NovelToon NovelToon
Penantian Sheilla

Penantian Sheilla

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: chocolate_coffee

Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.

Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak, Rindu, dan Secangkir Kopi yang Terasa Sepi

Montreal sedang berada di masa transisi menuju musim panas. Suasananya jauh lebih bersahabat, tapi bagi Sheilla, pagi ini terasa sedikit lebih lengang dari biasanya. Sudah seminggu sejak Ardhito terbang kembali ke Jakarta, dan studio L’Aube de Sheilla rasanya kehilangan satu suara berat yang biasanya sibuk menawarkan bantuan meski kadang bantuannya malah bikin Sheilla gemas karena Ardhito belum terlalu paham cara memangkas batang bunga yang benar.

Awalnya, keputusan ini tidak mudah. Keluarga besar di Indonesia, yang ajaibnya masih sangat mendukung hubungan mereka setelah melihat pengorbanan nyawa Ardhito di gereja waktu itu, terus-terusan menelepon. Mereka bilang, Ardhito sudah berubah, dan perusahaan besarnya di Jakarta butuh tangan dinginnya untuk menyelesaikan krisis internal yang sempat muncul akibat ulah para petinggi yang memanfaatkan kekosongan kepemimpinan.

"Sheil, aku nggak mau pergi," kata Ardhito malam sebelum keberangkatannya, sambil memeluk Sheilla erat di bandara Trudeau. "Aku takut kalau aku balik, jarak ini bakal bikin kamu ragu lagi sama aku."

Sheilla melepaskan pelukan itu pelan, menangkup wajah pria yang sekarang jauh lebih lembut itu. "Dhito, kamu sudah janji mau tanggung jawab sama semua kesalahan masa lalu, kan? Memperbaiki perusahaan itu juga bagian dari tanggung jawabmu. Pergilah. Aku di sini, mengelola toko kita. Aku nggak akan kemana-mana."

--

Tujuh hari kemudian, Sheilla duduk di meja kerjanya, menatap ponselnya yang tergeletak di samping rangkaian bunga krisan. Sepi. Ternyata, kebiasaan itu memang menakutkan. Selama sebulan terakhir di rumah sakit dan masa pemulihan, Ardhito hampir selalu ada di jangkauan pandangannya. Sekarang, saat pria itu harus mengurus bisnis besarnya di Jakarta atas izinnya, ada lubang aneh di dada Sheilla.

"Mbak Sheil, kopinya dingin tuh," tegur Maya sambil menaruh beberapa nota pengiriman di meja.

Sheilla tersentak. "Ah, iya, May. Melamun bentar tadi."

Maya tersenyum penuh arti, senyum yang bikin Sheilla merasa "tertangkap basah". "Kangen ya? Baru seminggu lho, Mbak. Kemarin-kemarin bilangnya mau bebas, sekarang ditinggal bentar kok kayak kehilangan remote TV."

Sheilla tertawa kecil, meski pipinya agak merona. "Bukan gitu, May. Rasanya cuma... aneh aja. Biasanya ada yang nanya 'Sheil, bunga ini namanya apa?' atau 'Sheil, kamu sudah makan belum?' seratus kali sehari. Sekarang sepi banget."

Logika hatinya mulai mengakui satu hal: Sheilla merindukan pria itu. Bukan Ardhito yang dulu diktator, tapi Ardhito yang sekarang sering minta maaf kalau salah, Ardhito yang selalu berusaha belajar jadi orang yang lebih baik setiap harinya.

--

Di sisi lain bumi, di lantai paling atas gedung pencakar langit Jakarta, Ardhito sedang duduk di kursi kebesarannya. Jasnya rapi, rambutnya klimis, penampilannya kembali ke versi "King of Business". Tapi ada yang beda. Di atas meja kerjanya yang luas, tidak ada lagi botol wiski atau dokumen yang dibanting. Yang ada hanya bingkai foto Sheilla yang sedang tersenyum di tengah studionya di Montreal.

"Pak, rapat dengan dewan direksi dimulai lima menit lagi," lapor Rio, sekretarisnya yang sudah dimaafkan dan kembali bekerja dengan pengawasan ketat.

Ardhito mengangguk, tapi matanya masih terpaku pada ponsel. Dia baru saja mengirim pesan: "Sheil, Jakarta panas banget. Aku kangen udara dingin Montreal, tapi lebih kangen kamu yang biasanya ngomel kalau aku minum kopi kebanyakan. Sudah makan siang?"

Ardhito menghela napas panjang. Rasanya dia mau membatalkan semua rapat ini dan terbang balik ke Canada detik ini juga. Dia merasa tidak rela meninggalkan Sheilla sendirian, takut ada "Alex" lain yang mendekat, atau takut Sheilla menyadari bahwa hidup tanpanya ternyata lebih tenang.

"Rio," panggil Ardhito sebelum keluar ruangan.

"Ya, Pak?"

"Pastikan pengiriman bunga rutin ke apartemen Sheilla di Montreal berjalan lancar setiap pagi. Gunakan vendor lokal terbaik. Saya nggak mau dia merasa sendirian di sana."

