Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.
Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.
Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.
Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
Setelah Lavernus dibawa pergi oleh penjaga dengan rantai besi mengkilat yang melingkar di pergelangan tangannya yang gemuk, Stella berjalan menghampiri pria bertopeng kelinci itu. Otto, yang tadi masih berlutut di tanah berdebu dengan sikap hormat, kini sudah berdiri tegak, debu putih menempel di paha celananya yang robek, rambut peraknya sedikit berantakan di balik topeng.
"Maaf atas kelakuan orang itu," ucap Stella. "Kau terluka?"
Sambil membersihkan jubah cokelatnya yang koyak di bahu dengan gerakan cepat, Otto menjawab, "Tidak masalah, Yang Mulia. Hanya lecet kecil."
"Orang itu selalu bertingkah egois. Dia haus pujian," lanjut Stella, matanya yang biru mengikuti iring-iringan penjaga yang menjauh di ujung jalan.
"Jika Anda mengetahui sifatnya itu sedari awal," kata Otto, "kenapa Anda masih mempertahankannya di posisinya?"
Gadis berambut pirang itu terdiam. Bibirnya yang biasanya tegas dan penuh keyakinan sedikit terbuka, namun tak ada suara yang keluar. Matanya yang biru membelalak sesaat.
"Ah, maaf atas perkataan saya yang lancang, Putri Stella." Otto sedikit menundukkan kepala, rambut peraknya yang panjang dan halus tersembul dari balik topeng, berayun lembut terkena angin.
"Tidak, tidak. Kau tidak salah, Steve." Stella menghela napas pendek, lalu senyuman kembali muncul, meski tak sampai ke matanya yang tetap muram. "Sebenarnya, aku juga ingin mengeluarkannya dari jajaran Gereja Cahaya sejak lama," lanjutnya, sambil tiba-tiba menjadi sangat tertarik pada serpihan debu halus yang menempel di lengan jubah putihnya yang mahal. Ia mengusapnya dengan hati-hati, ujung jarinya yang lentik menekan kain bermutu tinggi itu.
Melihat itu, Otto hanya menjawab, "Maaf, sepertinya saya terlalu jauh. Saya tidak boleh ikut campur dalam urusan internal kerajaan."
"Ya, begitulah. Politik." Stella menghela napas lagi, lebih dalam kali ini. "Kadang kau harus mempertahankan orang yang kau benci demi keseimbangan yang lebih besar. Atau setidaknya, itulah yang selalu dikatakan ayahku."
Suasana hening sejenak, diisi oleh suara-suara kota yang perlahan kembali normal—pedagang yang mulai berani berteriak lagi menawarkan dagangan, derit roda gerobak kayu yang kembali bergerak di atas batu, dan celoteh orang-orang yang mengomentari kejadian tadi dengan nada berbisik.
Tiba-tiba, sesuatu terlintas di pikiran Otto. Ia baru sadar, kenapa ia bertarung mati-matian melawan Lavernus sejak awal: untuk menyelamatkan pria tua bernama Synel tadi. Pikiran itu membuat jantungnya berdegup kencang. Tanpa basa-basi, tanpa pamit, ia berbalik dan berlari sekencangnya kembali ke dalam kedai yang hancur, sepatunya menghentak tanah dengan keras.
"Hei!" teriak Stella di belakangnya, suaranya setengah tertinggal, bingung. "Mau ke mana?!"
Dengan langkah tergesa-gesa, Otto melompati puing-puing pintu yang berserakan dan mendarat di lantai kayu yang masih berantakan, papan-papannya berderit keras di bawah berat tubuhnya. Matanya yang biru menyapu ruangan dengan cepat, mencari, mengharap. Tidak ada Synel. Tidak ada juga teman-teman Lavernus yang pengecut itu. Hanya ada pemilik kedai di sana, seorang pria gemuk dengan kumis tebal, sedang mendorong sebuah meja kayu yang miring ke tempatnya semula, wajahnya lelah dan berkeringat.
"Oh, kau," ucap pemilik kedai tanpa menoleh, suaranya parau. "Masih di sini?"
"Di mana pria tua itu? Yang tadi dipukuli? Dan di mana para penjilat Lavernus itu?" Otto bertanya cepat, napasnya sedikit tersengal.
"Ah, mereka." Pria tua itu berhenti mendorong meja, meluruskan punggungnya yang sakit dengan suara sendi yang berderak keras. "Pria tua itu... baru saja pergi. Bahkan sebelum Tuan Putri selesai bicara di luar sana."
