Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.
Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.
Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.
Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.
Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.
Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rendra birthday
Hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun Rendra. Sejak pagi, Lala sengaja bersikap biasa saja. tidak ada ucapan, tidak ada godaan kecil, tidak ada basa-basi tentang bertambahnya usianya rendra.
Bukan karena lupa, justru sebaliknya. Ia menyimpan semuanya rapi di kepalanya. Lala punya rencana sendiri.
Hari ini ia mendapat tugas dinas keluar, tapi ada kemungkinan pulang lebih cepat dari biasanya. Sepanjang bekerja, fokusnya beberapa kali buyar. Pikirannya melompat-lompat pada satu hal, apa yang bisa ia lakukan untuk Rendra hari ini. Sesuatu yang tidak terlalu mewah. Tidak berlebihan. Tapi berkesan.
Begitu urusan kantor selesai, Lala tidak langsung pulang. Ia mampir ke sebuah pusat perbelanjaan, masuk ke toko pakaian dengan langkah ragu. Ia berdiri cukup lama di antara jejeran baju laki-laki, memperhatikan satu per satu. Jaket, kemeja, sweater semuanya terlihat sangat mungkin untuk ia pilih. Ia membayangkan Rendra memakainya, mencoba mencocokkan warna dengan kebiasaan berpakaian suaminya yang sederhana.
Setelah beberapa kali maju-mundur dan menimbang terlalu lama, pilihannya jatuh pada sebuah jaket. Tidak terlalu mencolok, bahannya tidak terlalu tipis. Sesuatu yang terasa sangat“Rendra”.
Dari sana, Lala bergeser ke supermarket. Ia mendorong troli dengan langkah ringan, mengambil satu per satu bahan yang ia butuhkan. Telur, mascarpone, kopi, cokelat bubuk semuanya ia cek ulang, takut ada yang tertinggal. Untuk bahan masakan, ia memilih bahan-bahan yang sudah sangat ia kenal, makanan kesukaan Rendra yang tidak pernah ia tolak meski lala sering memasaknya itu.
Di antara lorong-lorong rak, senyum Lala tidak lepas begitu saja. Ada rasa antusias, nyaris kekanak-kanakan. Sesekali ia bergumam pelan dalam hati, berharap rencananya berjalan lancar dan semoga Rendra suka.
...----------------...
Waktu menunjukkan pukul dua siang saat Lala tiba di rumah. Ia menaruh belanjaan di meja dapur, mengganti pakaian, lalu langsung ke dapur untuk mengeksekusi bahan masakan yang telah ia beli. Ia memilih membuat tiramisu cake terlebih dahulu karena itu yang menurutnya paling masuk akal untuk dibuat pertama. Tidak rumit, tidak membutuhkan oven, tapi cukup spesial.
Tangannya bergerak hati-hati, mengikuti urutan yang sudah ia hafal. Sesekali ia berhenti, mengecek rasa, memastikan semuanya pas. Setelah kue tersimpan rapi di kulkas, Lala beralih memasak menu-menu yang telah ia rencanakan. Dapur perlahan dipenuhi aroma yang familiar, aroma yang selalu membuat rumah terasa hidup. Ia memasak tanpa terburu-buru, seolah sedang menyiapkan sesuatu yang bukan hanya untuk dimakan, tapi juga untuk dikenang.
Saat Lala masih berkutat di dapur mengaduk, mencicipi, lalu mengatur ulang rasa masakan di panci ponselnya bergetar di meja. Nama Rendra muncul di layar.
Rendra:
La, gue kayaknya pulang agak telat ya. Masih ada urusan dikit.
Lala membaca pesan itu sekali, lalu membalas singkat bahwa tidak apa-apa. Ia memang tidak keberatan. Justru ada sedikit lega karena artinya ia punya lebih banyak waktu untuk memastikan semuanya siap. Ia membayangkan Rendra pulang sekitar pukul tujuh malam, waktu yang pas. Tidak terlalu malam, tidak terlalu cepat.
