Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.
Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.
Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.
Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.
Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.
bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.
#System
#Transmigrasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28. Niat membunuh PT.2
"Taruhan."
Ruangan diselimuti keheningan.
“Jika dalam enam bulan wilayahku tidak mencapai surplus dua juta koin emas seperti yang telah aku proyeksikan, maka aku akan secara sukarela menyerahkan Distrik Thornhaven—wilayah pertanian terbesar—kepada Duchess Montclair. Tanpa kompensasi.”
Beberapa bangsawan terengah pelan. Thornhaven adalah salah satu distrik paling kaya di Vancroft—kehilangannya berarti kerugian yang sangat besar.
“Namun,” lanjut Arthur, suaranya setenang baja yang terasah, “jika aku berhasil mencapai target tersebut—atau bahkan melampauinya—maka Duchess Montclair harus secara terbuka mengakui bahwa kekhawatirannya… terlalu dini. Dan tidak akan lagi meragukan kemampuanku dalam mengelola wilayah.”
Ia memiringkan kepala sedikit. “Apakah Yang Mulia Duchess… berani menerima taruhan ini?”
Keheningan mutlak menyelimuti ruangan. Semua mata tertuju pada Duchess Montclair. Wajahnya tetap terjaga, tetapi ada ketegangan samar di rahangnya—tanda bahwa ia tidak menduga balasan seperti ini.
Jika ia menerima taruhan, berarti ia secara tersirat mengakui keyakinannya bahwa Arthur akan gagal—yang membuatnya tampak tidak mendukung sesama Duke. Namun jika ia menolak, ia akan terlihat tidak percaya diri terhadap penilaiannya sendiri—yang meruntuhkan seluruh argumennya bahwa wilayah Vancroft sedang bermasalah.
Skakmat.
Duchess Montclair membuka mulut, menutupnya kembali, lalu mencoba berbicara lagi. “Aku… tidak berpikir bahwa taruhan adalah cara yang tepat untuk—”
“Mengapa tidak?” potong Arthur dengan nada lembut. “Jika Yang Mulia begitu yakin bahwa aku tidak mampu, ini adalah kesempatan untuk memperoleh distrik yang sangat kaya tanpa perlu membayar apa pun. Nyaris tanpa risiko.”
Ia melanjutkan, kini dengan nada yang sedikit lebih tajam, “Kecuali… Yang Mulia sebenarnya tidak sepenuhnya yakin terhadap data yang Anda sajikan. Jika demikian, mungkin kekhawatiran itu memang… terlalu dini.”
Montclair menatapnya dengan mata menyipit—menyadari bahwa ia telah dilampaui dalam permainan ini.
Setelah jeda panjang, ia duduk kembali dengan gerakan kaku. “Aku akan… mempertimbangkan usulan Yang Mulia,” katanya, berusaha menjaga ketenangan yang jelas terasa dipaksakan.
Arthur tersenyum tipis—senyum kemenangan yang nyaris tak terlihat. “Aku menantikan keputusan Yang Mulia.”
Ia pun duduk kembali dengan postur santai, seolah tak terjadi apa-apa. Namun di seluruh ruangan, persepsi telah berubah.
Kaisar Valcrest menatap Arthur dengan ekspresi yang sulit ditebak—namun ada senyum samar di sudut bibirnya.
Di samping Arthur, Valerine tetap memasang wajah tanpa ekspresi. Namun di bawah meja, tangannya perlahan terlepas dari kepalan yang sejak tadi menegang.
Bagus, batinnya.
Di seberang meja, Count Ashford memperhatikan Arthur dengan sorot mata berbeda. Ia selalu mengakui kehebatan Arthur dalam segala hal, tetapi tidak pernah menyangka bahwa pria itu juga begitu piawai dalam berbicara. Mungkin karena selama ini, pedangnya yang lebih sering berbicara, sehingga sisi itu tak pernah benar-benar terlihat.
Chancellor Fellborn berdeham, berusaha mengembalikan jalannya sidang.
“Baik, mari kita lanjutkan agenda.”
Laporan kondisi wilayah pun mulai disampaikan satu per satu oleh para duke dan baron. Suasana kembali formal, teratur, seolah ketegangan sebelumnya tak pernah terjadi.
“Baiklah, dengan demikian agenda ini telah selesai. Kita akan—”
“Yang Mulia.”
Suara berat dan kasar itu memotong kalimat sang Chancellor dari sudut ruangan.
Semua kepala menoleh.
Seorang pria bertubuh besar berdiri—mengenakan zirah berat yang berkilau redup di bawah cahaya aula. Ia bukan bangsawan, melainkan seorang ksatria senior dari House Torrhen, terlihat jelas dari lambang yang terukir di dadanya. Namanya Sir Gavriel Ironhand, seorang ksatria dengan reputasi brutal di medan perang.
