Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.
Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.
Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.
Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
“Kau gila?!” teriaknya. “Jangan lakukan itu, Samira. Kau bisa membunuh kita berdua!”
Samira berdiri perlahan. “Lalu? Lebih baik jika kita mati bersama, kan?” balas Samira masih memegang pemantik yang menyala itu di tangannya.
Arga mencoba mendekat, tapi ragu. Satu percikan saja bisa mengakhiri segalanya. Ia mulai membicarakan banyak hal, mencoba menenangkan, mencoba merayu, seolah semua kejahatannya bisa dihapus dengan kata-kata.
Samira hanya tertawa getir. “Sekarang kau baru mau membicarakannya secara baik-baik?”
Samira mundur ke arah pintu, sementara Arga terus memohon-mohon kepadanya.
“Kumohon, Samira. Jangan … jangan lakukan itu,” katanya dengan tatapan memohon. Ia mencoba maju selangkah.
Namun, Samira langsung mengancamnya. “Jangan mendekat! Atau aku akan langsung menjatuhkan pemantik ini dan kau akan langsung terbakar!”
Arga menuruti perkataannya dengan tetap diam di tempat sementara Samira sudah berdiri di ambang pintu
Semua kenangan berkelebat di kepala Samira, ia tidak boleh gagal kali ini. Ia tidak boleh membiarkan Arga kembali menghancurkan hidup siapa pun.
“Ini akhir permainanmu,” bisiknya, lalu pemantik itu meluncur dari tangannya.
Api kecil itu menyentuh permukaan lantai, lalu apinya dengan cepat menyebar mengikuti jejak bensin dan ke seluruh ruangan. Api kemerahan mulai merambat seperti ular, menelan kayu-kayu tua. Hawa panas langsung menjalar. Ruangan itu seketika berubah terang oleh kobaran yang terus membesar.
Arga berteriak panik memanggil namanya, pria itu berniat untuk meraih pintu, namun terlambat. Samira lebih dulu menutupnya dan langsung mengganjalnya dengan kayu.
Dari tempatnya, Samira mendengar jeritan kesakitan Arga dari dalam. Ia menutup mata, merasa bersalah namun juga lega karena setelah upaya panjang, akhirnya ia bisa mengalahkan Arga dalam permainannya sendiri.
“Selamat tinggal, Arga,” gumamnya pelan.
Asap mulai mengepul dari celah-celah pintu. Api memantul di jendela pecah seperti bayangan masa lalu yang terbakar habis. Samira berdiri beberapa detik, menatap kobaran itu, merasakan rantai tak kasatmata di dadanya akhirnya putus.
Lalu ia berbalik, melangkah menjauh dari gudang tua itu tanpa menoleh lagi.
Dari balik dinding gudang yang rapuh, cahaya kemerahan mulai merembes keluar melalui celah-celah kayu lapuk, memanjang seperti urat-urat api yang perlahan hidup. Kobaran itu tumbuh pelan namun pasti, merayap tanpa tergesa, persis seperti kemarahan yang selama bertahun-tahun Samira pendam di dalam dadanya.
Retakan cahaya memantul di tanah berdebu dan bergetar di ujung sepatunya, menciptakan bayangan yang tampak seperti kenangan-kenangan kelam yang akhirnya ikut terbakar. Ia berdiri memandanginya lama, tanpa berkedip.
Baginya, itu bukan sekadar bangunan tua yang dilalap api. Di sanalah semua ketakutan, semua air mata, semua malam panjang saat ia buta, semua penghinaan, dan semua pengkhianatan Arga musnah perlahan. Semuanya habis di sana.
“Akhirnya,” gumam Samira pelan.
Tangannya gemetar pelan, bukan karena takut, melainkan karena tubuhnya baru menyadari betapa tegangnya ia selama ini. Seolah-olah baru sekarang otot-otaknya diizinkan menyerah, melepaskan beban yang selama bertahun-tahun ia pikul sendirian. Ia mencoba melangkah menjauh.
Satu langkah terasa goyah, lututnya hampir tak sanggup menahan berat tubuhnya sendiri. Langkah berikutnya terasa lebih berat lagi. Setiap bagian tubuhnya berdenyut sakit, punggungnya perih akibat terbanting, lengannya lebam, telapak tangannya lecet dan panas, sementara tenggorokannya terasa kering.
Namun di tengah semua rasa nyeri itu, ada satu sensasi asing yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun: ringan. Dadanya terasa kosong, bukan kosong karena kehilangan, melainkan kosong karena beban yang selama ini mengikatnya akhirnya terlepas.
Samira berjalan menjauh dari gudang, menyusuri jalan yang gelap. Lampu jalan di kejauhan berkedip lemah, seperti mata yang hampir tertidur. Dari belakangnya terdengar suara kayu runtuh dan letupan api yang memakan apa pun yang tersisa, namun ia tidak menoleh. Ia sudah terlalu lama hidup dengan terus menoleh ke masa lalu. Malam ini, ia memilih berjalan maju.