Menjelang magrib, Lala sudah selesai dengan segala urusannya ia beranjak untuk mandi dan berganti pakaian. setalh itu ia mulai menata meja makan dengan rapi. Piring, sendok, gelas semuanya ia susun dengan teliti.
Kue masih aman di kulkas, lilin kecil sudah ia siapkan. Sesekali matanya melirik jam, lalu kembali ke dapur, memastikan masakan tetap hangat.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat. Lala duduk di kursi makan, ponsel berada di dekat tangannya. Ia menunggu.
Pukul tujuh tiga puluh. Ia berdiri, merapikan posisi piring yang sebenarnya sudah rapi. lali kembali duduk. Jam di dinding perlahan bergerak ke angka setengah sembilan. Lala mulai gelisah. Pandangannya bergantian antara layar ponsel dan pintu depan. Tidak ada notifikasi baru. Tidak ada pesan lanjutan. Hanya pesan terakhir tentang pulang terlambat itu.
“Kok lama ya...” gumamnya pelan.
Ia membuka aplikasi chat, mengecek ulang takut mungkin ada pesan yang terlewat. Tidak ada. Jemarinya lalu menggulir layar tanpa tujuan jelas. Hingga tanpa sengaja, ia membuka story salah satu teman satu divisi Rendra.
Sebuah restoran. Meja panjang. Beberapa orang tertawa. Di tengah meja ada kue ulang tahun. Dan di sana, Rendra tersenyum, dengan caption sederhana HBD bro.
Lala menatap layar itu agak lama.
Pikiran tiba-tiba kosong, tidak ada rasa marah, juga tidak cemburu. Yang ada hanya perasaan aneh seperti datang sedikit terlambat ke sebuah momen. Ia sadar Rendra berhak merayakan ulang tahunnya dengan siapa pun. Ia tidak merasa dikesampingkan. Hanya saja, ada pertanyaan kecil yang berputar di kepalanya. apakah kejutan yang ia siapkan masih punya tempat malam ini? Ia membayangkan Rendra sudah makan. Sudah kenyang. Sudah meniup lilin.
Masakan dan kue yang ia buat sejak siang tiba-tiba terasa seperti rencana yang terlalu percaya diri. Tanpa banyak berpikir, Lala bangkit dari kursinya. Ia mengambil wadah-wadah kecil dari rak, satu per satu. Masakan yang tadi tertata rapi di meja ia pindahkan ke dalam wadah, ditutup rapat, lalu dimasukkan ke kulkas. Gerakannya tenang, otomatis seperti itu. Piring-piring ia kembalikan ke rak, gelas ia susun ulang.
Meja makan yang tadi penuh kini kosong.
Lala mematikan lampu ruang makan, menyisakan cahaya temaram dari dapur. Rumah terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Ia tidak marah hanya bertanya dalam hati apakah ia masih sempat, atau memang seharusnya semua ini disimpan saja.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, suara motor terdengar dari luar. Suara yang sudah sangat ia kenal. Rendra pulang.
Lala berdiri beranjak menuju ruang tengah, menyambut rendra dengan senyum tipis yang cepat disusun. Ketika Rendra masuk, ia menghirup udara dan spontan berkata,
“Heuum... wangi banget masakan. Lo masak?”ucap Rendra saat tiba didepan Lala.
“Iya, tadi,” jawab Lala singkat, matanya tidak terangkat ke arah Rendra.
Rendra berhenti sejenak. Ada sesuatu yang berbeda dari nada Lala. Tidak dingin, tapi juga tidak seperti biasanya. Ia menatap Lala sebentar, heran, mencoba menangkap apa yang terlewat olehnya malam itu.
Rendra berdiri di ambang ruang tengah, melepas jaket sambil menghela napas pelan. Wajahnya lelah, tapi tidak berat lebih seperti capek yang sudah diterima tubuh. Ia melirik ke arah meja makan yang lampunya mati, lalu ke dapur yang hanya diterangi cahaya temaram.
