NovelToon NovelToon
DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

SINOPSIS

Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.

Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENCARI KEADILAN YANG DIHIRAUKAN 1

...____________________________________________________...

Di kantin, Ema masih asyik mengobrol ketika seorang siswa bernama Oki berlari terengah-engah menghampirinya.

"Ema... kamu dipanggil ke ruangan kepala sekolah sekarang," ujar Oki sambil berusaha mengatur napasnya.

Ema yang sedang memegang ponselnya melirik malas. "Ada apa?" tanyanya dengan nada angkuh yang biasa.

"Aku juga tidak tahu, Cepatlah ke sana," ujar Oki.

"Oke, bawel," sahut Ema santai. Ia bangkit berdiri, merapikan rok seragamnya, lalu berjalan meninggalkan kantin diikuti oleh Shasa dan satu temannya lagi. Sepanjang jalan menuju kantor kepala sekolah, Ema menyadari ada yang aneh. Semua murid yang berpapasan dengannya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Shasa yang mulai merasa tidak enak langsung berbisik di dekat telinganya, "Bos, ada apa ini? Kok kayaknya serius banget? Jangan-jangan si cupu itu..."

"Diamlah, jangan penakut," potong Ema tajam, meski dalam hatinya mulai tumbuh sedikit rasa penasaran.

Begitu sampai di depan kantor kepala sekolah, kerumunan murid melihat Ema dengan mata yang terus tertuju padanya. Ema memutar knop pintu dengan santai, melangkah masuk ke dalam ruangan yang tegang itu seolah tanpa beban.

"Permisi, mengetuk pintu."

"Ema, masuk!" ujar kepala sekolah dengan suara berat begitu melihat keponakannya datang.

"Iya, ada apa, Pak?" ujar Ema teramat santai. Ia melirik sekilas ke arah mama Alesia dan Alesia yang berdiri di sudut ruangan. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun di wajahnya; yang ada hanyalah tatapan meremehkan.

Mama Alesia membalas tatapan itu dengan pandangan yang tajam.

"Ada apa, Pak? Kenapa saya dipanggil?" sahut Ema lagi dengan nada bicara yang menantang, meremehkan situasi.

"Bisa-bisanya kamu bilang 'ada apa'?! Apa yang sudah kamu lakukan pada Alesia?!" bentak kepala sekolah, mencoba menunjukkan ketegasan di depan orang tua korban, meski ada rasa cemas mendalam karena ini menyangkut keluarganya sendiri.

"Tidak ada. Saya tidak melakukan apa-apa," jawab Ema santai. Ia menaikkan ujung bibirnya membentuk senyum sinis, lalu melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh.

"Santai sekali kamu menjawab tidak ada!" tunjuk mama Alesia, suaranya naik satu oktav karena emosi yang meluap-luap. "Kamu pikir luka di tubuh anak saya ini buatan sendiri?!"

"Kenapa, Tante? Ada masalah?" jawab Ema sambil memutar bola matanya malas. "Ada apa Tante mau buat perhitungan dengan saya? Punya bukti apa?"

"Kamu...!!"

PRAKKKK!

Sebelum Ema sempat menyelesaikan bicaranya, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanannya. Ruangan seketika hening. Di luar pintu, murid-murid yang mengintip spontan menutup mulut mereka karena terkejut. Kepala sekolah pun terbelalak, tidak menyangka ibu Alesia akan nekat bermain fisik di dalam ruangannya.

Ema memegang pipinya yang seketika memerah. Matanya yang tadi malas kini menyalang penuh amarah dan dendam. "Kamu... dasar wanita tua! Berani-beraninya menamparku!" teriak Ema.

"Berani-beraninya menamparku? Aku bakal aduin ini ke Papa, biar anak tak bergunamu itu dikeluarkan dari sekolah hari ini juga!." teriak Ema murka sambil merogoh saku bajunya untuk mengambil ponsel.

"Wah, kamu mengandalkan jabatan ayahmu di sini? Wah, hebat ya!" teriak mama Alesia tidak mau kalah, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Hanya karena ayahmu menjabat dan punya uang di sini, kau malah bertindak seenaknya seperti anjing?!"

"Tunggu saja kamu, wanita tua!" ujar Ema dengan napas memburu. Jemarinya dengan cepat mendial nomor ayahnya untuk segera datang ke sekolah dan menghancurkan orang-orang di depannya.

