NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 22: SENYUM YANG BERBEDA

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 22: SENYUM YANG BERBEDA

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti seluruh desa, udara terasa sangat dingin menusuk tulang, tapi suasana hati di dalam rumah kayu kecil itu justru terasa hangat sekali, seolah ada matahari yang bersinar terang di dalam sana. Hari-hari berlalu begitu cepat sejak perubahan besar itu terjadi, dan setiap detiknya terasa begitu berarti dan indah bagi Ria.

Biasanya, di jam-jam begini, Ria sudah terbangun dengan rasa cemas dan buru-buru. Ia harus bangun sebelum orang lain, harus bergegas ke sekolah menyapu halaman luas sendirian, harus bergerak cepat supaya tidak ketahuan orang atau tidak terlambat. Badannya yang kurus kering itu selalu terasa berat, matanya selalu berat dibuka karena kurang tidur dan kurang makan. Ia berjalan menunduk, diam, dan tak pernah berani tersenyum lebar, karena beban hidup yang dipikulnya selalu ada di pundak.

Tapi pagi ini? Semuanya berubah total.

Ria terbangun karena terasa ada sentuhan lembut di bahunya. Ia membuka mata perlahan, dan yang dilihatnya pertama kali adalah wajah Bang Arefin yang sudah rapi berdiri di samping pembaringan, sambil tersenyum hangat dan lembut sekali. Di belakangnya sudah ada Bang Hamza dan Bang Ardiansyah yang juga sudah siap dengan pakaian sederhana mereka, wajah mereka berseri-seri penuh semangat.

"Bangun ya, Dik... Matahari sudah mau naik," sapa Bang Arefin pelan, suaranya halus sekali. "Jangan buru-buru, bangunnya santai saja. Dingin pagi ini, pakai baju tebal ya biar tidak menggigil. Hari ini kami siap semua nemenin kamu, jangan khawatir apa-apa."

Ria mengucek matanya pelan, tersenyum malu-malu. Ia bangkit duduk, merasakan sesuatu yang beda banget: tidak ada rasa terburu-buru, tidak ada rasa takut, tidak ada rasa berat. Dulu, bangun pagi itu rasanya seperti hukuman, harus segera lari menghadapi dunia yang keras sendirian. Sekarang, bangun pagi itu rasanya nikmat, karena ia tahu, di luar sana, di mana pun ia melangkah, ada pelindung yang selalu ada.

Setelah siap, mereka berempat berjalan keluar rumah. Di depan pintu, Bunda sudah menunggu dengan senyum bahagia, menyerahkan bekal makanan seadanya yang dibungkus daun pisang. Bukan makanan enak memang, hanya nasi sedikit dicampur garam dan sedikit sambal, tapi rasanya beda banget sekarang.

"Makan yang rajin ya, Nak... Meski sedikit, nikmati saja sama-sama," pesan Bunda lembut.

Di jalan setapak berdebu menuju sekolah, pemandangan ini makin jadi perhatian semua orang. Dulu, warga desa biasa melihat satu sosok gadis kurus tinggi berjalan sendirian, langkahnya kecil tapi cepat, menunduk dalam, tampak seperti orang yang sedang lari dari sesuatu. Banyak yang kasihan, banyak yang diam saja, tapi semua tahu betapa berat hidup anak itu.

Sekarang, setiap kali mereka lewat, orang-orang berhenti bekerja, berhenti ngobrol, dan menatap dengan pandangan tak percaya tapi senang. Ria berjalan di tengah-tengah, badannya yang kurus itu tegak lurus, kepalanya tidak lagi menunduk, matanya berbinar cerah, dan senyumnya lebar sekali sampai terlihat giginya. Di kanan kiri dan belakangnya, ketiga kakaknya berjalan mengapit, langkah mereka santai tapi gagah, sesekali tertawa bercanda atau bertanya hal-hal ringan ke Ria.

"Ria... dengerin Abang ya," kata Bang Hamza sambil berjalan, menoleh ke adiknya. "Sekolah itu tugasmu sekarang. Di kelas, dengerin baik-baik guru, catat yang penting, kalau ada pelajaran susah nanti pulang kita bahas bareng-bareng di rumah. Urusan halaman sekolah, sapu-sapu, angkat air, urus itu semua kami. Kamu duduk manis, belajar, dan jaga kesehatanmu saja. Jangan sekali-kali kamu pegang sapu lagi ya, kalau kami tahu kamu curi-curi kerja, Abang marah lho beneran."

Ria tertawa kecil, mengangguk patuh. "Iya Bang... Aku janji. Rasanya aneh lho ya... Dulu aku dilarang istirahat, sekarang malah dilarang kerja. Tapi enak banget rasanya, Bang... Hati aku jadi lega sekali, rasanya beban di dada ini hilang semua."

Sesampainya di sekolah, Pak Guru yang sedang menyusun buku di meja langsung menoleh. Beliau tersenyum lebar melihat pemandangan itu. Sudah beberapa hari ini beliau melihat perubahan luar biasa itu. Ketiga kakak Ria datang pagi-pagi, langsung mengambil alih semua pekerjaan berat: menyapu halaman yang luas, mengelap meja, mengangkat bangku, membuang sampah. Mereka bekerja sekuat tenaga, keringat bercucuran, tapi wajah mereka tampak bahagia dan lega.

Sementara Ria? Ria hanya duduk santai di teras kelas, kadang membaca buku, kadang hanya diam melihat kakaknya bekerja dengan senyum bangga. Teman-teman sekelasnya dulu sering kasihan, sering melihat Ria datang sudah lelah dan berkeringat karena kerja berat. Sekarang mereka melihat Ria datang segar, bersih, dan wajahnya cerah sekali.

