NovelToon NovelToon
RYUGA

RYUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Malam itu turun dengan perlahan di kota. Langit gelap terbentang di atas deretan lampu jalan yang menyala satu per satu, sementara angin malam membawa hawa yang lebih sejuk dibandingkan siang hari.

Di rumah Quinn, suasana terasa tenang.

Lampu-lampu ruang keluarga menyala lembut, memantulkan cahaya hangat pada lantai marmer yang mengilap. Dari dapur terdengar suara piring yang sesekali beradu, pertanda Selena sedang merapikan peralatan makan setelah makan malam.

Sementara itu, Quinn berada di kamarnya.

Kamar itu cukup luas dengan nuansa warna lembut. Sebuah meja belajar berada di dekat jendela besar yang menghadap halaman belakang. Tirai tipis berwarna krem bergerak perlahan tertiup angin malam.

Namun ketenangan kamar itu tidak sejalan dengan keadaan hati Quinn.

Ia duduk di atas tempat tidurnya dengan ponsel di tangan.

Pikirannya masih tertinggal pada kejadian di toko perabot tadi sore.

Wajah Ryuga saat itu terus muncul dalam ingatannya.

Terutama tatapan terakhir sebelum Ryuga pergi.

Tatapan itu… bukan hanya dingin.

Ada sesuatu yang lain.

Sesuatu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Seolah-olah Ryuga baru saja menahan luka yang dalam.

Quinn menghela napas panjang.

“Apa sih sebenarnya yang dia pikirin…”

Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit kamar.

Namun sebelum ia sempat tenggelam lebih jauh dalam pikirannya—

Ponselnya tiba-tiba bergetar.

DRRRTTT...

Quinn langsung menoleh.

Nama yang muncul di layar membuatnya sedikit terkejut.

Ryuga.

Jantungnya berdetak lebih cepat tanpa ia sadari.

Ia duduk lagi.

Menatap layar beberapa detik.

“Ada apa dia nelpon malam-malam…”

Quinn akhirnya menekan tombol jawab.

“Halo—”

Namun suara yang terdengar di seberang telepon bukan suara Ryuga.

“QUINN!”

Suara itu terdengar panik.

Quinn langsung mengerutkan dahi.

“Keano?”

Di seberang telepon, suara musik keras terdengar samar-samar, seperti berasal dari sebuah tempat hiburan.

Keano terdengar sedikit terengah.

“Syukurlah lo angkat!”

Quinn langsung duduk tegak.

“Kenapa? Ini bukannya hp Ryuga?”

“Iya!”

Keano menjawab cepat.

“Ini hp dia!”

Quinn semakin bingung.

“Terus kenapa lo yang nelpon?”

Keano terdengar frustrasi.

“Karena dia mabuk!”

Quinn langsung terdiam.

“Apa?”

Keano hampir berteriak.

“Dia mabuk parah!”

Quinn mengerutkan dahi.

“Ryuga minum?”

Sejauh yang ia tahu, Ryuga bukan tipe orang yang mudah kehilangan kendali seperti itu.

Keano menghela napas berat.

“Gue juga kaget!”

Di belakangnya terdengar suara seseorang yang menabrak meja dan gelas.

Brak!

Lalu suara berat yang familiar.

“Ra…”

Quinn langsung menegang.

Itu suara Ryuga.

Namun terdengar kacau.

Serak.

Dan jelas mabuk.

“Ra…”

Suara itu terdengar lagi, lebih pelan.

Seolah seseorang yang memanggil dalam keadaan setengah sadar.

Quinn langsung menggenggam ponselnya lebih erat.

Keano kembali berbicara dengan nada panik.

“Lo denger kan?!”

Quinn menelan ludah.

“Dia… kenapa?”

Keano menjawab frustasi.

“Dari tadi dia nyebut nama lo!”

Quinn terdiam.

Jantungnya terasa seperti dipukul sesuatu.

Keano melanjutkan cepat.

“Gue sama Zayden udah coba bawa dia pulang, tapi dia nolak!”

Di belakang Keano terdengar suara lain.

Zayden.

“WOI RYUGA... DUDUK YANG BENER!”

Lalu suara gelas jatuh lagi.

Prang...

Keano mengumpat kecil.

“Dia kayak orang kesurupan, Quinn!”

Quinn berdiri dari tempat tidur.

“Apa yang terjadi sebenarnya?”

Keano menjawab jujur.

“Gue nggak tau!”

Ia terdengar benar-benar bingung.

“Tadi dia tiba-tiba datang ke klub, langsung minum kayak orang gila.”

Quinn menggigit bibirnya.

Keano melanjutkan.

“Dan tiap beberapa menit dia ngomong satu hal yang sama.”

Quinn berbisik pelan.

“Apa?”

Keano menjawab.

“Nama lo.”

