Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.
Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.
Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.
Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.
Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.
Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan
Keputusan itu tidak pernah benar-benar diucapkan dengan kata iya yang lantang. Tapi sejak malam itu, sejak kalimat Lala yang menggantung dan Rendra yang tidak mendesak, semuanya bergerak pelan namun pasti.
Beberapa hari kemudian, mama Lala mulai berubah.
Awalnya hanya pertanyaan ringan.
“Rendra kapan main lagi?”
“Atau... dia suka makan apa sih?”
Nada suaranya terdengar santai, tapi Lala tahu. Itu bukan sekadar basa-basi.
Lala menjawab seperlunya. Tidak bohong, tapi juga tidak membuka terlalu lebar. Ia masih menunggu hatinya sendiri benar-benar mengejar langkah kakinya.
Sampai akhirnya, Rendra benar-benar datang.
Bukan sendiri.
Ia datang bersama ibunya.
Lala ingat jelas hari itu. Sabtu sore, langit mendung tipis, udara tidak panas tapi juga tidak sejuk. Rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Mamanya mondar-mandir di dapur sejak siang, ayahnya duduk rapi lebih lama dari biasanya di ruang tamu.
Saat bel berbunyi, dada Lala mengeras.
Rendra berdiri di depan pintu dengan kemeja sederhana, rapi tanpa berlebihan. Di sampingnya, ibunya perempuan yang wajahnya lembut, tapi sorot matanya menyimpan kelelahan yang tidak bisa disembunyikan.
Mereka saling bersalaman. Duduk. Tersenyum. Basa-basi mengalir seperti air yang sudah lama hafal jalurnya.
Sampai akhirnya, percakapan itu sampai ke tujuan sebenarnya.
Ibunya Rendra bicara dengan suara tenang, sedikit bergetar.
“Terus terang aja ya, Bu,” katanya pada mama Lala. “Saya datang bukan cuma buat silaturahmi.”
Lala menunduk. Tangannya dingin.
Rendra duduk tegak. Tidak menggenggam tangan Lala. Tidak memberi isyarat apa pun. Seolah memberi ruang penuh kalau Lala mau mundur, ini masih pintu terbuka.
“Tapi kondisi ayah Rendra...” lanjut ibunya pelan, “...membuat kami pengin semua berjalan baik. Kalau memang anak-anak ini siap.”
Mama Lala terdiam lama. Lalu menoleh ke anaknya.
“Lala?”
Satu kata. Tapi beratnya seperti puluhan pertanyaan.
Lala mengangkat kepala. Ia tidak tersenyum. Tidak juga menangis.
“Aku lagi belajar siap, Mah,” jawabnya jujur. “Pelan-pelan.”
Tidak ada janji besar. Tidak ada romantisasi.
Justru itu yang membuat ruangan menjadi sunyi.
Mama Lala menarik napas panjang.
“Yang penting kamu nggak terpaksa,” katanya akhirnya. “Mama cuma mau kamu bahagia. Dengan siapa pun, selama kamu yakin.”
Untuk pertama kalinya, Lala merasa kata nikah tidak terdengar seperti tuntutan.
Sejak hari itu, semuanya berjalan dengan tempo aneh.
Bukan cepat. Tapi juga tidak bisa dibilang lambat.
Tanggal belum diputuskan, tapi pembicaraan sudah mengarah ke sana.
Siapa yang akan diberi kabar duluan.
Siapa yang harus disiapkan secara mental.
Lala sering terdiam di malam hari, menatap langit-langit kamar.
Ia tidak membayangkan gaun.
Tidak membayangkan pelaminan.
Yang ia pikirkan justru sederhana.
apakah ia sedang memilih jalan keluar...
atau sedang membuka pintu ke kehidupan yang sama sekali baru?
Sementara di sisi lain, Rendra tidak pernah menekan.
Ia hanya ada.
Menjawab pesan.
Mengantar jika diminta.
Diam saat Lala butuh ruang.
Dan justru di situ, Lala mulai sadar.
bahwa pernikahan ini mungkin tidak dimulai dari cinta yang meledak-ledak,
tapi dari dua orang yang saling tahu luka,
dan memilih tidak menambah luka baru.
—
Keputusan menikah secara intim datang hampir tanpa perdebatan.
“Capek kalau harus rame-rame,” kata Lala suatu sore.
“Capek jelasin ke banyak orang juga,” tambahnya lagi, lebih jujur dari yang ia rencanakan.
Rendra cuma mengangguk.
“Gue juga ngerasanya gitu.”
Tidak ada pembahasan gedung besar, dekor megah, atau daftar tamu panjang. Yang ada justru kertas kosong, dua cangkir kopi yang mendingin, dan daftar kecil yang mereka susun pelan-pelan.
Keluarga inti.
Teman dekat.
Orang-orang yang tahu mereka bukan pasangan sempurna, tapi tahu kenapa mereka memilih satu sama lain.
Dan anehnya, Lala merasa... lega.
Tidak ada tuntutan harus bahagia berlebihan. Tidak ada panggung besar untuk berpura-pura.
Pernikahan ini tidak dimaksudkan untuk meyakinkan siapa pun.
Hanya untuk dijalani.
—
Bagi Rendra, keputusan itu bukan karena keadaan semata.
Ia tahu betul orang-orang bisa saja berbisik.
“Ah, kasihan, nikah karena terpaksa.”
“Atau. ya iyalah, demi orang tua.”
Tapi hanya Rendra yang tahu.
bahwa ia tidak pernah sebegininua tenang memikirkan masa depan sebelumnya.
