Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.
Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.
Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.
Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.
Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?
Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Have fun
Idris menggeliat, kemudian membuka kedua matanya secara perlahan. Tangan Idris bergerak ke sisi kanan dan kiri ranjang tapi tak ada siapapun disana saat dia membuka kedua matanya. Hanya ada sebuah guling dan bantal.
Setelah kesadarannya sudah penuh dia berjalan keluar dari kamar. Kedua telinganya menangkap suara dari dapur lalu dia berjalan menuju dapur yang dimana disana ada seorang wanita dengan rambut dicepol tinggi.
Wanita tersebut sedang memegang sebuah spatula, lalu dia memeluknya dari belakang.
"Mas bisa diem dulu nggak? Jangan cium cium leher aku begitu!" Tia merasa sedikit risih saat ada orang yang mengganggunya saat sedang memasak. Dan ya wanita yang dipeluk Idris adalah istrinya Tia.
"Sebentar aja ya sayang cuma meluk doang kok nggak bakal ngerusuhin lagi" Tia menghela nafas lalu tersenyum menunjukkan senyuman hangat "Tapi aku nggak bisa kalau masak dilihatin!"
"Why?"
"Aku emang nggak bisa mas!"
"Kamu salting kah? Kelihatan soalnya dari wajah kamu yang memerah" Tia menyembunyikan wajahnya ke samping. Ia tak berani menatap Idris dari dekat karena salting.
"Btw kamu masak sup aja hari ini?" tanya Idris.
"Tadinya aku mau masak opor tapi karena opor mengandung banyak kalori jadi aku masak sup ayam aja mas"
Idris manggut-manggut "Oh gitu ya tapi kenapa opor banyak kalorinya?"
"Karena kan opor pakai santan jadi gitu apalagi santan juga termasuk makanan yang tidak terlalu sehat lebih baik aku membuat sup apalagi sekarang kan lagi musimnya hujan. Jadi bisa juga untuk menghangatkan tenggorokan dan tubuh. Btw nanti aku mau buat wedang jahe, kamu mau sekalian aku buatin? Tapi tanpa gula".
"Apapun masakan yang kamu buat pasti akan aku makan tapi aku juga menghargai penjelasan darimu terimakasih ya. Aku juga mau wedang jahenya karena aku akan mengurangi meminum kopi mulai sekarang. Menurutku aku lebih suka minum air putih karena lebih segar rasanya".
Lalu Idris berjalan menuju kursi di belakang i mean yang tersedia di meja makan karena memang posisi meja makan+kursi berada di belakang dapur.
Dia memandangi istrinya yang sedang berkutat dengan alat masak didepannya. Satu tangannya menopang dagu, lalu bibirnya tersenyum samar.
...----------------...
Tia membawa mangkuk besar berisi sup ayam yang masih panas ke meja makan, "hummmm sangat harum i love it. This is the first dish made by the woman who is legally my wife. Karena waktu di apartemen adalah masakan pertama yang aku makan dari my girlfriend yang sekarang jadi istriku".
Tia menaruhnya di meja makan lalu kembali untuk membawa wedang jahe hangat.
"This is for you hopefully you like it". Tia menaruhnya di hadapan Idris.
Idris mengangguk "Terimakasih my wife" lalu Tia mengambilkan sup ke mangkuk kecil bersama nasi putih yang hangat.
"Selamat menikmati".
"Hm.... Enak banget... Top buat kamu sayang" gumam Idris saat sedang mengunyah brokoli.
"Kalau makan jangan sambil bicara" ucap Tia.
"Maaf aku lupa".
Mereka berdua melanjutkan kembali memakan sup ayam yang membuat tubuh terasa lebih hangat.
Tia memperhatikan Idris tang makan dengan tenang, bibirnya ingin mengatakan sesuatu tapi sedikit takut.
Saat Idris melihat Tia yang memandang dengan intens langsung menautkan kedua alisnya seakan bertanya ada apa.
"Hmm mas disini ada club nggak sih?" tanya Tia.
"Why? Mau coba kesana?"
"Emang boleh?" Idris langsung menggenggam tangan Tia kebetulan Tia berada di sampingnya.
"Boleh asal sama aku btw kenapa tanya begitu?"
