Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.
Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.
Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Dunia yang Menunggu di Bawah Gunung
Kabut pagi masih menggantung tipis di lereng gunung ketika Yuda membuka matanya.
Malam sebelumnya terasa pendek, dan Ia bahkan tidak benar-benar tidur dengan lama.
Tubuhnya memang beristirahat, tetapi pikirannya terus bergerak, mengulang kembali peristiwa yang baru saja terjadi.
Sebuah tekanan yang turun dari langit, para pengawas yang datang tanpa peringatan dan tenaga di dalam dirinya yang hampir lepas kendali.
Semua itu masih terasa terlalu nyata.
Yuda akhirnya duduk perlahan dengan udara pagi dingin yang menusuk kulitnya, tetapi sensasi itu malah justru membuat pikirannya menjadi lebih jernih.
Ia kemudian memandang sekeliling bangunan batu hitam yang selama ini menjadi tempat latihannya.
Ada beberapa retakan yang masih terlihat di beberapa bagian lantai, sedangkan pilar yang semalam terkena benturan juga sedikit bergeser dari posisi semula.
Sembari menatap itu, sekarang Ia sadar bahwa bahkan tempat sekuat ini pun bisa berubah hanya dalam satu malam.
Di samping itu, ternyata Tara sudah bangun lebih dulu.
Kucing putih kecil itu duduk di atas batu datar di dekat pintu, dengan menjilati cakarnya dengan santai.
“Hmm, bocah bebal, kalau kau terus menatap lantai seperti itu, apakah retakan itu akan menutup sendiri,” katanya tanpa menoleh dengan datar.
Mendengar perkataan Tara yang tiba-tiba muncul dari belakang, akhirnya Yuda berdiri.
“Aku hanya melihat saja, apa salahnya, dasar kucing jelek." jawabnya tidak mau kalah
“Hei-heii, melihat terlalu lama itu bisa berubah jadi menyesal,” balas Tara juga tak mau kalah.
Yuda hanya mengabaikannya saja dan berjalan mendekat ke pintu bangunan.
Dari sini ia bisa melihat lereng gunung yang turun jauh ke bawah.
Kabut pagi bergerak pelan di antara pepohonan.
Di kejauhan, desa kecil terlihat seperti kumpulan titik gelap di tengah lembah.
Selama bertahun-tahun ia hanya melihat tempat itu dari jauh, dan hari ini, ia akan benar-benar pergi ke sana.
Tak berselang lama, Tara pun akhirnya melompat ke bahunya.
“Apa kau masih ragu, bocah?” tanya Tara pelan.
“Ini bukanlah keraguan.” jawab Yuda menggeleng.
“Lalu apa?” tanya Tara kembali
“Hanya saja, ini masih terasa aneh.” jawab Yuda.
“Wajar.” jawab Tara singkat
Mendengar jawaban yang singkat, Yuda langsung melirik kucing kecil itu.
“Wajar, apa maksudmu kucing jelek?” tanya Yuda kemudian dengan wajah yang kebingungan.
“Ya wajar saja, karena selama ini duniamu hanya gunung ini, bodoh dan sekarang kau akan turun ke tempat yang jauh lebih besar.” jelas Tara.
Yuda pun tidak membantahnya dan hanya menatap ke bawah lagi.
Angin pagi berhembus membawa bau tanah dan dedaunan basah.
Untuk pertama kalinya, dunia luar terasa lebih dekat.
Di saat itu juga, sebuah langkah kaki terdengar dari belakangnya.
Guruh keluar dari lorong batu dengan langkah tenang seperti biasa dan Ia juga membawa tas kecil yang tampak ringan.
Yuda pun menatapnya setelah mendengar langkah kaki yang tidak asing.
“Guru, apa cuma itu yang kau bawa?” tanya Yuda dengan mengernyitkan alisnya.
“Perjalanan panjang jarang membutuhkan barang banyak,” jawab Guruh singkat.
"Dan kalau terlalu berat, aku juga tidak mau ikut,” tambah Tara cepat.
