𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 - FOTO YANG MEMBEKUKAN WAKTU.
Sore di Avermont datang dengan langit yang berubah perlahan. Matahari tidak lagi terik. Cahaya keemasannya menyentuh puncak-puncak pinus, menciptakan bayangan panjang di tanah berbatu. Angin bertiup lembut, membawa hawa dingin yang semakin terasa menjelang malam.
Vhiena berdiri di balkon hotel, menatap jauh ke arah lembah. Rizuki memperhatikannya dari dalam kamar. Ia bisa melihat dari punggung Vhiena yang tegak namun sunyi—seperti seseorang yang sedang menimbang sesuatu di dalam hati.
“Ki…” Vhiena akhirnya berbicara tanpa menoleh.
“Hmm?” Rizuki mendekat.
“Aku punya satu keinginan terakhir… sebelum kita pulang.”
Rizuki terdiam sejenak. “Keinginan apa?” rizuki mengerutkan alisnya, seakan tahu bahwa vhiena akan berbicara serius.
Vhiena menoleh, senyum kecil terukir di wajahnya—senyum yang terlihat tenang, namun menyimpan banyak perasaan. “Aku ingin foto bersama kamu,” katanya pelan. “Foto yang… formal.”
Rizuki mengernyit sedikit. “Formal?”
“Iya,” jawab Vhiena mengangguk. “Bukan swafoto. Bukan foto biasa. Foto yang… kalau suatu hari nanti aku lihat lagi, aku bisa bilang—ini nyata.”
Rizuki menatapnya lama. Ia tidak langsung menjawab. Ada banyak hal yang tidak bisa ia janjikan. Banyak masa depan yang tidak bisa ia buka. Tapi satu kenangan… satu momen yang bisa dibekukan…
“…kalau itu yang kamu mau,” kata rizuki akhirnya, setelah diam beberapa detik. “Kita lakukan.”
Wajah Vhiena langsung berbinar. " Terima kasih". Ucal vhiena dengan mata coklatnya yang berkaca-kaca.
Rizuki berpamitan pada vhiena untuk datang ke resepsionis dan menyampaikan keinginannya.
Pihak hotel Yang menerima informasi dari rizuki langsung bergerak cepat. Sebagai hotel bintang lima, mereka terbiasa memenuhi permintaan tamu—tanpa bertanya berlebihan. Dalam waktu singkat, kamar disiapkan untuk rias profesional, fotografer hotel dipanggil, dan satu sudut interior hotel dengan pencahayaan alami terbaik dipilih sebagai latar pemotretan.
Vhiena dibawa ke ruang rias lebih dulu. Make up artist profesional menyambutnya dengan ramah. Rambut Vhiena ditata dengan rapi, jatuh lembut membingkai wajahnya. Riasannya tidak berlebihan—hanya menonjolkan mata cokelatnya yang hangat dan senyum alaminya.
Gaun yang ia kenakan berwarna merah marun, desain minimalis, panjang, dan anggun. Tidak mencolok, tidak berlebihan—namun membuatnya tampak dewasa dan menawan dengan caranya sendiri.
Saat Vhiena berdiri di depan cermin, ia terdiam. “Ini… aku?” gumamnya pelan.
Make up artist tersenyum. “Iya. Versi kamu yang sangat elegan.”
Di ruangan lain, Rizuki juga bersiap. Ia mengenakan setelan jas formal merah marun, kemeja hitam rapi, dan dasi kupu-kupu merah. Rambutnya ditata sederhana namun tegas. Tidak ada yang mencolok, Tidak ada simbol kekuasaan, Hanya seorang pria muda dengan postur tegap dan aura tenang.
Saat Rizuki melangkah ke area pemotretan, langkahnya terhenti. Vhiena sudah berdiri di sana. Untuk sesaat… Rizuki benar-benar terdiam. Bukan karena gaunnya, Bukan karena riasannya. Tapi karena cara Vhiena berdiri dengan percaya diri, matanya yang bersinar lembut, dan senyum kecil yang seolah berkata: aku ingin diingat seperti ini.
“Ki…” Vhiena sedikit gugup. “Apa ini terlihat… aneh?”
Rizuki menggeleng pelan. “Kamu…” Ia berhenti sejenak, lalu berkata jujur, “…indah.”
Pipi Vhiena memerah.
Fotografer profesional mulai mengarahkan mereka. “Pose pertama,” katanya ramah. “Tolong berdiri berdampingan.”
Rizuki berdiri tegak. Vhiena berdiri di sampingnya, tangannya melingkar di lengan Rizuki—gerakan sederhana, formal, penuh kepercayaan.
Klik. Lampu kamera menyala.
“Bagus,” kata fotografer. “Sekarang pose kedua.” Ia memberi arahan lebih lanjut, dengan nada profesional dan sopan. “Tolong saling berhadapan.”
Rizuki berbalik menghadap Vhiena. Instruksi berikutnya datang perlahan.
“Tangan kanan pria di pinggang pasangan. Wanita melingkarkan tangan di leher—tenang saja, ini pose formal.”
Rizuki ragu sepersekian detik, lalu menempatkan tangannya di pinggang Vhiena dengan sopan dan ringan. Vhiena menahan napas, lalu melilitkan tangannya di leher Rizuki, tidak erat, hanya cukup dekat.
Mata mereka bertemu. Tidak ada dialog, Tidak ada senyum berlebihan.
Hanya tatapan yang penuh makna.
Klik.
Beberapa foto diambil dari sudut berbeda. Pencahayaan sempurna. Latar hotel mewah dengan sentuhan klasik menjadi bingkai elegan untuk momen itu.
Sesi pemotretan berakhir. Fotografer menunjukkan hasilnya di layar kamera. Vhiena menutup mulutnya pelan. “Ini… bagus sekali,” bisiknya.
Rizuki menatap layar itu lama. Foto-foto itu sempurna. Terlalu sempurna untuk sekadar kenangan liburan.
“Terima kasih,” kata Vhiena pada fotografer. “Benar-benar… terima kasih.”
Malam terakhir di Avermont datang. Langit gelap bertabur bintang. Lampu-lampu hotel menyala hangat. Dari jendela kamar, kota kecil itu terlihat tenang, seolah tidak tahu bahwa dua orang di dalam kamar itu sedang menyimpan perasaan yang berat.
Vhiena duduk di tepi ranjang, memegang ponselnya, menatap salah satu foto yang baru saja dikirim pihak hotel sedangkan Rizuki berdiri di dekat jendela, menatap keluar.
“Ki…” Vhiena memecah keheningan. “Foto itu…” Ia tersenyum kecil. “Aku akan menyimpannya baik-baik.”
Rizuki mengangguk. “Aku juga.”
Malam itu tidak diisi banyak kata. Hanya keheningan yang hangat, dan perasaan yang tidak ingin diucapkan karena takut akan menjadi nyata. Di Avermont, waktu seolah berhenti. Namun mereka tahu—besok, semuanya akan kembali bergerak.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/