NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 : Mata Yang Mengawasi Dari Retakan

Garis tipis itu muncul seperti luka di udara. Tidak mengeluarkan suara. Namun tekanan yang ditimbulkannya—cukup untuk membuat semua orang di medan perang berhenti bernapas.

Reliza menghentikan ayunannya. Pedangnya masih mengarah ke Valtheris. Namun matanya kini terangkat ke atas. Tatapan hitam pekatnya—menembus retakan itu.

“Mengganggu...” Suaranya dingin. Jelas tidak suka.

Di sisi lain—Valtheris justru tersenyum lebar. Seolah ia telah menunggu momen ini.

“Jadi benar…” Ia melangkah mundur satu langkah.

Bukan karena terdesak. Namun karena penasaran.

“Aku kira hanya rumor.”

Noa mengernyit. “Apa yang dia bicarakan…?”

Licia menggenggam pedangnya lebih erat. “Ada sesuatu di atas sana…”

Erica menelan ludah. “Aku bisa merasakannya… itu bukan sihir biasa…”

Anor menyipitkan mata. Instingnya berteriak lebih keras dari sebelumnya. Lari. Namun tubuhnya tidak bergerak.

Retakan itu—perlahan melebar.

Dan dari dalamnya—muncul sesuatu.

Bukan tubuh. Bukan makhluk utuh. Melainkan—mata. Satu. Sangat besar. Dan terlalu… tidak wajar. Matanya seperti terdiri dari banyak lapisan cahaya.

Berputar.

Berdenyut.

Mengamati.

Seluruh medan perang—dalam satu tatapan.

Udara langsung menjadi berat.

Para kesatria yang masih berdiri—jatuh berlutut.

Beberapa bahkan kehilangan kesadaran.

Noa terhuyung. “Tekanan ini…!”

Maori di belakangnya mengeluarkan suara rendah. Seolah memperingatkan bahaya besar.

Erica mencoba membentuk sihir es. Namun lingkaran sihirnya langsung retak.

“Tidak bisa…!?”

Licia menggertakkan gigi. Bahkan Sylph di sekitarnya bergetar. Seolah takut.

Anor memegang kepalanya. “Suara… itu lagi…” Bisikan samar terdengar. Tidak jelas. Namun cukup untuk membuat pikirannya kacau.

Sementara itu—Reliza tetap berdiri. Tidak bergeser. Tidak terpengaruh. Tatapannya dingin. Langsung ke arah mata itu.

“Jangan melihatnya.” Suaranya pelan. Namun penuh tekanan.

Mata itu—tidak menjawab.

Namun—menatap balik.

Untuk sesaat—ruang itu terasa membeku.

Dua entitas—yang seharusnya tidak berada di dunia yang sama—saling menatap.

Valtheris tertawa pelan.

“Menarik… sangat menarik…”

Ia melangkah ke samping.

Menjauh dari garis benturan.

“Jadi ini alasan sebenarnya.”

Reliza mengerutkan alisnya sedikit.

“Apa?”

Valtheris menatap ke langit.

“Retakan ini… bukan kebetulan.”

Ia menoleh ke Reliza. Senyumnya melebar.

Hening.

Reliza tidak menanggapinya.

Namun aura di sekitarnya—mulai berubah.

Lebih gelap.

Lebih dalam.

Lebih berbahaya.

Ia mengangkat pedangnya.

“Kalau kau tidak pergi…”

Energi kegelapan mulai berputar di sekelilingnya.

“Aku akan memotongmu.”

Ancaman itu—tidak terdengar seperti ancaman kosong.

Langit bergetar.

Mata itu—sedikit menyempit.

Seolah—tersenyum.

Lalu—sebuah suara terdengar.

Tidak melalui telinga.

Namun langsung di dalam kepala.

Semua orang mendengarnya.

“Fragmen… ditemukan.”

Noa membelalak.

“Apa…!?”

Erica memegang kepalanya.

“Suara apa ini…!?”

Licia mencoba berdiri tegak.

Namun tubuhnya gemetar.

Anor terdiam. Matanya kosong. Seolah sesuatu dalam dirinya bereaksi.

Reliza menyipitkan mata. “Fragmen…?”

Suara itu kembali terdengar.

