NovelToon NovelToon
LOOP ZERO

LOOP ZERO

Status: tamat
Genre:Action / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:792
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
​Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
​Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
​Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
​Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: WAJAH DI BALIK CERMIN

07:59:00

Pintu baja Ruang Kontrol (OCC) itu tidak didobrak dengan bahu. Pintu itu terbuka karena panel kuncinya ditembak hancur dari luar.

BAM!

Pintu mengayun terbuka, menghantam dinding.

Vero melangkah masuk. Napasnya teratur, matanya dingin. Di tangan kanannya, Glock 19 terangkat stabil. Sarah mengekor di belakangnya, memegang pistol cadangan milik penjaga yang mereka lumpuhkan di lobi bawah, wajahnya pucat tapi tekadnya bulat.

Di dalam ruangan, adegan itu terulang persis seperti loop sebelumnya.

Pria berkemeja putih—Sang Pengawas—duduk membelakangi mereka, menatap layar monitor.

Dua penjaga elit (Unit Delta) berdiri di sudut ruangan.

"Tamu tak diun—" Sang Pengawas mulai mengucapkan dialog skripnya.

DOR! DOR!

Vero tidak menunggu monolog. Dia sudah tahu posisi para penjaga.

Dia menembak penjaga di kiri tepat di dada, lalu menggeser larasnya dan menembak penjaga di kanan tepat di kepala.

Kedua penjaga itu rubuh sebelum mereka sempat mengangkat senapan serbu mereka.

Darah memercik ke layar monitor dinding.

Keheningan turun mendadak di ruangan ber-AC dingin itu.

Hanya ada suara desing server komputer dan napas Sarah yang tertahan.

Vero melangkah maju, melangkahi mayat penjaga, dan menempelkan laras pistolnya ke belakang kepala pria berkemeja putih yang masih duduk tenang di kursi putarnya.

"Jangan tekan tombol apapun," bisik Vero. "Angkat tangan. Jauhkan dari meja."

Pria itu menurut. Dia mengangkat kedua tangannya perlahan.

Tidak ada kepanikan. Bahunya rileks.

"Putar kursimu," perintah Vero.

Pria itu memutar kursinya perlahan menghadap Vero.

Vero akhirnya melihat wajah itu dengan jelas. Di loop sebelumnya, dia hanya melihat sekilas sebelum mati.

Pria itu berusia sekitar 40-an. Wajahnya tampan, rapi, dan terawat. Kacamata frameless membingkai matanya yang cerdas. Dia terlihat seperti CEO perusahaan teknologi atau bankir investasi, bukan teroris.

Tapi yang membuat darah Vero membeku bukanlah wajah itu.

Melainkan tatapan matanya.

Mata itu tidak takut. Mata itu... bosan.

"Kau datang lebih cepat 45 detik dari perkiraanku," kata pria itu. Suaranya baritone, tenang, dan sopan. "Kerja bagus dengan motor trail itu. Lewat JPO Hayam Wuruk adalah manuver yang kreatif."

Vero membeku. Jari telunjuknya menegang di pelatuk.

"Apa?"

Pria itu tersenyum tipis. Dia melirik Sarah yang berdiri gemetar di dekat pintu.

"Dan kau membawa Nona Sarah. Di loop ke-14 kau meninggalkannya di kereta. Di loop ke-16 kau membiarkannya mati tertimpa beton. Senang melihat kalian akur di loop ke-18 ini."

Glock di tangan Vero sedikit goyah.

Dunia seakan runtuh di sekelilingnya.

"Kau..." suara Vero tercekat. "Kau tahu?"

"Bahwa kita sedang mengulang waktu?" Pria itu tertawa kecil, lalu menyandarkan punggungnya di kursi dengan santai, mengabaikan pistol yang mengarah ke wajahnya. "Tentu saja, Vero. Kau pikir kau satu-satunya pemain di papan catur ini?"

Vero mundur selangkah, rasa pusing yang hebat menghantam kepalanya.

Selama ini dia berpikir dia sendirian. Dia berpikir dia adalah anomali. Dia berpikir dia melawan sistem yang statis.

Ternyata musuhnya juga seorang Penjelajah Waktu (Looper).

Musuhnya juga mengingat segalanya.

"Siapa kau?" desis Vero.

"Namaku Adrian," jawab pria itu. Dia menurunkan tangannya sedikit, menunjuk ke arah jam digital besar di dinding.

07:59:45.

"Dan untuk menjawab pertanyaan di kepalamu: Tidak, membunuhku tidak akan menghentikan bom di fondasi stasiun. Detak jantungku terhubung ke Dead Man's Switch. Jika jantungku berhenti sebelum aku memasukkan kode pembatalan... Boom."

Vero menatap Adrian dengan kebencian murni. "Kau menyandera nyawamu sendiri?"