“Maaf ya kemaleman gue pulangnya,” ucapnya akhirnya. Nadanya hati-hati, seperti orang yang menebak perasaan orang lain tanpa yakin. Ia mengira mungkin Lala kesal. Wajar, pikirnya. Siapa pun pasti menunggu.
“gapapa,” jawab Lala cepat, disertai senyum tipis. Senyum yang tidak bohong, tapi juga tidak sepenuhnya jujur. Ia tidak ingin Rendra merasa bersalah untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan.
Ada jeda singkat setelah itu. Sunyi yang sedikit canggung. Lala tiba-tiba teringat sesuatu. Masakan dan kue mungkin bisa menunggu. Tapi satu hal tidak boleh tertunda. Ia berbalik, melangkah ke kamar, mengambil tote bag yang sejak siang ia siapkan dengan hati-hati. Tangannya sempat berhenti di gagang pintu, menarik napas sebentar bukan karena ragu, hanya karena ingin menenangkan diri.
Ia kembali ke ruang tengah, berdiri di depan Rendra, lalu menyodorkan tote bag itu.
“Ini...” Lala berhenti sepersekian detik, memilih nada yang tepat. “Maaf ya telat. Selamat ulang tahun.”Ucapannya pelan, nyaris seperti bisikan, tapi jelas.
Rendra tampak terkejut. Matanya turun ke tote bag di tangan Lala, lalu naik lagi menatap wajahnya. Ada sesuatu yang berubah di ekspresinya lelahnya bergeser, digantikan oleh keterkejutan kecil yang hangat.
“Lo inget?” tanyanya refleks, sebelum menyadari betapa bodohnya pertanyaan itu.
Lala mengangkat bahu ringan. “Ya masa nggak.”
Rendra menerima tote bag itu, membuka isinya perlahan. Jaket terlipat rapi di dalamnya. Warnanya tidak mencolok, modelnya sederhana. Ia menyentuh bahannya sebentar, lalu tertawa kecil tanpa suara.
“Ini... gue suka,” katanya jujur. “Kepikiran banget beli ini.”
Lala tersenyum sedikit lebih lepas. “Syukurlah.”
Rendra mendongak lagi. “Lo masak tadi... buat gue?”Pertanyaan itu keluar begitu saja, nada suaranya berubah pelan. Ada rasa bersalah yang baru sampai.
Lala mengangguk kecil. “Iya. Tapi lo kan udah makan.”
Rendra mengerutkan kening. “Makan sih. Tapi bukan masakan lo.”
Ia menoleh ke arah dapur, lalu kembali ke Lala. “Masih ada kan?”
Lala ragu. Ia tahu Rendra pasti sudah kenyang. Ia tidak ingin terlihat memaksa atau berharap terlalu banyak. “Tapi lo kan udah—”
“Gue pengen,” potong Rendra cepat, hampir keras kepala. “Serius. Gue mau makan masakan lo.”
Nada itu membuat Lala diam. Ada sesuatu di cara Rendra mengatakannya, seperti keinginan yang tulus. Akhirnya, Lala menghela napas kecil.
“Yaudah. Tunggu.”
Ia melangkah ke dapur, membuka kulkas, mengeluarkan wadah-wadah yang tadi ia simpan. Rendra memperhatikannya dari jauh, perasaan bersalah itu makin jelas di dadanya. Ia duduk di kursi makan, menunggu, tanpa banyak bicara.
Saat piring kembali tersaji di meja, meski tidak selengkap rencana awal, Rendra tersenyum seperti anak kecil yang akhirnya dapat hadiah yang ia tunggu.
Dan Lala, melihat itu, tiba-tiba merasa mungkin tidak ada yang benar-benar sia-sia malam ini. Saat semua kembali terhidang di meja, Lala masih berdiri, memastikan sendok garpu tersusun rapi. Rendra memperhatikannya sejenak, lalu angkat bicara.
“Duduk, La. Lo makan juga. Belum makan kan?”