"Ke mana?" Otto mendesak, langkahnya maju selangkah.
"Entahlah. Tidak bilang. Cuma melenggang pergi begitu saja." Pemilik kedai mengangkat bahu gemuknya. "Tapi dia ingin aku menyampaikan sesuatu untukmu."
"Hah? Apa?"
Pemilik kedai menatap Otto, matanya yang sipit dan keriput berbinar samar. "Dia bilang, 'Sampaikan rasa terima kasihku yang mendalam pada pemuda bertopeng itu.'"
"Hah?" Otto mengerutkan kening di balik topeng, bingung. Hanya itu?
"Dia bilang kau sangat berani. Dan dia sangat, sangat berterima kasih. Katanya kau menyelamatkan hidupnya."
Mendengar itu, Otto menghela napas panjang, bahunya yang tegang sedikit turun, rasa cemas di dadanya mengendur. "Dasar. Kenapa dia tidak mengatakannya sendiri kepadaku?"
"Kalau itu," pemilik kedai mengangkat bahu lagi, "dia bilang dia punya urusan penting yang harus segera diselesaikan. Terburu-buru sekali."
"Lalu bagaimana dengan para bajingan itu? Teman-teman Lavernus."
"Ah, para pecundang itu." Suara pemilik kedai terdengar jijik, lidahnya mendecak. "Mereka kabur begitu melihat kereta Tuan Putri mendekat. Bahkan tak sempat bayar minuman. Dasar pengecut."
Stella, dengan napasnya yang sedikit tersengal karena berjalan cepat, akhirnya tiba di ambang pintu kedai yang hancur dan berdiri di sana, bayangannya jatuh panjang di lantai. "Kenapa... kau tiba-tiba berlari seperti dikejar hantu? Ada apa?" Suaranya penuh rasa ingin tahu, bukan marah.
Pria bertopeng kelinci itu menoleh, matanya yang biru menangkap sosok putri di ambang pintu. "Oh, Putri Stella? Maaf. Kenapa Anda mengikuti saya?"
"Masih banyak yang ingin kubicarakan denganmu, Steve," jawab Stella, matanya masih memindai ruangan yang berantakan. "Kau buru-buru sekali."
"Ah, begitu. Maaf." Fokus Otto kembali ke pemilik kedai yang kini sudah duduk di bangku kayu dekat jendela, mengeluarkan pipa tembakau panjang dari saku celemeknya yang kotor.
Pria itu menyalakannya dengan korek api kayu, mengisapnya dalam-dalam hingga ujungnya membara merah. Lalu, perlahan, ia menghembuskan asap. Gumpalan putih itu mengepul dari sudut mulutnya yang keriput, membentuk awan kecil yang menggantung di udara berdebu, berputar-putar, sebelum akhirnya hilang termakan angin sepoi yang masuk dari pintu yang pecah.
"Sejujurnya," ucap pemilik kedai di antara hembusan asap kedua, suaranya semakin serak oleh tembakau, "aku terkesan dengan kemampuanmu, nak. Sungguh. Jarang ada orang biasa yang bisa bikin Lavernus berkeringat seperti itu. Biasanya dia selesai dalam sepuluh detik."
"Aku hanya beruntung," bantah Otto.
"Benarkah?" Pemilik kedai menyeringai, memperlihatkan giginya yang kekuningan oleh tembakau dan kurangnya perawatan. "Setelah pertarungan yang baru saja kulihat, kau bilang kau hanya beruntung?" Dia berhenti sejenak, menarik lagi pipanya dalam-dalam. "Kau tahu, meski kedai ini sering jadi tempat keributan, belum pernah rusak sampai separah ini. Dan belum pernah ada yang bisa bertahan selama itu, apalagi melawan seorang prajurit elit Gereja Cahaya."
Tiba-tiba, Stella menyela dari ambang pintu, suaranya tajam penasaran. "Menurut Bapak, seberapa kuat sebenarnya pria ini?"
"Tuan Putri? Kenapa Anda—"
"Mungkin tidak sebanding dengan prajurit terlatih dalam hal kekuatan fisik," jawab pemilik kedai, memotong Otto dengan santai. "Tapi pria bertopeng kelinci itu... cepat. Sangat cepat."
"Secepat apa tepatnya?" tanya Stella lagi.
"Anda tahu kan seberapa cepat Tuan Lavernus itu?"
