Xeline pergi hanya meninggalkan sebuah pesan di WA
Bhima
Terimalah perjodohan dari orang tuamu.
Benar kata ibuku
aku tidak se worth it itu untuk dimiliki oleh seseorang
Semoga selalu bahagia bersama seseorang yang mencintaimu.
by Xeline NH
Trauma masa lalu Xeline membuat ia begitu yakin hal itu akan menarik Bhima pada kehidupan yang begitu gelap dan berantakan. Xeline memutuskan menjauh dari Bhima sejauh mungkin dari segala kenangan yang pernah membuatnya merasa hidup sekaligus hancur.
Bhima tetap disana. Menunggu dalam diam. Bertahun-tahun. Ia mencintai Xeline bukan dalam waktu sebentar. Ia juga tidak memberikan setengah. Cintanya utuh, meski ia ditinggalkan karena keinsecuran Xeline.
"Aku butuh kamu Xeline. Bukan kamu yang sempurna. Tapi kamu yang beserta pecahanmu yang berantakan. Aku hanya ingin kamu tetap disisiku. Selamanya bersamamu. Itulah janjiku padamu."
Akankah takdir bisa menyatukan kembali cinta mereka?
Happy Reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DUOELFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Bhima mengirim pesan pada Mara
Padahal aku rela melakukan apapun agar Xeline tetap bersamaku. Tapi bila menurut Ibu, saya memiliki banyak kekurangan dalam pacaran dengan Xeline, saya nggak apa-apa kok. Tapi bila Ibu ingin tahu, aku nggak pernah merasa kurang pacaran dengan Xeline. Menurutku, malah sebaliknya. Dia lebih baik dariku. Xeline memiliki banyak banyak kelebihan bila dibandingkan denganku.
Bhima mengirim pesan lagi.
Bila masalah ini bisa membuat ibu marah, aku juga nggak apa-apa. Kalau ibu mau marah padaku, marah saja. Aku nggak apa-apa. Aku juga merasa bersalah dalam hal ini. Bila ibu mau marah, marah saja nggak apa. Bila Ibu punya permintaan, saya akan berusaha menurutinya. Sudah sekarang ibu maunya gimana?
Mara membalas pesan Bhima
Nggak usah mas Bhima. Terima kasih
Bhima membalas
Tolong Bu. Aku nggak mau putus dari Xeline
Mara membalas
Lha tadi kamu kan yang minta putus sama Xeline? Dia juga pasti mau kok menuruti keinginan kamu. Menurut Ibuu, kamu juga nggak ada kurangnya. Menurut ibu kamu anak yang baik dan pantas mendapatkan yang lebih baik dari Xeline. Toh dari kemarin mas Bhima kan yang minta putus sama Xeline? Dia juga nggak apa apa kok putus sama mas Bhima.
Bhima : Aku nggak ingin putus dari Xeline. Itu salah ketik
Mara : Temenan saja dulu nggak apa apa
Bhima semakin melemah menghadapi keinginan Mara, Ibu Xeline. Ia berusaha menutup matanya yang lelah dan menghadap ke langit kamar. Ia berusaha menahan perasaannya yang mulai terasa sakit.
"Cinta yang begitu besar, tapi diminta untuk berhenti mencinta karena paksaan, ternyata rasanya sakit sekali," gumam Bhima dengan suara lirih.
Bhima membalas pesan Mara
Hmm. Iya udah nggak apa-apa
Mara membalas
Makasih ya mas Bhima. Biar Xeline selesai dengan dirinya sendiri. Maaf setelah ini saya akan keep silent tentang saya Xeline
Bhima : Ya udah. Aku nggak apa apa kok Bu
Mara : Terima kasih ya
Bhima : Iya nggak apa apa
Bhima meletakkan ponsel dengan lemah
"Akhirnya aku dan Xeline putus. Aku memendam perasaan ini selama dua tahun. Mencintai Xeline dalam diam, melihatnya hanya dari kejauhan. Saat kami telah bersatu dalam pacaran, ternyata kebersamaan itu tidaklah lama. Hanya dalam waktu tiga bulan saja. Xeline, andai kamu tahu. Perpisahan ini bukan karena inginku. Perpisahan ini karena keinginanan ibumu yang ingin kamu selesai dengan dirimu sendiri. Padahal aku ingin selalu menemanimu apapun kondisimu. Tapi aku tidak ingin berhubungan tanpa restu orang tua meski hanya sekedar pacaran. Aku harap kamu memahami keadaanku. Ternyata perpisahan karena paksaan, rasanya sakit sekali Xel," batin Bhima.
Setelah hatinya tenang, Bhima bersiap untuk ke sekolah. Ia menuruni anak tangga untuk sarapan pagi di lantai bawah.
Disana, Mamanya terlihat tengah menghidangkan nasi goreng kesukaannya.
