Delaney Harper ditinggalkan oleh tunangannya tepat di hari pernikahan mereka. Rumor perselingkuhannya menyebar dengan cepat, membuat ayah Delaney murka. Namun, ibu tirinya memiliki rencana lain.
Ia memaksa Delaney menikah dengan seorang pria yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Seorang pria bernama Callum Westwood.
Callum Westwood, CEO Westwood Corp, adalah sosok yang hampir tidak Delaney kenal, tetapi reputasinya dikenal oleh semua orang. Dingin. Kejam. Tak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Dan ironisnya… dia adalah tetangga Delaney, hanya dua blok dari rumahnya—meski mereka belum pernah sekalipun berbicara.
Selain menyelamatkan Delaney dari skandal kehamilan di luar nikah, pernikahan itu ternyata merupakan cara Callum untuk membayar sebuah hutang besar dari masa lalu. Hutang yang ia tanggung sejak sepuluh tahun lalu dan ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi sepuluh tahun lalu?
Dan bagaimana nasib pernikahan tanpa cinta ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
“Pernikahan ini dibatalkan!”
Saat itu juga, rahang sang pengantin wanita ternganga.
“A—apa maksud Ayah?” tanya Delanay dengan suara gemetar. “Kenapa dibatalkan?”
Padahal tinggal beberapa menit lagi mereka akan turun ke bawah untuk memulai prosesi pernikahan. Bahkan dari sini, Delanay masih bisa mendengar suara MC yang sedang membuka acara.
Lalu kenapa pernikahan ini tiba-tiba harus dibatalkan? Kenapa?!
Sebuah ponsel dilemparkan ke pangkuan Delanay.
“Lihat itu!” perintah George Harper dengan nada keras.
Jari-jarinya yang dihiasi henna bergerak kaku. Ia menatap ayahnya sesaat sebelum menekan tombol putar, dan…
Mata Delanay membelalak.
Video berdurasi dua puluh menit yang dikirim ke grup keluarga Harper itu membuat tubuh Delanay gemetar hebat. Ia menggenggam ponsel itu erat-erat.
Apa-apaan ini?!
Calon suaminya—Jovan—yang beberapa menit lalu berpamitan dengannya, terlihat keluar dari sebuah kamar hotel, tenggelam dalam pelukan seorang wanita. Begitu mesra. Begitu bergairah. Bahkan erangan mereka terdengar jelas. Delanay merasa muak dan hancur. Terlebih saat ia melihat cap waktu pada rekaman CCTV itu.
Sepuluh jam yang lalu?
Itu berarti Jovan melakukannya kemarin. Dan yang lebih menyakitkan, itu terjadi di salah satu kamar hotel ini—hotel yang seharusnya menjadi saksi bisu pernikahan mereka.
“Lihat itu! Suami yang kau banggakan!” geram George. “Pria biadab tanpa etika! Berani-beraninya dia mengkhianatimu! Dia mencoreng nama baik keluarga Harper!”
Wajah Delanay memerah. Ia telah mengenal Jovan hampir lima tahun. Dan kini, tepat beberapa menit sebelum mereka resmi menjadi suami istri, pria itu mengkhianatinya.
Ucapan ‘I love you’ yang Jovan lontarkan kepada wanita di video itu menghancurkan hati Delanay. Selama bersama Jovan, ia jarang sekali mendengar kata cinta. Mungkin hanya di awal mereka berpacaran. Tapi sekarang? Kata itu begitu mudah keluar untuk wanita lain.
“Jose!” teriak George.
Seorang pria bersetelan hitam segera masuk. “Ya, Tuan?”
“Sudah kau cek?”
Jose mengangguk gugup. “S-sudah, Tuan. Jovan keluar lewat pintu belakang. Kami sedang mengejar. Dari informasi terakhir, dia terlihat di bandara. Sepertinya bersama orang tuanya dan Lala… wanita itu.”
Gigi George beradu. Jovan benar-benar mengibarkan bendera perang.
“Katakan pada pihak penyelenggara, pernikahan ini dibatalkan!” perintah George tegas.
Jose terkejut. “Dibatalkan, Tuan?”
Bagaimana mungkin acara yang tinggal hitungan menit lagi itu dibatalkan? Besok media pasti gempar. Berita pembatalan pernikahan Delanay Harper akan memenuhi halaman utama.
“Apakah kau tuli?!” bentak George. “Cepat pergi!”
Jose buru-buru keluar. Setelah itu, George menghela napas panjang dan menatap Delanay yang masih terpaku.
“Ayah?”
George menatap putrinya.
“Ke mana Jovan pergi?”
“Ayah tidak tahu.”
Delanay menggigit bibirnya. Ia masih ingat jelas janji Jovan dua hari lalu—bersumpah akan mencintainya sehidup semati. Dan hari ini, pria itu membuktikan bahwa semua itu hanyalah kata-kata kosong. Ciuman, belaian, dan tatapan penuh gairah Jovan pada Lala menghancurkan kepercayaan diri Delanay.
