NovelToon NovelToon
Warisan Terakhir Sekte Surgawi

Warisan Terakhir Sekte Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fandi Pradana

“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”

Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.

Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.

Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.

Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Pendekar Legendaris

Slash!

Tubuh kedua prajurit yang sebelumnya sedang menyusuri goa itu terbelah menjadi dua dalam sekejap, mereka bahkan belum sempat bereaksi dengan benar. Darah mereka memercik ke dinding batu yang lembap, sementara obor yang mereka bawa langsung jatuh dan berguling pelan di lantai goa.

Nyala api kecil dari obor itu masih berkedip-kedip, api kecil itu menerangi bayangan seseorang yang sedang berdiri tenang di tengah kegelapan goa.

Shang Lun.

Ia tetap berdiri dengan pedang yang masih terulur di tangannya. Wajahnya tetap saja datar seakan-akan ia baru saja menebas sebuah ranting pohon dan bukanlah dua nyawa manusia.

“Hm… ternyata hanya keroco,” gumam Shang Lun pelan sambil melirik sekilas tubuh para prajurit yang sudah tak bernyawa di belakangnya.

Ia langsung mengibaskan pedangnya sekali.

Darah yang menempel pada bilah logam itu memercik ke tanah batu.

Tanpa ekspresi apa pun, ia kemudian segera menyarungkan pedangnya kembali. Sarung pedang hitam itu bergetar sedikit saat bilah berat itu masuk kembali ke dalamnya.

Shang Lun mengangkat pedang besar itu ke bahunya.

Pedang tersebut sangat besar dan berat, jauh lebih besar daripada pedang biasa yang di anggap normal oleh para pendekar. Bahkan ketika ia sedang berjalan, setiap ayunan dari pedang itu meninggalkan bekas goresan kecil di tanah batu goa.

Langkahnya terdengar berat namun tetap stabil.

Tok… tok… tok…

Lalu ia segera berjalan perlahan melewati lorong goa yang panjang hingga akhirnya cahaya samar mulai terlihat dari kejauhan.

Tak lama kemudian, ia mencapai ujung keluar mulut goa.

Langit malam terbentang luas di hadapannya. Angin dingin dari pegunungan mulai berembus pelan menyisir tubuhnya, angin yang membawa aroma tanah basah dan dedaunan liar.

Shang Lun sempat berhenti sejenak.

Ia mengangkat wajahnya sedikit dan mulai menarik napas dalam-dalam.

“Hpm… hahhh…”

Napas panjang keluar dari dadanya.

“Segarnya udara malam,” sahutnya pelan dengan nada puas.

Matanya menyipit sambil memandang langit gelap yang dipenuhi oleh bintang.

Namun ia tidak tinggal lama di depan goa, tanpa berkata apa-apa lagi, Shang Lun mulai berjalan menuruni lereng gunung dengan langkah yang mantap.

Tujuannya sudah jelas, ia menuju wilayah Barat Hunan, tempat yang disuruh oleh tetua ketiga dari Sekte Demon.

Tempat yang dikenal sebagai Desa Giok Seribu Awan.

Langkahnya perlahan mulai menghilang di dalam kegelapan malam, bayangan itu mulai menyatu dengan angin yang berembus pelan di sekitar pegunungan lalu lenyap.

Sementara itu…

Di rumah kecil yang jauh dari tempat tersebut, cahaya lampu minyak masih menyala redup di ruang tamu.

Terlihat di sana Fang Yi sedang duduk bersila di depan sebuah meja kayu tua. Di hadapannya ada sebuah buku sedang terbuka dan terlihat usang, tetapi aura misterius seperti sedang memancar kuat dari setiap halamannya.

Matanya bergerak perlahan untuk mengikuti tulisan yang tertera di halaman kedua.

Bibirnya mulai membaca bait-bait yang ada di sana dengan pelan.

“Bilah pedang tak akan pernah patah ataupun retak…”

“Semangat yang selalu membara membuatku mencapai Keabadian…”

“Martial Sovereign adalah sosok tertinggi… sosok absolut yang tiada tanding di dunia.”

Tulisan itu berasal dari halaman kedua Buku Pendekar Terkuat—Ming dan Jin.

Ia mulai menelan ludah pelan.

