Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.
Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.
Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.
Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.
"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Kecoak Raksasa
Jennie tidak pernah menyangka bahwa obat dari writer's block yang dideritanya selama beberapa hari ini bukanlah kafein dosis tinggi, melainkan seorang pria yang baru saja pindah ke unit 502 tepat di sebelah unitnya.
Sejak insiden yang sedikit memalukan di balkon kemarin, produktivitasnya dalam menulis melonjak tajam. Tapi masih ada satu masalah kecil yang mengganjal di hatinya.
Sumber inspirasinya sangat terbatas jika hanya mengandalkan ingatan visual dari jarak lima lantai, dia butuh detail yang lebih dekat. Dia harus tau bagaimana suara pria itu, bagaimana aromanya, dan apakah rahang tajam itu akan terasa sekaku kelihatannya jika disentuh.
Maka hari itu dia memutuskan untuk memulai pengintaian diam-diam.
Pukul 8 pagi dia sudah bersiap di balik pintunya, mengenakan hoodie kebesaran dengan tudung yang menutupi kepalanya.
Dengan gerakan sepelan pencuri profesional, dia memutar gagang pintu dan membuka pintunya hanya beberapa milimeter lalu mengganjalnya dengan salah satu buku novelnya agar tidak tertutup rapat.
Satu matanya menempel di celah pintu, mengintai lorong apartemen yang sunyi. Seolah dewi fortuna mendukung kelakuannya, pintu unit sebelahnya terbuka.
Jantung Jennie berpacu, melalui celah sempit itu dia bisa melihat sesosok pria tinggi melangkah keluar. Pria itu mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan otot lengan bawah yang dipenuhi pembuluh darah halus.
Pria itu berdiri menyamping saat menutup pintu, memberikan Jennie pemandangan sempurna dari garis rahangnya yang dipahat dengan presisi.
"Ya, kirimkan cetak birunya ke kantor siang ini. Saya tidak mau ada kesalahan di fondasi utama."
Pria itu sedang berbicara di telepon, suaranya terdengar berat dan serak. Jennie memejamkan matanya sesaat, membiarkan suara itu meresap ke dalam imajinasinya.
Di dalam kepalanya, suara itu tidak sedang membicarakan fondasi bangunan, melainkan sedang membisikkan sesuatu yang jauh lebih provokatif tepat di lekuk lehernya.
"Kau tidak bisa lari dariku, Jennie sayang...."
Imajinasi Jennie semakin liar, dia membayangkan pria itu berjalan masuk ke dalam unitnya, menutup pintu dengan satu tendangan kaki lalu memerangkapnya di dinding.
Dalam fantasinya, tangan kuat milik pria itu merayap ke pinggangnya, menariknya mendekat hingga tidak ada jarak seinci pun di antara mereka.
Jennie tersentak dari lamunannya ketika melihat tetangga barunya itu berjalan menjauh menuju lift. Merasa keadaan aman, Jennie memberanikan diri menyelinap keluar dan berdiri tepat di depan unit 502 yang baru saja ditinggalkan penghuninya.
Dia memejamkan mata, menghirup sisa udara di depan pintu itu dengan sangat dramatis. "Aroma cendana, ada sedikit aroma jeruk purut dan kayu manis," gumamnya, ekspresinya terlihat seperti orang yang sedang kesurupan aroma surga.
Jennie berjongkok di lantai lorong, meletakkan buku catatan kecilnya dan mulai menulis dengan panik.
"Setiap dia lewat udara disekitarnya berubah menjadi partikel gairah yang menyesakkan. Dia beraroma seperti hutan setelah hujan, gelap, misterius, dan berbahaya untuk dijelajahi."
Wanita itu begitu asik dengan dunianya sendiri, dia bahkan tanpa sadar berpindah poisisi merangkak sedikit lebih rendah untuk meneliti celah bawah pintu, berharap bisa mencium aroma yang lebih kuat.
Tubuhnya membungkuk rendah, bokongnya menungging ke arah lorong, sementara kepalanya nyaris menyentuh lantai.