Tingginya menjulang lebih dari dua meter, tubuhnya kekar laksana banteng, dan bekas luka panjang melintang di wajahnya—jejak dari pertempuran yang tak terhitung jumlahnya.
“Apa yang kau inginkan, Sir Gavriel?” tanya Kaisar dengan sedikit kerutan di dahi. Seorang ksatria tidak seharusnya berbicara di rapat Dewan tanpa diminta.
Sir Gavriel menatap Arthur. Tatapannya menyimpan sesuatu—bukan sekadar permusuhan.
“Aku ingin menantang Archduke Vancroft,” katanya lugas.
Ruangan seketika hening.
“Menantang?” Kaisar mengangkat alis. “Dalam konteks apa?”
“Duel kehormatan,” jawab Gavriel tanpa ragu.
“Untuk membuktikan bahwa The Crimson Aegis masih layak menyandang gelar itu. Atau jangan-jangan ia hanya… besar mulut tanpa—”
Dan pada saat itulah Sir Gavriel melakukan kesalahan fatal.
Entah karena kesombongan. Entah karena provokasi Duke Torrhen. Atau semata-mata karena kebodohan.
Ia melepaskan niat membunuhnya.
Dalam sekejap, ruangan dipenuhi tekanan psikologis yang mencekik. Beberapa bangsawan langsung berdiri karena merasa Sir Gravriel sudah keterlaluan.
Arthur, yang sedari tadi duduk dengan tenang, perlahan mengerutkan kening. Matanya menyipit. Ekspresinya tetap datar.
Namun ada sesuatu yang berubah.
Suhu ruangan seolah turun drastis dalam satu detik. Tekanan atmosfer terasa meningkat hingga telinga berdengung.
Lalu—
Arthur berdiri.
“Berani sekali,” ucapnya dengan suara yang begitu dingin hingga terdengar nyaris tanpa emosi, “kau menunjukkan niat membunuhmu kepadaku.”
Bersamaan dengan kata-kata itu, ia melepaskan niat membunuhnya sendiri—langsung terarah pada Sir Gavriel.
Aura yang lahir dari medan perang yang tak terhitung jumlahnya, dari lautan darah dan kematian yang telah ia lewati, meledak keluar seperti gelombang tsunami.
WHAM
Ruangan itu seolah bergetar
Para bangsawan berpangkat rendah langsung memucat. Beberapa mencengkeram sandaran kursi dengan tangan gemetar, berjuang mempertahankan kesadaran.
Para Duke dan Duchess—yang lebih kuat dan berpengalaman—merasakan napas mereka tercekat, seakan ada tangan tak kasatmata yang menekan tenggorokan mereka.
Valerine, yang duduk paling dekat dengan Arthur, merasakan hampir setengah tekanan aura itu meski bukan sasaran utamanya. Matanya melebar dalam keterkejutan yang jarang terlihat pada dirinya.
Ya dewa… berapa banyak yang telah ia bunuh untuk memiliki aura seperti ini?
Sir Gavriel—yang menjadi sasaran langsung dari seluruh tekanan itu—mengalami perubahan ekspresi dalam hitungan detik. Dari angkuh, menjadi terkejut… lalu berubah menjadi ketakutan murni.
Ia merasa seakan berdiri sendirian di medan perang yang dipenuhi mayat. Di hadapannya berdiri sosok mengerikan yang telah membantai segalanya—dan berikutnya adalah dirinya. Sosok yang tak bisa dihentikan. Tak bisa dilawan.
“Ghk—!”
Darah segar mengalir dari sudut mulutnya. Tidak banyak, tetapi cukup jelas terlihat.
Lututnya melemah. Tangannya mencengkeram dada. Matanya membelalak dalam kepanikan.
Ia jatuh berlutut dengan bunyi keras yang menggema di ruangan yang sunyi.
Dug
Napasnya terengah-engah. Seluruh tubuhnya gemetar.
Niat membunuh Arthur masih memenuhi ruangan—tidak berkurang sedikit pun.
“Kau,” ujar Arthur dengan suara sedingin musim dingin yang membeku, menatap Sir Gavriel yang berlutut di hadapannya, “adalah seorang ksatria.”
Ia melangkah maju perlahan.
“Dan seorang ksatria seharusnya memahami kehormatan. Memahami hierarki. Memahami bahwa ada batas yang tidak boleh dilanggar.”
Satu langkah lagi.
“Kau melepaskan niat membunuh kepada seorang Archduke. Itu adalah penghinaan.”