"Aku menyandera waktu, Vero. Sama sepertimu." Adrian menatap Vero tajam. "Kau punya 10 detik sebelum pukul 08:00. Kau bisa menembakku dan kita meledak bersama, lalu kita ulang lagi tarian membosankan ini di Loop ke-19. Atau..."

Adrian mencondongkan tubuh ke depan.

"...kau bisa turunkan senjatamu, dan kita bicara. Aku akan menunda ledakannya."

Vero menatap jam.

07:59:55.

Lima detik.

Vero menatap mata Adrian. Dia melihat kebenaran di sana. Pria ini tidak menggertak. Dia sudah bosan mati, sama seperti Vero.

"Vero! Tembak dia!" jerit Sarah dari belakang.

"JANGAN!" bentak Vero.

Vero menurunkan laras pistolnya sedikit.

Tepat saat angka menyentuh 08:00:00.

Adrian tersenyum. Tangannya bergerak santai menekan tombol hijau di mejanya.

Bip.

SEQUENCE PAUSED.

TIMER EXTENDED: 10 MINUTES.

Tidak ada ledakan.

Lantai tidak berguncang.

Stasiun tidak runtuh.

Vero menghembuskan napas panjang, lututnya terasa lemas.

Dia berhasil membeli waktu 10 menit. Tapi harganya adalah negosiasi dengan iblis.

"Silakan duduk," kata Adrian, menunjuk kursi kosong di seberang mejanya. "Kita punya banyak hal untuk dibahas, sesama penjelajah waktu."

Vero tetap berdiri, pistolnya kembali terarah ke dada Adrian.

"Jelaskan. Sekarang. Kenapa kau melakukan ini? Kenapa meledakkan stasiun? Kenapa membunuh ribuan orang?"

Adrian menghela napas, seolah menjelaskan kalkulus pada anak TK.

"Triad Industries hanyalah alat, Vero. Limbah medis itu cuma alasan permukaan. Proyek Omega, Alpha... itu semua trivial."

Adrian berdiri perlahan. Vero menegang, tapi tidak menembak.

Adrian berjalan ke jendela kaca besar yang menghadap ke peron stasiun di bawah. Ribuan orang terlihat berlalu-lalang, tidak sadar bahwa nyawa mereka baru saja diperpanjang 10 menit.

"Aku tidak mencoba menghancurkan stasiun ini karena aku jahat," kata Adrian pelan, menatap kerumunan di bawah. "Aku mencoba menghancurkannya karena di kerumunan itu... ada Satu Orang yang harus mati."

Vero mengerutkan kening. "Satu orang? Kau mau membunuh ribuan orang demi satu target?"

"Namanya 'Paradoks Troli', Vero. Kau pasti tahu," Adrian berbalik menatap Vero. "Jika kau tidak membunuh satu orang itu hari ini... maka dalam 48 jam ke depan, orang itu akan memicu peristiwa yang membunuh 10 juta penduduk Jakarta."

Mata Vero membelalak. "Apa maksudmu?"

"Wabah," jawab Adrian dingin. "Pasien Nol (Patient Zero) dari sebuah virus sintetis sedang berada di peron itu sekarang. Dia membawa sampel virus curian di tasnya. Dia akan naik kereta jam 08:05 menuju Bandara. Jika dia lolos... kiamat global dimulai."

Adrian menunjuk ke arah tombol merah di mejanya.

"Aku meledakkan stasiun ini di setiap loop untuk mengubur virus itu di bawah ribuan ton beton. Aku adalah penjaga gawang yang mencegah akhir dunia. Dan kau..." Adrian menatap Vero dengan tatapan kecewa. "...kau terus-menerus datang menyelamatkan dia. Kau terus-menerus merusak usahaku."

Vero terdiam. Otaknya short-circuit.

Narasi pahlawannya hancur berkeping-keping.

Dia pikir dia menyelamatkan orang tak berdosa.

Ternyata dia menyelamatkan pembawa kiamat?

"Kau bohong," kata Sarah, melangkah maju. "Itu alasan klise teroris!"

"Begitukah?" Adrian tersenyum miring. Dia mengetik sesuatu di keyboard-nya.

Layar utama berubah menampilkan feed CCTV close-up di Peron 3.

Kamera menyorot seorang wanita muda dengan jaket denim, memeluk tas pendingin (cooler bag) medis. Dia terlihat gelisah, berkeringat, dan sakit.

Wajahnya pucat dengan urat-urat hitam yang samar di lehernya.

"Lihat dia," kata Adrian. "Itu Pasien Nol. Namanya Maya. Mantan peneliti Triad. Dia mencuri virus Chimera karena ingin membocorkannya ke media, tapi wadahnya retak. Dia sudah terinfeksi. Jika dia batuk satu kali saja di dalam kereta bandara yang ber-AC sentral..."

