Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 Ternyata Tidak Sepaham
"Dimana Dokter Dikta?" tanya Zivanna dengan nafas naik turun.
"Dokter Dikta baru saja kembali," jawab Ilham
Zivanna tidak mengatakan apapun dan langsung keluar dari ruangan tersebut tanpa permisi dengan menutup pintu sangat keras membuat Dokter-Dokter yang ada di ruangan itu tampak bingung.
"Ada apa dengan Dokter Zivanna?" tanya Ilham kebingungan.
"Bagaimana mungkin dia bisa dikatakan sebagai seorang Dokter, baru saja membuat masalah di rumah sakit ini dan lihatlah tidak punya sopan santun masuk ke ruangan sembarangan pergi begitu saja seperti rumah sakit ini punya Nenek moyangnya saja," sahut Rania kesal dengan tingkah Zivanna.
"Mungkin saja Dokter Zivanna memiliki kepentingan untuk mencari Dokter Dikta," ucap Ilham.
"Mencari Dokter Dikta, seperti dipedulikan saja," ucap Rania dengan kesal.
Sementara Dokter yang lain tidak menanggapi apapun. Karena mereka memang bukan orang-orang yang harus mengurusi urusan orang lain.
Zivanna ternyata memilih untuk pulang ke rumah, terlihat begitu marah sampai-sampai membuatnya membuka pintu rumah dan tidak mengucapkan salam.
"Zivanna kamu sudah pulang?" tanya Sekar. Zivanna tidak sempat menjawab yang sudah menaiki anak tangga dengan buru-buru membuat Sekar kebingungan.
"Ada apa lagi dengannya?" tanya Sekar kebingungan geleng-geleng kepala merasa aneh dengan tingkah putrinya itu.
Dikta yang baru saja pulang ke rumah dengan duduk di sofa, matanya baru saja terpejam tetapi terbuka kembali ketika suara pintu kamar dibuka begitu keras Dikta menoleh ke belakangnya.
"Apa-apaan ini?" tanya Zivanna dengan suaranya menekan membuat Dikta justru bingung.
"Kamu yang kenapa? masuk kamar dengan marah-marah seperti ini?" tanya Dikta.
"Kenapa mengirimiku menjadi Dokter relawan?" tanyanya dengan menatap tajam Dikta.
Dikta sekarang paham apa yang membuat istrinya itu marah dan membuat Dikta berdiri dari tempat duduknya.
"Hanya karena nyawa anak itu melayang, petisi yang dilakukan orang-orang di rumah sakit kepadaku dan kamu membuatku menjadi dokter relawan, mengirim ke ujung perbatasan agar tidak terlihat di rumah sakit untuk menebus semua kesalahanku!" ucap Zivanna dengan mulutnya yang tidak berhenti mengoceh.
"Zivanna, apa yang terjadi kemarin di rumah sakit tidak berkaitan dengan terpilihnya kamu menjadi Dokter relawan, kenapa harus selalu mengaitkan hal yang tidak pernah berkaitan?" tanya Dikta.
"Kamu memang sengaja mengirimku untuk menjadi Dokter relawan, hanya karena agar aku tidak terlihat di rumah sakit!" tegas Zivanna.
"Terserah kamu berpikir apapun, menjadi Dokter relawan bukanlah sebuah aib dan untuk berada diantara Dokter relawan yang lain bukanlah mudah, seharusnya kamu bersyukur dan tidak marah-marah seperti ini!" tegas Dikta.
"Bagaimana aku tidak marah, tidak protes, kamu bahkan tahu sendiri aku sedang mengambil spesialis, baru saja beberapa hari aku terus belajar di rumah sakit dan kamu sudah menggangguku dengan mengirimiku ke tempat itu, kamu memang tidak pernah menginginkanku untuk menjadi Dokter!" tegas Zivanna.
"Justru karena kamu mengambil spesialis dan kamu bisa belajar dalam dunia kedokteran dengan nyata," sahut Dikta yang sejak tadi sangat tenang menjawab semua protes istrinya itu kepadanya.
