Mandala, pemuda tampan berusia 24 tahun dari kampung di seberang kota, bekerja sebagai sopir pribadi di sebuah perumahan elit. Tanpa diketahui siapa pun, pekerjaannya bukan sekadar mencari nafkah melainkan jalan untuk menemukan jati dirinya.
Mandala menyimpan kebencian mendalam pada ayah kandung yang tak pernah ia kenal, pria yang ia yakini telah menghancurkan hidup ibunya hingga mengalami gangguan jiwa. Ketika ia ditugaskan mengantar Keyla, putri cantik seorang konglomerat, Mandala yakin takdir sedang memihak dendamnya. Keyla adalah anak dari pria yang ia sebut Ayah.
Cinta pun ia jadikan senjata. Mandala berniat membalas luka masa lalu dengan membuat Keyla jatuh cinta padanya. Namun seiring waktu, perasaan yang tumbuh tak lagi bisa dikendalikan, dan rencana balas dendam perlahan runtuh.
Saat Mandala hampir menuntut pertanggungjawaban, Kenyataan mengejutkan terungkap.
Bagaimana kebenaran tentang Mandala dan bagaimana kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hari dengan banyak cerita
Mandala masih duduk di tepi ranjang ketika pandangannya tertarik pada satu jendela di sudut kamar. Tirainya tertutup rapat, warnanya pudar. Ada rasa penasaran kecil yang tak ia mengerti datang dari sana.
Ia berdiri, melangkah mendekat, lalu menarik tirai itu perlahan.
Cahaya senja menyusup masuk.
Mandala terdiam.
Jendela kamar itu ternyata menghadap langsung ke salah satu balkon rumah Pratama. Jaraknya tidak terlalu dekat, tapi cukup jelas untuk melihat bentuknya balkon dengan pagar besi hitam, lampu dinding kecil yang sudah menyala, dan pintu kaca tinggi di baliknya.
Ia mengerutkan kening.
Balkon itu terlihat seperti bagian kamar pribadi. Tirainya setengah terbuka, menampakkan siluet ruangan yang rapi. Bukan kamar ART. Bukan ruang tamu. Terlalu personal.
Mandala refleks mundur setengah langkah.
“Seriusan…” gumamnya lirih.
Ia sama sekali tidak menyangka posisi kamarnya akan sedekat ini dengan rumah utama. Selama ini ia mengira rumah Pak Hermawan berdiri sedikit terpisah, punya jarak aman yang jelas. Nyatanya, hanya satu halaman kecil dan sudut pandang yang saling berhadapan.
Mandala hendak menutup kembali tirai ketika sesuatu membuatnya berhenti.
Pintu balkon itu terbuka.
Seseorang melangkah keluar.
Mandala membeku.
Sosok itu berdiri membelakanginya, mengenakan kaus rumah berwarna terang, rambut panjang tergerai. Tangannya menopang pagar balkon, seolah sedang menghirup udara sore.
Keyla.
Mandala spontan menarik napas lebih dalam, lalu refleks menurunkan tirai sedikit. Bukan karena takut ketahuan, tapi karena ia tiba-tiba merasa sedang berada di tempat yang tak seharusnya.
Dadanya terasa aneh. Bukan gugup, bukan senang lebih seperti tersadar bahwa jarak mereka kini bukan lagi sekadar satu mobil atau satu kampus.
Hanya… satu halaman.
Satu sudut pandang.
Di balkon seberang, Keyla mengangkat wajah, menatap langit yang mulai gelap. Lampu balkon menyinari sisi wajahnya, membuat siluetnya terlihat lembut, jauh dari kesan dunia besar yang biasa melekat padanya.
Mandala menelan ludah.
Ia tidak tahu kamar itu milik siapa sebelumnya. Tapi kini ia tahu, balkon itu bukan milik sembarang orang.
Ia menarik tirai hingga hampir tertutup seluruhnya, menyisakan celah kecil yang sengaja tak ia sadari.
