Hyeana adalah seorang gadis biasa yang tiba-tiba terlempar ke dimensi lain lalu Hyeana mencoba untuk keluar dari sana, ia mencari jalan keluar namun yang dia lalui hanya dunia yang tidak ada ujungnya. lalu tanpa sengaja ia tersandung hingga terjatuh didepan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah, namun pintu itu otomatis terbuka lebar dengan disertai suara yang aneh. Hyeana ingin mencoba masuk ke sana karena ia berfikir siapa tau jalan untuk ia pulang berada dibalik pintu tersebut. Ketika ia hendak memasuki pintu tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria dibelakangnya, lalu pria tersebut mengulurkan tangan-nya dan pria itu berkata, “Belum waktunya kamu berada di sini”.....Tak lama kemudian, Hyeana terbangun kembali di kamarnya dengan seorang pria berdiri di samping tempat tidurnya. Siapakah pria ini dan bagaimana kelanjutan dari kisah mereka? to be continue...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elrznta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A NORMAL DAY
Pagi di dunia Hyeana datang seperti biasa. Langit cerah, suara kendaraan dari jalan utama, dan aroma udara sekolah yang selalu sama setiap hari. Tapi bagi Hyeana… tidak ada pagi yang benar-benar terasa “biasa” lagi. Sejak semalam, dadanya masih terasa aneh, bukan sakit. Lebih seperti… ada sesuatu yang belum selesai di tempat yang jauh sekali.
“Hyeana!” Suara Ara langsung memecah lamunannya begitu ia masuk kelas.
Ara sudah duduk di bangku seperti biasa, melambaikan tangan heboh seperti tidak terjadi apa-apa kemarin.
“Kamu telat lagi loh!”
“Aku nggak telat…” jawab Hyeana pelan sambil duduk.
“Telat secara energi!” balas Ara serius.
Hyeana hanya menghela napas kecil. Di belakang mereka, Haras langsung mendecak.
“Energi apaan. Dia mah emang lambat.”
“Haras!” Ara langsung melempar buku kecil ke arahnya.
Buku itu melayang tepat ke kepala Haras.
“AH—”
“Pantesan otak lo juga lambat.” lanjut Ara.
Haras menatapnya tajam.
“Lo mau ribut?”
“Yuk!”
“…”
Olla yang duduk di dekat jendela hanya menghela napas pelan.
“Pagi-pagi jangan ribut.”
Suaranya tenang seperti biasa tapi matanya… sesekali melirik ke arah Hyeana. Hyeana tidak ikut menanggapi, Ia hanya membuka tasnya pelan. Namun tangannya berhenti sebentar seolah ragu. Lalu kembali bergerak seperti biasa.
“Na.” Suara Olla tiba-tiba memanggilnya pelan.
Hyeana menoleh.
“iyaa?”
Olla memperhatikannya sebentar.
“kamu tidur nggak semalam?”
Pertanyaan itu membuat Ara langsung berhenti ribut, Haras juga menoleh. Hyeana terdiam sepersekian detik.
“tidur.” Jawaban singkat tapi tidak meyakinkan.
Ara langsung mendekat.
“Pasti mimpi lagi kan?! Mimpi horor lagi?!”
“Bukan mimpi…” Hyeana menunduk sedikit.
“lebih kayak ingatan.”
Ruangan langsung sedikit hening, Haras berhenti bersandar, Olla menatapnya lebih serius, Ara yang tadi heboh langsung diam.
“ingatan siapa na?” tanya Ara pelan.
Hyeana tidak langsung menjawab, tangannya perlahan menggenggam ujung seragamnya.
“aku nggak tahu.” Jawaban itu membuat suasana makin sunyi dari sebelumnya.
Tapi seperti biasa… Haras yang memecah.
“Ya udah, kalau nggak tahu ya jangan dipikirin dulu.”
“Gampang banget ngomongnya!” Ara langsung protes.
“Ya daripada lo stress sendiri.”
“Lah lo ngerti apa tentang stress?!”
“Lebih banyak dari lo.”
“anjir.”
Olla berdiri perlahan, berjalan ke arah meja Hyeana, dia berhenti tepat di sampingnya.
“Kalau kamu mulai ngerasa aneh lagi,” ucapnya pelan,
“bilang.”
Hyeana mengangguk kecil.
"iya.”
Saat itu....pintu kelas terbuka.
“WOOOOOI!” Suara keras langsung masuk tanpa permisi.