“Energi jiwa… tidak stabil…”

“Objek… prioritas tinggi…”

Dan—mata itu perlahan bergeser.

Bukan ke Valtheris.

Bukan ke Reliza.

Namun—ke arah istana.

Ke arah—Ferisu.

Reliza langsung melangkah maju.

Aura kegelapannya meledak.

“Jangan sentuh dia.”

Untuk pertama kalinya—emosi muncul jelas di wajahnya.

Amarah.

Pedangnya terangkat.

Energi di sekitarnya terkumpul.

Ia benar-benar siap—menebas sesuatu yang bahkan tidak memiliki bentuk utuh.

Valtheris menyeringai.

“Sekarang ini jadi menarik.”

Namun—sebelum Reliza bergerak—retakan itu mulai menutup.

Mata itu—perlahan menghilang.

Namun sebelum benar-benar lenyap—suara itu terdengar sekali lagi.

“Akan diambil… lain waktu.”

Dan—retakan itu tertutup.

Langit kembali normal.

Tekanan menghilang.

Namun—keheningan yang tersisa—jauh lebih berat dari sebelumnya.

Noa terjatuh berlutut. “Apa itu…?”

Erica menggigil. “Itu makhluk… apa…?”

Licia menatap langit. Matanya tajam.

Anor berdiri diam. Namun tangannya sedikit bergetar.

Reliza tetap berdiri. Pedangnya masih terangkat. Namun perlahan ia menurunkannya. Tatapannya masih ke langit. “Berani sekali.” Suaranya dingin. Sangat dingin.

Valtheris menatapnya. “Sepertinya…”

Ia memutar pedangnya santai. “Malam ini tidak akan selesai dengan sederhana.”

Reliza tidak menjawab.

Namun aura di sekitarnya—tidak mereda.

Justru—semakin dalam.

Karena sekarang—ini bukan hanya tentang musuh di depan.

Namun juga—sesuatu yang mengincar Ferisu dari luar dunia.

Keheningan masih menggantung di udara.

Bekas tekanan dari “mata” itu belum sepenuhnya hilang.

Namun—Reliza sudah tidak melihat ke langit lagi. Tatapannya kembali turun. Kali ini—langsung ke satu orang.

Valtheris.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia muncul—ekspresi Reliza berubah jelas. Bukan dingin. Bukan datar. Melainkan—kesal.

“Kau masih di sini?” Suaranya pelan. Namun tekanan di baliknya—membuat tanah di sekitarnya retak perlahan.

Valtheris tersenyum. Santai seperti biasa. “Kenapa? Aku merasa kita belum selesai.”

Reliza menatapnya tanpa ekspresi. Namun aura di sekitarnya—berubah. Jika sebelumnya terasa seperti bayangan—sekarang terasa seperti jurang tanpa dasar.

Gelap.

Dalam.

Dan—mematikan.

“Aku tidak punya waktu untukmu.” Langkahnya maju satu.

CRACK.

Tanah di bawah kakinya langsung hancur.

Energi kehidupan di sekitarnya—ditarik.

Dikendalikan.

Bahkan udara terasa seperti ditelan oleh kegelapan itu.

Noa menahan napas.

“Dia berubah…”

Erica menggigil.

“Ini… jauh lebih kuat dari sebelumnya…”

Licia menyipitkan mata.

Ia bisa merasakan perbedaannya.

Sebelumnya Reliza masih “bermain.”

Sekarang—tidak lagi.

Anor menggenggam belatinya erat. Instingnya hanya mengatakan satu hal. Jangan mendekat.

Di tengah medan—Valtheris mengangkat pedangnya.

Aura hitam menyelimuti tubuhnya.

“Bagus.”

Senyumnya melebar.

“Akhirnya kau serius.”

Ia menghilang.

BOOM—!!

Tanah di tempatnya berdiri hancur.

Dalam sekejap—ia sudah berada di depan Reliza.

Pedangnya langsung turun.

Cepat.

Mematikan.

Namun—Reliza tidak bergerak.

CLANG.

Pedang Valtheris—berhenti.

Bukan karena ditahan.

Melainkan—tidak bisa masuk.

Lapisan tipis energi hitam—melindungi tubuh Reliza.

Valtheris mengernyit. “Pertahanan?”