--

Malam hari di Montreal, Sheilla baru saja menutup tokonya. Dia berjalan pulang menyusuri trotoar, ngerasain angin malam yang sejuk. Dia melihat ponselnya dan membaca pesan dari Ardhito. Tanpa sadar, sebuah senyuman terukir di bibirnya.

Aku sudah makan siang, Dhito. Kamu fokus ya urus perusahaannya. Jangan terlalu stres, nanti lukamu nyeri lagi. Aku... aku juga kangen sedikit.

"Kangen sedikit" adalah dusta kecil yang Sheilla buat untuk menjaga gengsinya. Kenyataannya, dia merasa kosong. Dia rindu bagaimana Ardhito menatapnya dengan penuh penyesalan sekaligus harapan. Dia rindu chemistry baru yang mereka bangun chemistry yang tidak lagi didasari rasa takut, tapi didasari rasa saling membutuhkan yang sehat.

Sheilla sampai di flatnya dan melihat sebuah buket besar bunga mawar merah jambu dan cokelat kesukaannya di depan pintu, lengkap dengan kartu ucapan dari toko lokal.

"Hanya pengingat kalau aku sedang menghitung detik untuk kembali ke sisimu. - A"

Sheilla memeluk buket itu, menghirup aromanya dalam-dalam. Di dalam flat yang sunyi, dia menyadari bahwa penderitaan panjangnya selama delapan tahun memang meninggalkan luka, tapi proses penyembuhan bersama Ardhito selama di Canada ini ternyata menumbuhkan sesuatu yang baru. Sebuah rasa sayang yang lebih dewasa, yang lebih tenang.

--

Ardhito di Jakarta benar-benar membuktikan kata-katanya. Dia menyelesaikan masalah perusahaan dengan tegas tapi manusiawi. Dia tidak lagi memaki bawahannya. Dia bahkan mendatangi satu per satu keluarga karyawan yang sempat terdampak kebijakan buruknya dulu untuk meminta maaf dan memberikan kompensasi.

Perubahan ini terdengar sampai ke telinga keluarga Sheilla. Kakak Sheilla yang di Canada, yang awalnya paling benci sama Ardhito, mulai luluh.

"Sheil," kata kakaknya saat mampir ke toko bunga. "Tadi Ibu telepon dari Jakarta. Katanya Ardhito sering mampir ke rumah bawa makanan kesukaan Ibu, terus dia bantu urus renovasi rumah masa tua Ibu tanpa diminta. Kayaknya dia beneran mau tobat."

Sheilla mendengarkan sambil merapikan batang mawar. Hatinya menghangat. "Iya Kak. Dia lagi berjuang. Dan aku rasa... aku juga lagi belajar buat buka hati sepenuhnya lagi."

--

Sudah masuk malam kedelapan. Sheilla berbaring di tempat tidurnya, melakukan video call dengan Ardhito. Di layar, Ardhito kelihatan lelah tapi matanya langsung berbinar pas lihat muka Sheilla.

"Sheil, aku baru beres rapat jam 10 malam di sini. Rasanya mau pingsan, tapi liat muka kamu aja langsung seger lagi," curhat Ardhito dengan nada manja yang dulu nggak mungkin dia keluarin.

Sheilla tertawa, hatinya berdesir. "Jangan lebay deh, Dhito. Istirahat. Kamu kan baru sembuh total, jangan dipaksa kerja bagai kuda."

"Iya, Nyonya. Kamu di sana baik-baik ya? Besok aku kirim orang buat cek pemanas ruangan di flat kamu, katanya Montreal mau ada hujan badai."

"Nggak usah, aku bisa panggil tukang sendiri. Jangan semuanya kamu yang urus, aku bukan anak kecil," protes Sheilla, tapi ada nada senang di suaranya.

"Aku cuma mau jaga kamu, Sheil. Dari jauh pun, aku mau kamu ngerasa kalau ada aku di belakang kamu."

Mereka terdiam lama di telepon, hanya saling menatap lewat layar. Ada emosi nyata yang mengalir rasa rindu yang menyesakkan tapi sekaligus manis.

"Cepat balik ya, Dhito," bisik Sheilla akhirnya.

"Tunggu aku, Sheil. Dua minggu lagi aku pulang ke Montreal."

Sheilla menutup telepon dengan perasaan lega. Dia menyadari satu hal: jarak seminggu ini bukan bikin dia ragu, tapi malah memperjelas kalau Ardhito sudah mengambil ruang yang cukup besar di hatinya. Dia tidak lagi menanti karena terpaksa, tapi dia menanti karena dia memang ingin Ardhito kembali.

To Be Continue...

-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --

1
falea sezi
uda end kah
Alif
smoga saja kamu menderita dhito
Siti Chadijah Siregar
sangat mengena sekali bahasanya hatiku tersentuh
Rubiyata Gimba
baru kau tahu
Rubiyata Gimba
sedarlah jangan makan hati sendiri, jangan terlalu mengharap pada orang yang tidak pernah memandang mu
Rubiyata Gimba
siapa suruh nenyintai orang yang tidak mencintainya
Rubiyata Gimba
sialan punya teman2
Lilla Ummaya
Lanjut thor.. ini asa kelanjutannya atau engga
Maira
tolong cpt update nya kakk
Maira
seruuu banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!