Ara langsung menoleh.
“Anak ini lagi…”
Anne masuk dengan langkah santai seperti biasa, rambut sedikit berantakan, senyum lebar seperti tidak pernah ada masalah di dunia.
“Aku baru selesai urusan sekolah sebelah, capek banget sih hidup ini.”
Dia langsung duduk di bangkunya sambil menghembuskan napas panjang.
“Serius, kalian kangen nggak?”
“Enggak.” jawab Haras cepat.
“Parah.” balas Anne santai.
Tidak lama setelah itu…Lidia masuk. Langkahnya tenang seperti biasa.
“Selamat pagi.” Suaranya lembut, sopan, seperti tidak pernah tergesa-gesa dalam hidup.
Dia duduk tanpa banyak bicara tapi matanya langsung mengarah ke Hyeana lebih lama dari biasanya.
“kamu terlihat lelah,” ucap Lidia akhirnya.
Hyeana mengangguk kecil.
“Sedikit.”
Lidia tidak bertanya lebih jauh tapi ekspresinya berubah sedikit… seperti memahami sesuatu yang tidak diucapkan. Seana kemana? Dia sibuk baca buku novel jadi ga peduli sama tingkah laku temen-temen nya itu.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Sekarang lengkap sudah, Enam orang itu kembali dalam satu ruangan. Ara, Haras, Olla, Anne, Lidia, Seana dan Hyeana.
“Eh.” Anne tiba-tiba bersandar ke meja.
“Kenapa suasana kalian aneh banget sih hari ini?”
Haras langsung menjawab.
“Dari lo aja udah aneh.”
“Wajar aku spesial.”
“Spesial gangguan.”
“HEH?!”
Ara tertawa kecil akhirnya.
“Ya ampun kalian nggak pernah damai ya.”
Lidia tersenyum tipis.
“tapi memang agak berbeda hari ini.”
Olla meliriknya.
“Berbeda gimana?”
Lidia tidak langsung menjawab, Matanya kembali ke Hyeana.
“seperti sesuatu akan terjadi.”
Ruangan langsung sunyi sepersekian detik, Hyeana mengangkat kepalanya sedikit.
“maksud kamu apa?”
Lidia hanya tersenyum kecil.
“Tidak tahu.”
“Rasanya saja.”
Dan di saat itu....di luar jendela kelas…angin berhenti sesaat, daun tidak bergerak, burung di kejauhan diam sepersekian detik, dan bayangan tipis seperti kabut… lewat sangat cepat dan hampir tidak terlihat.
Tapi cukup untuk membuat Olla langsung menoleh.
“tadi kalian lihat nggak?”
Haras langsung ikut melihat ke jendela.
“Lihat apa?”
Anne mengernyit.
“Aku nggak lihat apa-apa.”
Lidia juga diam tapi ekspresinya sedikit berubah. Hyeana sendiri… tidak melihat apa pun tapi dadanya tiba-tiba terasa hangat lagi, sangat pelan seperti sesuatu yang jauh… sedang tersenyum padanya.
“eh?”
Ia memegang tangannya refleks.
Ara langsung panik.
“NA?! KENAPA LAGI?!”
“Enggak… cuma…”
Hyeana terdiam sebentar.
“hangat.”
Haras langsung menatap tajam.
“itu lagi.”
Olla berdiri sedikit dari kursinya.
“Dia dekat.”
Anne mencondongkan badan.
“Dia siapa sih sebenarnya dari kemarin?!”
Lidia menutup matanya sebentar.
“seseorang yang tidak seharusnya kembali.”
Dan untuk pertama kalinya pagi itu…Hyeana tidak merasa takut, rasanya aneh. Justru sebaliknya, Ada perasaan familiar yang tidak bisa dijelaskan. Seperti… sesuatu yang lama hilang dan sekarang…sedang mencoba kembali ke arahnya.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Koridor sekolah masih ramai seperti biasa, suara ketawa Ara terdengar paling keras di antara semuanya.
“Cepetan lah, kantin nanti penuh!”
“Lo doang yang takut nggak kebagian makanan,” balas Haras santai.
“Ya iyalah!”
Anne berjalan sambil menguap kecil, terlihat tidak terlalu peduli dunia.
“Kalau kehabisan ya kita rampok meja orang.”
“HEH?!” Ara langsung melotot.
Olla hanya menghela napas pelan dari belakang.
