicara, Leo keluar dari kamar mandi.
Bella mendengar itu, dia ingin meraih handuk yang jatuh di depannya. Tapi rasanya tangannya sakit sekali. Sulit di gerakkan, rasanya seperti keram tapi ngilu saat dia berusaha mengangkatnya. Seluruh tubuhnya juga rasanya kebas. Leo tidak hanya mencoba menghilangkan sentuhan tangan Sony, yang memang hanya untuk menolong Bella saat itu, dengan cara menggosok tubuhnya. Tapi iya memberikan tanda kepemilikannya di sekujur tubuh yang sudah sangat lemah itu.
Bahkan pria itu melampiaskan kekesalannya, dengan menghujam secara paksa Bella di bawah guyuran air dingin yang membuat Bella gemetaran.
Kaki wanita itu bahkan tidak bisa digerakkan. Dia mencoba untuk berdiri. Tapi sangat sulit.
Bella menoleh ke sekeliling, dia mencoba melihat apa yang bisa dia jadikan pegangan sebagai tumpuan untuk bangun. Dia mencoba meraih gagang pintu. Tapi tangannya rasanya sakit sekali.
Hingga Bella merasa pandangannya kabur, dia berusaha bangkit, tapi sayangnya dia gagal meraih gagang pintu itu.
Dugh
Brukk
***
Bersambung...
Author, boleh ngamuk gak, sama suami & keluarga nya..?
Karena menurut ku keluarga suaminya ada gila²nya.. 🤭
Pengen aja jadi psikopat jika di posisi si Bella..
Biar di babat habis mereka semua.. 🤭
mudah mudahan ada penolong 🤲
mimpi aja kamu Leo 🤭
Nicklas
niklas🙈