NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Hasil yang Dinanti

Pagi itu, langit tampak jernih tanpa gumpalan mendung, namun udara di dalam kabin SUV hitam milik Dimas terasa sebaliknya. Dinara duduk kaku di kursi penumpang, jemarinya terus meremas ujung jilbab marunnya. Hari ini adalah hari penentuan. Bukan lagi soal berhadapan dengan dosen penguji, melainkan menerima lembar keputusan akhir yang akan menentukan apakah ia berhak menyandang gelar sarjana atau harus kembali berkutat dengan revisi yang mencekik.

"Dek, napas. Jangan ditahan terus, nanti mukamu biru kayak warna sampul skripsimu," celetuk Dimas sambil memutar kemudi memasuki gerbang kampus.

Dinara menoleh, memberikan tatapan tajam yang tidak bertenaga. "Mas ini lho, orang lagi deg-degan malah diledek."

"Lho, Mas ini serius. Mas sudah di sini, di sampingmu. Apapun hasilnya nanti, bumi tetap berputar, Surabaya tetap macet, dan Mas tetap jadi suamimu yang paling ganteng. Wes ta, tenang dhisik," Dimas menepuk punggung tangan Dinara sebelum mobil berhenti sempurna.

Dinara menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang berpacu liar. "Doakan ya, Mas."

"Pasti. Mas tunggu di warung depan biasa ya? Biar kamu nggak merasa diawasi terus. Kabari kalau sudah keluar."

Dinara turun dengan langkah yang sedikit goyah. Dimas memperhatikan sosok istrinya hingga menghilang di balik pintu besar gedung fakultas. Ia kemudian memutar mobilnya, mencari tempat teduh di sebuah warung kopi sederhana di seberang jalan kampus.

Di warung itu, Dimas tidak benar-benar tenang. Ia memesan kopi hitam dan pisang goreng, namun matanya terus tertuju pada ponsel di atas meja kayu yang sudah kusam. Sesekali ia mengobrol dengan tukang parkir atau penjual koran, namun pikirannya tertinggal di dalam gedung sana. Ia tahu betapa kerasnya Dinara berjuang; air mata di kamar mandi, begadang hingga subuh, dan tumpukan jurnal yang menjadi bantal tidurnya.

"Walah, Mas... kok kayak nunggu pengumuman lotre," goda Pak De, pemilik warung, sambil meletakkan sepiring tahu goreng.

Dimas tertawa hambar. "Lebih dari lotre ini, Pak De. Istri lagi pengumuman kelulusan. Kalau nggak lulus, bisa-bisa saya disuruh tidur di balkon seminggu."

"Hahaha, tenang saja, Mas. Kelihatannya istrinya pinter, kok. Doakan saja yang terbaik," sahut Pak De sambil berlalu melayani pelanggan lain.

Dimas kembali menyesap kopinya yang mulai mendingin. Ia teringat kembali doa-doanya di sepertiga malam kemarin. Ia tidak meminta nilai yang sempurna, ia hanya meminta agar istrinya diberikan ketenangan dan hasil yang bisa membuatnya tersenyum kembali. Ia ingin melihat beban di bahu Dinara benar-benar tanggal.

Satu jam berlalu. Ponsel Dimas bergetar. Sebuah pesan masuk, namun hanya berisi satu kata: "Mas."

Tanpa berpikir dua kali, Dimas segera membayar kopinya dan berjalan cepat menuju gerbang kampus. Dari kejauhan, ia melihat Dinara berjalan keluar. Langkahnya tidak secepat biasanya. Kepalanya menunduk, dan ia memegang sebuah map kuning dengan sangat erat.

Dimas berhenti tepat di depan gerbang, menunggu dengan perasaan yang berkecamuk. Saat jarak mereka tinggal beberapa meter, Dinara berhenti. Ia mendongak, menatap Dimas dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Gimana, Dek?" tanya Dimas, suaranya melembut, siap untuk memberikan pelukan paling nyaman jika hasilnya tidak sesuai harapan.

Dinara tidak menjawab. Ia hanya menyodorkan map kuning itu ke tangan Dimas.

