Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tabib Kerajaan
Ruang tamu utama keluarga Vareinne malam itu dipenuhi dengan suasana tegang.
Lilin kristal menyala terang, memantulkan cahaya keemasan pada lantai marmer putih. Para pelayan berdiri di sudut ruangan dengan kepala tertunduk, sementara beberapa pengawal berjaga lebih ketat dibanding biasanya.
Di tengah ruangan berdiri seorang pria tua berjubah abu-abu tua. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, tetapi matanya masih tajam.
Dia adalah Tabib Orion Valcrest. Tabib kerajaan yang terkenal karena kemampuannya mengenali berbagai jenis racun.
Saat Duke Cedric Vareinne memasuki ruangan bersama Arcelia, pria tua itu segera membungkuk hormat.
“Yang Mulia Duke.”
Cedric mengangguk singkat.
“Maaf memanggil Anda malam-malam.” kata Duke sambil mempersilahkan duduk.
“Kalau menyangkut racun, waktu memang penting.” kata tabib Orion.
Tatapan Orion perlahan berpindah pada Arcelia Vareinne..Namun matanya langsung berubah sedikit serius.
“Wajah Nona Arcelia terlihat pucat.” kata Tabib Orion.
“Aku hampir mati kemarin.” jawab Arcelia tenang.
Tabib tua itu tampak memperhatikan Arcelia beberapa detik lebih lama. Seolah sedang mencoba membaca sesuatu.
“Saya perlu memeriksa tehnya.” kata tabib Orion akhirnya.
Leonard segera maju membawa kotak teh hitam yang tadi diamankan. “Aku menjaganya sejak kejadian di dapur,” katanya.
"Bagus." kata Duke.
"Berarti tidak ada kesempatan untuk seseorang mengganti barang bukti." batin Arcelia.
Orion membuka kotak teh secara perlahan membuat semua orang terdiam.
Semua mata tertuju pada tabib Orion tersebut saat ia mengambil sedikit daun teh dan menciumnya.
Kemudian tabib Orion mengeluarkan jarum perak kecil dari dalam tas kulitnya.
Setelah itu, jarum itu disentuhkan ke daun teh untuk diuji coba.
Setelah beberapa saat, jarum tersebut berubah warna menjadi hitam yang menandakan adanya reaksi racun.
Lilian langsung menutup mulutnya kaget, "astaga, benar-benar beracun." gumamnya pelan.
Sementara wajah Cedric berubah sangat marah, tangannya sudah mengepal bahkan urat-urat ditangannya terlihat menonjol.
“Teh ini memang mengandung racun,” ucap Orion pelan.
Semua orang terkejut dan tidak ada yang berani berbicara. Dan tidak ada lagi yang berbicara bahwa ini adalah kesalahpahaman.
Sorot mata Duke memerah karena amarah, “Racun jenis apa?” tanyanya.
“Racun pelemah tubuh.” Orion mengangkat pandangan. “Kalau digunakan sedikit demi sedikit dalam jangka panjang, korban akan terlihat seperti sakit biasa.”
Mata Arcelia menyipit tipis "Sama seperti analisis sistem." batinnya.
“Efek racun ini apa?” tanya Cedric dingin.
“Tubuh perlahan melemah. Organ rusak sedikit demi sedikit. Korban mudah lelah, emosinya tidak stabil, dan akhirnya meninggal tanpa menimbulkan kecurigaan besar.” kata tabib Orion dia berbicara dengan cukup hati-hati.
Ruangan terasa jauh lebih dingin setelah penjelasan itu.
Karena semua orang kini sadar ini bukan percobaan pembunuhan mendadak. Seseorang sudah merencanakannya sangat lama dan dengan sangat matang.
Cedric perlahan menatap Arcelia, tatapannya sangat rumit. Karena untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu yang mengerikan.
Putrinya telah diracuni bertahun-tahun tepat di depan matanya. Dan dirinya tidak menyadarinya sama sekali.
“Apakah racun ini sulit untuk ditemukan?” tanya Leonard.
Orion mengangguk pelan. “Sangat sulit. Orang biasa tidak mungkin mengenalinya.”
Berarti pelakunya bukan sembarang orang.
Atau setidaknya memiliki bantuan seseorang yang memahami racun.
“Bisakah Anda mengetahui sejak kapan racun ini digunakan?” tanya Cedric.
