NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."

Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.

Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.

Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Memutus Rantai Masa Lalu: Rahasia di Balik Penyakit Inggit

Keesokan harinya, Arlan duduk di ruang tamu rumah orang tuanya. Kabar mengenai persetujuan Hana telah ia sampaikan, dan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, gurat ketegangan di wajah Umi dan Abi-nya sedikit melunak.

"Syukurlah, Nak. Umi lega sekali dengarnya," ucap Umi sembari mengusap dada.

"Umi tahu ini berat bagi Hana, tapi setidaknya sekarang dia punya sandaran legal. Kalau Hana sudah sah menikah denganmu, Siska dan adik-adik Inggit lainnya tidak akan bisa lagi melabrak atau menghina Hana sembarangan. Kamu punya hak penuh untuk melindunginya."

Abi mengangguk setuju, namun wajahnya masih menyimpan satu ganjalan.

"Lalu bagaimana dengan rumah kamu dan Inggit, Lan? Bukankah rumah itu kalian beli bersama? Secara hukum, itu adalah harta gono-gini."

Arlan terdiam sejenak, ia sudah menduga pertanyaan ini akan muncul. Memang benar, rumah minimalis modern yang ia tinggali bersama Inggit adalah hasil patungan dari tabungan mereka berdua selama lima tahun pernikahan.

"Iya, Bi. Sebenarnya Mama Inggit dan Siska sudah mulai mempertanyakan itu lewat pesan singkat tadi pagi. Mereka seolah tidak sabar ingin menghitung setiap senti keramik di rumah itu," jawab Arlan dengan nada getir.

Arlan menyandarkan punggungnya, tampak sangat lelah dengan cara berpikir keluarga mertuanya.

"Arlan sudah memutuskan. Arlan akan meminta penilai properti untuk menghitung harga jual rumah itu sekarang. Arlan akan membaginya dua, lalu memberikan bagian Inggit kepada keluarganya menggunakan uang pribadi Arlan sendiri."

Abi menaikkan alisnya.

"Maksud kamu, kamu akan tetap menempati rumah itu tapi membayar 'hak' keluarga Inggit secara tunai?"

"Iya, Bi. Anggap saja Arlan membeli rumah itu sepenuhnya. Arlan terlalu malas, bahkan mungkin sudah muak, untuk terus berurusan atau berdebat soal harta dengan mereka. Arlan ingin memutus rantai komunikasi yang tidak perlu. Begitu uang itu diberikan, Arlan ingin mereka tidak punya alasan lagi untuk menginjakkan kaki di sana atau mengganggu kehidupan Arlan bersama Hana nanti."

Umi menatap putranya dengan bangga sekaligus prihatin.

"Kamu rela menguras tabungan pribadimu demi ketenangan ini, Lan?"

"Uang bisa dicari lagi, Mi," jawab Arlan tegas.

"Tapi ketenangan Hana dan martabat pernikahan kami nanti tidak bisa dibeli. Arlan ingin saat Hana masuk ke rumah itu, dia tidak merasa sedang menempati rumah 'orang lain' yang masih diributkan ahli warisnya. Arlan ingin Hana merasa itu adalah rumahnya sendiri, tempat yang aman baginya."

Abi menepuk bahu Arlan dengan kuat.

"Keputusan yang bijak. Selesaikan semuanya secara administratif sebelum akad. Biar saat kamu mengucap ijab kabul nanti, tidak ada lagi bayang-bayang tuntutan dari mereka yang tersisa."

Arlan mengangguk mantap. Baginya, pernikahan ini bukan sekadar menjalankan wasiat, tapi sebuah misi penyelamatan. Penyelamatan untuk dirinya dari rasa bersalah, dan penyelamatan bagi Hana dari dunia yang kejam.

Selama ini, dunia luar hanya tahu bahwa Inggit meninggal karena penyakit. Namun, Arlan tahu satu kebenaran pahit, Inggit juga meninggal karena perlahan-lahan jiwanya "dimakan" oleh tekanan keluarganya sendiri.

Bagi keluarga Inggit, darah lebih kental daripada air, tapi dalam kasus Inggit, darah itu terasa seperti racun yang selalu membuatnya merasa tidak pernah cukup baik.

Tekanan terbesar yang menghantui pernikahan Arlan dan Inggit selama lima tahun bukanlah dari Umi atau Abi Arlan. Justru keluarga kandung Inggit-lah yang paling gencar menghujamkan belati kata-kata soal keturunan.

Inggit selalu dibanding-bandingkan dengan Siska yang sudah memiliki dua anak.

Ironisnya, keluarga mereka seolah menutup mata bahwa Siska dahulu terpaksa menikah karena hamil di luar nikah. Sebuah aib yang dicuci bersih dengan kebanggaan palsu hanya karena Siska telah memberikan cucu.

Sementara Inggit dan Arlan, yang menjaga kesucian pernikahan mereka namun belum dikaruniai anak, justru diperlakukan seolah-olah mereka adalah pembawa aib keluarga yang cacat.

"Kamu itu perempuan, Inggit. Percuma sukses bisnis kalau rahimmu mandul," kata-kata ibunya sendiri masih terngiang di telinga Arlan.

Itulah alasan mengapa penyakit di rahim Inggit berkembang begitu ganas. Dulu, saat dokter menyarankan agar rahimnya diangkat demi menyelamatkan nyawanya, Inggit menolak keras. Ia menangis di pelukan Arlan, bersikeras mempertahankan organ itu karena ia masih memelihara harapan tipis, ia ingin memberikan Arlan seorang anak agar mulut keluarganya berhenti menghinanya.

Inggit mengorbankan nyawanya demi sebuah validasi dari keluarga yang bahkan tidak pernah menghargainya.

Dan kini, setelah raganya menyatu dengan tanah, di mana keluarga itu? Mereka menangisinya hanya sehari, mungkin hanya beberapa jam saat prosesi pemakaman agar terlihat pantas di mata pelayat. Sisanya? Mereka berubah menjadi burung nazar yang berputar-putar di atas bangkai, terus-menerus mempertanyakan setiap keping harta, setiap lembar aset, dan setiap jengkal tanah yang ditinggalkan Inggit.

Bagi mereka, Inggit bukan lagi kakak atau anak, Inggit hanyalah sebuah brankas yang kuncinya sedang mereka paksa buka lewat tangan Arlan.

1
Noona Rara
Aku mampir juga kak
Ai_Li: Terima kasih kakak🥰
total 1 replies
falea sezi
arlan pengecut amat yak
falea sezi
nyimakkk
Ai_Li: Terima kasih sudah mampir kak
total 1 replies
Ai_Li
🥰🥰
Ai_Li
Terima kasih sudah mampir ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!