“jangan ajarin hal aneh.”
Dan Hyeana…masih berjalan pelan di tengah mereka, tapi sesekali matanya melirik ke arah belakang, seperti ada sesuatu yang terasa tertinggal di kelas.
Di sisi lain koridor, Seana berdiri sedikit menjauh dari kelompok itu, dia tidak terlalu banyak bicara dari tadi padahal biasanya dia ikut berjalan di tengah, tapi hari ini langkahnya agak lambat. Matanya beberapa kali melirik tangannya sendiri.
“aneh.” Bisiknya pelan.
Seana berhenti di dekat jendela koridor, Angin siang masuk pelan dari luar, suasana harusnya normal. Tapi tidak bagi Seana karena sejak beberapa menit lalu…ia merasa ada sesuatu yang “menempel” di sekitarnya. Bukan suara, bukan bayangan jelas, tapi seperti… tekanan kecil di udara.
“aku lagi capek kali ya.”
Seana mencoba menenangkan diri sendiri. Ia menghela napas dan hendak menyusul yang lain....langkahnya tiba-tiba berhenti. Di kaca jendela di sampingnya…pantulan dirinya terlihat jelas, tapi di belakang pantulan itu…ada sesuatu lain. Sosok samar dan tinggi seperti berdiri tepat di belakangnya.
Deg.
Seana langsung menoleh, tapi ternyata kosong, tidak ada siapa pun. Koridor masih ramai, orang-orang masih lewat, tidak ada yang berubah.
“itu barusan apa?” Suara Seana sedikit pelan sekarang.
Ia kembali menatap kaca dan kali ini…pantulan itu hanya dirinya sendiri. Seana menghela napas lega kecil.
“oke-oke....aku lagi halu.”
Ia menepuk pelan pipinya sendiri.
“Fokus, Seana.”
Namun saat ia berbalik untuk pergi....
“…!”
Langkahnya langsung berhenti lagi, kali ini bukan di kaca, tapi di udara di depannya. Ada hawa dingin yang tiba-tiba muncul seperti seseorang baru saja berdiri sangat dekat…..tanpa terlihat. Seana tidak bergerak, matanya sedikit melebar.
“siapa?”
Tidak ada jawaban.
Tapi udara di depannya seperti “bergelombang”, seperti sesuatu yang tidak punya bentuk… tapi punya keberadaan. Dan di detik berikutnya....sebuah bisikan sangat pelan terdengar di telinganya.
“akhirnya.”
Seana langsung mundur satu langkah.
“Siapa?!” Suaranya sedikit meninggi.
Orang-orang di koridor tidak ada yang bereaksi, seolah tidak ada apa-apa. Seana menoleh cepat ke kanan dan kiri, tapi kosong. Rasa dingin itu masih ada, bahkan lebih dekat sekarang. Dan saat ia menatap lurus ke depan lagi.....bayangan itu muncul sepersekian detik, bukan sosok utuh, Hanya siluet hitam dengan mata samar yang sangat redup, menatap langsung ke arahnya.
Seana langsung tersentak.
“nggak mungkin…” Tangannya refleks gemetar kecil.
Dan sebelum ia sempat mundur lebih jauh...bayangan itu hilang, seolah tidak pernah ada.
Koridor kembali normal, suara siswa kembali terdengar jelas, cahaya siang kembali hangat. Seana berdiri diam, napasnya agak cepat.
“aku… lihat sesuatu.” bisiknya pelan.
Kali ini tidak seperti halusinasi, Dia yakin. Di kejauhan, suara Ara masih terdengar:
“SEANA CEPETAN!!!”
Seana tersentak.
“iya ra!”
Ia buru-buru berjalan menyusul, mencoba terlihat normal tapi tangannya masih sedikit gemetar. Sementara itu, di ujung koridor yang tidak disadari siapa pun…kabut tipis menghilang perlahan. Dan di dalamnya, satu “kesadaran” kecil seperti baru saja menemukan pintu pertama yang terbuka. Seana adalah yang pertama dan itu bukan kebetulan.
Seana menyusul mereka dengan langkah cepat.
“HEI LAMA BANGET!” teriak Ara begitu melihatnya.
“maaf…” jawab Seana singkat, masih agak kosong.
Haras langsung melirik.
“lo kenapa?”
“nggak apa-apa.”
Jawaban itu terlalu cepat, Olla memperhatikan Seana beberapa detik lebih lama dari biasanya.