Dadanya terasa bergetar ketika ia mulai membaca setiap bait.

“Ini… luar biasa,” gumamnya.

Ia segera mengulang kembali kalimat-kalimat itu, ia mencoba untuk memahami makna di baliknya.

“Bilah pedang tak akan pernah patah…”

“Semangat yang membara…”

“Martial Sovereign…”

Pemuda itu kemudian langsung menarik napas panjang.

Ia perlahan menutup matanya dan duduk bersila dengan lebih tegak.

Tangannya diletakkan di atas lutut.

Ia mencoba memahami setiap bait yang baru saja dibaca olehnya.

Kefokusannya begitu dalam hingga suara jangkrik dan suara apa pun yang ada di luar rumah menghilang dari indra pendengarannya.

Selama ia tenggelam dalam makna kata-kata itu…

sesuatu mulai berubah di sana.

Udara di sekitar ruangan perlahan bergetar sangat halus.

Partikel qi yang tidak terlihat mulai berkumpul dari segala arah menjadi satu.

Dari sela-sela jendela rumah, dari lantai kayu, dan bahkan dari udara malam di luar rumah.

Qi itu perlahan berputar seperti pusaran kecil.

Dan tanpa disadari olehnya…

energi itu mulai masuk ke dalam tubuhnya perlahan-lahan.

Satu demi satu, mereka terbentuk dan mulai mengalir melalui pori-porinya.

Masuk ke dalam meridian tubuhnya seperti aliran air yang sudah menemukan jalannya.

Napasnya menjadi lebih dalam, aura di sekitarnya mulai berubah menjadi semakin tenang namun juga semakin padat akibat qi.

Di bawah cahaya lampu minyak yang redup, tubuh Fang Yi terlihat diam…

tetapi kekuatan sejati di dalam dirinya yang sudah diwarisi oleh leluhurnya perlahan mulai terbangun.

“Wah… Qi-ku telah meningkat.”

Fang Yi mulai membuka matanya perlahan. Cahaya dari lampu minyak di meja tampak memantul di matanya yang kini menjadi lebih tajam dari sebelumnya.

Ia segera mengangkat kedua tangannya di depan wajahnya, lalu mulai menggenggam dan membukanya beberapa kali untuk mencoba merasakan suatu perubahan di dalam tubuhnya.

“Seluruh indraku… terasa jauh lebih tajam dari sebelumnya,” gumamnya pelan.

Ia memiringkan kepalanya sedikit, lalu mencoba untuk mendengarkan suara di sekeliling rumahnya.

Suara angin malam, gesekan dedaunan di luar jendela, bahkan suara serangga kecil di halaman belakang pun terdengar begitu jelas di telinganya.

Fang Yi segera menarik napasnya dalam-dalam, udara yang masuk ke paru-parunya terasa lebih ringan dan segar.

“Mungkin… aku sudah mencapai tingkat Qi setara enam puluh tahun kultivasi, sekarang aku sudah bisa bertarung seimbang dengan seorang pendekar kelas tiga,” ucapnya dengan nada kagum.

Ia perlahan mulai berdiri dari posisi bersila, kakinya terasa lebih ringan dan tubuhnya pun telah dipenuhi oleh sebuah tenaga baru.

Matanya kembali tertuju pada buku tua di atas meja, tanpa menunda lagi dirinya langsung membalik ke halaman berikutnya.

Di sana tertulis paragraf kedua yang menjelaskan sebuah teknik pedang sederhana.

Fang Yi lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan agar bisa membaca dengan lebih jelas, dan mulai membaca dengan suara yang pelan.

“Setiap pedang memiliki jiwanya masing-masing… begitu pula setiap manusia memiliki bakat mereka sendiri.”

Fang Yi mengangguk kecil seperti ia sudah memahami makna kalimat itu, lalu ia segera melanjutkan membaca bait berikutnya.

“Langkahkan kaki kirimu maju di depan kaki kanan…”

“Pegang pedangmu dengan niatan membunuh yang kuat.”

“Lalu ayunkan dengan cepat ke arah depan seolah ada musuh yang mengincar bagian kanan tubuhmu.”

Ia tanpa sadar mulai mengikuti instruksi itu.

Dirinya langsung mengambil pedang kayu latihan yang biasa ia gunakan dan mulai menggenggamnya dengan erat.