Mandala membalikkan badan, bersandar pada dinding kamar.
“Tenang,” bisiknya pada diri sendiri. “Ini cuma kebetulan lagi.”
Namun kali ini, kebetulan itu terasa terlalu dekat.
Terlalu personal.
Di balik dinding dan pagar tinggi rumah Pratama, ada dunia yang seharusnya tetap terpisah darinya. Tapi malam itu, dari sebuah kamar kecil di rumah sopir, Mandala sadar batas yang ia jaga sejak awal… tidak setegas yang ia kira.
Mandala menepuk dadanya pelan, seolah mencoba menenangkan detak yang tiba-tiba terasa terlalu jelas.
Ia menarik napas, lalu dengan ragu yang tipis membuka kembali tirai itu sedikit.
Keyla masih di sana.
Posisinya tak banyak berubah. Masih berdiri di balkon, kedua lengannya kini terlipat di depan dada. Angin senja menggerakkan ujung rambutnya, membuat beberapa helai jatuh menutupi sisi wajahnya. Ia tampak diam, terlalu diam untuk sekadar menikmati udara sore.
Mandala menahan diri untuk tidak langsung menutup tirai lagi.
Ada sesuatu dalam sikap Keyla yang membuatnya bertahan beberapa detik lebih lama.
Di seberang sana, Keyla menoleh.
Pandangan mereka bertemu.
Hanya sepersekian detik cukup singkat untuk menyangkal, tapi cukup lama untuk terasa nyata.
Mandala refleks memalingkan wajah, jantungnya berdetak satu ketukan lebih keras dari seharusnya. Ia nyaris menutup tirai sepenuhnya, namun berhenti di tengah gerakan.
Di balkon, Keyla tak langsung masuk. Ia tetap berdiri, lalu mengangkat tangan sedikit bukan melambai, lebih seperti isyarat ragu yang setengah jalan.
Mandala menoleh lagi.
Kali ini ia tak mundur.
Ia mengangguk kecil. Hampir tak terlihat. Isyarat yang sama-sama tanggung, sama-sama menjaga jarak.
Keyla menurunkan tangannya. Bibirnya membentuk senyum tipis, samar, seolah hanya untuk dirinya sendiri. Lalu ia memalingkan wajah, melangkah mundur, dan menutup pintu balkon perlahan.
Lampu di balkon masih menyala.
Mandala berdiri kaku beberapa detik setelahnya.
Ia akhirnya menutup tirai sepenuhnya, punggungnya bersandar ke dinding. Napasnya keluar pelan, panjang.
Tiba-tiba, suara dari luar kamar memecah keheningan.
“Mas Mandala…”
Mandala tersentak kecil. Ia menoleh ke arah pintu.
“Iya, Pak?” sahutnya, berusaha terdengar biasa.
Pintu diketuk pelan, lalu terbuka sedikit. Wajah Pak Hermawan muncul, senyumnya ramah seperti siang tadi.
“Makan malam dulu, Mas,” ujarnya santai. “Saya masak seadanya. Daripada kamu sendirian di kamar.”
Mandala ragu sepersekian detik. Setelah momen di balkon barusan, kepalanya masih terasa penuh. Ada sisa getaran aneh di dadanya yang belum sepenuhnya reda.
“Oh… iya, Pak,” jawabnya akhirnya. “Terima kasih.”
Ia mengambil jaket tipis, sekadar untuk memberi dirinya waktu bernapas, lalu melangkah keluar kamar.
Ruang makan rumah itu sederhana. Meja kayu kecil, dua kursi, piring putih yang sudah tersaji. Aroma sayur hangat dan nasi baru matang memenuhi ruangan.
“Duduk sini,” kata Pak Hermawan sambil menarikkan kursi.
Mandala duduk, sedikit canggung. Ia jarang makan bersama orang yang baru dikenalnya, apalagi di rumah orang lain.
“Maaf kalau masakannya nggak macam-macam,” lanjut Pak Hermawan sambil menuang air ke gelas. “Saya bisanya yang sederhana.”