Reliza mengangkat wajahnya sedikit. Tatapannya tetap kosong.

“Lambat.”

BOOM.

Dalam satu gerakan kecil—Valtheris terpental. Tanah terbelah saat tubuhnya meluncur jauh ke belakang. Namun ia langsung bangkit. Matanya kini tajam. Ia mengangkat tangannya. Energi gelap terkumpul. Lingkaran sihir muncul.

“Coba ini.”

Puluhan bilah energi hitam melesat ke arah Reliza.

Cepat.

Bertubi-tubi.

Namun—

Reliza hanya mengangkat satu tangan. Semua serangan berhenti. Menggantung di udara. Seolah waktu dihentikan.

Noa membelalak. “Dia… menghentikannya?”

Reliza menutup tangannya perlahan.

CRUSH.

Seluruh serangan itu—hancur menjadi partikel kecil. Tanpa sisa.

Valtheris kini benar-benar serius.

Ia melesat lagi.

Lebih cepat.

Lebih tajam.

Pedangnya berkilat.

Serangan bertubi-tubi menghantam Reliza.

Namun—tidak ada satu pun yang mengenai.

Reliza bergerak.

Bukan menghindar—melainkan seperti tidak berada di tempat yang sama.

Ia berpindah.

Tipis.

Antara dimensi.

Setiap serangan Valtheris—selalu meleset tipis.

Seolah menyerang bayangan.

“—Tch.”

Valtheris melompat mundur.

Untuk pertama kalinya—ia terlihat sedikit kesal. “Kemampuan berpindah dimensi.”

Reliza tidak menjawab. Ia mengangkat pedangnya. Aura di sekitarnya berubah.

Lebih sunyi.

Lebih berat.

“Sudah selesai?”

Valtheris tersenyum lagi. “Belum.”

Ia mengangkat pedangnya tinggi.

Energi besar terkumpul.

Langit sedikit bergetar.

“Serangan ini—”

Namun—ia tidak sempat menyelesaikannya.

Karena—Reliza sudah ada di depannya.

Terlalu dekat.

Terlalu cepat.

Matanya yang hitam pekat—menatap lurus ke arah Valtheris.

Kosong.

Namun penuh sesuatu yang mengerikan.

“Diam.”

SLASH.

Tidak ada suara besar.

Tidak ada ledakan.

Namun—dunia itu sendiri terasa terbelah.

Valtheris membeku.

Pedangnya jatuh.

Tubuhnya—perlahan terpisah.

Garis hitam muncul di tubuhnya.

Tipis.

Namun pasti.

Ia tersenyum.

Pelan.

“Hah…”

Matanya menatap Reliza.

“Jadi… ini batasnya…”

Tubuhnya runtuh.

Tanpa suara.

Tanpa perlawanan.

Dan—

Valtheris kalah.

Sunyi.

Seluruh medan perang—membeku.

Tidak ada yang berbicara.

Tidak ada yang bergerak.

Noa menelan napas.

“Selesai…?”

Erica masih tidak percaya.

“Dia… benar-benar…”

Licia menurunkan pedangnya perlahan.

Matanya tidak lepas dari Reliza.

Anor menyipitkan mata.

“Bahaya…”

Namun—

Reliza tidak melihat siapa pun.

Pedangnya menghilang perlahan.

Aura di sekitarnya mereda.

Ia berdiri diam.

Lalu—menoleh.

Ke arah istana.

Ke arah—Ferisu.

Ekspresinya berubah.

Sedikit.

Sangat kecil.

Namun jelas.

Lembut.

“Sudah selesai.” Ia berbisik pelan. Seolah hanya untuk satu orang.

Namun—di dalam hatinya—ia tahu. Ini belum benar-benar berakhir. Karena sesuatu—dari luar dunia—sudah mulai bergerak.

Dan kali ini—targetnya jelas.

1
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
elf idiot 🙄....bknny pikirkn dlo...tpi sibuk cari kambing hitam....gk ada bedany seperti negara zenobia
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
Scorpio bs evolusi? hmm...gw gk Tau apapun ttg evolusi scorpio
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
ah! jd kekuatan kna segel...tpi reliza sebut serangga... pasti dewa dewi ya? yare2 🙄
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!