Maya, gadis manis yang harus mengganti identitas dan namanya setelah kecelakaan besar nyaris merenggut nyawanya.
Ia bangkit dari kematian setelah diselamatkan oleh seorang dokter yang mengangkatnya sebagai anak. Ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia bersumpah membalaskan dendam atas kematian ayah dan juga adiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona.sv95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maya membaik
Beberapa waktu kemudian, Maya semakin membaik kondisinya. Beberapa kali ia bertemu seorang dokter atau perawat pria yang masuk kedalam ruangannya, namun ia mulai bisa sedikit mengendalikan dirinya tanpa ketakutan. Dan perubahan itu bisa dilihat dengan jelas oleh Amora dan juga Thomas.
"Dia sudah jauh lebih baik sekarang, Thom. Semoga, akan ada hal yang jauh lebih baik setelah ini. Jangan sampai, Maya kembali terpuruk."
"Iya, Mom. Aku harap... Dia bisa segera pulih, dan kita bisa tahu apa yang bikin dia hanyut di sungai."
Amora mengangguk. sesaat kemudian, Amora menghembuskan napas kasar sebelum akhirnya masuk kedalam ruangan Maya.
"Siang, Maya," sapa Amora, mendekat kearah Maya duduk bersandar diatas ranjang rawat.
"Siang, nyonya Louis."
"Jangan panggil aku nyonya. Aku seperti orang asing kalau kau memanggilku begitu," sahut Amora.
Maya tersenyum canggung. "Ma-maaf. Aku tidak tahu harus memanggil anda dengan sebutan apa, jujur... Aku masih sedikit tahu tentang anda."
"Panggil aku mommy, mama atau ibu. Terserah apa yang kau mau, tapi jangan panggil aku dengan sebutan nyonya. Rasanya, aku diingatkan dengan kondisiku yang sebatang kara," ujar Amora, lantas tertunduk pelan.
Melihat Amora yang sedikit murung, Maya merasa kalau ia sudah menyinggung perasaannya.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan anda. Jujur, aku..."
"tidak apa. Aku mengerti bagaimana situasinya," sela Amora cepat. "Kalau kau belum terbiasa dengan panggilan yang aku sebutkan tadi, kau bisa memanggilku Bibi. Mungkin itu jauh lebih membuatmu nyaman memanggilku."
Maya mengangguk. "Baiklah, Bibi. Terima kasih banyak sudah banyak sekali membantuku," ujar Maya akhirnya. "Ah iya.. apa aku bisa tanya sesuatu?"
wajah Maya mendadak serius, membuat Thomas yang sejak tadi berdiri dengan posisi menyandarkan punggungnya pada tembok samping jendela, seketika menegakkan tubuhnya dan berjalan kearah sisi ranjang Maya.
"Kau kelihatan serius. Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Begini.. Aku sudah lama berada di rumah sakit, mungkin lebih dari satu bulan sejak aku ditemukan. Tapi sampai saat ini, aku belum tahu.. Dimana aku sebenarnya? Maksudku, aku ingin tahu dikota mana aku berada saat ini dan seberapa jauh aku terbawa arus."
Amora dan juga Thomas saling pandang satu sama lain, mencoba menimbang apakah mereka aman untuk menjawab pertanyaan Maya atau belum.
"Maya, untuk sementara kami tidak bisa mengatakan semuanya padamu. Kami khawatir kalau..."
"Aku baik-baik saja, Bibi. Aku sudah bertanya pada dokter, dan dia mengatakan kalau aku boleh mencari tahu tentang apa yang aku alami. Dan dokter juga mengatakan, kalau aku bisa bertanya pada kalian yang membawaku."
Amora menoleh kearah Thomas sekali lagi, sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Maya.
"Kau berada di kota Nevile. Kami menemukanmu di sungai Neva dalam keadaan tubuhmu yang rusak, lenganmu mengalami keretakan, lututmu juga mengalami keretakan akibat benturan dari bebatuan sungai. Bahkan, kau terlalu banyak meminum air sampai harus kritis dalam waktu tiga hari hingga sulit sadar."
Maya menahan napas mendengar penjelasan Amora. "Aku... Aku separah itu?"
"Iya, Nak. Kami menemukanmu dalam keadaan yang sangat parah."
"Berapa jauh dari Nevile ke kota Jianji?"
"Jianji? Kau hanyut dari kota Jianji?"
Maya mengangguk. "Aku hanya ingat, saat itu aku berlari menuju batas kota Jianji dan Hunan. aku terlempar dari jembatan ke sungai Varali. Aku pikir saat itu..."