Dimas menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia membuka map itu perlahan, membaca baris demi baris keputusan rapat yudisium yang tertulis di sana. Matanya terpaku pada sebuah kata yang dicetak tebal: LULUS. Di bawahnya, tertera nilai akhir yang sangat memuaskan.

Dimas mendongak, menatap Dinara yang kini sudah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang karena isakan yang akhirnya pecah.

"Lulus, Sayang... kamu lulus!" Dimas berseru kecil, ia mengabaikan beberapa pasang mata mahasiswa yang lewat. Ia menarik Dinara ke dalam dekapannya, membiarkan istrinya menangis haru di pundaknya.

"Mas... Dinara lulus... Nilainya bagus," isak Dinara di balik punggung Dimas.

"Alhamdulillah. Wes, gak usah nangis maneh (Sudah, jangan nangis lagi). Mas sudah bilang kan, kerja kerasmu itu nggak bakal dikhianati sama hasil. Istriku hebat banget," Dimas mengelus kepala Dinara, memberikan ketenangan yang sangat dibutuhkan.

"Dinara tadi takut banget, Mas. Pas dipanggil, rasanya kaki mau copot," Dinara melepaskan pelukannya, mengusap air matanya dengan tisu yang diberikan Dimas. "Makasih ya, Mas. Makasih sudah nemani begadang, sudah mau direpotkan benerin bahasa skripsiku."

Dimas tersenyum lebar, jemarinya mengusap sisa air mata di pipi Dinara. "Sama-sama. Sekarang, gelar sarjananya sudah di tangan. Berarti tugas Mas selanjutnya adalah memastikan sarjana hukum ini nggak kelaparan. Ayo, kita balik. Mas mau pamer ke Ibu di Blitar kalau menantunya ini sekarang sudah resmi jadi orang pinter."

"Mas! Jangan pamer dulu, nunggu wisuda saja," protes Dinara sambil tertawa kecil di sela sisa isakannya.

"Lho, nggak apa-apa. Biar Ibu seneng. Tapi sebelum itu... kita makan besar dhisik. Kamu mau makan apa? Restoran mahal? Atau bakso favoritmu di pojokan jalan?"

"Bakso saja, Mas. Dinara lagi pengen yang pedas-pedas," sahut Dinara ceria.

Mereka kembali ke SUV hitam. Suasana di dalam kabin kini berubah drastis. Tidak ada lagi ketegangan yang menyesakkan, hanya ada tawa dan rencana-rencana masa depan yang mulai mereka bicarakan dengan lebih ringan.

Saat mobil mulai melaju meninggalkan area kampus, Dimas sesekali melirik Dinara yang kini tampak asyik memandangi lembar kelulusannya. Ada kebahagiaan yang terpancar dari wajah istrinya, sebuah cahaya yang membuat Dimas merasa bahwa semua lelahnya mengantar jemput dan menemani begadang terbayar lunas hari ini.

"Dek," panggil Dimas.

"Nggih, Mas?"

"Selamat ya. Mas beneran bangga sama kamu. Kamu hebat bisa selesaikan ini semua di tengah status baru kita sebagai suami istri. Mas tahu itu nggak mudah."

Dinara menoleh, menatap suaminya dengan tatapan yang penuh rasa kasih. "Makasih, Mas. Semua ini juga karena Mas. Kalau Mas nggak sabar, mungkin Dinara sudah menyerah di tengah jalan."

Dimas meraih tangan Dinara, menciumnya singkat tanpa melepaskan pandangan dari jalan raya. "Kita satu tim, Dek. Suksesmu ya suksesnya Mas juga. Habis ini, fokus wisuda, terus kita pikirkan langkah selanjutnya. Tapi hari ini, kita rayakan kelulusanmu dengan bakso paling enak di Surabaya."

Dinara tertawa, menyandarkan kepalanya di bahu Dimas dengan perasaan yang benar-benar plong. Di bawah langit yang cerah, SUV itu melaju membawa sepasang jiwa yang baru saja memenangkan satu babak penting dalam kehidupan mereka. Perjalanan masih panjang, namun hari ini, satu beban besar telah mereka tinggalkan di belakang, digantikan oleh harapan baru yang membentang seluas cakrawala.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!