Xeline pergi hanya meninggalkan sebuah pesan di WA
Bhima
Terimalah perjodohan dari orang tuamu.
Benar kata ibuku
aku tidak se worth it itu untuk dimiliki oleh seseorang
Semoga selalu bahagia bersama seseorang yang mencintaimu.
by Xeline NH
Trauma masa lalu Xeline membuat ia begitu yakin hal itu akan menarik Bhima pada kehidupan yang begitu gelap dan berantakan. Xeline memutuskan menjauh dari Bhima sejauh mungkin dari segala kenangan yang pernah membuatnya merasa hidup sekaligus hancur.
Bhima tetap disana. Menunggu dalam diam. Bertahun-tahun. Ia mencintai Xeline bukan dalam waktu sebentar. Ia juga tidak memberikan setengah. Cintanya utuh, meski ia ditinggalkan karena keinsecuran Xeline.
"Aku butuh kamu Xeline. Bukan kamu yang sempurna. Tapi kamu yang beserta pecahanmu yang berantakan. Aku hanya ingin kamu tetap disisiku. Itu saja. Itu janjiku padamu."
Akankah takdir bisa menyatukan kembali cinta mereka?
Happy Reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DUOELFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Setelah mengetahui keadaan Xeline malam itu dari Mara, Bhima semakin menunjukkan perhatian yang begitu intens pada pada perempuan yang dicintainya tersebut. Mulai dari pagi, Bhima akan menanyakan pada ibu Xeline, apakah Xeline sudah bangun tidur, sarapan pagi, minum vitamin, dan sudah berangkat sekolah atau belum? Saat siang hari Bhima akan menanyakan apakah Xeline sudah sampai rumah dengan aman, sudah makan atau belum.
Bila turun hujan saat pulang sekolah, akan ada tambahan pertanyaan, Xeline tadi kehujanan atau tidak? Bila tidak, ya tidak ada pertanyaan lagi. Bila Xeline kehujanan, akan banyak pertanyaan dari Bhima. Tadi kenapa kok kehujanan? Tidak bawa mantel? Kenapa nggak bilang ke Bhima? Xeline sudah minum paracetamol apa belum? Biar Xeline tidak merasakan pusing kepala karena terkena air hujan. Setelah minum obat, Bhima akan menanyakan Xeline sudah tidur atau belum? Bhima juga berpesan untuk tidak pegang hp dulu ya. Biar Xeline bisa istirahat dengan nyaman.
Saat petang, Bhima akan bertanya pada pada mara apakah Xeline sudah menata buku pelajaran dan peralatan sekolah untuk esok hari? Bila ada PR, ia akan menanyakan apakah Xeline sudah mengerjakan PR mata pelajara ini halaman sekian? Bila Bhima sudah mengerjakan PR, ia akan bertanya bagaimana keadaan Xeline? Bisa mengerjakan PR ataukah tidak? Bila masih bisa mengerjakan, ya alhamdulillah. Bila Xeline tidak bisa mengerjakan, ia akan mengirim pesan pada Mara agar Xeline bisa berangkat sekolah lebih pagi agar Xeline ada waktu untuk menyalin PR dari bukunya.
Saat malam hari, Bhima akan menanyakan apakah Xeline sudah tidur dengan nyenyak? Apakah Xeline merasakan sesak nafas? Bila ia sesak nafas, ia akan bertanya pada Mara alasan Xeline sesak nafas? Ditambah pertanyaan, apa Xeline sudah minum obat dan vitamin. Dan yang terakhir Bhima akan meminta Mara menemani Xeline saat tidur. Bhima begitu tambah perhatian saat mengetahui keadaan Xeline yang sebenarnya.
Seperti saat ini, saat malam hari, sebelum Bhima tidur, ia akan mengirimkan pesan pada Mara, Ibu Xeline.
Bhima : Selamat malam Ibu
Mara : Selamat malam Mas Bhima
Bhima : Bu, maaf saya mengganggu malam-malam. Saya mau bertanya, apakah Xeline sudah tidur atau belum?
Mara : Xeline sudah tidur mas Bhima
Bhima : Ibu belum tidur?
Mara : Saya belum bisa tidur. Kamu juga belum tidur? Segera tidur ya. Ini pacarnya sudah tidur.
Bhima : Ya Bu. Aku masih belum bisa tidur
Mara : Oalah begitu. Maaf sebelumnya. Saya boleh bertanya sesuatu?
Bhima : Boleh Bu. Silakan tanya apa saja boleh kok. Oh ya bu. Soal pacaran antara aku dan Xeline, Mamaku sudah mengizinkan. Untuk papa juga sama. Papa sudah mengizinkan juga. Pesan Papa dan Mama, Yang penting jangan pacaran secara berlebihan. Tetap fokus sekolah.
Mara : Iya. Pesan saya juga sama. Boleh pacaran, tapi jangan sampai kalian berdua melewati batas. Tetap fokus pada sekolah, saling mendukung dalam prestasi dan dalam hal baik. Tetap semangat dalam belajar dan saling mengingatkan bila melakukan kesalahan
Bhima : Iya Bu
Mara : Betewe maaf bila saya tanya terlalu privasi. Kamu planning nikah pada umur berapa?