Melihat Guruh dan Tara yang seperti satu pikiran, Yuda pun hanya mendengus kesal.
Guruh seketika berhenti beberapa langkah dari pintu bangunan dan memandang lembah di bawah gunung.
“Setelah kita turun, tempat ini tidak lagi menjadi pusat hidupmu.” ucapnya tanpa menatap Yuda.
“Apa artinya, Guru?” tanya Yuda penasaran.
Bagaimana pun juga, pemikiran Yuda masihlah sangat sempit, karena umurnya pun juga bisa dibilang belum terlalu dewasa, hidupnya setelah beranjak dari 7 tahun juga hanya untuk berlatih, jadi membuat ilmu pengetahuannya tentang dunia luar masihlah sangat sedikit.
“Artinya dunia akan mulai melihatmu.” jawab Guruh singkat.
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi maknanya berat.
Yuda teringat para pengawas yang muncul semalam.
Jika mereka sudah datang bahkan sebelum ia meninggalkan gunung ini…
Apa yang akan terjadi ketika ia benar-benar berjalan di dunia luar?
“Apakah mereka akan datang lagi?” lanjut tanya Yuda.
Guruh tidak langsung menjawabnya..
“Pengawas seperti mereka tidak selalu bergerak cepat, mereka lebih suka mengamati dulu.” jawab Guruh.
Tara yang ada di bahunya mendengus lalu berkata.
“Dengan kata lain, sekarang kau ada dalam daftar buruan mereka, bodoh”
“Daftar apa?” tanya Yuda dengan cepat dan bingung.
“Haihh, dasar bocah bodoh, daftar orang yang menarik perhatian,” keluh Tara karena harus selalu menjelaskan setiap perkataannya.
Yuda akhirnya menghela napas pelan
“Bagus sekali.” gumam Yuda lirih yang membuat Tara seketika menepuk kepalanya dengan ekor.
“Tenang saja, banyak orang hidup dengan perhatian dunia, hanya saja sebagian dari mereka mati lebih cepat karena bodoh sepertimu," ucap Tara kemudian.
Mendengar itu, Yuda pun menatapnya.
“Kau sangat membantu, kucing jelek.” ungkap Yuda dengan kesal.
“Selalu, Hahaha meow—" jawab Tara sehingga membuat Yuda tambah kesal.
Melihat pertengkaran keduanya, akhirnya Guruh mulai berjalan keluar bangunan.
“Sudah waktunya, ayo kita bergegas," ucapnya pelan.
Mendengar itu, Yuda pun akhirnya mengikutinya dari belakang.
Ia berhenti sejenak di ambang pintu dan menoleh ke belakang.
Bangunan batu hitam itu berdiri diam seperti biasa.
Ia mengingat setiap kejadian di tempat itu sejenak, sebuah tempat yang membuatnya belajar bertarung, tempat ia jatuh berkali-kali, tempat ia hampir kehilangan hidupnya lebih dari sekali.
Namun sekarang tempat itu terasa seperti halaman lama dalam hidupnya.
Ia akhirnya menghela napas pelan lalu melangkah keluar.
Perjalanan turun gunung pun dimulai perlahan.
Melewati jalan setapak sempit berliku di antara bebatuan dan pepohonan dengan embun pagi yang masih menempel di rumput, membuat langkahnya terasa sedikit licin.
Terlihat, Yuda berjalan di belakang Guruh sedangkan Tara duduk di bahunya dengan santai, ekornya bergoyang mengikuti langkah.
Untuk beberapa saat mereka tidak berbicara.
Hanya suara burung pagi yang memenuhi hutan dan angin bergerak pelan di antara daun.
Semua terasa sangat berbeda dari kesunyian latihan di puncak gunung.
Beberapa saat kemudian Tara berkata,
“Apa kau sadar sesuatu?” tanya Tara memecah keheningan.
“Apa?” tanya Yuda cepat.
