Seharusnya di bulan Juni, Arum tidak menampakkan dirinya demi mendapatkan kebahagiaan bersama seseorang yang di yakini bisa mengubah segala hidupnya menjadi lebih baik lagi. Nyatanya, sebelah sayapnya patah. Bukan lagi karena hujan yang terus mengguyurnya.
Sungguh, ia begitu tinggi untuk terbang, begitu jauh untuk menyentuhnya. Dan, begitu rapuh untuk memilikinya...
Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAMBUTAN
Arum melangkah pelan menuruni tangga menuju lantai bawah. Sungguh, setiap pijakan terasa berat, seolah anak tangga itu menarik kakinya untuk berhenti, berbalik, dan lari. Namun ia tetap berjalan, hingga akhirnya tiba di ruang tengah—ruang keluarga yang luas dan nyaman, dengan sofa empuk tertata rapi, cahaya hangat menggantung dari lampu kristal, serta aroma teh hangat yang seharusnya menenangkan.
Ya. Seharusnya...
Bagi Arum, ruangan itu bukan lagi tempat berkumpul keluarga, melainkan ruang penghakiman. Di sana, Hendrawan telah duduk tegak dengan wajah tenang namun sulit ditebak. Di sampingnya, sang istri duduk dengan sorot mata tajam, seolah sejak awal telah menyiapkan kesimpulan. Anak mereka ikut hadir, diam namun jelas mengamati, sementara mbok suri berdiri agak ke belakang, rautnya cemas namun tak berani ikut campur.
Begitu Arum melangkah lebih dekat, udara di ruangan itu terasa berubah—lebih berat, lebih dingin saat semua mata tertuju padanya.
"Nak..." Kata Hendra, pria berkemeja kaus santai itu memandang Arum, memecah keheningan. "Duduklah," Perintahnya, namun tak mendesak.
Arum menunduk, jemarinya saling menggenggam, berusaha menahan gemetar yang perlahan merambat ke seluruh tubuhnya. Di saat yang sama, ia mengangguk dan mulai duduk di badan sofa. Tepat, dihadapan mereka semua.
“Baiklah," Sambung Hendra. "Sekarang kamu sudah di sini. Pertama.... siapa namamu, dan dari mana asalmu? Coba jelaskan semuanya, Nak. Kami ingin dengar langsung dari kamu.”
Arum menelan ludah. Bibirnya bergetar, napasnya tersengal pelan. Di ruang keluarga yang tampak hangat itu, ia berdiri sendiri—bukan sebagai tamu, bukan pula sebagai bagian dari keluarga, melainkan sebagai terdakwa yang diminta menjelaskan kesalahan yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.
"Se-seperti yang sudah saya jawab tadi... na-nama saya Arum." Tergagap Arum. "Sa-saya... dari Bandung. Alamat rumah saya..."
"Dimana?!" Tukas sang istri itu dengan tegas dan tak sabar.
Arum membisu sesaat. Bahunya bergetar pelan. Bibirnya berusaha tetap tertutup, tapi suara lirih akhirnya lolos juga, pecah di antara keheningan. Air mata yang sedari tadi menggantung di pelupuk jatuh satu per satu, membasahi pipinya tanpa bisa dicegah. Tangannya mencengkeram ujung bajunya, seolah itu satu-satunya pegangan agar ia tidak runtuh sepenuhnya.
Dan, sungguh, malam ini, ia seolah diberi kesempatan untuk lari dari semua yang membelenggunya—dari luka yang tak sembuh, dari sakit yang dipendam sendirian, juga dari kepedihan atas kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupnya. Malam ini, itu semua seakan tak lagi berarti.
Dahi Hendrawan berkerut. "Nak...?"
Arum menggeleng. "Sa-saya... saya...
Arum terisak dan tertunduk semakin dalam. Detik berikutnya, ia menggeleng. " Sa-saya tidak punya rumah. Saya tidak punya siapa-siapa lagi. Se-semua..."
Arum menelan saliva. ".... semua telah pergi meninggalkan aku. Ayah... Ibu... dan..."
"Dan...?"
Arum menyeka kasar wajahnya. Mas Langit.
"Dan siapa?!" Desak wanita yang sedari tadi duduk di samping Hendrawan.
Arum menatap wanita itu yang ternyata sedari tadi setia memandangnya dengan penuh penilaian. "Dan aku takut untuk kehilangan diriku sendiri setelah semuanya... se-setelah semuanya pergi. Aku gak tahu aku harus... harus kemana."
Arum kembali tertunduk. Isaknya kian terasa, namun kini bukan lagi sekadar tangis putus asa. Ada lelah yang tumpah, ada beban yang akhirnya diletakkan, meski tanpa pegangan yang kokoh.
Hendra berdeham sambil memposisikan duduknya lebih nyaman. "Nak... Ayah Ibumu, maksudmu... maaf, telah meninggal?"
Arum tak sanggup menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, tanpa suara, seolah gerakan itu sudah menguras seluruh sisa tenaganya.
Sekilas, Hendrawan menoleh ke arah sang istri, anak, dan pembantunya, seakan antara meminta pengertian dan permohonan—bahwa penjelasan malam ini tak bisa dipaksa, bahwa duka di hadapan mereka bukan sesuatu yang pantas diadili dan mereka perlu membawa gadis malang itu larut dari kesedihan. Tak lama, ia kembali memandang Arum, tatapannya melunak dan nadanya lebih rendah dari sebelumnya.
“Nak Arum,” Kata Hendra lembut, suaranya tenang namun sarat keputusan. “Untuk sementara waktu… kamu tinggal di sini dulu bersama kami.”
