Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Tegas 2
"Astaga, Liana. Kami tak menyangka" suara sumbang terdengar dikala mereka melihat isi kertas yang dicetak jelas itu.
Bahkan ada yang menemukan penggalan momen dikala Liana mengirimkan foto dengan pakaian tak pantas kepada atasannya. Dan lebih tak menyangka dengan respon atasannya.
Clarissa belum puas mengeluarkan unek-uneknya. Dia membuka ulang ponselnya dan menunjukkan isi obrolan suaminya dengan wanita itu tepat di depan wajah Liana.
"Kamu lihat ini, kamu cukup berani ya merayu suami saya dengan mengirim foto tubuh kamu" Teriak Clarissa lagi membuat Liana kian tersudut. Dia ingin pergi dari tempat itu namun sayangnya masih dijegat oleh Clarissa.
Suara sorakan menambah rasa gaduh dan membuat Ethan terpancing keluar dari ruangannya.
"Clarissa, ada apa ini?" Tanyanya mendekat dan melihat kejadian tempo hari terjadi lagi.
Ethan menggengam tangan Clarissa agar melepaskan Liana. Clarissa menepis dengan kasar.
"Selama ini aku tahu, hubungan kalian. Ternyata kalian belum jera meski sudah ketahuan di hotel tempo hari" Teriak Clarissa lagi menambah drama panjang yang semakin membuat karyawan bersorak semakin tak percaya.
"Clarissa, ayo kita pulang" Balas Ethan dengan nada datar namun terlihat jelas menahan malu.
"Tidak mau, Aku harus memberi pelajaran kepada wanita yang telah merusak rumah tangga kita" jerit Clarissa yang kini berani membantah Ethan.
Sementara Liana hanya menunduk menahan rasa nyeri dan malu. Ethan membujuk dengan setengah memaksa. Menggenggam tangan Clarissa lalu keluar dari kantor. Tersisa hanya karyawan yang satu persatu bubar menuju kantin karena jam makan siangnya terlewatkan dengan drama panas. Liana masih mematung sejenak, lalu kembali berjongkok dan mengumpulkan semua bukti aibnya yang tercecer di lantai.
...****************...
Ethan berhasil menawa Clarissa ke dalam mobilnya, dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa ada suara. Clarissa merasa takut namun sudah siap dengan hal terburuk sekalipun.
Mereka telah tiba di rumah, Ethan sejak awal sudah kasar keluar dari mobilnya lalu segera membuka pintu mobil sebelahnya dan dengan kasar menyeret Clarissa keluar.
Suara pintu dibanting terdengar nyaring, dan di dalam rumah kini mereka berada. Clarissa bersandar di pintu yang baru saja dibanting, sedangkan Ethan yang masih memunggunginya terlihat mengatur nafas yang mengalir kasar.
"Apa maksud kamu datang hari ini hanya untuk mempermalukan suamimu?" pertanyaan Ethan keluar tanpa mau menoleh ke arah istrinya.
Sosok Clarissa yang pemberani seperti tadi telah menghilang, kini untuk menjawab pun lidahnya kelu.
"Kamu membuat suami kamu malu Clarissa !!" Teriak Ethan sembari membalikkan tubuhnya karena tak mendapat jawaban apapun.
Clarissa sempat tersentak namun kembali menetralkan hatinya. Sikap diam Clarissa justru tidak membuat Ethan mereda. Dengan tangan yang gemetar dia melepas sabuk yang tampak serasi dengan setelah celananya.
Mendekat ke arah Clarissa yang tidak mampu menghindar lalu melayangkan cambukan demi cambukan, sesekali mengeluarkan umpatan atas rasa malu yang harus ditanggung atas kejadian tadi.
Tak ada perlawanan atau pembelaan selain menerima sakit yang berulang. Tak puas dengan sabuk yang berbahan kulit dengan desain elegan itu, dia meraih wajah Clarissa dan menatapnya sepintas lalu melayangkan kepalan tangan yang penuh kemarahan.
Clarissa sungguh tersungkur, hanya jeritan yang terdengar sesekali. Di sudut ruangan yang dihiasi guci menjadi sasaran emosi Ethan, dibantingnya ke lantai hingga bercecer. Untung saja tak mengenai Clarissa.
Dihelanya nafasnya beberapa kali lalu menanyakan lagi pertanyaan yang sama, bagaimana bisa istrinya berbuat nekat hari ini.
"Aku sakit hati, selama ini aku berjuang untuk rumah tangga ini. Tapi kamu mengkhianati ku" Balas Clarissa dengan terbata-bata, diselingi tangis sesegukan.