Angin malam menyapu rambutnya yang berantakan, membawa bau asap bercampur tanah lembab. Setiap helaan napasnya terasa berat, tetapi ia tetap memaksa dirinya melangkah.
“Aku berhasil,” gumamnya pelan dengan suara serak yang nyaris tak terdengar. “Akhirnya … akhirnya semua ini sudah berakhir.”
Untuk pertama kalinya sejak kematian keluarganya yang tragis, sejak pernikahan palsu yang menjebaknya, sejak hidupnya direnggut perlahan-lahan oleh kebohongan, ia merasa telah menepati janjinya sendiri. Ia bukan lagi korban. Ia bukan perempuan lemah yang diperalat.
Namun kemenangan itu tidak seindah yang ia bayangkan.
Semakin jauh ia berjalan, tubuhnya justru terasa semakin berat. Pandangannya mulai berkunang-kunang, dunia di sekelilingnya bergoyang pelan seperti permukaan air.
Adrenalin yang tadi menopangnya perlahan menghilang, digantikan oleh kelelahan yang kejam. Tangannya gemetar semakin hebat, lututnya melemas, dan langkahnya terseret tanpa tenaga. Ia mencoba bertahan dengan berpegangan pada tiang listrik tua di pinggir jalan. Dingin logamnya menembus kulit, membuatnya menggigil.
“AYo, samira. Kau bisa. Kau pasti kuat, tinggal sedikit lagi,” bisiknya pada diri sendiri.
Sayangnya tubuhnya tak mau patuh. Kakinya tersandung batu kecil, keseimbangannya runtuh, dan dunia terasa berputar. Dalam sekejap, semuanya gelap dan berat. Tubuhnya ambruk ke jalanan berdebu. Pipi kirinya menyentuh aspal dingin, sementara langit malam di atasnya tampak buram dengan bintang-bintang yang berlipat ganda.
“Rasanya tenang sekali. Sudah lama sekali aku tidak merasakan ketenangan seperti ini.” Napas Samira terasa berat bersama dengan pandangannya yang mulai kabur.
Dari kejauhan, ia masih mendengar suara api yang berkobar dan kayu yang runtuh perlahan, seperti napas terakhir sebuah masa lalu yang akhirnya mati. Samira ingin bangun. Ia benar-benar ingin. Masih banyak yang harus ia lakukan. Ia harus menjemput Larissa dan Alya. Ia harus memulai hidup baru. Namun tubuhnya tidak bergerak. Kelopak matanya terasa terlalu berat.
“Sebentar saja … hanya untuk sebentar saja, aku juga ingin merasakan hidupku kembali,” gumamnya lirih.
Tepat saat kesadarannya mulai memudar, suara mesin mobil mendekat memecah keheningan. Rem berdecit keras, disusul bunyi pintu terbuka. Langkah kaki berlari tergesa menghantam tanah.
“Samira!” jerit Rayhan panik dan terkejut.
Suara itu terdengar hangat, panik, dan penuh kekhawatiran. Ia mengenali suara itu dengan baik, namun ia tidak memiliki tenaga lagi meski hanya untuk berkata sepatah kata.
“Samira! Ya Tuhan. Maaf … maafkan aku yang sudah terlambat. Samira, kumohon bangunlah.”
Samar-samar ia merasakan tangannya diangkat, dan pipinya ditepuk pelan oleh tangan yang dingin namun lembut. “Samira, kau bisa mendengarku, kan? Tetaplah sadar, Samira. Jangan tutup matamu. Aku akan segera membawamu ke rumah sakit.”
Samira ingin menjawab, tetapi bibirnya tak mampu bergerak. Ia ingin berkata bahwa ia bahagia bisa melihat pria itu di sini. Rayhan baginya seperti malaikat yang menyelamatkan hidupnya dari ambang kehancuran.
Kemudian, Rayhan memeluk tubuhnya dengan hati-hati lalu mengangkatnya. Dada pria itu hangat, napasnya memburu. Dalam pelukannya, Samira merasa aman.
“Aku sudah bawa Larissa dan Alya ke tempat aman,” bisik Rayhan cepat. “Mereka selamat. Kau dengar aku, kan? Mereka selamat. Kau juga harus selamat.”
Kata-kata itu seperti jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam. Alya dan Larissa berhasil diselamatkan. Mereka aman. Senyum kecil muncul di bibirnya.
Syukurlah. Mereka bisa hidup dengan tenang setelah ini, pikir Samira.
Rayhan membaringkannya di kursi belakang mobil dan langsung melaju kencang menembus jalanan. Lampu-lampu kota melintas seperti garis cahaya panjang. Sepanjang perjalanan, Rayhan terus berbicara, terus memanggil namanya agar ia tetap sadar. Suaranya terdengar semakin jauh, seperti datang dari tempat yang sangat jauh.
Namun anehnya, Samira sama sekali tidak merasa takut. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak perlu berpura-pura kuat lagi. Ia bisa menyerahkan dirinya pada seseorang. Pelan-pelan, matanya terpejam sepenuhnya.
***
Tamat atau lanjut? 😝