Ia berhenti tepat di depan Sir Gavriel. Mata merahnya menatap ke bawah—menyala dengan sesuatu yang begitu kelam hingga membuat siapa pun yang melihatnya merasakan hawa dingin merayap di tulang belakang.
“Apa yang kau lakukan barusan dapat dianggap sebagai pengkhianatan. Dan hukuman untuk pengkhianatan adalah kematian.”
Sir Gavriel mencoba berbicara—mencoba meminta maaf, mencoba menjelaskan—namun tak ada suara yang keluar. Hanya darah yang kembali mengalir dari bibirnya.
Tekanan itu terlalu berat.
Seperti berada di kedalaman laut, dihimpit beban yang tak terbayangkan.
“Namun,” lanjut Arthur, kini dengan suara lebih pelan—dan justru karena itu terasa lebih mengerikan, “aku sedang dalam suasana hati yang cukup baik hari ini.”
Ia berbalik. Melangkah kembali ke kursinya dengan tenang.
Dan saat ia duduk—
Niat membunuh itu lenyap.
Seolah sakelar dimatikan. Aura mengerikan itu menghilang tanpa jejak. Udara kembali normal.
Namun dampaknya tetap tinggal.
Wajah-wajah di ruangan masih pucat. Tangan beberapa orang masih bergetar halus.
Sir Gavriel ambruk sepenuhnya ke lantai, terengah-engah mencari udara, tubuhnya basah oleh keringat.
Kaisar menatap pemandangan itu dengan ekspresi yang tetap terkendali—namun ada keterkejutan yang tak bisa sepenuhnya disembunyikan di mata birunya.
Arthur tidak pernah menunjukkan niat membunuh sebelumnya. Jika ia marah, ia biasanya langsung menyelesaikan urusan dengan pedang—atau menekan lawannya dengan kekuatan mana yang luar biasa.
Namun kali ini berbeda.
Dan mereka kembali teringat—
Pria yang berdiri di hadapan mereka bukan sekadar Archduke.
Ia adalah Jenderal Agung.
Sosok yang oleh musuh-musuhnya dijuluki…
Iblis dari Neraka.
Arthur kembali duduk dengan postur santai, seolah tidak terjadi apa-apa. Tatapannya tenang saat ia memandang Kaisar.
“Maafkan interupsi tadi, Yang Mulia,” ujarnya dengan nada sopan. “Silakan lanjutkan.”
Kaisar menatapnya cukup lama. Hening itu terasa berat, namun akhirnya sang Kaisar mengangguk perlahan.
“Chancellor, lanjutkan agenda.”
Sidang memang berlanjut.
Namun tak seorang pun benar-benar bisa kembali fokus.
Dari para Duke hingga Baron, dari Chancellor hingga para pelayan yang berdiri di sudut ruangan—tidak ada yang berani berbicara lebih dari yang diperlukan.
Di sisi lain ruangan, Duke Torrhen menatap Sir Gavriel—ksatria andalannya—yang masih terbaring lemah di lantai. Wajah sang Duke berubah perlahan.
Ia ketakutan. Sebelumnya, ia pernah merasakan niat membunuh dari Demon Lord, dan tekanan yang terpancar dari Arthur barusan terasa setara dengan itu. Namun, bukan itu yang membuatnya takut—melainkan karena ia sadar bahwa Arthur sebenarnya sedang menahan diri.
Tatapannya beralih pada Arthur, yang kini duduk tenang dan berbicara pelan dengan Valerine.
Di sisi Arthur, Valerine berbisik pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
“Karena kau tidak pernah menunjukkannya, aku hampir lupa… bahwa sebagai seseorang yang lama berada di medan perang, kau pasti memiliki senjata seperti itu.”
Arthur menoleh padanya. Ekspresinya melembut.
“Niat membunuh bukan sesuatu yang suka kugunakan,” katanya pelan. “Itu… pengingat dari berapa banyak yang telah kubunuh. Berapa banyak darah yang melekat di tanganku.”
Suaranya merendah.
“Itu bukan hal yang bisa kubanggakan.”
Valerine benar-benar menatapnya. Bukan sebagai Archduke. Bukan sebagai jenderal legendaris.
Melainkan sebagai seorang pria yang memikul beban dari setiap nyawa yang telah ia ambil.
Dan untuk pertama kalinya, ia mengerti.
Arthur Vancroft bukan sekadar pejuang kuat.
Ia adalah seseorang yang hidup dengan konsekuensi dari kekuatannya.
Di bawah meja, tangan Valerine bergerak perlahan—ragu sejenak—lalu menyentuh tangan Arthur dengan lembut.
“Kau tidak sendirian.”
Arthur menatapnya, sedikit terkejut. Lalu senyum tipis muncul di wajahnya.
Ia mengangguk pelan.
“Mm.”
...***...