Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.
Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.
Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.
Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.
novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19. Buku peraturan
Happy Reading
"Berisikkkk! Iya, iya. Tadi malem aku cuma pura-pura tidur, puas?"
Puas katanya?
Jika saja dia bukan cewek, mungkin Alderza sudah menghabisinya sampai semua giginya rontok. Tapi, entah kenapa melihat wajahnya bersemu merah karena malu itu membuat Alderza campur aduk.
Ada rasa ingin marah karena Aily mengabaikannya semalam, dan ada pula rasa senang karena Aily berani terus terang.
"Kenapa pura-pura?"
"Jangan bahas lagi."
"Jujur aja. Gue gak bakal gigit kok."
Aily masih terdiam, sementara Alderza sembari menunggu jawaban Aily, langsung menjalankan mobilnya menuju tempat rahasianya.
Tempat dimana hanya dia dan seorang teman masa kecilnya yang tahu tempat itu.
Ada satu pertanyaan yang terus mengganjal dan dia tidak mau melewatkan kesempatan emas ini. Kapan lagi Alderza akan mendapatkan jawaban darinya jika bukan hari ini?
"Lo gak mau jujur, kenapa tadi malem pura-pura?"
"Aku cuma-"
"Gue. Bukan aku!" Potong Alderza dengan nada tegas.
Aily sedikit menatap Alderza. Karena merasa bersalah, dia langsung menuruti perintahnya.
"Gu-gue..."
Seketika Alderza tertawa terbahak-bahak mendengar Aily yang gelapan mengucapkan kata 'gue' di depannya.
"Lo kenapa sih, gugup banget? Santai aja."
Aily menundukkan kepalanya. Bukannya gugup, tetapi mengucapkan kata 'gue' sudah sangat asing bagi bibirnya.
"Dulu, kata sahabat aku, aku gak pantes ngomong 'gue-elo'."
Alderza mengerutkan keningnya. Sahabat? Pertanyaan itu muncul di benaknya.
Memang sejak kapan Aily punya sahabat?
"Coba, gue pengen denger sekali lagi." Ucap Alderza.
Aily menengok dengan wajah yang menyiratkan tanya.
"Ngomong gue lagi, Aily."
Aily menarik napas dalam-dalam, menyebutkan kata 'gue' itu seperti kata haram baginya.
"Gu-gue... gue..."
Alderza berdecak kesal. "Udah, udah. Jangan maksain. Kasian anak orang."
Aily cemberut sementara Alderza tersenyum kecil sembari memutar kemudinya menuju perkotaan. Mobil mereka saat ini melalui beberapa mall besar dan tempat-tempat makan lainnya.
"Mau ke mana?" Tanya Aily sambil memandangi sepatunya.
"Makan dulu."
Sambil mengemudikan mobil, sesekali mata Alderza melirik Aily yang tengah memandangi sepatunya.
"Makan dimana?"
"Emm... lo mau makan apa?" Tanya Alderza kemudian kembali melirik Aily yang masih menunduk.
Sepertinya dapat terhitung dengan jari saat Aily menatapnya. Ketika tatapan seriusnya muncul atau ketika cewek itu sedang terkejut, kesal, dan marah.
Sayangnya, jika sedang senang dan mengobrol santai seperti ini, Aily hanya menunduk, menatap sepatunya dan sesekali memainkan jarinya?
Gugup? Bukan. Alderza yakin ini bukan gugup. Dia sadar bahwa baru kali ini mereka berbicara seperti ini setelah sekian lama Alderza membullynya Aily memang selalu menunduk ketika ditanya atau sedang mengobrol dengan seorang pria.
Baik itu teman sekelas lain atau bahkan Bima, si ketua OSIS itu. Apa ada yang salah?
"Emang aku pantes ya, kalau aku ngomong aku mau makan apa?" Jawaban itu keluar dari bibir Aily begitu saja.
Sekali lagi, Alderza bingung. Mungkin saja dia terlalu sering menyakiti Aily, merasa canggung adalah alasan yang paling tepat untuk sekarang.