"Astaga.." Amora menutup mulutnya saat mendengar dari kota mana Maya berasal, dan bagaimana bisa dia hanyut hingga ke Nevile. "Ini benar-benar sebuah mukjizat."
"Maksud bibi?"
Amora menoleh ke arah Thomas, lalu berkata dengan suara pelan namun penuh arti, “Jarak antara kota Jianji dan Nevile sangat jauh, Maya. Kau benar-benar beruntung bisa bertahan dan ditemukan di sini.”
Thomas mengangguk. “Kalau dihitung dari peta, jaraknya hampir dua ratus kilometer, mungkin lebih, tergantung arus sungai dan rute yang kau lalui.”
Maya menatap keduanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Aku tidak tahu bagaimana aku bisa sampai sejauh itu. Aku hanya ingat terjatuh dari jembatan, dan kemudian... aku tidak sadar apa yang terjadi setelah itu.”
Amora mengusap lembut tangan Maya. “Tubuhmu mengalami trauma berat, dan kau kehilangan kesadaran cukup lama. Itu sebabnya ingatanmu masih samar.”
Thomas menambahkan, “Dokter mengatakan proses pemulihanmu berjalan baik, tapi ingatan yang hilang mungkin butuh waktu lebih lama untuk kembali.”
"Tapi... Aku merasa kalau ingatanku tidak begitu hilang sepenuhnya, banyak memori yang aku ingat. Hanya mungkin yang aku lupa, sesaat setelah aku jatuh dari jembatan. Itu saja."
"Memang begitu saat trauma berat terjadi. Ada sebagian memori hilang, tapi setelah kau cukup tenang dan bisa pulih, ingatan itu perlahan akan kembali dengan utuh."
Maya menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. “Aku mengerti. Ah iya, ingin tahu lebih banyak tentang kota Nevile. Apakah tempat ini aman? Apakah aku bisa tinggal di sini sampai aku benar-benar pulih?”
Amora tersenyum hangat. “Nevile adalah kota yang tenang dan ramah. Kau akan aman di sini, dan kami akan selalu ada untuk membantumu.”
Thomas mengangguk setuju. “Kau tidak perlu khawatir, Maya. Kami akan memastikan kau mendapatkan perawatan terbaik dan dukungan yang kau butuhkan.”
Maya tersenyum tipis, merasa sedikit lega. “Terima kasih, Bibi. Terima kasih, Thom."
"Sama-sama. Segera pulih, kami akan dengan senang hati menunggu kepulangan mu dari rumah sakit ini."
Maya mengangguk, menatap Thomas dan juga Amora dengan pandangan nanar. Ia ingat betul, seumur hidupnya... Ia tidak pernah mendapatkan perlakuan lembut keibuan dari seorang wanita, setelah ayahnya selalu mengatakan bahwa ia sudah dibuang dan ibunya pergi tanpa jejak.
**
Dua Minggu setelah percakapan itu, Maya mulai melakukan terapi untuk bisa berdiri dengan normal meski harus dibantu dengan tongkat penyangga. Setiap hari, Amora dan Thomas selalu ada di sampingnya, memberikan semangat dan dukungan yang tak pernah putus. Maya mulai belajar berjalan pelan-pelan, meski rasa sakit masih sering menghantui setiap langkahnya.
"Maya, untuk beberapa hari kedepan aku tidak bisa menemanimu menjalani terapi. Aku harus pergi ke luar negeri, karena ada beberapa riset yang harus aku lakukan dan aku juga harus menyelesaikan beberapa projek kesehatan yang aku jalankan. Kau tidak apa-apa kan, kalau hanya ditemani Thomas?"
"Tidak apa-apa, Bibi. Maaf karena kau harus kesulitan untuk melakukan apapun karena ada aku."
"Sudahlah, jangan menyalahkan diri sendiri. Aku bahagia melihat kau mulai pulih, sekarang... Kau harus bisa segera sembuh dan kita akan pulang. Hmm."
Amora menoleh kearah Thomas. "Thom, aku mau kau menjaga Maya. Jangan sampai dia ditinggalkan sendirian, aku khawatir kalau dia masih belum benar-benar aman sebelum pulang ke rumah kita."
Thomas mengangguk."Tentu. Dia aman dalam pengawasanku, Mom."
Amora mengangguk dan tersenyum tipis. setelahnya, ia benar-benar berpamitan pada Maya dan juga Thomas, lalu pergi dari ruangan Maya menuju parkiran.
"Nyonya... anda begitu baik, aku janji... Aku akan membalas setiap kebaikan anda dengan cara apapun, bahkan meski harus dengan nyawaku nantinya," batin Maya, menatap kepergian Amora yang bahkan sudah menghilang dibalik pintu.