Kakinya mulai melangkah maju.

Kaki kiri di depan, sedangkan kaki kanan berada di belakang sesuai instruksi.

Tubuhnya sedikit condong ke depan, dan tangannya menggenggam pedang dengan kuat.

Ia menatap ke depan seolah ada musuh yang berdiri di hadapannya lalu memancarkan niat untuk membunuh.

“Ayunan yang tercipta oleh kerja keras dan pengulangan setiap gerakannya—Ming.”

Fang Yi mulai berhenti membaca.

Alisnya langsung berkerut sedikit.

“Ming…?”

Ia menundukkan pandangannya kembali ke tulisan itu.

Nama tersebut tertulis jelas di bagian akhir paragraf.

Fang Yi mengangkat tangan kirinya lalu mengusap dagunya secara perlahan, ekspresinya mulai berubah menjadi penuh rasa penasaran.

“Kenapa ada nama Ming di sini?” gumamnya pelan.

Ia kembali membuka halaman pertama buku itu, ia mencoba untuk memastikan sesuatu yang menurutnya aneh.

Namun setelah membaca ulang dengan cepat, ia tidak menemukan nama siapa pun di sana.

Halaman pertama sama sekali tidak menyebutkan pencipta teknik tersebut, seolah teknik itu lahir dari sebuah jiwa dari artefak pedang.

Fang Yi kembali menatap halaman kedua, dan di sana tertulis dengan jelas nama Ming.

“Di halaman pertama tidak ada penciptanya… tapi di sini ada nama Ming,” katanya lirih.

Ia mulai mengerutkan keningnya lebih dalam dari sebelumnya, nama itu terasa tidak asing baginya.

Ming adalah seorang pendekar hebat yang dahulu dikenal sebagai rekan seperjuangan leluhur Fang Yi—Fang Jin.

Fang Yi menutup buku itu sejenak sambil berpikir.

Namun rasa penasarannya membuatnya ingin kembali membuka halaman tersebut.

Matanya kembali membaca bagian dari teknik pedang itu.

Fang Yi mencoba mengayunkan pedangnya sekali.

Tebasan lurus.

Tusukan.

Kemudian menebas lagi sambil menangkis serangan dari arah horizontal dari segala kelemahan.

“Sesederhana ini…?” gumamnya.

Gerakannya tidak terlihat terlalu rumit, namun ketika Fang Yi mencoba membayangkannya, ia menyadari sesuatu.

Teknik itu telah menciptakan bayangan dari sebuah pedang.

Serangkaian gerakan cepat yang membuat lawan merasa seolah sedang menghadapi ilusi.

Gerakan sederhana itu jika dilakukan terus menerus akan menciptakan tekanan yang semakin kuat.

Semakin kuat penggunanya…

maka semakin menakutkan pula teknik tersebut.

Fang Yi mulai menatap pedang kayu di tangannya, ia mencoba melakukan gerakan pertama.

Srett—

Ia langsung menebas lurus ke arah depan, dilanjutkan dengan gerakan menusuk, lalu menebas lagi sambil menggerakkan pedangnya secara horizontal seperti yang dijelaskan di buku.

Namun entah kenapa tubuh Fang Yi merasakan aliran Qi yang mengalir mengikuti setiap ayunan pedangnya.

Fang Yi segera berhenti bergerak, lalu napasnya mulai sedikit tertahan saat itu.

“Teknik ini…”

Ia menatap pedangnya dengan ekspresi seolah tak percaya.

Ia menatap pedang kayu di tangannya.

Jarinya kembali mengusap dagu.

“Tunggu… kenapa rasanya aneh?”

Ia mengayunkan pedang itu sekali lagi, Qi di tubuhnya ikut bergerak, mata Fang Yi sedikit membesar.

“Pedang ini… kenapa terasa hidup.”

Ia segera menunduk kembali melihat buku itu.

Matanya berhenti pada sebuah tulisan nama tersebut sekali lagi.

“Ming…”

Ia mulai memegang kepalanya dengan dua tangan sambil berpikir dengan keras.

1
sutrisno akbar
lanjut thor lg seru
Hasan Basri
ceritanya semakin menarik👍
Rania: Terima kasih, semoga betah😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!