"Berjuang kamu bilang, Kamu pikir aku tidak berjuang?" Balas Ethan yang tidak mau kalah
"Aku tidak selingkuh seperti kamu" balas Clarissa lagi dengan tangis yang kian pecah
"Kamu selalu membuatku marah Clarissa, ada saja tindakanmu yang membuat kesal. Aku juga butuh waktu untuk lepas dari wanita itu"
"Apa kurangku?, bahkan dengan semua rasa sakit ini aku tetap bertahan"
"Kurang mu?, kekurangan kamu adalah kamu tidak bisa memberikan keluarga yang lengkap" Teriak Ethan yang mengingat beberpa sumber pertengkaran mereka.
Ethan mengingat dikala Clarissa menolak bujukan dan saran Mamanya untuk memeriksa kandungan, apalagi dikala Clarissa menyuruhnya untuk ikut diperiksa. Hal-hal lain yang membuatnya kesal seperti Clarissa membuat kesalahan.
"Jadi karena itu?, berapa kali aku katakan, dokter bilang aku baik-baik saja" Teriak Clarissa yang kini posisi duduk dilantai dengan isakan tangis yang tidak ingin ditahan seperti sebelumnya.
"Aku yakin ada yang lain, selama ini kita tidak ribut saat membahas anak. Kamu akan mulai marah kalau aku tidak menuruti keinginan keluargamu kan?"
Ethan masih diam mencerna semuanya, selama ini mereka tidak pernah berbicara mendalam tentang memiliki keturunan. Namun keluarga Ethan terlebih Mama Ethan sudah menaruh harapan yang besar kepada Clarissa.
"Kamu berubah Ethan, dulu kamu tidak pernah menyakiti ku. Tapi apa ini, kamu selalu menggunakan kekerasan. Apa seperti ini cara kamu mendidik istri?, apa Mama kamu tahu anak yang dibesarkannya ternyata seperti ini?" Suara Clarissa kini lirih namun air matanya belum surut.
"Aku tidak mau kejadian hari ini terulang lagi. Sampai kapanpun jangan pernah lagi datang ke kantorku" Balas Ethan yang tak ingin berdebat panjang. Lalu setengah membungkuk untuk meraih sabuk yang tergeletak di lantai.
"Tidak akan, selama kamu bermain gila dengan wanita sialan itu maka aku akan berani. Aku akan membunuh wanita itu" Teriak Clarissa lagi merasa tak terima mendapat peringatan iti dari suaminya.
Ethan yang baru saja selesai memakai sabuk di pinggangnya, kembali terpancing emosinya. Menarik rambutnya ke belakang, membayangkan tindakan Clarissa seperti tadi saja sudah membuatnya malu apalagi ada kejadian kedua dan seterusnya.
Di sudut ruangan yang tak jauh dari letak guci tadi, terdapat payung yang tersusun. Dengan cepat diraihnya lalu menghajar tubuh yang masih bersimpuh di lantai. Menghujam berulang kali, rasa sakitnya kian berlipat ganda.
Pemilik tubuh itu tak sanggup lagi, berusaha melindungi tubuhnya namun percuma. Lengannya merasakan panasnya hantaman dari payung yang ditekuk rapi, punggung yang tak lagi tegal, kepala yang berdenyut beberpa kali terkena hantaman. Ethan kali ini sangat kehilangan kendali, memukul dengan payung yang bahkan menjadi rusak rapuh.
Tak berhenti disitu, dibantingnya payung itu ke tubuh Clarissa lalu melanjutkan dengan kaki yang masih dilindungi sepatu kerja yang mewah dipakai untuk memberi pelajaran pada pemilik punggung yang telah terkulai lemah. Menendang kaki dan pahanya bahkan punggung yang rapuh itu. Kian celakan jika Clarissa melindungi diri, berniat melindungi punggungnya justru lengannya yang menjadi korban, bahkan kepala terkena alas sepatu yang keras itu.
Lalu Ethan berhenti sejenak dan memberikan peringatan ulang, kali ini tidak ada bantahan dari Clarissa. Lalu terdengar suara bantingan pintu dari luar dan suara mobil yang bergerak dengan decitan yang keras meninggalkan pekarangan rumah itu.
Detik demi detik yang dihitung, menghitung lagi sampai rasa nyeri itu menghilang samar. Namun kali ini rasanya cukup parah, bukan hanya pelindung luar yang telah luka tapi pelindung hatinya telah terkoyak habis. Tangisannya kembali terdengar dengan sisa tenaganya.
"Apa aku akan mati hari ini ?" Pertanyaan itu akhirnya hadir setelah segala penganiayaan yang tak terhitung jumlahnya. Pertanyaan yang hadir dari sanubarinya mencoba menyelamatkan si pemilik raga dengan segala harapan yang tersisa.