NovelToon NovelToon
Warisan Gaib

Warisan Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mata Batin / Hantu
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Its Zahra CHAN Gacha

Menjadi seorang dukun bukanlah sebuah pilihan atau cita-cita, tapi sebuah panggilan jiwa...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali melakukan ritual kejawen

Sore itu Joko menyempatkan diri menjenguk ke makam Nyai Ridah. Meskipun kondisinya belum fit benar namun ia tetap menziarahi kuburnya. Ia menebarkan aneka bunga yang di bawanya dan melafalkan doa untuknya.

"Maafkan aku Nyai, gara-gara aku kamu harus kehilangan nyawamu," Joko mengusap air matanya

Selesai berdoa ia pun meninggalkan area pemakaman.

"Nyai bilang kamu sudah sembuh, meskipun ia tidak bisa mengeluarkan semua keilmuan mu, namun Ia sudah berhasil menyembuhkan penyakit mu,"

Joko masih terdiam, ia benar-benar merasa bersalah atas kematian Nyai Ridah.

"Apa yang aku lakukan ini benar??" ucapnya berkaca-kaca

"Tentu saja,"

"Lalu bagaimana dengan Nyai Ridah, aku sudah membuat ia kehilangan nyawa, apa itu bukan kejahatan??"

Romli bisa merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Joko. Ia pun mendekati pemuda itu dan berusaha menenangkannya.

"Jangan pernah menyalahkan diri mu sendiri atas apa yang terjadi kepada Nyai Ridah. Percayalah dia sudah ikhlas melakukan semuanya, ini adalah resiko, ia sudah tahu sejak awal , jadi berhentilah bersikap seperti ini. Ia berpesan agar kamu melanjutkan pengobatan mu, jangan pernah menyerah apapun yang terjadi,"

Seketika tangis Joko pecah, ia tak bisa menahan kesedihannya lagi.

Malam itu ia benar-benar tak bisa tidur. Wajah Nyai Ridah terus menghantuinya hingga membuatnya sulit untuk tidur. Hingga pukul dua belas malam ia masih terjaga.

Tiba-tiba aroma wangi bunga kantil memenuhi kamarnya membuat ia langsung duduk bersila dan memejamkan matanya.

Ia tahu Dewi Poncowati datang menemuinya.

"Nyai??" sapanya dengan nada bergetar

"Bagaimana kanda, apakah kamu masih ingin berpisah dengan ku?"

"Entahlah, aku merasa jiwaku kosong sekarang, aku butuh seseorang, aku butuh seseorang untuk mengisi kekosongan itu," jawab Joko dengan wajah sendu

Hampa, itulah yang di rasakannya sekarang. Meki ia merasakan kondisi tubuhnya, namun jiwanya terasa kosong.

Dewi Poncowati dengan senyum mengembang duduk di sampingnya. Senyumannya yang menawan mengisyaratkan kemenangan atas apa yang sudah Joko lakukan. Bagaimanapun ia tahu pemuda itu tidak akan bisa melepaskannya dengan mudah.

"Jangan khawatir Kanda, aku akan selalu ada untuk mu. Ikatan kita sangat kuat, tidak ada seorangpun yang bisa memutuskannya. Aku akan selalu ada di sisi mu dalam keadaan suka dan duka. Kau bisa memanggilku jika menghadapi kesusahan, sama seperti dulu, aku akan selalu ada untuk mu," ucap Dewi Poncowati dengan nada menekan

Wanita itu mencium kening suaminya kemudian menghilang.

Bila sebelumnya Joko akan merasa tenang setelah kemunculan wanita itu. Kini rasa itu berbeda. Tak ada lagi ketenangan apalagi kebahagiaan. Yang ada hanya hampa yang terus membuatnya merasa kesepian.