"Ya, pantes lah." Alderza tersenyum tipis sembari sesekali menatap Aily yang semakin menundukkan kepalanya.
"Kamu ada maunya kan? Makanya ngajak aku makan."
What?
Alderza langsung melotot kaget mendengar perkataan itu. Dia mengajak Aily makan karena dia langsung pergi dari rumah tanpa sarapan terlebih dahulu, dan dia yakin Aily sama sepertinya.
"Cuma makan doang, gak lebih."
Alderza mengembuskan napas, lalu memarkirkan mobilnya di sebuah restoran. Aily masih menjaga jaraknya saat mereka turun dari mobil.
Mereka masuk ke dalam restoran. Pelayan pun memberikan daftar menu di atas meja yang mereka tempati.
"Di buku ini ditulis, kalo cowok tiba-tiba ngajak makan, jangan mau. Soalnya, mereka pasti ada maunya."
Ucapan Aily barusan berhasil membuat Alderza mengelus dadanya. Menurut buku? Apa dia selalu membaca tips and trick mencari cowok yang baik? Benar-benar tidak masuk akal.
Aily mengeluarkan sebuah buku berwarna ungu. Bukan, ini bukan buku yang biasa dia bawa kemana-mana. Ini buku yang berbeda. Alderza yakin baru kali ini dia melihat buku tersebut.
Sementara itu, Alderza mengalihkan perhatiannya kepada pelayan yang sudah tersenyum menunggu pesanan dari mereka.
"Saya pesan Eat Happens satu sama moccacino satu." Alderza mengalihkan pandangannya kepada Aily yang sedang serius membaca buku tersebut.
"Eat happens dua aja, mbak. Moccacino satu sama susu hangat satu." Alderza mengubah menunya agar pelayan tersebut tidak menunggu lama.
Pelayan tersebut mengulangi pesanan dari Alderza dan langsung pergi menyiapkan pesanan. Sementara Alderza penasaran dengan buku tersebut.
"Itu buku apa?"
"Ini buku yang sahabat aku tulis dulu." Ucap Aily.
Alderza menaikkan alis kanannya bingung.
"Sahabat aku dulu tulis buku ini buat aku."
"Isinya apa?" Tanya Alderza penasaran. Jika sampai Aily tidak menjawabnya, dia akan langsung merebutnya buku itu sekarang juga.
"Halaman pertama isinya tentang penampilan. Satu, aku gak boleh pake make-up bahkan lip balm sekalipun. Dua, rambut aku harus dikuncir. Tiga, gak boleh pakai parfum. Empat-"
Alderza yang kesal mendengar ucapan Aily langsung merebut buku tersebut.
"Ih... Jangan diambil!"
Alderza mengabaikan Aily, dia melihat peraturan-peraturan yang tertulis di buku tersebut. Mengesankan! Ingin rasanya dja merobek buku tersebut. Kenapa dia masih saja mematuhi aturan-aturan tak berguna ini?
Siapa yang menulisnya?
"Rambut harus dikuncir? Tapi kok, sekarang gak dikuncir?" Tanya Alderza mengalihkan perhatian Aily agar tak tertuju pada buku tersebut.
Aily terdiam, lalu memegang rambutnya yang terurai. Alderza melihatnya sangat bingung, padahal rambut Aily sangat hitam, lebat, dan indah, kenapa harus dikuncir?
Makanan pun tiba, Eat Happens adalah roti yang unik. Dimana roti tersebut memiliki dekorasi perkebunan yang lengkap dengan bebatuan dan ulat.
"Kok ada uletnya?" Tanya Aily membuat Alderza tertawa, rasa kesalnya pada buku tersebut hilang saat Aily berkata seperti itu.
"Makan aja, kalo gak mau buat gue."
Mereka pun memakan roti tersebut dengan santai. Meskipun rasanya sangat enak, tapi tetap saja Aily merasa aneh saat melihat ulat itu menempel di makanannya, seperti ulat sungguhan.