"Ria... sekarang hidupmu rasanya enak ya?" tanya seorang temannya sambil duduk di sebelahnya. "Dulu kamu selalu diam, muka sedih terus. Sekarang kok senyum mulu, ceria banget. Abang-abangmu baik banget ya, mau gantiin semua kerjamu."

Ria menatap temannya, lalu menatap punggung ketiga kakaknya yang sedang menyapu halaman dengan semangat. Ia mengangguk, matanya berkaca-kaca bahagia.

"Iya... rasanya mimpi tau nggak? Dulu aku kira aku harus begini terus selamanya... harus berjuang sendiri, harus capek sendiri. Ternyata Tuhan baik banget... aku dikasih kesempatan buat merasakan punya keluarga yang utuh lagi. Meski kami miskin, meski makan seadanya... tapi rasanya aku jadi anak paling bahagia sedunia. Punya mereka di sampingku, itu lebih mahal dari apa pun."

Siang hari pun berlalu, waktunya pulang sekolah. Biasanya, Ria langsung lari terburu-buru ke rumah Bu Rini tanpa istirahat, kaki rasanya sakit, pinggang pegal, dan perut sudah lapar. Tapi hari ini, rombongan kecil itu berjalan santai menuju rumah Bu Rini. Di sana pun ceritanya sama saja. Bu Rini sudah menunggu di beranda sambil tersenyum lebar, sudah hafal betul dengan perubahan indah ini.

"Wah, datang lagi pasukan pelindung ya?" sapa Bu Rini sambil tertawa ramah. "Ria, sini duduk di kursi empuk sini. Jangan mendekat ke dapur atau halaman ya, nanti kotor baju sekolahmu. Biar Abang-abangmu yang masuk, mereka sudah minta izin sama saya kok mau ambil alih semuanya."

Bang Hamza dan yang lain langsung masuk ke dalam rumah Bu Rini dengan santai, mengambil ember besar, sapu, dan peralatan lain. Mereka bekerja dengan gembira, bercanda satu sama lain seolah pekerjaan berat itu adalah hal yang paling menyenangkan buat mereka. Kadang Bang Arefin mengangkat dua ember besar berisi air sekaligus dengan mudahnya, sementara dulu Ria harus berjuang mati-matian mengangkat satu ember saja sampai kakinya gemetar.

Ria duduk diam di beranda, melihat mereka dari jauh dengan hati yang penuh. Ia melihat punggung kakaknya yang basah keringat, melihat senyum mereka yang tulus, dan mendengar suara tawa mereka. Di matanya, pemandangan itu adalah pemandangan terindah yang pernah ada.

Bu Rini duduk di samping Ria, mengelus bahu kurus anak itu pelan.

"Kamu hebat sekali ya, Nak..." ucap Bu Rini lirih dan penuh kekaguman. "Kamu berjuang sendirian bertahun-tahun, menahan beratnya hidup, menahan dingin dan lapar... tapi kamu tidak pernah mengeluh, kamu tetap sabar dan baik hati. Dan sekarang, lihat... Tuhan ganti penderitaanmu dengan kebahagiaan yang berlipat ganda. Abang-abangmu sekarang sayang banget sama kamu, menebus semua kesalahan mereka dulu. Ingat ya Nak... kebahagiaan ini baru awal. Karena kamu sabar dan ikhlas, hidupmu akan indah terus ke depannya."

Mata Ria berkaca-kaca mendengar itu, tapi senyumnya tak pernah hilang. Ia tahu benar, Bu Rini berkata benar. Bertahun-tahun ia sabar, bertahun-tahun ia ikhlas meski berat, dan kini semuanya terbayar lunas. Bukan dengan uang atau harta, tapi dengan kasih sayang keluarga yang utuh, yang jauh lebih mahal nilainya.

Sore itu, saat mereka berjalan pulang ke rumah, langkah mereka terasa begitu ringan dan gembira. Angin sore berhembus lembut menerpa wajah mereka, membawa rasa damai yang mendalam. Di tengah jalan, Bang Ardiansyah tiba-tiba berhenti, memetik seuntai bunga liar kecil berwarna kuning cerah yang tumbuh di pinggir jalan berdebu itu. Ia lalu menyelipkan bunga itu perlahan di belakang telinga Ria.

"Cantik..." puji Bang Ardiansyah sambil tersenyum tulus. "Kamu itu bunga kami, Dik. Satu-satunya bunga yang tumbuh indah dan kuat di tengah hutan belantara yang susah dan miskin ini. Dulu kami biarkan kamu tumbuh sendirian, kena panas kena hujan sendiri. Sekarang kami janji, kami akan jadi pagar dan naunganmu. Kami akan jaga kamu supaya tumbuh makin indah, makin kuat, dan makin bersinar selamanya."

Ria tersipu malu, wajahnya memerah manis. Ia menyentuh bunga kecil di belakang telinganya itu, lalu menatap ketiga kakaknya bergantian. Di tengah kemiskinan mereka, di tengah kekurangan makanan dan pakaian, di tengah rumah yang sederhana itu... Ria menemukan harta yang paling berharga.

Ia tahu benar, perjalanan hidupnya masih panjang, mungkin masih banyak ujian dan kesusahan yang datang nanti. Tapi satu hal yang ia yakin betul sekarang: ia tidak akan takut lagi. Ia tidak akan lelah lagi. Ia tidak akan menangis sendirian lagi.

Karena sekarang, di setiap langkah kakinya, ada tiga bayang-bayang tegap yang selalu ada di sampingnya. Dulu ia berjalan sendirian, tapi sekarang, mereka berjalan beriringan, sehati dan sejiwa, membuktikan bahwa kasih sayang dan kebersamaan adalah kekayaan terbesar yang tak akan pernah habis, walau dunia sedang serba kekurangan.

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!