“Apa?!” Sahut sang istri spontan. Matanya membelalak, tubuhnya sedikit condong ke depan seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Raut wajahnya menegang, bibirnya mengatup rapat, jelas keberatan meski belum sepenuhnya meluap menjadi kata-kata.
Suasana ruang keluarga mendadak berubah. Hening yang tadi rapuh kini terasa kaku. Lampu gantung di langit-langit seakan meredup oleh ketegangan yang tiba-tiba menggantung di udara.
Rangga, sang anak yang sedari tadi diam, perlahan mendekati ayahnya. "Pa, aku bisa bawa dia kembali pulang."
"Rangga, dia bilang sendiri kalau dia itu gak tahu harus kemana lagi!" Balas Hendra.
Rangga mendesis, sorot matanya tertuju pada Arum sambil melipatkan kedua lengannya di bawah dada "Hey, gadis asing!" Ucapnya, dengan nada setengah meninggi. "Tolong jelaskan pada kami semua... kalau selama ini kamu tinggal dimana?!"
Arum kembali tertunduk. Ia sebenarnya bisa saja meminta mereka mengantarnya pulang—kembali ke tempat yang disebut rumah, meski sejatinya hanya ruang sempit yang ia sewa atas nama keterpaksaan. Namun satu hal menghentikannya, kenyataan yang lebih pahit... yang kini berdiri telanjang di hadapannya, bagaimana ia bisa menjalani hidup tanpa Langit, setelah tahu dengan pasti bahwa pria itu telah tiada selamanya?
Dan bayi ini… denyut kecil yang kini sepenuhnya bergantung padanya. Ia tak sanggup menapaki semua itu sendirian.
Namun di sisi lain, ketakutan lain menggerogoti hatinya. Bagaimana anggapan mereka kelak, saat perutnya kian membesar dan mulai mengundang tanda tanya—tatapan yang menyelidik, bisik-bisik yang tak terucap, serta penilaian yang mungkin tak pernah ia siap terima.
"Hey, jawab dong! Kok bengong?!" Desak sang istri dengan nada yang tak tanggung-tanggung membentak.
Hendra menggeleng dan menatap istrinya, "Ma..."
"A-Aku..." Arum tertegun. "Aku... aku tinggal di rumah sewa."
"Oh ya udah. Malam ini juga, biar aku yang antar dia pulang."
"Rangga!" Tukas Hendra, berpaling, menatap anaknya. "Kamu gak berhak buat keputusan tanpa persetujuan Papa! Yang berhak ambil keputusan dalam keluarga ini, adalah Papa... tanpa bisa kamu menolaknya!"
“Tapi, Pa,” Sela sang istri dengan nada meninggi, tak mampu lagi menyembunyikan kegelisahannya. “Apa yang dikatakan Rangga itu benar. Yang ada di hadapan kita ini gadis asing, lho, Pa.”
Ia bangkit sedikit dari duduknya, sorot matanya tajam mengarah ke Arum. “Kita gak bisa menerima dia tinggal bersama kita tanpa tahu asal-usulnya seperti apa. Kita sama sekali gak ngenalin dia!”
Kalimat itu berhenti sejenak, lalu dilanjutkan dengan nada lebih curiga, nyaris kejam. “Siapa tahu yang ada di hadapan kita ini… sindikat pencuri. Modusnya pura-pura lemah, pura-pura kasihan, supaya bisa masuk ke rumah orang kaya seperti kita!”
Arum tersentak. Tubuhnya menegang, wajahnya semakin pucat. Tangannya refleks melindungi perutnya, seolah tuduhan itu bukan hanya menyerangnya, tetapi juga bayi yang ia kandung. Ia ingin membela diri, ingin berkata bahwa ia tak seburuk itu—namun lidahnya kelu. Kata-kata seakan membeku di tenggorokan.
"Ma." Sela Hendra menggeleng, matanya kembali memandang Arum. "Nak Arum..." Panggilnya. "Om percaya kamu adalah gadis yang baik. Mulai sekarang... kamu tinggal disini saja untuk sementara waktu bersama kami, ya."
Rangga terkejut atas pernyataan sang Ayah. Tak kalah dengan Ibunya yang jelas menolak dengan keras. Sementara, Arum hanya membisu.
“Sebelumnya, kami belum sempat memperkenalkan diri,” Ujar Hendra dengan nada tenang, berusaha meredam ketegangan yang terlanjur mengeras. “Nama Om, Hendrawan. Kamu bisa panggil saya Om Hendra. Dan ini…”
Kalimatnya menggantung sejenak ketika ia menoleh ke arah sang istri. Wanita itu jelas memalingkan wajah, rahangnya mengeras, ekspresi pahit tak lagi ia sembunyikan. Hendra menghela napas tipis, lalu tetap melanjutkan dengan sikap dewasa.
“Ini istri Om, kamu bisa panggil Tante Lusi.” Katanya singkat, tanpa memaksa kehangatan yang tak ingin diberikan. “Dan yang tadi bicara, anak Om, Rangga.”
Hendra menoleh ke belakang, menatap wanita paruh baya yang sedari tadi berdiri di sana. "Dan terakhir, ada Mbok Suri. Kalau kamu ada apa-apa... jangan sungkan untuk meminta bantuan atau apapun itu padanya." Jelasnya. Ia kembali menatap Arum, sorot matanya lembut namun tegas.
Tak lama, sang istri, alias Lusi beranjak dari sofa, meninggalkan mereka tanpa permisi, tanpa kata.
****