"Mau ngerasain suasan di club tuh kaya gimana tapi aku kesana bukan untuk mabuk ya!"
"mm..hmm.. I get it. Kita akan kesana nanti malam biar kamu tahu dan nggak penasaran suasana di club".
"Really?" Idris mengangguk dan tersenyum.
"Beneran sayang!"
"Duh jadi makin cinta deh sama kamu i love you mas" Tia menggenggam tangan Idris dan menciumnya begitupun dengan Idris dia juga mencium balik tangan istrinya.
Sebenarnya Tia bukanlah pecinta pesta, bukan tipikan wanita yang mencari kesenangan di club. Selama ini dia hidup lurus dan selalu menaati peraturan eyang dan ayahnya, sehingga tidak pernah melalukan hal-hal bebas dan liar. Hidupnya lurus-lurus saja selama ini.
Hanya saja karena penasaran dengan suasana di club, tentang sensai apa yang bisa dirasakan disana akhirnya dia meminta ijin dan mengajak Idris untuk kesana.
Tentu saja Idris mengijinkan dan akan bersamanya untuk pergi ke club.
Dua manusia itu datang ke club setelah matahari tenggelam, duduk bersisian di depan meja bar. Mereka tak memesan cocktail, whisky, atau bir. Hanya minum lemonade sebagai satu-satunya minuman non-alkohol yang tersedia.
Suara musik yang berdentam-dentam membuat jantung Kara berdegup kencang.
Tatapannya tertuju pada orang-orang yang sedang menggoyangkan badan di dance floor. Sangat ramai dan meriah, tapi tidak seperti yang selama ini Tia bayangkan.
"Mas ternyata berisik banget ya disini" ucap Tia berbicara sedikit keras agar Idris bisa mendengar dengan jelas.
Idris mengangguk "Di tempat seperti ini harus hati-hati sayang biasanya ada yang nawarin free drinks terus diajak ons".
Tia melihat sekeliling dance floor yang ramai. Di pojok dia melihat pasangan yang sedang berciuman.
"Wanna dance" Tanya Idris beberapa saat kemudian.
Tia mengangguk "Yes my prince", Idris meraih tangan Tia, mengajaknya ke dance floor.
"Aku nggak bisa dance. Badanku kaku," ucap Tia di dekat telinga Idris.
Idris merengkuh pinggang Tia, mempersempit jarak di antara mereka. Tia tertegun, sebab dadanya nyaris bersentuhan dengan tubuh Idris.
"Kamu yang ngajak dance party," kata Idris.
Tia tertawa, akhirnya melingkarkan tangannya di leher Idris. Posisi mereka nyaris berpelukan.
Tia dan Idris saling memandang satu sama lain.
Di bawah lampu disko Idris terlihat sangat menawan. Dalam sedekat itu ia bisa melihat struktur wajah Idris yang nyaris sempurna.
Tanpa sadar Tia tenggelam dalam lamunannya. Ia menganggumi setiap hal yang ada di wajah Idris, baik alisnya,matanya hidungnya bahkan bibirnya.
Idris termenung, mengamati wanita yang kini berada di dalam rengkuhannya. Pipinya sedikit merona, entah efek dari blush on atau karena suasana di dalam club yang cukup panas. Bibirnya merah, seperti baru saja dipoles dengan liptint.
Tanpa sengaja ada seorang pria yang menyenggol Tia dari belakang, segera Idris merengkuh pinggang Tia untuk semakin dekat dengannya.
Jemari Idris perlahan bergerak menyelipkan anak poni rambut Tia ke belakang telinganya.
Ada desiran hangat yang hadir dalam dada Tia. Apalagi saat jemari Idris tanpa sengaja menyentuh pipinya.
Tia kembali mengangkat wajahnya, kedua mata miliknya kembali bertemu dengan tatapan Idris yang semakin dalam.
Idris meraih dagu Tia dan mengecup bibirnya.
Ciuman yang terasa lembut tapi juga sedikit menggebu-gebu.
Idris menarik diri, mengambil jeda beberapa saat karena hampir kehabisan nafas saat bibirnya dibungkam oleh ciuman.
"Mau pesen hotel di sekitar sini?" tanya Idris.
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
mantan ga ada