Stella mengangguk pelan, bibirnya yang merah mengeras menjadi garis tipis.
"Pria ini..." Pemilik kedai menunjuk Otto dengan gagang pipanya yang panjang. "Dia menyamai kecepatannya. Gerakannya seperti air—mengalir, menghindari tebasan, lalu balas menyerang di celah yang tak terduga."
Tepat setelah perkataan itu meresap ke dalam pikirannya, Stella segera menatap tajam pria di sampingnya. Tatapannya menyelidik, penuh pertimbangan baru. "Hebat sekali, Steve. Lavernus adalah prajurit tercepat di antara pasukan elit Gereja. Bahkan beberapa ksatria kerajaan senior mengaku kesulitan meladeninya dalam latihan."
"Yah, mungkin karena saya terbiasa lari dari masalah, bukan menghadapinya," balas Otto. "Tapi Anda sendiri pasti juga bisa menyamai kecepatannya, kan? Sebagai putri yang terkenal memecahkan kasus Pembunuh IV, pasti Anda terlatih sejak kecil."
Mendengar itu, Stella tertawa pelan, memecah ketegangan.
"Tuan Putri?" tanya Otto, sedikit bingung dengan reaksi itu.
"Oh, maaf, maaf." Stella mengusap sudut matanya dengan ujung jari. "Hanya terkesan dan sedikit terhibur... kau tahu latar belakangku. Tidak semua orang di jalanan tahu tentang kasus itu." Ia tersenyum kecil. "Tapi untuk menjawab pertanyaanmu... Lavernus itu tidak ada apa-apanya buatku."
"Sudah kuduga," gumam Otto pelan.
"Hei, kalian berdua!" Pemilik kedai membentak dengan nada pura-pura kesal, suaranya menggelegar di ruangan kecil. "Apa kalian hanya ingin berdiri di sana dan mengobrol? Bantu saya merapikan tempat ini! Lihat ini, berantakan sekali!"
Akhirnya, Otto dan Stella pun bergerak, agak canggung di awal. Mereka membantu memunguti pecahan gelas dan piring dengan hati-hati, mendirikan kursi-kursi yang terbalik, dan menata kembali meja-meja kayu yang berat ke tempat semula.
Menit demi menit berlalu tanpa terasa, membuat mereka tidak sadar bahwa mereka sudah bekerja hampir sejam penuh. Keringat mulai membasahi kening Stella yang mulus, membasahi beberapa helai rambut pirangnya, dan debu semakin menempel tebal pada jubah Otto yang sudah lusuh dan robek.
Saat ruangan akhirnya kembali ke wujud aslinya—meski dengan pintu yang masih berupa lubang besar menganga—pemilik kedai mengantar mereka ke depan 'pintu' itu dengan tatapan lelah, lalu mengucapkan terima kasih dengan suara parau yang hampir tak terdengar.
"Hei, Tuan Putri," kata Otto sambil berjalan perlahan di sampingnya, keluar ke jalan yang mulai ramai.
"Ya?"
"Apa Anda benar-benar tak masalah menanggung ganti rugi pintu kedai itu? Saya rasa seharusnya sayalah yang bertanggung jawab."
"Santai saja." Stella melambaikan tangannya dengan anggun. "Anggap ini sebagai balasan karena kau sudah menegakkan keadilan di depan mataku. Dan juga," ia menambahkan dengan senyuman kecil, "sebagai permintaan maaf pribadi karena warga kami, prajurit kami sendiri, bertingkah seperti binatang buas di depan orang asing."
"Ah, baiklah. Kalau begitu saya terima."
Mereka terus berjalan bersampingan di siang yang mulai terik. Matahari menggantung tinggi di langit biru tanpa awan, menyinari jalanan berdebu yang ramai oleh lalu-lalang pedati beroda kayu dan pejalan kaki.
Suara derit rodanya yang tak terawat bersahutan dengan teriakan pedagang yang menawarkan barang dagangan, ringkik kuda yang kelelahan menarik beban berat, dan panggilan para kuli angkut.
Aroma yang menusuk memenuhi udara—keringat manusia dan hewan yang menyengat, bercampur dengan wangi rempah-rempah eksotis dari toko saudagar timur.
Wajah-wajah yang lewat sebagian besar keriput oleh terpaan matahari dan kerja keras, dengan pakaian sederhana dari wol kasar atau linen murah yang sudah pudar warnanya. Dan di atas semua kesibukan fana itu, Gereja Cahaya dengan menara tingginya menjulang angkuh, dinding alabasternya memantulkan cahaya matahari dengan gemerlap.