Orion menatap Arcelia beberapa saat. “Kalau melihat kondisi tubuh Nona…” Tabib Orion itu terdiam sejenak seperti sedang menganalisis, “Minimal lebih dari satu tahun.”
Lilian langsung pucat, sementara Duke Cedric sangat terkejut dan tampak seperti baru saja dipukul dengan benda keras.
"Satu tahun. Artinya Arcelia hidup dalam racun selama itu. Dan tidak ada seorang pun yang menolongnya." batin Duke tangannya mengepal sambil menatap Arcelia.
[Emosi target meningkat.]
[Rasa bersalah sangat tinggi.]
Arcelia hanya terdiam bahkan dia merasa tubuhnya bereaksi melihat ayahnya yang terpukul. "kenapa rasanya sesak sekali." batin Arcelia sambil memegang dadanya.
Namun bukan karena racun, melainkan sisa emosi Arcelia asli.
Kesedihan seorang anak yang perlahan sekarat di rumahnya sendiri.
“Ayah.” kata Arcelia.
Cedric langsung menoleh dan menatap putrinya dengan mata yang sayu.
“Aku bilang aku diracun.” Suara Arcelia tidak keras dan juga tidak marah.
Namun justru karena terlalu tenang, kalimat itu terasa lebih menyakitkan bagi Duke.
Duke Cedric memejamkan mata sesaat. “Aku akan menemukan pelakunya.”
“Bagaimana kalau pelakunya ada dan sangat dekat dengan Ayah?” tanyanya, tapi sorot matanya penuh ketegasan dan tanda tanya.
Semua orang terdiam tidak ada yang berani bergerak, bahkan tatapan Leonard berubah waspada tanpa dia sadari.
Lilian menunduk semakin dalam. Dan tepat saat itu suara pintu terbuka terdengar pelan.
Marquess Elena Vareinne masuk dengan langkah anggun. Di belakangnya Lunaria Vareinne mengikuti dengan wajah khawatir.
“Aku mendengar tabib kerajaan sudah datang,” ucap Elena lembut.
Namun langkahnya berhenti begitu melihat suasana ruangan. Terutama saat matanya jatuh pada jarum perak yang menghitam.
Arcelia dapat melihat sedikit ketegangan nyata di wajah wanita itu.
“Racun benar-benar ditemukan?” tanya Lunaria pelan.
Orion mengangguk. “Teh Nona Arcelia mengandung racun pelemah tubuh.”
Lunaria langsung tampak syok. Bukan syok karena terkejut tapi syok karena ketahuan.
Sementara Elena perlahan menoleh pada Duke Cedric. “Aku tidak percaya ada orang seberani ini di mansion kita…” Nada suaranya terdengar sempurna.
Jika orang bodoh yang mendengar pasti akan langsung percaya karena suaranya lembut, perhatian dan penuh kecemasan.
Namun sekarang Arcelia bisa melihatnya dengan jelas. Wanita itu sedang berakting.
Dan bukan hanya Arcelia yang sadar, tapi Duke Cedric juga mulai menyadarinya.
Karena pria itu tidak langsung menjawab seperti biasanya. Tatapannya justru terlihat dingin.
“Elena,” ucapnya perlahan. “Siapa yang mengatur dapur utama mansion?”
Senyum wanita itu sedikit membeku, "apa maksudmu?." tanya Elena.
“Aku bertanya siapa yang mengatur dapur.” kata Duke, suaranya penuh penekanan dan ketegasan.
“Biasanya aku…” kata Elena namun belum selesai,
“Aneh sekali.” Arcelia memotong lembut.
Semua mata langsung tertuju padanya.
“Kalau begitu Ibu pasti tahu bagaimana racun bisa masuk ke tehku.”
Tatapan Elena berubah tajam sepersekian detik namun cepat kembali normal.
“Kau mencurigaiku?” tanya Elena.
“Aku hanya bertanya kepada ibu.” kata Arcelia sambil tersenyum manis.
“Kamu keterlaluan menuduh tanpa bukti!” bentak Marquise Elena.
“Aku hampir mati.” balas Arcelia cepat.
Kalimat itu langsung membuat ruangan terasa sunyi karena tidak ada yang berani berbicara.
Dan kali ini Duke Cedric tidak membela Elena.
Pria itu hanya berdiri diam dengan wajah semakin gelap.
Sementara di dalam hati Elena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun rasa takut mulai tumbuh perlahan.