seorang pria yang jago berkelahi dan memulai petualangannya di sebuah kota dan bertemu cinta sejati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 20
Rencana besar di Kalimantan itu menjadi topik hangat di ruang rapat Politeknik keesokan harinya. Di atas meja, peta digital menunjukkan hamparan pesisir yang masih hijau, calon lokasi kota satelit yang diinginkan Ibu Diana.
"Ini bukan sekadar memasang turbin, Bang," Bayu menjelaskan sambil menunjuk titik-titik koordinat. "Tekanan air di sana berbeda, dan vegetasi bakau di sana harus tetap utuh. Kita harus mendesain infrastruktur yang benar-benar 'bernafas' bersama alam, bukan menindasnya."
Andi menyilangkan tangan di dada, menyimak dengan saksama. "Dan yang paling penting, Bayu, masyarakat Dayak pesisir di sana harus menjadi teknisi utamanya. Saya tidak mau Pery Permata membawa ribuan pekerja dari luar dan membiarkan warga lokal hanya menjadi penonton di tanah sendiri."
Rian mengangguk mantap. "Saya sudah siapkan modul pelatihan kilat. Kita bisa kirim alumni terbaik kita dari angkatan pertama untuk jadi instruktur di sana. Mereka sudah punya 'jam terbang' di Maluku, mereka tahu cara bicara dengan warga lokal."
Andin masuk membawa kabar dari birokrasi pusat. "Andi, Kementerian Lingkungan Hidup memberikan lampu hijau. Mereka menyebut proyek kita sebagai 'Standar Emas' pembangunan pesisir. Jika Kalimantan berhasil, seluruh proyek IKN dan sekitarnya akan diwajibkan menggunakan sistem audit sosial-lingkungan seperti yang kita terapkan di sini."
Andi berjalan menuju jendela, menatap dermaga Politeknik yang kini dipenuhi kapal-kapal riset kecil. Ia teringat sepuluh tahun lalu, saat ia hanya berdiri dengan tangan kosong melawan ekskavator Pery Permata. Kini, pemilik perusahaan itu sendiri yang datang memohon visi darinya.
"Dulu mereka ingin menggusur kita karena kita dianggap 'merusak pemandangan' mewah mereka," Andi terkekeh pelan. "Sekarang, mereka sadar bahwa kemewahan tanpa jiwa hanyalah beton mati."
Sore harinya, Andi menemui sekelompok mahasiswa baru yang sedang melakukan praktik bongkar pasang generator arus laut di tepi dermaga. Salah satu dari mereka, seorang pemuda dengan wajah penuh pelumas, bertanya dengan ragu, "Pak Rektor, apakah benar dulu tempat ini hampir rata dengan tanah?"
Andi berjongkok di sampingnya, mengambil kunci pas yang terjatuh. "Hampir, Nak. Tapi tanah ini punya ingatan. Dan ingatan itu dijaga oleh orang-orang yang tidak takut kehilangan apa pun demi harga diri. Mesin ini," Andi menunjuk generator itu, "bisa rusak dan diganti. Tapi keberanian kalian untuk berdiri tegak, itulah energi yang sebenarnya."
Malam jatuh dengan cahaya lampu-lampu taman yang ditenagai oleh arus laut Jakarta yang setia. Andi berjalan pulang menyusuri jalur hijau yang teduh, tangannya menggandeng tangan Andin. Di setiap sudut, ia melihat bayangan masa lalunya yang beringas kini telah melebur menjadi kebijaksanaan seorang pendidik.
Ia duduk di balkon rumahnya, memandangi kerlap-kerlip lampu kapal di cakrawala yang kini terasa lebih ramah. "Satu langkah lagi ke Kalimantan, Ndin," bisik Andi.
Andin menyandarkan kepalanya di bahu Andi. "Dan setelah itu ke mana pun laut membawa kita, Andi. Kita sudah membuktikan bahwa cahaya bisa muncul dari tempat yang paling gelap sekalipun."
Di bawah langit Jakarta yang kini terasa lebih lapang, Sang Cobra telah menemukan muara sejatinya. Perjuangannya kini bukan lagi soal memenangkan sengketa, tapi soal mengalirkan martabat ke setiap pesisir yang merindukan fajar baru.
Penerbangan menuju pedalaman Kalimantan kali ini terasa lebih personal bagi Andi. Di dalam kabin pesawat perintis yang berguncang rendah di atas hamparan hutan hujan, ia tidak lagi membawa cetak biru properti mewah milik Pery Permata. Di pangkuannya hanya ada sebuah buku catatan usang dan sketsa tangan dari Aris tentang integrasi rumah panggung tradisional dengan turbin arus sungai.