Ia ingat malam-malam di rumah ibunya, duduk di ruang tengah dengan lampu redup. Ayahnya tertidur di kamar, napasnya berat. Ibunya sering terbangun hanya untuk memastikan Rendra masih di rumah.
“Kamu yakin sama Lala?” tanya ibunya suatu malam.
Rendra tidak menjawab cepat.
“Iya,” katanya akhirnya. Bukan lantang, tapi mantap.
“Dia nggak menjanjikan apa-apa ke rendra. Tapi justru itu.”
Ibunya terdiam, lalu tersenyum kecil.
“Perempuan yang nggak janji, biasanya justru paling jujur.”
Rendra tertawa kecil waktu itu. Tapi dalam hatinya, kalimat itu tinggal.
Ia tidak menuntut cinta yang meledak.
Tidak menuntut peran istri yang sempurna.
Yang ia inginkan hanya satu hal.
Lala tetap jadi dirinya bahkan setelah sah.
Kembali ke Mereka
Mereka mulai mengabari orang-orang terdekat.
Tidak lewat undangan mewah.
Hanya pesan undangan digital sederhana.
Responnya beragam. Ada yang kaget. Ada yang senang. Ada yang bertanya, “Kok bisa?”
Lala belajar menjawab tanpa defensif.
“Karena kami siap.”
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus menjelaskan lebih jauh.
Suatu malam, setelah semua obrolan itu, mereka duduk berdampingan di ruang tamu rumah Lala. Tidak bicara banyak. Hanya suara TV yang tidak benar-benar ditonton.
“Ren,” kata Lala tiba-tiba.
“Kalau nanti gue takut lagi... gimana?”
Rendra tidak langsung menoleh.
“Takut bareng aja,” jawabnya.
“Gue juga pasti takut.”
Lala tersenyum kecil.
Jawaban itu... cukup.
Pernikahan mereka mungkin tidak dimulai dari kisah cinta yang berisik.
Tapi ia tumbuh dari keputusan sadar dua orang dewasa yang sama-sama lelah dikejar,
dan akhirnya memilih berjalan berdampingan.
Pelan.
Intim.
Tanpa perlu penonton terlalu banyak.
Dan mungkin...
itu justru awal yang paling jujur.
—
Persiapan pernikahan itu aneh. Bukan karena ribet justru karena terlalu sederhana.
Tidak ada drama memilih gedung.
Tidak ada sesi foto prewedding dengan pose-pose canggung.
Sedikit ada debat soal catering, hanya sekedar memilih menu apa untuk keluarga dan teman-teman dekat mereka. Tidak banyak, tapi cukup. Bahkan menurut nya lebih dari cukup.
Yang ada justru hal-hal kecil yang pelan-pelan menyusup ke kepala Lala.
Seperti saat mamanya mengajaknya ke pasar pagi.
“Buat acara nanti, mama masakin nasi kuning ya,” kata mamanya sambil memilih ayam.
“Buat kamu.”
Kalimat itu membuat dada Lala sesak sebentar.
Atau saat malam hari, sendirian di kamar, Lala mendapati dirinya membuka chat Rendra bukan untuk membahas persiapan tapi hanya memastikan Lala baik-baik saja.
Ia masih sering bertanya ke dirinya sendiri.
‘Ini keputusan karena tenang... atau karena menyerah?’
Dan jawaban itu belum juga datang.
Di sisi lain, Rendra menghadapi persiapan dengan cara yang lebih diam.
Ia mengurus semuanya dengan rapi dokumen, jadwal, janji ke KUA tanpa banyak komentar. Tapi setiap kali sendirian, pikirannya berisik.
Ia ingat ucapan Lala waktu itu.
“Gue nggak tau nanti gue bisa jatuh cinta apa nggak.”
Kalimat itu tidak pernah menyakitinya.
Justru membuatnya lebih hati-hati.
Rendra tidak ingin Lala merasa terjebak.
Ia juga tidak ingin pernikahan ini jadi hutang emosional.
Suatu sore, ia duduk di samping ayahnya, yang terlihat semakin kurus.
“yah,” katanya pelan.
“rendra mau nikah.”
Ayahnya membuka mata perlahan.
“Beneran?” suaranya serak.
“Iya. Sederhana aja.”
Ayahnya tersenyum. Lama.
“Yang penting... kamu yakin jadi orang baik buat dia.”
Rendra mengangguk.
Itu janji yang lebih berat dari sekadar setia.
—
Menjelang Hari Itu
Hari-hari berjalan cepat.
Undangan dibagikan hanya ke orang-orang yang benar-benar dekat. Beberapa teman Lala kaget, tapi tidak ada yang memaksa pesta lebih besar.
“Kok intim banget la?”
Lala hanya tersenyum.
“iyaa, biar ga rame-rame amat.”
Malam sebelum akad, Lala duduk di kamar, mengenakan piyama, rambut masih basah. Tidak ada tangis dramatis. Tidak ada monolog panjang.
Hanya satu pesan masuk dari Rendra.
Rendra:
Lo tidur yang cukup ya.
Kalau lo ragu... tetep dateng aja. Kita ngobrol setelahnya juga bisa.
Lala menatap layar lama.
Lalu membalas
Lala:
Gue nggak ragu.
Rendra membaca pesan itu di kamarnya, menghembuskan napas panjang.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, ia tersenyum benar-benar lega.
Besok bukan akhir dari pencarian mereka.
Bukan juga solusi ajaib.
Tapi mungkin...
awal dari dua orang yang berhenti lari.
semangat kak... salam dari Edelweiss...