"Semalam nggak makan?" sapa Mama Bhima.
"Lupa Ma. Aku ngantuk juga. Tapi tadi pagi aku udah makan roti tawar."
"Mengapa hari ini terlihat tidak bersemangat sekali. Kamu sakit sayang?" selidik mama.
"Nggak kok Ma. Aku lagi nggak mood aja," jawab Bhima berbohong pada ibunya.
"Oh ya udah. Kalau ada apa-apa, jangan lupa cerita sama Mama."
"Iya Ma."
"Ayo lekas sarapan. Pak Udin udah menunggu di depan," terang Mama.
Di rumah Mara
Xeline baru saja bangun tidur dan terlihat ke kamar mandi. Setelah berganti baju, ia bersiap untuk berangkat sekolah. Tak lupa ia sarapan dulu.
"Mbak," sapa Mara.
"Iya."
"Maaf, ibu memutuskan hubunganmu karena ibu merasa kamu belum bersiap untuk pacaran," jelas Mara.
Wajah Xeline terlihat pias, tapi ia segera menundukkan wajah untuk menutupinya.
"Iya bu."
Setelah selesai sarapan, Xeline berpamitan. Tak lupa ia juga meminta Hexa untuk segera bersiap karena ia harus mengantar adiknya dulu sebelum berangkat ke sekolah.
Xeline dan Hexa berpamitan.
"Aku berangkat bu," ucap mereka bersamaan sembari menyalami Mara.
"Hati-hati di jalan."
"Iya."
Setelah kepergian mereka, Mara terduduk di ruang tengah. Ia mengambil ponsel untuk mengirim pesan pada Gama, teman sekelas yang telah membully Xeline kemarin.
Selamat pagi.
Ini saya Mara, ibunya Xeline. Dari kemarin sebenarnya kamu online ya? Tapi mengapa wa dari saya tidak kamu balas sama sekali?
By the way, kamu tahu nggak kalau Bhima meminta maaf ke saya atas nama kamu agar saya tidak melaporkanmu ke bu Nur, wali kelasmu?
By the way, kamu tahu nggak bila Bhima meminta maaf ke saya karena perkataanmu yang membuat saya ketriger tentang bullying yang telah dialami oleh Xeline tahun lalu?
By the way kamu tahu nggak bila Bhima meminta Xeline agar memaafkan kesalahanmu?
By the way kamu tahu nggak kalau Bhima minta maaf ke saya karena perkataanmu dan saya menasehatinya dengan kalimat, jangan minta maaf karena itu bukan kesalahanmu, tapi kesalahan temenmu
By the way, kamu tahu nggak, karena Bhima membelamu, dan saya sedang emosi saat wa denganmu karena kata-katamu yang kurang sopan, membuat saya tidak berpikir jernih. Saat ini saya meminta Bhima dan Xeline putus karena menurut saya mereka belum dewasa dalam menghadapi sebuah masalah. Bhima juga membelamu agar
saya juga tidak melaporkanmu ke bu Nur. Padahal tanpa Bhima meminta, saya pasti akan memaafkan kamu. Anak yang membully Xeline dengan cekikan, tendangan, jongkrokan, menodong pisau di leher anak saya saja, saya maafkan kok. Masak kamu yang cuma bilang kata NYOCOT ke anak saya saja, tidak saya maafkan.
By the way, bila kamu ingin tahu, sebenarnya kemarin saya sudah mau memaafkan kamu. Tapi berhubung kamu berkata dengan seakan tidak sopan banget dan tidak menghormati orang yang lebih tua, ya akhirnya seperti itu. Jujur saja saya sangat marah dengan sikapmu yang seperti itu pada saya. By the way, apa kamu terbiasa ngomong kasar ya sama perempuan? Toh Xeline kemarin juga sudah kerja kelompok di rumah Anggun dari pulang sekolah hingga pukul lima sore lho. Anak saya baru sampai rumah pukul setengah enam sore. Saya juga sudah melihat chat Xeline di grup kelas, saya merasa hal itu juga biasa saja sebagai perempuan. Bila menurut kamu ternyata Xeline kelihatan terlalu manja dan hal itu membuat kamu tidak suka dan marah, saya sebagai ibunya Xeline, meminta maaf sama kamu. Saya akan meminta Xeline untuk tidak mengulanginya hal itu lagi.
Mohon chat saya dibaca ya nak.
Semoga selalu menjadi anak baik ya, mas Gama.
Di sekolah Nusantara
Arga sudah menunggu kedatangan Bhima karena ia mendengar kabar tentang Gama.
Tak lama kemudian Bhima telah sampai di sekolah dengan keadaan sangat kusut. Tidak seperti biasanya. Arga bisa menebak bila telah terjadi sesuatu pada sahabatnya. Ia segera menghampirinya.
"Bhim, are you okeyy?" selidik Arga.