Dia memilih pergi. Mungkin karena tak pernah menemukan kepuasan darinya.
Delanay yakin Jovan kecewa karena ia menolak berhubungan sebelum menikah.
Bajingan!
Gadis itu berdiri.
“Mau ke mana kamu?” tegur George.
“Ke rooftop,” jawab Delanay pelan.
Tubuh George menegang. “Jangan sampai pria brengsek itu membuatmu bertindak bodoh.”
Delanay terkekeh pahit. “Aku tidak sebodoh itu, Ayah. Aku hanya ingin menghirup udara segar.”
Gadis bergaun putih berkilau itu berbalik dan pergi. Beberapa kali ia hampir tersandung karena sepatu hak tingginya. Bibirnya mengeras. Mata cokelat madunya menatap kosong para staf hotel yang berlalu-lalang.
Di dalam lift, Delanay mencari-cari kesalahannya sendiri. Apa yang membuat Jovan pergi setelah semua komitmen mereka? Karena dia tidak cukup cantik? Karena dia putri keluarga Harper? Atau karena dia tidak menyerahkan tubuhnya?
Delanay jatuh berlutut dan mulai terisak.
Hancur.
Jovan, satu-satunya harapan hidupnya, telah pergi. Tanpanya, hidup Delanay seakan kehilangan arah. Selama ini, Jovan adalah satu-satunya yang bersikap baik padanya. Yang percaya padanya. Dan sekarang?
Pergi meninggalkannya.
Ting.
Pintu lift terbuka. Delanay buru-buru mengusap air matanya. Ia terkejut melihat seorang pria berdiri tepat di depan lift, mengangkat alisnya seolah bertanya—gadis macam apa yang menangis di lantai dengan gaun pengantin semewah itu?
“Ah—m-maaf,” ucap Delanay. Pria itu ikut masuk.
Tak ada jawaban. Hingga lift bergerak, hanya isak Delanay yang terdengar.
Ia memalingkan wajah, malu memperlihatkan keadaannya yang berantakan. Sekilas, ia melihat pria itu sangat tampan. Mungkin tamu undangan yang juga mencari udara segar. Atau merokok—karena tercium samar aroma rokok.
Syukurlah pintu lift terbuka. Delanay segera menuju pintu rooftop.
Begitu melangkah keluar, angin menerpa wajahnya. Ia berjalan terseok, menendang sepatu haknya dan melemparkannya sembarangan. Lalu berlari ke pembatas.
“Sialan kau, Jovan!” teriak Delanay keras. “Berani-beraninya kau mengkhianatiku! Aku doakan kau tenggelam dan dimakan hiu! Bajingan! Bajingan!”
“Diam!”
Delanay tersentak, hampir saja jatuh dari ketinggian delapan belas lantai. Untung sebuah tangan cepat meraih pinggangnya.
“Kau mau mati?!”
Delanay membeku. Wajah pria itu kembali muncul di hadapannya. Rambut hitam rapi, alis tebal, mata cokelat tajam, hidung mancung, dan bibir bawah tebal yang terlihat seksi.
“Jangan berteriak sembarangan. Kau bukan Tarzan.”
“Hah?” Delanay tertegun.
Pria itu melepaskan tangannya, menginjak puntung rokok yang masih menyala, lalu hendak pergi.
“Tunggu!” Delanay refleks menahannya.
Pria itu menoleh, mengangkat alis.
“E-eh….” Delanay kikuk. Semua umpatan untuk Jovan lenyap seketika. Yang tersisa hanya pria tampan di depannya. Pria yang sudah dua kali menolongnya.
“Terima kasih,” ucap Delanay tulus.
Pria itu tetap diam. Ia mengangkat bahu, bersiap pergi.
“Tuan.”
Pria itu terhenti. Tuan? Mereka bahkan tidak saling mengenal.
“M-maaf. Aku tidak bermaksud begitu,” ucap Delanay canggung.
Karena gadis itu tak berkata apa-apa lagi, pria itu kembali melangkah pergi.
“Tunggu! U-um… bisakah kamu menemani aku sebentar?” pinta Delanay. Ia hanya butuh seseorang untuk berbicara.
Biasanya Elara Westwood ada untuknya. Tapi semalam Elara demam karena kelelahan setelah malam panas bersama suaminya. Dan kini, Delanay menghadapi semuanya sendirian.
Pria itu terdiam. Pipinya terasa hangat. Betapa bodohnya ia—meminta ditemani oleh orang asing.
“J-jika tidak bisa, tidak apa—”
Bruk.
Pria itu menjatuhkan dirinya ke lantai, duduk bersandar pada dinding.
“Duduklah. Aku akan menemanimu.”
jadi pingin cepet2 ngliat mereka ke pesta🥰
makin seeruuu nih🥰
seruuu banget thor😄
callum kok dingin ky es balok banget sih