Lala tidak langsung menjawab. Ia hanya menarik kursi, duduk di seberang Rendra, lalu tanpa banyak kata mengambil nasi untuk Rendra dan untuknya sendiri, kebiasaan kecil yang bahkan tidak ia sadari. Gerakannya santai, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Rendra sempat terdiam melihatnya, lalu tersenyum kecil. Mereka makan dalam suasana tenang. Tidak ada obrolan berat. Hanya bunyi sendok bertemu piring dan sesekali tawa kecil. Rendra mencicipi satu per satu masakan yang Lala buat, lalu mengangguk-angguk berlebihan.
“Ini enak banget,” katanya sambil menunjuk piring.
“Yang ini juga.”
“Serius, La. Ini masakan terenak yang gue makan hari ini.”
Lala mendengus pelan. “Lebay. Tadi lo makan di restoran mahal.”
“Justru itu,” balas Rendra cepat. “Kalah.”
Lala menggeleng sambil tersenyum, tapi ada rasa hangat yang pelan-pelan naik di dadanya. Bukan karena pujian itu, tapi karena cara Rendra mengatakannya jujur, tanpa dibuat-buat.
Setelah selesai makan, Lala refleks berdiri untuk membereskan piring. Rendra ikut bangkit, mengambil sebagian piring dari meja.
“Eh, gue bantu,” katanya ringan.
Mereka berdiri berdampingan di dapur, mencuci piring tanpa banyak bicara. Sesekali tangan mereka bersenggolan, tidak disengaja, tapi tidak juga ditarik. Tidak ada yang menyinggung perasaan tadi. Tidak ada yang perlu dibahas.
Selesai membereskan dapur, Lala tiba-tiba berjalan ke arah kulkas. Rendra memperhatikannya dengan kening sedikit berkerut. Lala membuka pintu kulkas, mengeluarkan sebuah kotak kecil, lalu berbalik. Di atasnya ada tiramisu dengan lilin kecil yang sudah menyala.
“Satu lagi,” kata Lala sambil tersenyum kecil, agak malu. “Hehe... tiup ya.”ucaonya setelah menyalakan lilin kecil diatas kue.
Rendra terpaku beberapa detik. Dadanya terasa mengencang dengan cara yang aneh. Ia tidak menyangka. Tidak sedikit pun. Ia pikir malam ini hanya akan berakhir dengan makan malam sederhana dan rasa bersalah kecil. Tapi ternyata Lala sudah memikirkan semuanya. Dari pagi. Dari jauh sebelum ia pulang. Ia mendekat, meniup lilin itu perlahan. Api kecil padam.
Tanpa banyak kata, Rendra menggeser piring di depannya, lalu menarik Lala ke dalam pelukan. Erat. Lebih erat dari biasanya. Seolah ingin memastikan Lala benar-benar ada di sana.
“Makasih dan... Maaf,” ucapnya di sela pelukan. Suaranya rendah. “Maaf gue bikin lo nunggu. Dan... mungkin kecewa.”
Lala diam beberapa detik sebelum membalas. Tangannya naik pelan ke punggung Rendra. “Gue gak kecewa,” katanya lirih.
Rendra mengangguk kecil, dagunya menyentuh kepala Lala. “Gue salah. Harusnya gue pulang lebih cepet. Atau minimal bilang kalo mereka mau ngerayain.”
Ia melepas pelukan sedikit, cukup untuk menatap wajah Lala. “Tapi makasih. Buat kue ini. Buat makanan tadi. Buat Lo yang udah nunggu.”
Lala mengangkat bahu kecil, mencoba santai.”sama-sama”
Pelukan itu tidak lama, tapi cukup untuk menyampaikan banyak hal yang tidak mereka ucapkan. Tentang usaha. Tentang perhatian. Tentang perasaan yang mulai tumbuh tanpa mereka sadari.
Dan malam itu, di dapur yang sederhana, ulang tahun Rendra terasa jauh lebih berarti dari sekadar kue atau ucapan.
semangat kak... salam dari Edelweiss...