NovelToon NovelToon
Bayangkan Di Rumah Sendiri

Bayangkan Di Rumah Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cerrys_Aram

Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Di Bawah Rintik yang Sama

Proyek CSR lingkungan itu ternyata jauh lebih menguras energi daripada yang Zerya bayangkan. Bukan karena teknisnya, tapi karena setiap langkah yang ia ambil selalu diawasi oleh Aldric dengan tatapan menghakimi.

Malam itu, jam menunjukkan pukul sepuluh. Kantor sudah sepi, namun Zerya masih berkutat dengan revisi anggaran di galeri seni—tempat yang kini menjadi kantor sementaranya. Di luar, hujan turun deras, seolah langit sedang ikut menumpahkan beban.

Langkah kaki yang mantap bergema di lantai marmer. Zerya tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma maskulin yang bersih itu sudah sangat ia kenali.

"Pekerjaan tidak akan lari ke mana-mana jika Anda pulang sekarang," suara rendah Javian memecah kesunyian.

Zerya merapikan berkasnya, mencoba tersenyum sopan. "Sedikit lagi selesai, Tuan. Saya tidak ingin menunda jadwal besok."

Javian berjalan mendekat, ia tidak duduk, hanya berdiri di samping meja Zerya sambil memasukkan tangan ke saku celana.

Matanya tertuju pada tangan Zerya yang

memegang pena—tangan yang sedikit gemetar karena kelelahan.

"Anda tidak perlu membuktikan apa pun pada saya, Nona Zerya. Saya sudah tahu Anda kompeten," ucap Javian datar. "Lalu, untuk siapa semua kerja keras yang menyiksa ini?"

Zerya terdiam sejenak. "Untuk proyek ini, tentu saja."

"Bohong," sahut Javian cepat. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, membuat Zerya bisa merasakan aura dominannya yang menyesakkan. "Anda sedang mencoba membayar sesuatu yang tidak pernah Anda utangkan. Harga diri? Atau kasih sayang yang tidak kunjung datang?"

Pertanyaan itu terlalu tajam. Zerya menutup laptopnya dengan gerakan tiba-tiba. "Saya rasa ini sudah di luar urusan profesional kita, Tuan Javian."

Zerya berdiri, meraih tasnya, dan bergegas menuju pintu keluar. Namun, derasnya hujan di luar sana seolah menahannya di teras galeri. Ia berdiri di sana, menatap butiran air yang jatuh, merasa sangat kecil dan lelah.

Javian muncul di belakangnya, memegang sebuah payung hitam besar. Ia tidak bicara, hanya berdiri di sana, membiarkan keheningan yang intens menyelimuti mereka.

Tiba-tiba, ponsel Zerya bergetar. Sebuah pesan dari Mamih.

“Jangan pulang terlalu malam. Papih tidak suka melihat anak perempuan keluyuran. Ingat, besok ada acara makan malam dengan kolega, jangan sampai wajahmu terlihat kusam karena kurang tidur.”

Zerya mematikan layar ponselnya. Tidak ada tanya "apakah kamu bawa payung?" atau "sudah makan?". Hanya instruksi.

"Mari," Javian membuka payungnya dan melangkah maju, memberi ruang di bawah naungan kain hitam itu untuk Zerya. "Saya antar ke mobil Anda."

Di bawah payung yang sama, jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Zerya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu. Di tengah dinginnya hujan, kehadiran Javian terasa seperti satu-satunya hal yang nyata dan solid.

Saat mereka sampai di samping mobil Zerya, Javian menahan pintu mobil. Ia menatap Zerya yang terlihat sangat rapuh di bawah temaram lampu jalan.

"Versi mana dari Anda yang asli, Nona Zerya?" bisik Javian, mengulangi pertanyaannya dengan nada yang jauh lebih dalam dan mengintimidasi daripada di kafe tempo hari.

"Apakah putri penurut yang selalu tersenyum ini, atau gadis yang sedang berteriak minta tolong di balik matanya?"

Zerya menatap Javian, bibirnya bergetar. Untuk pertama kalinya, ia tidak membalas dengan senyum sopan. Ia hanya menatap pria itu dengan tatapan hampa yang menyakitkan.

"Tidak ada versi yang asli, Javian," bisik Zerya pelan, tanpa embel-embel 'Tuan'. "Hanya ada apa yang orang lain inginkan dari saya."

Zerya masuk ke mobil dan pergi begitu saja, meninggalkan Javian yang berdiri mematung di tengah hujan. Payung hitam di tangannya masih kokoh, namun pikirannya baru saja dihantam oleh kenyataan yang lebih dingin daripada air hujan.

Ia menyadari satu hal: Zerya tidak sedang memakai topeng untuk menipu dunia. Ia memakainya karena ia lupa bagaimana rasanya menjadi diri sendiri.

1
Iqlima Al Jazira
next thor, kopi & vote untukmu👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!