Setelah 15 menit berlalu, mereka selesai sarapan. Alderza pun membayar makanan tersebut. Ketegangan mulai muncul dari wajah Aily dan tentu saja Alderza menyadari hal tersebut.
"Gue buktiin sama lo, kalo buku ini salah! Gue ngajak lo makan bukan karena ada maunya!"
Aily terdiam dan masih menunduk. Tiba-tiba saja, Alderza mengangkat dagu Aily agar menatap matanya langsung.
"Lo mau liatin gue juga gue gak gigit, jadi kalo tiap ada orang yang ngajak ngobrol itu liatin matanya. Jangan nunduk!" Ucap Alderza dengan nada lembut.
Saat menatap mata Aily, membuat Alderza sadar kenapa dia begitu jahat kepada Aily sejak dahulu?
"Aku Kadang-kadang suka liatin kamu kok. Asalkan gak di sekolahan."
"Terus tadi kenapa diem?"
"Nggak apa-apa, cuma gak biasa aja."
"Biar biasa, kita ke mall dulu ya." Ajak Alderza dan kembali Aily menunjukkan wajah ragunya.
"Kenapa? Di buku ini lo dilarang ke mall sama cowok?"
Aily menunduk. Entah kenapa akhir-akhir ini dia sering melanggar peraturan yang ditulis di buku itu, membuatnya merasa tidak enak.
"Kembaliin bukunya." Aily mengalihkan pembicaraan.
Sudah dipastikan jawabannya adalah 'iya' dan itu membuat Alderza semakin kesal.
"Aku ke toilet dulu."
Aily tidak mau menjawab pertanyaan Alderza, haruskah Aily bersembunyi dalam toilet seharian agar dia bisa langsung pulang?
Aily langsung beranjak pergi. Sementara Alderza memanfaatkan keadaan. Di dalam buku tersebut, dia dapat melihat aturan-aturan aneh lainnya.
Peraturan tentang cowok
1. Gak boleh senyum sama cowok.
2. Gak boleh liat-liat cowok.
3. Jangan tebar pesona sama cowok.
4. Jangan chat cowok.
5. Jangan pergi bareh cowok.
6. Jangan pernah jatuh cinta.
7. Jangan terima pemberian dari cowok apa pun itu.
8. Jangan curhat atau punya temen deket cowok.
9. Kalau mau pacaran, harus dapet izin dari kami.
Note : Jangan pernah mau diajak kemana-mana sama cowok. Oke, Aily cantik, mereka semua pasti ada maunya. Sekalinya lo senyum, lirik-lirik, apa lagi chatting, lo bakal ABIS!
Rasanya, dia ingin menghajar orang yang sudah menulis ini. Matanya terasa panas membaca tulisan peraturan aneh itu.
Siapa orang ini? Meskipun dia suka merundung Aily, peraturan seperti ini rasanya berlebihan.
Alderza terus membaca peraturan lainnya seputar penampilan dan juga apa yang harus Aily lakukan setiap minggunua.
Yang lebih memuakkan lagi, ada peraturan dimana Aily harus memberi mereka uang setiap minggunya.
Sial! Ini namanya keterlaluan, kenapa dia masih diam saja diperlakukan seperti ini?
Dengan tidak sabar, Alderza terus membuka setiap lembar demi lembar, dan Alderza yakin dia mampu mengingat setiap peraturan tersebut dalam sekali baca.
Sampailah Alderza pada lembar terakhir. Buku ini memang tidak tebal, hanya berisi peraturan konyol yang tidak berguna.
Di sana ada sebuah foto yang sangat mengejutkan, sebuah foto yang membuat Alderza menggeleng tidak percaya.
"Sinta, Riska?" Alderza kaget saat melihat foto Aily bersama Sinta dan Riska sambil berpelukan dan tengah tersenyum ceria.
Thank you yang udah baca, kalo ada kesalahan kata, typo, atau semacamnya, jangan lupa untuk dikoreksi ya. Love you all guys.