Tut... tut... tut...

Begitu panggilan diangkat, Ema langsung berteriak tanpa memberi salam, "Papa! Cepat ke sekolahan sekarang! Ada orang yang bikin ribut denganku, dia bahkan berani menamparku, Pa!"

Namun, suara di seberang telepon tidak terdengar seperti yang Ema harapkan. Ayahnya menjawab dengan nada yang sangat dingin dan tidak peduli. "Papa sedang sibuk dan tidak bisa datang! Kamu ini kerjaannya cuma membuat onar di sekolah! Apa kamu tidak sadar, Papa banting tulang mencari uang buat kamu sekolah di tempat mahal, tapi kamu tidak belajar dengan benar? Papa sudah dengar dari pamanmu, peringkat belajarmu turun lagi ke peringkat tiga!" ujar papa Ema dengan nada kesal dan penuh tekanan.

"Tapi Pa, ini darurat—"

"Tidak usah menghubungi Papa untuk urusan tidak penting seperti ini! Urus saja sendiri keonaran yang kamu buat! Papa sedang ada meeting penting dengan investor!" bentak papa Ema dari seberang sana sebelum terdengar suara klik yang nyaring.

"Papa? Papa! Jangan tutup teleponnya... Pa!!" Ema berteriak pada ponselnya, namun layar sudah menggelap. Teleponnya mati. Wajah Ema seketika memucat, menanggung malu yang luar biasa di depan kepala sekolah dan mama Alesia yang menyaksikannya.

"Tunggu... kau, wanita tua. Jangan senang dulu," ancam Ema dengan suara bergetar. Ia mencoba menelepon mamanya. Namun, hasilnya sama saja. I

mamaya mengangkat dengan nada malas, mengatakan sedang berada di salon kecantikan bersama teman-temannya dan menutup telepon setelah memarahi Ema karena dianggap mengganggu waktu bersenang-senangnya.

Ema berdiri mematung. Harga dirinya runtuh berantakan di depan semua orang. Untuk menutupi rasa malunya, ia berbalik memandang pamannya, sang kepala sekolah. "Paman! Keluarkan si cupu Alesia ini dari sekolah sekarang juga! Aku tidak mau melihat mukanya lagi!" teriaknya egois.

"Ema, DIAM!!!" Kepala sekolah akhirnya kehilangan kesabaran. Ia menggebrak mejanya sendiri dengan sangat keras hingga memotong ucapan keponakannya itu. Ia menatap tajam Ema dengan pandangan gusar.

"Apa kau tidak menyesali kesalahanmu sedikit pun?! Bukannya meminta maaf atas perbuatan kriminalmu pada Alesia, kamu malah mencari pembelaan dari orang tuamu?!"

Mama Alesia yang melihat kepanikan Ema mendadak tertawa kecil, tawa yang penuh dengan penghinaan dan kepuasan.

 "Pantas saja sifatmu seperti anjing penjilat yang haus perhatian. Ternyata kamu kurang kasih sayang ya dari papa dan mamamu? Dan hanya untuk dilihat oleh orang lain, kamu melampiaskannya dengan merundung anak saya yang tidak salah apa-apa?"

Kalimat itu bagai belati yang menusuk langsung ke titik terlemah Ema. Sebelum Ema sempat membalas, mama Alesia melangkah maju satu kali lagi dan—PLAKKK!—tamparan kedua yang jauh lebih kuat mendarat di pipi Ema yang satunya lagi.

"Kamu wanita tuaaaa...!!" pekik Ema histeris, air mata kemarahan mulai menggenang di sudut matanya yang merah.

"Ema! Minta maaf kamu sekarang juga pada Alesia dan mamanya! Cepat!" bentak kepala sekolah, sadar bahwa situasi ini bisa menghancurkan reputasi sekolah jika terus berlanjut.

"Aku? Minta maaf pada mereka?!" Ema menunjuk Alesia dan Mamanya dengan jijik. "Aku tidak sudi!! Sampai mati pun aku tidak akan pernah sudi minta maaf pada mereka!" bentak Ema dengan suara melengking.

1
Miska
semangat terus author, ceritamu keren👍
Nora
ceritanya bagus bnget aku suka
Nora
Ceritanya bagus dan menyentuh hati tapi adegan pertama sungguh kejam , semngat terus author aku menunggu kelanjutannya.💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!