Keesokan paginya, Joko memutuskan untuk pulang. Ia kembali ke pondok pesantren untuk menemui Kyai Rahman.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang Kyai, sekarang jiwaku hampa, aku merasa hidupku tak berarti lagi, aku sudah bosan dengan semua ini!" Keluh Joko

Seperti Kyai pada umumnya Rahman hanya menyarankan agar Joko mulai belajar Islam mengenali Tuhannya.

"Dengan begitu kamu bisa beribadah, dengan beribadah jiwamu akan tenang,"

Joko mengangguk pelan. Namun Kyai Rahman pun tak membuatnya tenang. Karena bukan itu yang ia cari. Joko pun pergi meninggalkan pesantren. Kali ini ia mengunjungi makam ibunya. Di sana ia juga menceritakan semua yang dialaminya selama melakukan perjalanan spiritual.

"Sekarang jiwaku hampa bu, aku butuh seseorang untuk mengisi kalbuku, seseorang yang bisa membuat ku nyaman, dan tenang,"

Joko menaburkan bunga ke malam sang ibu kemudian pergi. Kali ini tujuannya adalah kediaman Pranyoto. Ia pikir mungkin sang ayah tahu bagaimana cara membuat jiwanya tidak kosong lagi.

Ia memilih perjalanan menggunakan kereta agar lebih cepat tiba.

Pukul tujuh malam ia tiba di kediaman Pranyoto. Pria itu menyambut kedatangannya dengan sumringah.

Ia memeluknya erat.

"Apa yang terjadi le, kenapa kamu jadi kurusan seperti ini, wajahmu juga kusam, pucat, kamu sakit??"

Joko menggeleng. Ia berjalan ke beranda dan duduk di kursi bambu. Tatapannya datar tidak seperti biasanya.

Joko menceritakan semua kejadian yang menimpanya setelah ia memutuskan untuk melepaskan semua keilmuannya.

Wajah Pranyoto seketika mengeras. Kemarahan jelas terpancar di wajahnya.

Ia kemudian menyampaikan kekecewaannya terhadap Joko.

"Kamu itu kenapa ngeyel banget sih le, sudah bapak bilang, manuto, ojo ngeyel, sing anteng, kok yo masih ngeyel, nek koyo ngene yo aku angkat tangan, ( Kamu itu susah banget di bilangin nak, sudah bapak katakan, menurut saja, jangan ngeyel, yang tenang, kok masih gak denger , kalau begini aku ya angkat tangan)"

Joko hanya diam. Ia tak membalas ucapan sang ayah. Tentu saja ia tahu bapaknya akan marah padanya, itu sudah konsekuensi yang harus ia hadapi.

Ia hanya mendengarkan tanpa mencerna ucapan Pranyoto. Meksi tubuhnya ada di hadapan pria itu, tapi jiwanya entah pergi kemana.

"Ya sudah, semua terserah kamu, kalau ada apa-apa bapak gak ikutan!" gerutu Pranyoto

Tidak lama seorang Pemuda datang menyambangi kediaman mereka. Pemuda itu menyerahkan undangan padannya.

"Nitip undangan buat pak dhe ya mas," ucap pemuda itu dengan sopan

Joko sangat penasaran dengan isi undangan yang di pegangnya. Ia pun membuka undangan itu dan membacanya.

Matanya berbinar saat membaca undangan itu.

"Undangan Nderek ( tradisi penganut kejawen untuk melakukan ziarah ke makam leluhur )," Joko terpikir untuk ikut dalam acara tahunan itu. Namun ia ragu apa masih di perbolehkan ikut, apalagi sekarang ia bukan penganut kejawen lagi.

"Undangan dari siapa?" tanya Pranyoto

"Undangan Nderek, apa aku masih boleh ikut Pak?" tanya Joko dengan nada ragu

"Hmm, ikut saja kalau mau," jawab Pranyoto

Joko tersenyum senang. Meskipun ia sudah memutuskan untuk menganut agama islam. Tetap saja ia masih penasaran dengan hal-hal mistis yang ada dalam kepercayaan orang kejawen. Apalagi saat jiwa spiritualnya sedang butuh pencerahan. Ia merasa mungkin dengan mengikuti ritual ini bisa menentramkan jiwanya yang kosong.