"Bohong! jelas-jelas belajar di rumah sakit adalah tempat yang tepat dan kamu sengaja mengirimku agar aku tidak bisa meraih semua impianku, kamu menganggapku sepele, selalu melakukan semua dengan kemauan kamu, anak yang tiada di rumah sakit kamu langsung menjatuhkan kepadaku bahwa semua itu adalah kesalahanku, kamu bahkan sudah senior dan merusak mentalku dengan membuatku merasa bersalah dengan apa yang terjadi dan sekarang kamu semakin membenarkan kesalahanku sehingga aku tidak pantas di rumah sakit dan lebih pantas diujung perbatasan tanpa pengetahuan apapun!" Zivanna sampai meneteskan air mata mengeluhkan semua apa yang telah dia rasakan kepada suaminya.
"Zivanna kapan aku menyalahkanmu tentang kematian anak itu? Kenapa kamu terus saja mengaitkan hal-hal yang tidak berkaitan yang membuat kita setiap hari harus ribut," sahut Dikta benar-benar merasa lelah dengan istrinya.
"Bagaimana tidak pernah ada perdebatan diantara kita karena kamu sejak awal memang selalu ingin menghancurkanku!" sahut Zivanna.
Dikta memejamkan mata dengan menarik nafas dan membuang perlahan ke depan.
"Zivanna sudah cukup kamu menuduhku ini dan itu, kamu menjadi dokter relawan dan tidak berkaitan dengan apapun!" tegas Dikta beberapa kali menekankan kepada istrinya.
"Kalau memang aku dikirim menjadi Dokter relawan tidak berkaitan dengan kematian anak kecil dan petisi yang aku dapatkan di rumah sakit, lalu kalau kamu ingin menikah dengan Nayla?" tanyanya.
Dikta mengerutkan dahi, ternyata ada lagi yang menjadi pembahasan istrinya.
"Apa maksud kamu?" tanya Dikta.
"Benar-benar sangat egois, setelah kamu menikahiku dan mencampuri semua urusanku, karirku, kamu mengambil semua masa muda dan impianku, kamu menikmati hasil menikah denganku, lalu kamu mengirimku untuk menjadi Dokter relawan agar kamu bisa menikah diam-diam dengan Nayla tanpa menceraikan ku!" tegas Zivanna.
"Zivanna sudahlah, ini tidak berkaitan dengan Nayla dan aku tidak pernah memiliki rencana apapun dengan Nayla!" tegas Dikta
"Tidak ada satu patah kata yang bisa dipercayai dari kamu, tetapi jika memang kamu ingin menikah dengannya, maka menikahlah. Aku tidak peduli, kamu akan menyesal karena sudah menghancurkan hidupku!" tegas Nayla kemudian langsung pergi begitu saja dengan kemarahannya keluar kembali dari kamar.
"Zivanna....."
"Zivanna...."
"Zivanna..."
Dikta terus memanggil istrinya yang telah diabaikan. Dikta kembali menghela nafas, terkadang memang pertengkaran di antara mereka tidak pernah selesai, terus salah paham.
Ternyata Zivanna tidak ingin dikirim untuk mencari dokter relawan karena sudah mengambil spesialis dan ingin belajar langsung di rumah sakit.
******
"Zivanna, kenapa harus mempermasalahkan jika pergi untuk menjadi Dokter relawan, bukankah pekerjaan seorang dokter itu adalah pekerjaan yang mulia," Sekar mencoba untuk menasehati Zivanna yang saat ini berada di ruang tamu.
Zivanna masih sangat menjatuhkan harapannya kepada ibunya untuk Dikta agar membatalkan pengirimannya.
"Ma, Zivanna saat ini sedang mengambil spesial dan rumah sakit adalah tempat yang cocok, bukan berada di ujung perbatasan yang tidak memiliki fasilitas apapun dan bagaimana Zivanna bisa belajar di sana," jawabnya.
"Justru itu Zivanna, kamu langsung melakukan praktik kepada hal yang nyata, percaya pada Mama jika apa yang dilakukan Dikta selama ini kepada kamu itu sudah dipikirkan dan demi kebaikan kamu, jangan terus bertengkar dengan Dikta hanya karena hal sepele, bagaimanapun kalian adalah suami istri dan apa kamu tidak takut jika kamu akan menjadi istri durhaka yang terus saja memulai keributan karena masalah-masalah yang tidak perlu dibesarkan," ucap Sekar.
"Selalu saja menyalahkanku dan berpihak kepadanya, kalian tidak tahu saja dia sengaja mengirimku untuk menjadi Dokter relawan agar bisa menikah denganmu Nayla acara diam-diam," batin Zivanna.
Bersambung....