“…tanganmu gemetar.”
Seana langsung menatap tangannya sendiri.
“aku cuma… capek.” katanya cepat.
Anne yang jalan di depan langsung menoleh sambil senyum santai.
“capek itu wajar. hidup emang nyebelin.”
“itu bukan nasihat.” balas Lidia pelan.
“tapi itu fakta.”
Ara langsung nyenggol Anne.
“kamu tuh jangan ikut-ikutan bijak aneh deh.”
Suasana kembali ribut seperti biasa tapi Seana tidak benar-benar ikut tertawa. Di sisi lain koridor, Seana berjalan paling belakang lagi dan untuk sesaat… dia berhenti.
“….”
Koridor itu normal, ada orang lewat, suara sepatu. Angin dari jendela terbuka. Tapi di antara semuanya…Ada satu hal yang tidak konsisten. Bayangan. Bukan di lantai, Bukan di dinding. Tapi seperti “menempel” di ruang kosong di antara orang-orang. Seana berkedip cepat.
“lagi-lagi…” gumamnya.
Ia menunduk dan berjalan lagi cepat.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Akhirnya Mereka tiba dikantin, saat hendak makan.....sendok Seana jatuh kebawah.
TING.
Semua menoleh, Seana langsung membungkuk cepat.
“maaf.” suaranya pelan, hampir tidak stabil.
Dan saat dia berdiri lagi…Hyeana sudah memperhatikannya sejak tadi. Tatapan Hyeana sedikit mengeras, tapi suaranya tetap pelan.
“Seana…”
Seana menoleh cepat.
“iya?”
Hyeana diam sebentar, seperti ragu dengan apa yang dia rasakan sendiri.
“kamu dari tadi kayak gelisah.”
Seana langsung tersenyum kecil, terlalu cepat.
“enggak kok, cuma capek.”
Hyeana tidak langsung menjawab, matanya turun sebentar ke tangan Seana,alu kembali ke wajahnya.
“kalau capek, kamu bilang aja ya.”
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuat Seana sedikit membeku.
“iya.” jawab Seana akhirnya.
Dari sisi lain meja, Ara langsung menyenggol Hyeana.
“Na, kamu jangan overthinking lagi ya.”
“Aku nggak overthinking…”
“bohong.” balas Haras cepat tanpa lihat.
“HEH?!”
Hyeana menghela napas pelan, tapi matanya masih sesekali melirik Seana, Olla memperhatikan itu.
“kamu juga ngerasa sesuatu?” tanya Olla pelan ke Hyeana.
Hyeana diam sepersekian detik.
“aku nggak tahu.”
Tapi tangannya perlahan mengepal kecil di bawah meja.
“tapi dari tadi… ada yang aneh.”
Olla tidak menekan, hanya mengangguk kecil.
“kalau itu makin jelas, bilang.”
Hyeana mengangguk pelan.
“iya.”
Seana berdiri cepat.
“aku ke toilet dulu.”
Ara langsung refleks.
“eh aku ikut—”
“nggak usah.” potong Seana cepat.
Hening sepersekian detik, Hyeana langsung menoleh.
“Seana.”
Seana berhenti, Hyeana menatapnya sebentar, lalu pelan berkata:
“jangan lama ya.”
Seana tersenyum kecil.
“iya.”
(setelah Seana pergi)
Ara langsung condong ke Hyeana.
“Na, kamu curiga sesuatu ya?”
“enggak…” jawab Hyeana pelan.
Tapi setelah itu dia menambahkan, lebih lirih...
“cuma kayak… dia lagi nggak sendirian.”
Haras langsung berhenti makan.
“lo serius ngomong gitu?”
Hyeana mengangguk kecil.
“aku nggak bisa jelasin.”
Olla menatap arah Seana pergi.
“kalau benar begitu,” ucapnya pelan.
“berarti dia sudah disentuh.”
Hyeana langsung menoleh.
“disentuh apa?” tanya Hyeana
Olla tidak langsung jawab tapi tatapannya sedikit menggelap.
“sesuatu yang tidak terlihat.”
Hyeana menunduk sebentar, lalu pelan bicara lagi, lebih ke dirinya sendiri.
“kenapa aku ngerasa ini bukan pertama kalinya.”
Haras mendecak.
“lo jangan mulai lagi deh.”
Tapi Olla justru diam dan untuk pertama kalinya… dia tidak membantah ucapan Hyeana.