Keesokan harinya, joko pun bersiap-siap. Ia sudah menggunakan jas hitam dangan bawahan jarik lengkap dengan blangkon.

Ia pergi ke sebuah makan salah satu leluhur para penganut kejawen dengan menggunakan bus. Perjalanan menuju ke makam memakan waktu kurang lebih lima belas menit.

Mereka pun tiba di kawasan pemakaman Kramat di dekat pantai.

Semua orang berkumpul di saung, seorang tetua memberikan arahan sebelum mereka melakukan ritual. Pertema mereka harus melakukan sesucen, yaitu sebuah ritual membersihkan diri sebelum menuju ke makam.

Mereka akan melakukan sesucen di sebuah gua. Dimulai para wanita terlebih dahulu. Mereka masuk ke dalam gua untuk mandi di sebuah sendang yang ada di dalam gua. Setelah para wanita selesai giliran para pria yang melakukan ritual tersebut.

Aneh, padahal letak gua itu di pinggir pantai, namun air di sendang itu tidak berasa asin.

1
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
naaah lhoooo...
kenapa tiba-tiba ada angin besar yang menghantam sepeda motor Joko
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
Alhamdulillah ternyata Uwa Wardi masih hidup guys
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
haaadeeeh
kayaknya ada yang sedang terjadi dengan Uwa Wardi deeeh Joko....
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
yoo iyaaalaaah kagak kelihatan Joko...
kan yang sedang kamu hadapi itu adalah aktivitas makhluk tak kasat mata
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
I pun membuka sebuah celah yang ia buat --> Ia pun membuka sebuah celah yang ia buat
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
iya juga seeeh
Dewi Poncowati kan penguasa alas Roban
pantesan aja kagak ada yang mau bantu Joko karena taruhan nyawa seeeh
selain nyawa Joko yang bakal melayang tapi juga nyawa orang yang telah membantu Joko
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
biasalah....
kayak kagak tahu sifat manusia aja iiiih
yang gak punya ilmu pengen punya ilmu
yang gak punya istri ghoib pengen punya lalu yang udah punya pengen cerai dari istri ghoibnya
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
ooooh jadi orang yang akan membantu Joko itu namanya Wardi gitu yaaak
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
woooooow harus tapa geni 40 hari 40 malam 😱😱😱😱
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
yaaa ini yang bener laah...
klo udah tahu salah itu mending diam aja deeeh
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
ooooh nama ilmu kebal itu adalah Lembu Sekilan tooooh
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
naah kaan.... kaaaan ada yang ampe muntah darah deeeh
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
lhoooo kok jadi ada tawuran warga seeeh
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
merinding gak tuuh saat berada di desa yang kental dengan mistisnya
💜⃞⃟𝓛 y𝒂𝒚𝒖𝒌🍒⃞⃟🦅
berat ini berat ya mbah
💜⃞⃟𝓛 y𝒂𝒚𝒖𝒌🍒⃞⃟🦅
syukuah sekarang joko udah g terllu di ikuti lagi
tp gmn ya dgn istri gaibnya apakh makin marah atau gmn
💜⃞⃟𝓛 y𝒂𝒚𝒖𝒌🍒⃞⃟🦅
waduh gmn ini
💜⃞⃟𝓛 y𝒂𝒚𝒖𝒌🍒⃞⃟🦅
lho jd bpk nya ada istri gaib juga ya
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
Aku tunggu kamu di ....... kamu bisa ---> setelah kalimat ini kok tulisannya aneh ya kak ?
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
ooooh yang akan membantu Joko itu ternyata adalah uwa dari pria tersebut toooh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!