"Ehem."
Suara deheman itu terdengar seperti ledakan di telinga Jennie. Dia membeku di tempat, dunianya seolah berhenti berputar.
Dengan gerakan yang sangat lambat, Jennie menoleh ke samping. Di ujung lorong, Pak Bambang satpam apartemen yang terkenal paling rajin berpatroli berdiri dengan tangan dipinggang dengan ekspresi penuh tanda tanya.
"Neng Jennie? Sedang apa sujud di depan pintu Pak Johan?" tanya Pak Bambang dengan nada curiga yang kental.
Jennie mendadak merasa wajahnya sepanas kompor gas. Dia segera berdiri dengan kikuk bahkan hampir menabrak pintu, dia menyembunyikan buku catatannya di balik punggung.
Dia mencoba memasang senyum paling natural, yang sayangnya malah terlihat seperti orang yang sedang menahan buang air besar.
"Eh, Pak Bambang! Anu.... Ini Pak...." Jennie memutar otak dengan kecepatan cahaya. "Tadi ada kecoak, Pak! Kecoak raksasa! Sebesar... sebesar sandal jepit Bapak!"
Pak Bambang menyipitkan mata menatap lantai lorong yang sangat bersih karena baru saja dipel. "Kecoak? Di apartemen elit begini? Raksasa pula?"
"Iya, Pak! Benar! Warnanya hitam mengkilap, punya kumis panjang yang serem banget!" balas Jennie berusaha meyakinkan, dia memberikan gestur tangan yang berlebihan.
"Tadi dia lari ke bawah pintu unit 502, sebagai tetangga yang baik saya hanya memastikan kecoa itu tidak masuk ke dalam dan mengganggu penghuninya. Tidak salah kan, Pak?"
Mendengar itu, Pak Bambang menghela napas panjang dan menatap Jennie dengan tatapan kasihan. Pria paruh baya itu tahu betul jika Jennie jarang sekali keluar rumah dan bersosialisasi.
"Neng Jennie, lain kali kalau ada kecoak panggil bagian maintenance saja. Jangan disergap sendiri apalagi sampai nungging begitu, kurang elok dilihat penghuni lain," ujar Pak Bambang sembari menggelengkan kepala dan melanjutkan patrolinya.
Jennie menunggu hingga Pak Bambang menghilang dibalik belokan lorong sebelum dia merosot ke lantai, menyandarkan punggungnya di pintu Johan.
"Hampir saja," bisiknya dengan napas tersenggal.
Tapi rasa malu itu segera berganti menjadi adrenalin yang menyenangkan. Dia akhirnya mengetahui pekerjaan dan nama tetangga barunya itu meskipun harus melewati hal memalukan dulu.
Dia berdiri dan segera masuk ke dalam unitnya, mengunci pintu dan melompat ke kursi kerjanya. Jari-jarinya mulai mengetik dengan cepat, kata demi kata mengalir dengan deras.
Fantasi tentang seorang arsitek yang dingin dan seorang penulis yang tertangkap basah mulai menyatu dalam adegan-adegan yang sangat berani.
"Dia tahu aku memperhatikannya, dibalik tatapan tajamnya ada janji tentang malam-malam yang tidak akan membirakanku tidur. Dan saat dia akhirnya menangkapku di lorong itu, dia membawaku pada gairah yang selama ini hanya berani kutulis."
Sore itu Jennie behasil menyelesaikan tiga bab sekaligus, sebuah rekor baru untuknya selama menjadi penulis. Dia tersenyum puas menatap layar laptopnya yang dipenuhi narasi panas yang dipicu oleh tetangga sebelahnya.
Dia menyesap kopinya perlahan dan bermonolog, "Penelitian ilegal ini ternyata sangat memuaskan."
Namun yang wanita itu tidak ketahui adalah, Johan mendengar semua percakapannya dengan satpam pagi tadi. Saat dia ingin kembali ke unitnya untuk mengambil kunci mobilnya yang ketinggalan.
Bersambung