Adrian menirukan suara ledakan dengan mulutnya. "Poof. Jakarta jadi kota mati dalam seminggu."

Vero menatap layar itu. Wanita di CCTV itu memang terlihat sangat sakit.

"Jadi..." Vero menelan ludah. "Kau meledakkan bom kargo dan bom stasiun hanya untuk memastikan dia mati?"

"Efisiensi brutal," sahut Adrian. "Aku sudah mencoba mengirim penembak jitu di loop 1 sampai 5. Gagal. Dia selalu lolos karena keramaian. Aku mencoba menculiknya di loop 6 sampai 10. Gagal. Dia menularkan virus ke anak buahku. Satu-satunya cara aman adalah insinerasi total dengan suhu tinggi."

Adrian menatap Vero tajam.

"Sekarang kau punya pilihan, Vero. Waktu pause tinggal 7 menit."

"Opsi A: Kau biarkan aku menekan tombol ini. Kita bertiga mati, stasiun runtuh, tapi dunia selamat."

"Opsi B: Kau bunuh aku. Bom tidak meledak. Maya lolos. Dan besok pagi kau akan melihat keluargamu muntah darah dan mati."

Suasana di ruangan itu berat dan mencekik.

Pistol di tangan Vero terasa sangat berat.

Dia datang ke sini untuk menjadi pahlawan. Tapi sekarang dia dipaksa memilih antara menjadi pembunuh massal atau pembiar kiamat.

"Ada Opsi C," kata Vero tiba-tiba.

Adrian mengangkat alis. "Oh? Aku sudah menjalani hari ini 50 kali, Vero. Tidak ada Opsi C."

"Ada," Vero menatap Adrian tajam. "Kita tidak perlu meledakkan stasiun. Kita hanya perlu membunuh Maya. Secara spesifik."

"Sudah kubilang, itu berisiko penularan—"

"Aku yang akan melakukannya," potong Vero. "Aku kebal terhadap reset. Jika aku tertular, aku tinggal mati dan reset. Virusnya tidak akan ikut ke masa lalu, kan?"

Adrian terdiam. Dia tampak mempertimbangkan logika itu.

Benar. Vero adalah variabel yang tidak dimiliki Adrian sebelumnya. Seorang agen yang bisa "membuang" nyawanya sendiri tanpa konsekuensi permanen.

"Kau mau turun ke sana, membunuh wanita itu dari jarak dekat, dan memastikan virusnya hancur?" tanya Adrian skeptis.

"Ya. Beri aku senapan runduk (sniper). Atau biarkan aku turun ke peron."

Adrian menatap Vero lama. Lalu dia melihat jam.

08:05:00.

"Keretanya datang," kata Adrian. "Dia akan naik 2 menit lagi."

Adrian menekan tombol di laci mejanya. Sebuah panel dinding terbuka, menampilkan deretan senjata. Dia mengambil sebuah senapan laras panjang modern.

"Kau punya 2 menit," kata Adrian. Dia melemparkan senapan itu ke Vero. "Jangan kecewakan aku. Atau aku akan meledakkan semuanya, termasuk kau dan pacar jurnalis-mu ini."

Vero menangkap senapan itu.

Dia menatap Sarah.

"Maaf, Sarah. Ceritanya berubah lagi."

Vero berlari menuju jendela kaca besar yang menghadap ke peron.

Dia bukan lagi penyelamat.

Sekarang, dia adalah pembunuh bayaran demi kemanusiaan.

Tapi saat Vero membidikkan senapan itu ke arah wanita bernama Maya di kerumunan...

Dia melihat wajah wanita itu melalui lensa teleskop.

Wanita itu sedang menangis. Dan dia sedang menelepon seseorang.

Vero membaca gerak bibir wanita itu.

"Tolong aku... Adrian menjebakku..."

Jari Vero membeku di pelatuk.

Adrian menjebaknya?

Vero menoleh cepat ke arah Adrian.

Adrian sedang tersenyum. Senyum yang sama seperti saat dia menyambut Vero tadi. Senyum kemenangan.

"Kenapa ragu, Vero?" tanya Adrian lembut. "Tarik pelatuknya. Jadilah pahlawan."

Di detik itu, Vero sadar.

Cermin itu retak.

Cerita Adrian terlalu sempurna. Terlalu rapi.

Apakah virus itu nyata?

Atau apakah Adrian hanya memanipulasi Vero untuk membunuh satu-satunya saksi kunci kejahatan Triad Industries, menggunakan tangan Vero agar tangan Adrian tetap bersih?

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
yumin kwan
keren.... serasa menonton film. ga kebayang mengulang waktu terus, matinya kena bom pula. Terima kasih Kak author....
Ai Emy Ningrum
Vero yg mati berkali kali..aku yg capek 😅😅 time loop kek di pilem Hollywood...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
masih loading kejadian yg menimpa vero
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
mati berulang kali ver
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!