"Oh iya, ngomong-ngomong," Otto memecah keheningan mereka yang cukup nyaman, suaranya ringan. "Kita mau ke mana sebenarnya? Aku hanya mengikutimu."
"Ke Gereja Cahaya," jawab Stella.
Seketika, pria bertopeng itu menghentikan langkahnya. Kaki kanannya terhenti di udara beberapa inci dari tanah sebelum diinjakkan kembali dengan kaku. Tubuhnya menegang.
"Hei, Steve, kenapa kau selalu memakai topeng itu?" tanya Stella, yang berjalan beberapa langkah di depan, sebelum ia menoleh dan menyadari Otto tertinggal. "Steve? Ada apa?"
Gereja Cahaya? Pikiran Otto berputar cepat. Tunggu, bukankah ini sangat berbahaya? Tempat itu adalah sarang musuh. Apa yang harus kulakukan sekarang? Apakah aku harus lari? Tidak, tidak, itu malah akan semakin mencurigakan di depan putri kerajaan. Tapi...
"Ada apa denganmu, Steve?" Putri Valemira itu sedikit memiringkan kepalanya ke samping. "Kau tampak pucat."
Tunggu, bukankah ini juga bisa menjadi kesempatan? nalar lain dalam kepalanya berbisik. Dengan begini, aku bisa mendapatkan informasi dari dalam secara langsung. Mungkin saja... mungkin saja ada sesuatu di sana yang sangat berguna bagi kita. Untuk Master. Untuk rencana yang lebih besar. Sial, Tuan Iago, apa yang harus kulakukan?
"Hei, Steve!" Suara Stella meninggi sedikit, memotong lamunannya yang berputar-putar. Alisnya yang tipis dan rapi sedikit mengerut, menciptakan kerutan halus di dahinya yang mulus.
Dunia lamunan pria itu pecah bagai kaca yang dihantam batu. Suara yang memanggil namanya itu seperti tangan tak kasatmata yang menariknya paksa dari dimensi lain, menghempaskannya kembali ke kenyataan. Matanya berkedip cepat dari balik topeng kelinci. "Ah, ya? Maaf, saya melamun."
"Kenapa kau melamun di tengah jalan? Apa Gereja Cahaya membuatmu gugup atau sesuatu?"
"Oh, bukan apa-apa, bukan begitu." Otto berusaha tertawa kecil. "Tiba-tiba perutku terasa sakit."
Mata Stella menyipit lebih dalam, lebih tajam, menatap lekukan topeng di kelinci itu. "Serius? Itu bukan alasan untuk tiba-tiba membeku dan melamun, kan?" Nadanya ringan, hampir bercanda.
"Hah? Apa maksud Anda, Yang Mulia?"
Gemuruh keramaian di sekitar mereka tiba-tiba menjadi hening. Sebuah gelembung sunyi yang tak kasatmata terbentuk di antara mereka, memisahkan mereka berdua dari hiruk-pikuk pasar yang riuh. Hanya desis napas Stella yang tenang dan teratur, dan tatapannya yang menusuk, yang terasa nyata bagi Otto saat ini.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam, gadis itu tiba-tiba tertawa pelan, memecahkan ketegangan yang mengimpit. "Maaf, maaf. Aku hanya bercanda. Itu kebiasaan burukku."
"Ah, ya..." Otto mengendurkan bahunya yang tanpa sadar telah menegang.
"Aku sudah terbiasa bekerja menangkap para kriminal, menginterogasi mereka," lanjut Stella, senyumnya sekarang lebih hangat. "Jadi itulah kebiasaanku. Selalu curiga pada siapa pun. Termasuk pada orang yang baru kutemui dan membantuku."
"Ya, saya paham. Itu wajar untuk pekerjaan Anda. Tidak masalah."
Sialan, pikir Otto dalam hati, sambil mengatur napasnya kembali normal. Gadis ini... Kupikir dia mengetahui sesuatu. Tapi aku jadi tidak heran mengapa dia bisa membuat Tuan Iago kesusahan di tiga tahun lalu, dalam kasus Pembunuh IV.
"Hei, Steve," Stella memulai lagi, kali ini sambil berjalan pelan. "Aku ingin tanya sesuatu. Kenapa kau selalu memakai topeng itu? Tidak panas?"
