Dalam kehidupan sebelumnya, Vanylla Anderson adalah legenda di dunia teknologi. Ia seorang jenius yang berdiri di puncak, ditakuti sekaligus dihormati oleh banyak orang.
Namun ketika membuka mata untuk kedua kalinya, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis yang dianggap tidak berguna.
Namanya Vanylla Kennedy. Putri keluarga konglomerat yang dikenal bodoh, malas belajar, dan sering menjadi bahan ejekan di kalangan keluarga kaya.
Lebih buruk lagi, sebuah rahasia besar baru saja terungkap. Vanylla Kennedy ternyata bukan anak kandung keluarga Kennedy. Bayi yang tertukar delapan belas tahun lalu akhirnya ditemukan.
Putri asli keluarga itu, Emilly, kembali dengan kecantikan, kecerdasan, dan reputasi yang sempurna.
Sementara Vanylla hanya dianggap sebagai putri pengganti palsu yang memalukan. Ia dihina, diusir, dan dibuang dari keluarga yang dulu ia sebut rumah.
Namun sayangnya. Gadis yang mereka hina itu bukan lagi Vanylla yang dulu.
Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan Sang Ratu
Malam semakin larut.
Tanpa terasa sudah tengah malam. Ruang bawah tanah itu menjadi sangat sunyi. Sebuah bayangan berjalan perlahan menuju pintu. Pintu dibuka dengan hati-hati, lalu ditutup kembali.
Easton menghela napas lega. Untung tidak ada yang melihatnya.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.
“Sial! Hantu!”
Easton langsung melompat ketakutan. Wajahnya pucat.
“Ssst.”
Vanylla menempelkan jari di bibirnya.
“Pelan, Paman. Kalau Mama tahu kita keluar, kita nggak bakal bisa pergi.”
Easton baru sadar itu Vanylla.
“Pergi sana! Pergi! Orang miskin kayak aku nggak pantas jadi paman anak orang kaya kayak kamu!”
Namun Vanylla tidak marah. Dia tetap mengikuti Easton dengan santai. Seolah sedang berjalan-jalan biasa. Easton akhirnya menoleh dengan kesal.
“Kamu sakit ya? Vanylla Kennedy! Kenapa kamu ngikutin aku?”
Vanylla tersenyum. “Paman, nama aku Vanylla Anderson. Lagipula jalan ini bukan milik kamu. Kalau kamu boleh lewat, aku juga boleh.”
Easton terdiam sesaat. Dia hanya bisa terus berjalan sambil menggerutu. Tidak lama kemudian mereka tiba di tempat yang sangat terang. Itu adalah rumah judi bawah tanah terbesar di Newyork.
Sebelum masuk, Easton menyatukan kedua tangannya dan berdoa dengan sangat khusyuk.
“Tolong lindungi aku, Tuhan! Bikin aku beruntung malam ini! Kalau aku menang banyak, aku bakal bakar dupa dan kasih sumbangan besar!”
Di dalam rumah judi, udara dipenuhi asap rokok. Berbagai macam orang ada di sana.
Orang yang menang terlihat sombong. Orang yang kalah tampak putus asa.
Easton sudah sering datang ke tempat itu. Begitu dia masuk, beberapa orang langsung menyapanya.
“Daddy Easton datang!”
“Halo Daddy Easton!”
“Siapa ini, Daddy Easton? Saudaramu?”
Baru saat itu Easton sadar Vanylla ikut masuk. Dia langsung mundur beberapa langkah dan menjauh.
“Aku nggak kenal dia! aku nggak ada hubungan sama dia!”
Vanylla tidak peduli.
Dia tetap mengikuti Easton sampai ke meja judi paling dalam. Sekelompok orang sedang berteriak keras.
“Besar! Besar! Besar!”
Bandar membuka kotak dadu sambil tersenyum.
“Tiga, satu, lima! Kecil!”
“Sial! Kok bisa kecil!”
“Sial banget!”
Bandar kembali mengguncang dadu. Di depan meja muncul papan taruhan. Para pemain bisa memasang taruhan di berbagai kombinasi angka. Semakin tepat tebakan, semakin besar uang yang didapat.
Telinga Vanylla bergerak sedikit.
Dia mendengarkan suara benturan dadu di dalam kotak.
Sementara itu Easton dengan hati-hati memasang taruhan pada “Kecil”.
Lalu dia kembali berdoa dalam hati.
“Paman.” Vanylla berbicara pelan.
“Pasang Besar. Angkanya lima, enam, satu.”
Easton memutar matanya dengan penuh penghinaan. Dia pikir siapa Vanylla?
Gayanya sok yakin seperti ratu judi.
Benar-benar lucu.
Setelah semua orang memasang taruhan, bandar membuka kotak.
“Lima, enam, satu. Besar!”
Easton melirik Vanylla dengan heran.
Tebakan asalnya benar?
Mungkin cuma kebetulan.
Easton menenangkan diri dan memasang taruhan lagi.
Saat itu Vanylla kembali berkata, “Paman, kali ini juga salah. Hasilnya Besar. Angkanya enam, enam, satu.”
Ketika bandar membuka kotak, Easton langsung terpaku. Persis sama dengan yang dikatakan Vanylla.
Dia menelan ludah dengan susah payah. Putaran ketiga dimulai.
Easton tetap memilih Kecil.
Dia tidak percaya pada kata-kata Vanylla. Dia sudah lama berjudi. Masa kalah dari anak kecil.
Vanylla tersenyum tipis. “Masih Besar. Enam, empat, satu.”
Tidak mungkin. Bagaimana mungkin Vanylla selalu benar?
Bagaimana mungkin terus Besar?
Easton menatap kotak dadu dengan tajam.
Pasti Kecil.
Harus Kecil.
Dia tidak boleh kalah dari Vanylla. Ketika kotak dibuka, wajah Easton langsung pucat.
Vanylla benar lagi.
Tiga kali berturut-turut.
Meski begitu, Easton masih tidak percaya.
Sekarang dia hanya memiliki tiga puluh dolar dari gaji hari ini.
Kalau kalah lagi, habis sudah.
Karena beberapa putaran sebelumnya semuanya Besar, dia yakin putaran berikutnya juga Besar. Dia memutuskan memasang Besar.
Namun sebelum dia memasang taruhan, suara Vanylla terdengar lagi.
“Paman, kali ini bukan Besar. Pilih Kecil. Pasang angka tiga, satu, empat.”