Bhima : Maaf bu. Saya nggak ada planning untuk menikah. Saya rencana menikah kalau saya sudah sukses. Bila saya sudah sukses, nanti saya langsung datang ke rumah untuk melamar dan menikah dengan Xeline.
Mara : Sebenarnya saya ingin mengatakan sesuatu sama kamu secara langsung. Tapi, ...
Bhima : Lewat WA saja nggak pa pa kok bu. Aman aja. Silahkan Bu
Mara : Saya minta maaf banget sebelumnya karena saya telah menanyakan ke kamu tentang rencana pernikahan di saat kamu masih usia remaja seperti ini. Sebenarnya kurang etis rasanya untuk menanyakan hal ini. Tapi saya menanyakan hal ini bukan tentang pernikahan itu sendiri
Bhima : Terus tentang apa Bu?
Mara : Sebenarnya Xeline memiliki trauma selain bullying. Ia memiliki trauma dari orang terdekatnya. Maaf saya belum cerita secara detail tentang hal ini. Bila saya sudah merasa siap, saya akan menceritakan semua. Trauma ini membuat Xeline mempunyai sebuah rencana besar dalam hidupnya yaitu dia berencana untuk tidak menikah, child free dan berencana untuk tinggal di luar negeri.
Bhima sudah menduga hal itu. Xeline pasti memiliki rahasia terbesar dalam hidupnya, mengingat ia begitu menjaga dirinya agar tidak merepotkan orang lain sama sekali. Ia seakan memaksa dirinya sendiri agar bisa menjadi pribadi yang mandiri agar tidak merepotkan orang lain. Ia juga seorang perempuan yang sangat tertutup. Meski Bhima telah menjadi pacarnya selama tiga bulan ini, Xeline belum pernah mengatakan apapun tentang masalahnya, atau apapun yang menyangkut hal pribadi.
Mara : Setelah mengetahui tentang ini, kamu bagaimana mas Bhima? Apa kamu masih mau melanjutkan hubungan ini
Bhima : Saya masih ingin melanjutkan hubungan saya dengan Xeline Bu
Mara : Sebenarnya saya ingin menceritakan semua masalah ini sejak awal mengetahui Mas Bima mengatakan tentang pacaran. Hanya saja saya sungkan mau cerita hal ini.
Bhima : Iya bu
Mara : Mas Bhima. Hubungan kalian adalah hubungan yang nggak tahu nanti arahnya mau dibawa ke mana. Hubungan yang tiada berujung. Hubungan yang tidak ada rencana untuk bermuara pada pernikahan dan seakan tidak memiliki masa depan sama sekali. Mas Bhima mau masih mau melanjutkan hubungan yang seperti ini? Jujur saja saya merasa kasihan sama Mas Bhima.
Bhima : Nggak apa-apa bu. Saya mengikuti Xeline hubungan ini mau dibawa ke mana. Xeline sudah mengatakan semuanya padaku Bu. Sebenarnya saya sudah mengerti dan memahami semuanya Bu. Saya juga sudah tahu kok tujuan Xeline merantau untuk apa?
"Maaf ibu, saya telah berbohong pada Ibu. Sungguh aku sangat kaget ternyata Xeline memiliki trauma yang berimbas pada keinginan untuk tidak menikah, tidak memiliki anak dan berencana tinggal di luar negeri. Tapi, saya sudah berjanji, apapun yang terjadi, aku akan tetap bersama dengan Xeline," Batin Bhima.
Mara : Xeline sudah menceritakan semua masalahnya ke kamu? Benarkah? Sungguh, Ibu merasa senang mendengarnya. Berarti kamu sudah sangat dekat sekali sama Xeline bila ia sudah berani menceritakan semua masalahnya padamu
Bhima : Iya Bu
Mara : Sebenarnya, awalnya saya merasa sungkan mau menceritakan tentang hal ini ke kamu, Tapi ternyata kamu sudah mengetahuinya lebih dulu
Bhima : Nggak pa pa Ibu
Mara : Hubungan yang nggak tahu arahnya akan dibawa kemana, kamu masih mau melanjutkan hubungan dengan Xeline yang memiliki kondisi seperti ini
Bhima : Saya tergantung Xeline ibu. kalau saya, apapun yang terjadi, saya akan tetap melanjutkan hubungan ini
Mara : Kamu nggak kaget saat mengetahui Xeline ternyata memiliki keinginan untuk tidak menikah dan tidak memiliki anak
Bhima : Nggak ibu
Mara : Jujur saja. Ibu merasa kasihan sama kamu, Mas Bhima
Bhima : Nggak papa Ibu
Mara : Saat Xeline bercerita tentang keinginannya itu, saya menangis terus. Saya merasa tidak bisa menjadi Ibu yang baik untuk Xeline selama ini
Bhima : Ibu jangan memiliki pikiran yang seperti itu Bu. Kasih sayang ibu sudah cukup untuk Xeline
Mara : Hubungan yang tidak berujung pada pernikahan sama sekali, apa kamu tidak memiliki rencana untuk menyukai perempuan lain mas Bhima?
Bhima : Lihat saja nanti Ibu