Di belakang Keano terdengar lagi suara Ryuga.

Lebih pelan.

Lebih berat.

“Ra…”

Nada suara itu tidak terdengar marah.

Justru sebaliknya.

Seperti seseorang yang sangat terluka.

Quinn merasakan sesuatu menusuk di dadanya.

Keano berbicara lagi dengan nada memohon.

“Quinn, gue nggak tau harus gimana.”

Ia terdengar benar-benar kehabisan cara.

“Dia nggak mau dengerin gue.”

“Dia nggak mau pulang.”

“Dia bahkan hampir berantem sama orang barusan.”

Quinn langsung kaget.

“Apa?!”

Keano cepat menjelaskan.

“Dia salah paham sama orang yang nyebut kata ‘tunangan’ di meja sebelah!”

Quinn semakin tidak mengerti.

“Tunangan?”

Keano menghela napas.

“Pokoknya dia kayak orang patah hati!”

Quinn terdiam.

Kata-kata itu terasa sangat berat di telinganya.

Keano berkata lagi.

“Gue yakin cuma lo yang bisa bikin dia berhenti.”

Quinn menatap lantai kamarnya beberapa detik.

Di kepalanya terlintas kembali kejadian sore tadi—

Arka merangkul bahunya.

Ucapan tentang pernikahan.

Dan tatapan Ryuga yang hancur sebelum ia pergi.

Perlahan Quinn mulai mengerti.

“Dia…”

Ia bergumam pelan.

“…kayaknya salah paham.”

Keano langsung berkata.

“Makanya cepet ke sini!”

Quinn langsung mengambil jaketnya dari kursi.

“Di mana kalian?”

Keano menjawab cepat.

“Klub Steel Haven.”

Quinn langsung berjalan menuju pintu kamar.

“Gue ke sana sekarang.”

Keano terdengar lega.

“Cepet ya!”

Quinn menjawab singkat.

“Iya.”

Telepon pun terputus.

Quinn berdiri beberapa detik di depan pintu kamar.

Di dalam hatinya muncul perasaan yang bercampur—

khawatir,

bersalah,

dan sesuatu yang lebih dalam dari itu.

Ia menutup mata sebentar.

“Ryuga…”

Lalu tanpa ragu lagi—

Quinn keluar dari kamar dan bergegas menuju mobilnya, dengan satu tujuan di pikirannya.

Menemui seseorang yang saat ini mungkin sedang tenggelam dalam luka yang sebenarnya tidak pernah seharusnya terjadi.

...----------------...

Pagi hari datang dengan cahaya matahari yang perlahan menembus tirai kaca besar di sebuah apartemen modern di pusat kota.

Apartemen itu berada di lantai tinggi. Dari jendela kamar terlihat pemandangan kota yang mulai hidup kembali setelah malam yang panjang. Deretan gedung tinggi berdiri di kejauhan, sementara jalan raya di bawahnya mulai dipenuhi kendaraan yang lalu-lalang.

Di dalam kamar utama apartemen itu, suasana masih terasa sunyi.

Di atas tempat tidur yang besar dengan seprai abu-abu gelap, Ryuga baru saja membuka matanya.

Ia mengerjap beberapa kali, seolah mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang menyilaukan.

Namun begitu kesadarannya perlahan kembali, sesuatu yang lain segera menyusul—

Pusing.

Kepalanya terasa berat, seperti dipukul dari dalam.

Ryuga mengerang pelan sambil menekan pelipisnya.

“Ah…”

Ia duduk perlahan di tepi tempat tidur. Rambutnya sedikit berantakan, dan ekspresi wajahnya masih terlihat lelah.

Ingatan tentang malam sebelumnya terasa kabur.

Potongan-potongan kejadian muncul seperti potret yang tidak lengkap.

Lampu klub yang berkilau.

Suara musik keras.

Gelas yang terus terisi.

Dan rasa panas di dadanya yang tidak kunjung hilang.

Kemudian, di tengah ingatan yang kabur itu, muncul satu gambaran yang terasa begitu nyata.

Seorang gadis.

Memapah tubuhnya keluar dari klub.

Wajah itu sangat ia kenal.

Rambutnya tergerai lembut, dan sorot matanya penuh kekhawatiran.

“Ryuga, lo bisa jalan nggak sih?”

Suara itu terngiang samar dalam ingatannya.

Ryuga menutup mata sebentar.

Namun kemudian ia menghela napas panjang.

“Halusinasi lagi…”

Ia tersenyum tipis, namun senyum itu terasa pahit.

“Gue rasa gue udah gila, Ra.”

Nama itu keluar dari bibirnya hampir tanpa sadar.

Quinn.

Gadis yang sejak lama tinggal di tempat paling dalam di hatinya.

Ryuga berdiri dari tempat tidur, lalu berjalan keluar kamar menuju dapur kecil di apartemennya.

