NovelToon NovelToon
Shower Of Blood

Shower Of Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: ShAdOwFaNg

"Ugh..
aku harus..."

Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.

tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 2 : Darah Pertama

Ugh...

Di... Mana... Aku?..

Aku... Ma... Sih hidup?

Ugh...

Akhirnya... Ada cahaya?

Huh, di mana ini?

Gua?

Bagaimana mungkin?

Mungkinkah aku... Diseret ke gua di bukit itu?

Hmm...

Ahh, aroma ini.

Hutan?

Ugh, sakit!

Perutku.. sakit sekali.

Ku pegang perutku. Aneh...

Tidak ada luka, wah bagaimana bisa?

Tapi... Ugh.. sakit!

Tidak.. bagaimana mungkin...

Perlahan lahan aku merasakan dunia semakin gelap.

Mungkinkah, itu hanya mimpi ringan sebelum aku menikmati tidur abadi?

Gelap!

Tolong!

Tolong aku!

Siapapun, aku masih ingin hidup!

Tolong, setidaknya aku mau hidup.

Gelap!

Tidak, kenapa gelap.

Gelap...

Jiwa itu mulai tenggelam kedalam lautan malam. Tak mampu melawan kuatnya arus kegelapan.

Sejam berlalu...

Dua jam berlalu...

Perlahan-lahan, Theo mendapati dirinya ada di dalam sebuah ruangan yang sangat gelap.

'Licin...

Lembab....

Ugh...... Bau tanah.'

"Hah!" Theo terbangun, mukanya putih pucat bagaikan kertas. Keringat bercucuran bagaikan air mancur di dahinya.

Tidak lama, ia memegang perutnya.

'huuh... Masih ada.

Gelap?'

Ia melihat ke sekelilingnya, gelap, tidak ada sedikitpun cahaya di sekitar situ.

Tangannya merambati ke arah mana tangannya dapat menggapai, menyadari bahwa di belakangnya ada sesuatu yang terasa keras dan licin.

Theo segera meraba lagi, memastikan benda apa yang ada di belakangnya itu.

'ahh, batu'

Segera tubuhnya berbaring di batu tersebut.

'haah...

apakah... aku akhirnya ada di ruang... kematian?

Oh...

Ayah...

Ibu...

Adikku...'

Tetes demi tetes air mata keluar dari mata Theo. Dia mulai mengingat kenangan bersama dengan kedua orang tua dan adiknya itu.

Sedikit demi sedikit, Theo mulai terlelap menutup hari tersebut yang bahkan tidak dia ketahui waktunya.

Ssssshhhh...

Sebuah suara keras memenuhi gua membangunkan Theo dari mimpinya yang indah.

Mata Theo segera terbuka lebar, dan jantungnya berdegup dengan keras. Dia jelas tau makhluk apa yang bisa mendesis seperti itu.

'ular?

Jika kita melihat dari suaranya yang bisa menggetarkan gua, sudah pasti ini ular dengan ukuran yang cukup besar.

Itu artinya, beruntung, ular besar membutuhkan oksigen. Maka aku, masih hidup setidaknya."

Theo segera meraba sekitar berusaha mencari sedikitnya barang yang dapat membantunya.

Tidak ada...

Tidak terasa apapun kecuali lantai batu licin memenuhi sekitarnya.

Shhhhhhh

Terdengar suara mendesis yang semakin mendekat.

Langkah demi langkah....

Mempercepat irama jantung Theo, sekaligus menyebabkan kepanikan terpampang jelas di wajah Theo.

Tidak lama, Theo dapat merasa sesuatu yang amat sangat besar melilit tubuhnya.

Nafasnya menjadi lebih pendek, dadanya terbelit dengan tangan kiri yang masih bebas.

'sesak...'

Theo mulai melawan ular itu dengan tangan kirinya yang masih bebas. Naas, ular itu malah semakin membelitnya.

Jelas dia tahu bahwa dirinya sudah terlambat, ular itu sudah sampai dan sedang melilit tubuhnya.

Dalam kepanikannya, Theo melihat terdapat dua titik hijau kecil di atas tubuhnya.

'mata'

Tak terasa, lilitan itu menjadi semakin keras dan mulai memeras tubuh Theo. Meskipun begitu, Theo tidak merasa panik atau takut.

Ia tahu, bahwa ular itu dapat dia kalahkan dengan waktu yang pas.

Terus ia tunggu waktu yang pas, tentu saja sambil terus mengencangkan otot-otot di tubuhnya. Berusaha melawan belitan ular besar itu.

Tidak lama, ular itu mulai lengah. Kepalanya mulai turun, hendak memakan Theo.