“Justru ini sudah lebih dari cukup, Pak,” jawab Mandala tulus.
Mereka mulai makan. Suara sendok bertemu piring terdengar pelan. Beberapa detik pertama diisi keheningan yang tidak canggung, hanya tenang.
“Kamu kelihatan capek,” kata Pak Hermawan akhirnya. “Hari ini panjang, ya?”
Mandala mengangguk kecil. “Iya, Pak. Banyak kejadian.”
Pak Hermawan tersenyum tipis. “Nanti juga terbiasa. Awal-awal memang begitu. Tapi kamu kelihatan anak yang tahu diri. Itu penting.”
Mandala menunduk sebentar, lalu mengangguk. “Saya cuma mau kerja baik-baik, Pak.”
Pak Hermawan mengangguk setuju. “Itu sudah cukup.”
Mandala menyuap makanan lagi. Hangatnya menyebar perlahan, bukan cuma di perut, tapi juga di dadanya.
Di luar, malam mulai benar-benar turun. Lampu-lampu rumah Pratama menyala satu per satu, termasuk lampu balkon yang tadi sempat menyita perhatiannya.
Mandala yang kembali ke kamar usai makan' tak menoleh ke arah jendela. Ia duduk di tepi tempat tidurnya memikirkan niatnya.
penasaran... di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪
duhh Mandala mau magang di hotel milik Arifal? pst Mandala bisa lbh sukses dari Erga 🐱
duhhh Keyla curhat dg Mandala...
Mandala blm sadar klo dia mencintai Keyla 🐱🐱
duhhh Keyla mau nya Mandala kerja di hotel Arifal 🐱🐱
penasaran lanjut nya
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🤗🥰💪
duhhh Bayu jadi marah sama Keyla karena Keyla lebih pilih Mandala. tapi bnr kata Keyla bahwa Erga bukan org baik...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuuu🤗🥰💪🐱
lahhh Erga tiba-tiba minta maaf tapi Keyla gk percaya. jgn di percaya si Erga 😡😡😡 Erga sama kyak Alira... 😡😡
ciieee Keyla suruh Bi Minah antar Sop buat Mandala🐱🐱
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🤗🥰 penasaran dg cerita nya🤗🤗
duhhh Keyla blg ke Ayahnya gmn Erga tapi Ayahnya gk percaya🥲🥲
duhh anak pertama Arifal dan Citra hilang di bawa Babysitter 🥲🥲
penasaran dg lanjut nya di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu 🥰🤗💪
jgn² Erga anaknya Alira, Mandala anaknya Arifal.
greget bacanya Sayyy pengen tak palu 😄😄😄😡😡😡
jd sbnrnya mandala ini ank siapa ya 🤔 kok membagongkan. yg gila itu brrti bkn ibu mandala. asli puyeng
duhh Erga gangguin Keyla dan Mandala mulu dasar stress Erga 😡😡
duhhh jantung nya berdebar² gk tuh yaa kan dan Mandala pun gombal ma Keyla 😁😁
dahhh lah Author nya pun senyum² sambil nulis 😁😁😁
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy quuu🥰💪🐱🤗
kenapa tuhhh Erga paksa Keyla bersama nya dahh mulai stress Erga. jgn² Erga anak si Alira soalnya stress nya sama 😡😡
Duhh Mandala dekati Keyla buat balas dendam, kira² Mandala bakal dgr nasehat Bu Heni yaaa???
tapi apa iya Erga anaknya Arifal dan Citra? terus klo bukan Erga anak siapa??
duhhh Mandala bawa Keyla ke rumah nya... 😔😔
emng stres si Erga, dia yg selingkuh, tapi merasa tersakiti seolah-olah jadi korban.
ciieee Keyla merangkul tangan Mandala, panas tuhh Erga marah² gk jelas padahal dia yg selingkuh😡😡
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🤗🥰💪🐱
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🥰🤗💪