"Lihat itu, Andi," Andin menunjuk ke arah sungai besar yang meliuk seperti ular perak di bawah mereka. "Arusnya sangat kuat. Bayu benar, ini adalah sumber energi yang luar biasa jika kita bisa menjaganya tetap murni."
Saat mendarat di lapangan udara tanah merah, mereka disambut bukan oleh karpet merah, melainkan oleh deretan tetua adat Dayak pesisir yang berdiri dengan kewaspadaan yang tenang. Di antara mereka, Ibu Diana dari Pery Permata tampak sedikit canggung, berdiri dengan sepatu bot lapangan yang masih terlalu bersih.
"Tuan Andi," sapa salah satu tetua, matanya tajam menyelidik. "Ibu ini bilang kalian ingin membawa mesin ke sungai kami. Sungai adalah urat nadi kehidupan kami. Kami tidak ingin sungai ini mati menjadi waduk beton seperti di tempat lain."
Andi melangkah maju, melepaskan kacamata hitamnya. Ia tidak bicara soal efisiensi megawatt atau margin keuntungan. Ia berjongkok, menyentuh tanah merah yang lembap itu.
"Kami tidak datang untuk membendung sungai kalian, Pak," ucap Andi dengan nada rendah yang penuh hormat. "Kami datang untuk meminta izin agar aliran air yang sudah ada bisa memberi cahaya bagi anak-anak di sini, tanpa mengubah satu jengkal pun arah alirannya. Mesin kami akan bekerja di bawah air, tak terlihat, tak terdengar, namun akan menghidupkan sekolah dan puskesmas kalian."
Ibu Diana mendekat, mencoba menengahi. "Kami dari Pery Permata menjamin—"
Andi mengangkat tangan pelan, memotong kalimat Diana. "Izin ini bukan soal jaminan perusahaan, Bu. Ini soal janji antar lelaki laut. Jika satu pohon bakau tumbang karena proyek ini, saya sendiri yang akan menghentikan alat beratnya."
Ketegangan di wajah para tetua mulai mencair. Mereka melihat kejujuran yang sama yang dulu membuat warga pelabuhan Jakarta bersatu di belakang Andi.
Sore harinya, Andi dan Rian mulai melakukan survei lapangan. Mereka menaiki perahu kayu, menyusuri celah-celah sungai yang arusnya sangat konsisten. Rian menurunkan sensor sonar ke dalam air, sementara Andi mencatat kedalaman dan jenis dasar sungai.
"Bang, ini jauh lebih menantang dari Maluku," bisik Rian. "Banyak batang pohon besar yang hanyut. Kita harus mendesain pelindung turbin yang ekstra kuat."
"Itulah tugas kita, Rian," sahut Andi. "Kita tidak hanya membawa teknologi, kita membawa solusi yang menghargai alam mereka."
Malam itu, di bawah atap Rumah Betang yang luas, Andi duduk melingkar bersama warga. Ia menjelaskan maket integrasi mereka melalui proyektor bertenaga baterai. Ia menunjukkan bagaimana desa mereka akan menjadi desa mandiri energi pertama di kawasan itu, di mana mereka sendiri yang akan menjadi teknisi dan pengelolanya.
"Kami ingin kalian yang memegang kuncinya, bukan orang Jakarta," tegas Andi.
Andin, yang duduk di samping ibu-ibu penenun, mulai mendiskusikan bagaimana listrik ini bisa membantu mesin pintal elektrik untuk meningkatkan produksi kain tradisional mereka. Cahaya di mata warga bukan lagi cahaya ketakutan akan pengusiran, melainkan cahaya harapan akan kemajuan yang tetap berakar pada adat.
Andi berdiri di tepi sungai saat bulan mulai tinggi. Ia teringat gertakan Herman sepuluh tahun lalu tentang tembok beton. Kini, di pedalaman Kalimantan, ia sedang merobohkan tembok-tembok tak kasat mata antara korporasi besar dan rakyat jelata.
"Satu titik lagi, Andi," bisik Andin yang datang menghampirinya.
Andi memeluk pundak istrinya. "Dulu kita menjaga satu sekolah, Ndin. Sekarang kita menjaga satu Nusantara. Sang Cobra sudah terlalu tua untuk bertarung, tapi dia masih punya cukup tenaga untuk membimbing mereka yang ingin merdeka di tanahnya sendiri."
Di bawah langit Kalimantan yang pekat dengan suara serangga hutan, misi "Cahaya Bahari" resmi meluas. Bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai kawan bagi alam yang selama ini hanya diambil hasilnya tanpa pernah diberi cahayanya.