"Oh, ini?" Otto menyentuh sisi topeng porselennya yang retak, merasakan teksturnya yang dingin dan halus di ujung jari. "Ini adalah pemberian teman dekatku. Sudah lama sekali. Sudah seperti bagian dari diriku."
"Begitu." Stella mengamati retakan halus yang kini semakin jelas di dekat telinga topeng itu, bekas benturan tadi. "Topeng itu terlihat sudah sangat tua. Banyak cerita di baliknya, kurasa. Apa aku boleh meminjamnya sebentar? Hanya ingin melihat dari dekat."
Pasti dia lebih ingin melihat wajahku yang tersembunyi, pikir Otto cepat, waspada. Untuk menyimpannya di dalam ingatan sebagai referensi kalau-kalau aku muncul dalam daftar pencarian.
"Maaf, Tuan Putri," jawabnya, sedikit menunduk. "Saya tidak terbiasa membuka topeng di depan orang asing. Kebiasaan buruk sejak kecil. Saya akan merasa... telanjang tanpa ini."
"Hm, tipe pemalu, ya." Stella tak mendesak lebih jauh, hanya mengangguk paham dengan senyum kecil. "Aku menghargai itu. Setiap orang punya rahasianya masing-masing. Mungkin saja ada rahasia besar di balik topeng itu, kan?"
"Maaf?"
"Ah, lupakan saja." Stella tertawa pelan. "Lagi-lagi kebiasaan kerjaku muncul. Aku harus belajar mengendalikannya di luar tugas." Ia berhenti di sebuah persimpangan, menunjuk ke arah jalan lebar yang mengarah ke pusat kota, di mana gereja menjulang di ujungnya. "Bagaimana? Mau ikut denganku ke Gereja Cahaya? Aku harus melaporkan insiden tadi secara resmi di sana. Dan siapa tahu," ia menambahkan dengan nada menggoda, "kau tertarik dengan arsitektur tempat itu? Atau mungkin betah di sana dan ingin bergabung?"
Otto berpikir sejenak, menimbang risiko dan keuntungan. Matanya yang biru di balik topeng memandang menara gereja yang menjulang di kejauhan, dindingnya yang memancarkan cahaya lembut. "Baiklah," akhirnya ia setuju, suaranya mantap, tanpa ragu. "Saya ikut, Yang Mulia. Saya juga ingin melihat langsung tempat suci itu dari dekat."
"Oke."
Akhirnya, Otto pun mengikuti Stella menyusuri jalan utama yang semakin lama semakin bersih dan terawat, semakin mendekati pusat kekuasaan dan agama kerajaan. Tidak lama kemudian, mereka tiba tepat di depan monumen iman yang megah itu.
Gereja Cahaya menjulang di hadapan mereka bagai gunung kristal yang dipahat oleh tangan para dewa. Dindingnya bukan dari batu biasa, melainkan dari sejenis alabaster ajaib, semi-transparan dan memancarkan cahaya susu yang hangat dari dalam.
Di siang hari seperti ini, dengan matahari di puncaknya, efeknya semakin kuat. Sinar matahari memperkuat sorot alami dinding, membuat seluruh fasad berpendar lembut bagai lentera raksasa yang menerangi sekelilingnya.
Jendela-jendela kaca patri yang menjulang tinggi tidak dilukis dengan cat atau cerita suci biasa, namun disisipkan dengan prisma alami dan serpihan lightstone yang memecah cahaya menjadi tarian pelangi hidup yang bergerak-gerak di atas lantai marmer putih di dalam.
"Selamat datang di Gereja Cahaya, jantung spiritual Cirland," ucap Stella.
"Ya," jawab Otto singkat.
Jadi di sinilah aku berada, pikirnya, matanya yang tajam menyapu setiap detail arsitektur, setiap ukiran, setiap penjaga yang berdiri kaku dan waspada di pintu utama, setiap pendeta yang lalu lalang dengan jubah putih bersih dan wajah tenang. Di jantung musuh. Aku harus ingat betul tujuanku ke sini: observasi, kumpulkan informasi, jangan mencurigakan. Dan yang paling penting, aku tidak boleh salah bicara.
Ia menarik napas dalam-dalam, menyembunyikan segala kegelisahan dan kegugupan di balik topeng kelinci yang tersenyum selamanya dengan ekspresi beku, lalu melangkah mantap mengikuti Stella ke dalam mulut cahaya yang terang benderang itu, siap menghadapi apa pun yang menunggu di dalam.