“Ini pertama kalinya kau benar-benar meninggalkan tempat itu sejak kau pertama kali datang kesana.” jawab Tara.
“Ya, aku sadar itu," jawab Yuda mengangguk.
“Perasaanmu bagaimana?” tanya Tara kemudian.
Yuda berpikir sebentar untuk menjawabnya.
“Aku tidak tahu.” jawab Yuda dengan wajah yang terlihat campur aduk.
“Dasar bocah, jawaban yang sangat membantu.” gerutu Tara sembari mengibaskan ekornya ke kepala Yuda.
“Aku serius, dasar kucing jelek.” jawab Yuda kemudian dengan tangan yang mengusap belakang kepalanya.
Ia kemudian menatap jalan di depan.
“Mungkin campuran antara penasaran dan sedikit takut.” lanjut jawabnya.
Tara hanya tersenyum kecil setelah mendengar jawaban itu,
“Hmm, Itu adalah kombinasi yang bagus," ucap Tara dengan lemas.
Perjalanan pun masih berlanjut hingga beberapa jam kemudian kabut mulai menipis dan menunjukkan bahwa lembah di bawah gunung mulai terlihat semakin jelas.
Semakin dekat, semakin terlihat bahwa atap rumah desa tampak lebih besar.
Asap tipis naik dari cerobong, suara manusia mulai terdengar samar sehingga membuat Yuda memperlambat langkahnya sedikit.
“Sudah dekat,” katanya.
Guruh mengangguk.
“Ini desa pertama.” jawab Guruh pelan.
Yuda menatap ke arah itu dengan perhatian penuh.
“Apakah mereka tahu tentang dunia seperti kita?” tanyanya kemudian.
“Ya, sebagian orang tahu.” jawab Guruh
“dab sebagian lagi?” tanya Yuda kembali.
“Bagi banyak orang, dunia hanya tentang ladang, keluarga, dan musim panen, tetapi di balik itu ada dunia lain yang berjalan diam-diam, seperti kita" jawab Guruh menjelaskan tanpa menengok kebelakang.
Mendengar itu, Tara juga menambahkan,
“Dunia pendekar, pemburu kekuatan, klan tua, dan makhluk yang tidak tercatat.” ucap Tara.
Yuda hanya mengangkat alisnya lalu menjawab,
“Kedengarannya merepotkan sekali,” jawabnya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ya, memang serumit itu, bodoh.” jawab Tara kesal.
Akhirnya langkah mereka pun semakin dekat ke desa.
Sudah mulai terlihat beberapa anak berlari di jalan tanah dan seekor anjing menggonggong dari kejauhan.
Bagi Yuda, semua itu terasa baru, dan dalam pikirannya kilasan-kilasan masalalu saat berada di desa Batu juga muncul.
Itu membuatnya menarik napas dengan panjang.
Terasa aroma kayu bakar dan tanah basah memenuhi udara.
Ini bukan lagi dunia latihan, tapi ini dunia manusia.
Guruh berhenti di tepi jalan masuk desa dan menoleh ke arah Yuda.
“Mulai dari sini, kau harus belajar sesuatu yang tidak diajarkan di gunung.” ucap Guruh kemudian.
“Sesuatu apa, Guru” tanya Yuda penasaran.
“Berjalan di antara orang biasa tanpa membuat dunia hancur.” jawab Guruh sembari menatap warga desa.
Tara hanya tertawa kecil setelah mendengar perkataan Guruh.
“Hmm, ini mungkin akan menjadi latihan yang paling sulit.” jawab Yuda tersenyum tipis.
Ia kemudian menatap desa di depannya.
Dan langkah berikutnya akan membawanya kembali masuk ke dunia yang sebelumnya ia tinggalkan.
Sedangkan di suatu tempat, entah di tempat mana, jauh di langit yang tidak bisa ia lihat, ada makhluk asing yang mungkin sedang menutup catatan lama dan akan membuka halaman baru.
Karena seorang pemuda dari gunung akhirnya kembali turun ke dunia.
......................