Langkahnya masih sedikit berat.

Ia membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral.

Saat ia membuka tutup botol dan mulai minum—

Tiba-tiba terdengar suara dari pintu depan apartemen.

Klik.

Pintu terbuka.

Ryuga mengerutkan kening.

Siapa yang berani masuk ke apartemennya tanpa izin?

Namun ketika ia menoleh—

Air yang sedang diminumnya hampir saja membuatnya tersedak.

Di ambang pintu berdiri seseorang yang sama sekali tidak ia duga.

Quinn.

Ryuga membeku di tempat.

“Ra…”

Quinn meliriknya dengan ekspresi malas.

Ia berjalan masuk sambil membawa kantong plastik dari sebuah warung bubur ayam.

“Udah bangun?”

Ia mengangkat alis.

“Kirain mati.”

Ryuga masih menatapnya tidak percaya.

Quinn meletakkan kantong plastik itu di meja dapur.

“Gue beliin sarapan.”

Ia membuka plastiknya.

Aroma bubur ayam langsung memenuhi ruangan.

“Bubur ayam tanpa daun bawang.”

Kalimat itu membuat Ryuga sedikit tersentak.

Itu adalah kesukaannya.

Ia menatap Quinn dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

Ada kebingungan.

Ada rasa hangat yang tiba-tiba muncul.

Dan ada sesuatu yang lebih dalam dari itu.

Quinn yang menyadari tatapan itu langsung mengerutkan dahi.

“Apa lihat-lihat?”

Ia menyodorkan mangkuk bubur ke arahnya.

“Makan.”

Lalu ia menambahkan dengan nada santai.

“Jangan lihatin gue terus.”

Ia menyilangkan tangan.

“Gue tahu gue cantik.”

Ryuga tiba-tiba terkekeh pelan.

“Hm…”

Ia menatap Quinn lagi, kali ini dengan senyum tipis yang jarang terlihat.

“Lo cantik.”

Kalimat itu membuat Quinn langsung salah tingkah.

“Apa sih…”

Ia memalingkan wajah.

Namun Ryuga tiba-tiba teringat sesuatu.

Ia berdehem pelan.

“Ehm…”

Quinn meliriknya.

“Apa?”

Ryuga mencoba terdengar santai, meskipun sebenarnya dadanya kembali terasa berat.

“Lo di sini…”

Ia berhenti sebentar.

“…emang calon suami lo nggak marah?”

Quinn mengerutkan dahi.

“Calon suami?”

Ryuga menjawab pendek.

“Hm.”

Quinn menatapnya.

“Siapa?”

Ryuga menjawab datar.

“Arka.”

Quinn terdiam beberapa detik.

Lalu tiba-tiba—

Ia tertawa.

Ryuga mengernyit.

“Kenapa?”

Quinn menatapnya.

“Lo udah baca undangannya?”

Ryuga menggeleng.

“Belum.”

Quinn menengadahkan tangan.

“Mana undangannya?”

Ryuga menjawab santai.

“Gue buang.”

Quinn melotot.

“Lo buang?!”

Ryuga mengangkat bahu.

“Hm.”

Quinn menatapnya heran.

“Kenapa?”

Ryuga menatapnya dengan ekspresi kesal.

“Lo masih nanya?”

Nada suaranya sedikit lebih tajam dari biasanya.

Quinn mengerutkan dahi.

Ryuga melanjutkan dengan nada yang menahan emosi.

“Lo datang ke toko sama dia.”

“Dia panggil lo ‘Ra’.”

“Dia rangkul bahu lo.”

Ia menatap Quinn tajam.

“Terus dia bilang mau nikah muda.”

Ryuga tertawa kecil, namun terdengar pahit.

“Dan lo malah senyum.”

Quinn mulai menyadari sesuatu.

Ryuga berkata dingin.

“Jadi gue pikir…”

Ia menghela napas.

“…ya udah.”

Quinn menatapnya beberapa detik.

Lalu bertanya pelan.

“Lo tahu siapa Arka?”

Ryuga menjawab singkat.

“Calon suami lo.”

Quinn langsung tertawa lagi.

“Bukan.”

Ryuga mengerutkan dahi.

Quinn menunjuk dirinya sendiri.

“Dia sepupu gue.”

Ryuga terdiam.

Quinn melanjutkan.

“Dia nikah sama cewek yang dia cintai.”

Ia menyandarkan tubuh ke meja dapur.

“Namanya Rania.”

Beberapa detik berlalu.

Ryuga masih diam.

Lalu perlahan—

Senyum kecil muncul di sudut bibirnya.

Ia menunduk sedikit.

“Jadi…”

Ia mengangkat pandangannya.

“Arka bukan calon suami lo?”

Quinn menggeleng, lalu menjawab santai.

“Bukan.”

Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang tiba-tiba mengangkat beban besar dari dada Ryuga.

Sesuatu yang sejak kemarin menekan hatinya perlahan runtuh.

Perlahan ia melangkah mendekat.

Lalu tiba-tiba memeluk Quinn dengan erat.

Quinn langsung terkejut.

“Eh?!”

Ryuga memeluknya begitu kuat, seolah takut jika gadis itu akan menghilang lagi.

Dadanya yang sejak kemarin terasa sesak akhirnya bisa bernapas lega.

“Ra…”

Suaranya terdengar pelan di dekat telinga Quinn.

“Jangan bikin gue mikir yang aneh-aneh lagi.”

Quinn masih kaku dalam pelukan itu.

“Ryuga…”

Namun Ryuga tidak segera melepaskannya.

Ia memejamkan mata sejenak.

Seolah baru saja diselamatkan dari sesuatu yang hampir menghancurkan dirinya.

Karena bagi Ryuga—

Kehilangan Quinn sekali saja sudah cukup menyakitkan.

Ia tidak sanggup membayangkan harus kehilangan gadis cantik itu untuk kedua kalinya.

...****************...

1
Nur Halida
oke naomi ... kamu nyerah aja gak usa deket2 lagi ama ryuga karena ryuga udah cinta mati sama quinn
Nur Halida
gilirannya vexa sama elric nih🤭🤭😁
Angelia nikita Sumalu
karena kamu menghalu bisa memiliki ryuga .. dalam mimpi sekalipun ryuga gak akan pernah memilih kamu.. dalam keadaan apapun perempuan yang akan selalu dipilih ryuga hanya quiin seorang meskipun bereinkarnasi ke kehidupan selanjutnya 😂😂😂
Bu Dewi
lanjut 😍😍😍
Nur Halida
kan emang ryuga gak pernah suka sama elo naomi... jadi yang waras ya 🤣🤣jangan gangguin quinn lagi😁
Nur Halida
cieee ... akhirnya jadian juga 😁😁😁
Nur Halida
mangkanya ga baca dulu tuh undangan biara gak salah paham lagi😄
Angelia nikita Sumalu
salah paham jilid 2..
Nur Halida
eh.. jangan2 ryuga pergi karena parah hati dan salah paham ama quinn kek dulu quinn pergi karena salah paham ama ryuga.. .
baca dong ga nama di undangannya biar kamu gak kecewa dan nama quinn masih ada di hatimu
Nur Halida
udah mulai gak salah paham lagi .. syukurlah😁
Yudi Chandra: aku seneng kamu selalu hadir....💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞😘😘😘😘😘😘
makaciiiiiih🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Nur Halida
lope you ryuga . .😍😍😍😍😍
Yudi Chandra: love you toooooo🤭🤭🤭🤭😘😘😘😘
total 1 replies
Nur Halida
udah deh ga kalo kamu emang beneran suka sama quinn jauhi naomi .. jangan masukkan dia pada circle pertemananmu lagi biar quinn gak salah paham terus .. dari dulu quinn salah paham karena naomi yg nempelin kamu mulu
Yudi Chandra: betul tuh betul.....🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
jangan berani berharap apa2 ren karena quinn punya ryuga..
Yudi Chandra: Hahaha....jangan gitu dong...kasian dia🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
modus terus buat dapat viuman pipi dari quinn😁😁
Yudi Chandra: lumayan kaaannn🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak🤭🤭🤭🤭
Yudi Chandra: siiippppp👍👍👍👍😘😘😘😘
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
maksa banget sih....
tebal muka banget...
berapa lapis tuh... macam kue lapis aja... 🤣🤣🤣
Yudi Chandra: Hahahha....tapi kue lapis enak tauuuuu🤭🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Heyy cewek gila...
Jangan berani²...
Yudi Chandra: dihhhh....mana peduli dia...😅😅😅🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Ternyata oh ternyata..
ada perempuan yang gak tahu malu mengatasnamakan teman masa kecil.. yg segitu gak tahu malunya segitu terobsesinya makanya mengaku ke quinn kalau dia pacarnya ryuga... hidup lu macam pemeran dalam drama cina si pemeran cewek manipulatif yg mengatasnamakan teman masa kecil tapi didepan wanita yg disukai sahabat mu mengakui kalau kamu sama sahabatmu itu pacaran padahal dekat kamu aja sahabatmu itu risih... bangun woyy Naomi... percuma nama cantik tapi kelakuannya minus
Yudi Chandra: hadeeehhh....cinta itu buta saayyyyyy🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
banyak saingan ya ryuga ???
semangat ga....aku pendukung setiamu😁😁😁
Yudi Chandra: Hahahha...bisa aja lu🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
ya karena kamu ada rasa sama ryuga quinn🤭🤭
Yudi Chandra: Hihihihi......masih denial diaaa🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!