Jengkal demi jengkal jarak antara Theo dengan kepala ular mulai berkurang. Begitupun yang dirasakan oleh Theo.

Sampai...

Crotttt!

Dari mata kiri ular itu, keluar cairan dengan kemilau hijau yang indah.

Kriakk!

Ular itu mulai melepas belitannya, mengerang kesakitan.

Melihat itu, Theo segera menjulurkan tangannya. Hendak mencolok mata lain dari ular itu.

Crott!

Lagi lagi keluar cairan hijau kental yang menyala dari mata kanan ular itu.

"Huh...

Huh...

Huh...

Akhirnya berhasil"

Theo terengah-engah, merasa dirinya telah berhasil. Nafasnya berat, keringat mengalir deras dari sekujur tubuhnya.

Shhhh....

Shriek!

Ular itu dengan terburu-buru keluar ke arah yang tidak diketahui. Berusaha melepaskan diri dari hadapan Theo.

Beruntung, Theo bisa melihat jejak cairan hijau menyala dari ular itu.

Sampai....

'hutan?'

Theo mencium bau hutan yang khas, serta suara dari tonggerek yang sangat merdu.

Krekk!

Krekk!

Krekk!

Tidak lupa, ia kembali mengikuti jejak yang ditinggalkan oleh ular. Menyadari, bahwa ular itu, sedang pergi ke arah sarangnya.

Sesampainya Theo di sarang ular, begitu kagetnya melihat ular yang cukup besar sudah berdarah matanya sedang meringkuk seperti sedang melindungi sesuatu.

'Titanoboa? Uhm.. tidak tidak, pasti ini sejenis anaconda putih. Ya pasti.'

Tentu saja, Theo segera mendekati ular itu.

Tidak bergerak...

Ular itu tidak bergerak, bahkan saat Theo sudah menyentuhnya pun tidak bergerak.

Darah merah keluar mengalir deras dari matanya, menyebarkan bau amis ke daerah di sekitar ular itu.

Ketika Theo melihat ular itu lagi, ia menyadari satu hal.

'mati. Dia sudah mati'

Awalnya, Theo merasa agak bangga, melihat ular besar yang tadi hendak membunuhnya berhasil dia bunuh.

Sampai...

"Telur? Oh tidak."

Theo langsung terduduk, membayangkan bahwa ia baru saja membunuh seorang ibu bagi calon ular yang tidak akan pernah bisa menetas.

"Maaf.. maafkan aku"

Setelah itu, Theo segera melepas jas sekolah yang sudah sobek itu, kemudian mengikatnya membentuk sebuah tas kantong kecil.

Dia mengambil empat telur yang ada, kemudian menaruhnya di dalam tas itu dan menggendongnya.

"Setidaknya aku bisa merawat kalian menggantikan ibu kalian."

Kemudian, Theo mencari batu yang berbentuk agak panjang. Berharap bisa mencari alat untuk menggali lubang. Namun, tidak dapat ia temukan sedikitpun alat untuk menggali lubang.

Berputar-putar, tak terasa membuat Theo menghabiskan harinya dengan mencari buah ataupun tanaman yang bisa dimakan, sambil mencari batu yang cocok untuk menggali tanah.

Di malam hari, Theo segera pergi ke dalam gua. Mengikuti sisa pendaran cahaya hijau di lantai gua.

'aneh, bagaimana bisa gua yang tadinya begitu menyeramkan menjadi tidak menyeramkan.

Hmm...

Mungkin guncangan tadi menyebabkan beberapa batu runtuh.

Jadi, aku bisa melihat isi gua sekarang.'

Tidak lama, ia melihat batu berlumut yang cukup strategis sebagai tempat untuk beristirahat.

Ia menyenderkan tubuhnya, dan mengambil beberapa buah yang dia ambil di hutan.

Kemudian, ia sedikit menyobek buah yang ada, dan menggosokkannya di bagian bibir luarnya.

'ugh, sialan kebas.'

Iapun membuang buah di tangannya itu begitu merasakan kebal di bibirnya.

Lanjut, ia mengambil buah lain dan melakukan hal yang sama.

'ugh, gatal sial'

'ugh, perih'

Berkali-kali ia menguji buah yang dia bawa, mengubah wajah Theo menjadi seperti balon yang digembungkan.

Tidak lama bagi Theo untuk terlelap melupakan sejenak rasa laparnya.

Pilar-pilar cahaya tipis membangunkan tidur lelap Theo, membuatnya sadar kalau hari telah berubah menjadi pagi yang cerah.

Kemudian, ia segera melihat keluar gua.

Hilang...

***

End ch. 2 : Darah Pertama

jangan lupa like dan comment

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!