Liana adalah seorang wanita yang paling berbahagia karena ia bisa menikah dengan lelaki pujaannya, Yudistira. Hidupnya lengkap dengan fasilitas, suami mapan dan sahabat yang selalu ada untuknya, juga orang tua yang selalu mendukung.
Namun, apa yang terjadi kalau pernikahan itu harus terancam bubar saat Liana mengetahui kalau sang suami bermain api dengan sahabat baiknya, Tiara. Lebih menyakitkan lagi dia tahu Tiara ternyata hamil, sama seperti dirinya.
Tapi Yudistira sama sekali tak bergeming dan mengatakan semua adalah kebohongan dan dia lelah berpura-pura mencintai Liana.
Apa yang akan dilakukan oleh Liana ketika terjebak dalam pengkhianatan besar ini?
"Aku gak pernah cinta sama kamu! Orang yang aku cintai adalah Tiara!"
"Kenapa kalian bohong kepadaku?"
"Na, maaf tapi kami takut kamu akan...."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 : Aku tidak bodoh
Liana akhirnya berhenti di sebuah kawasan perumahan biasa dibanding yang sebelumnya. Mobil itu melaju dan belok ke salah satu gang yang langsung diikuti.
"Berhenti sini saja, Pak. Gak usah masuk nanti ketahuan." Liana meminta sang driver untuk berhenti di ujung gang, karena dia ingin memantau dari sana.
"Oh, gak mau langsung samperin, Bu?" Tanya si pengemudi malah penasaran dan berharap bakal terjadi huru-hara.
"Enggak sini saja, saya cuma mau lihat mereka masuk rumah yang mana," jawab Liana menghentikan sang pengemudi biar gak bablas.
Liana memandang ke arah mobil Yudis yang berhenti pada bagian tengah perumahan. Diamatinya pasangan itu yang turun ke mobil dengan wajah berseri-seri dan berjalan ke arah rumah tersebut.
Hatinya panas terbakar amarah mengetahui Yudis berusaha menyembunyikan Tiara. Padahal ia sempat mengira pria itu sudah berubah dan menjauhi Tiara. Tangannya meremas pundak sang pengemudi sampai pria yang sudah berusia agak tua itu pun meringis.
"Aduh, Bu, saya nya jangan di cubit gini," ujarnya berusaha melepas cengkraman Liana.
"Sudah, Pak, Ayo kita balik, nanti saya bayar 3 kali lipat," jawab Liana yang mengindahkan malah memukul pundak pria itu.
"Beneran, nih? Siap lah kalau gitu!" Pria itu langsung lupa dengan rasa sakit ketika mendengar dia akan mendapat bayaran lebih.
Mereka pun langsung tancap gas meninggalkan kawasan perumahan itu.
Sementara itu Dimas tampaknya tengah disibukkan oleh dua orang wanita yang sama-sama sedang mencemaskan anak mereka. Ibunya Adelia dan Ibunya Liana.
Ibunya Adelia yang meminta tolong terlebih dahulu pada Dimas untuk mempertimbangkan kembali Adelia, untuk kembali berpacaran. Namun, di sini Dimas tegas menolak dengan alasan otaknya masih waras.
Tak lama setelah itu ibunya Liana pun menelepon dan meminta agar Dimas lebih dekat lagi dengan Liana dan mencoba untuk 'memperbaiki' putrinya.
Dimas menghela napas sesaat lalu berkata, "kuncinya ada pada Yudis, dan saya sudah memberi petunjuk kepadanya untuk bisa segera mengambil sikap."
"Apa maksudmu harus dengan Yudis? Dia justru sudah menyakiti Liana!" Wanita itu terdengar gusar dan gak setuju dengan saran Dimas.
"Hah..., sulit kalau anda terus melindungi Liana dan melarang semua orang. Dia harus tahu kebenaran agar tidak terus hidup dalam ilusi," jawab Dimas seakan menghantam dinding tebal yang telah dibangun oleh wanita itu untuk melindungi Liana.
"Sudah waktunya Liana tahu semuanya, bukan terus berbohong, karena ada orang lain yang dikorbankan, keluarga Yudis."
Wanita itu tidak menjawab. Ia terdiam dalam lamunan dan baru tersadar saat telepon sudah dimatikan sepihak oleh Dimas.
Hatinya langsung merasa gelisah karena apa yang dikatakan oleh Dimas hampir semuanya benar. Dia sendiri tak ada cara lain selain memberikan kebahagiaan untuk putrinya, daripada anaknya menderita hanya karena seorang pria.
"Apa saya sudah berlebihan memanjakan Liana, ya...?" Ada rasa bersalah yang mulai masuk ke hatinya saat mengingat omongan Dimas barusan. Ada orang lain yang dikorbankan, keluarga Yudis.
.
.
Kembali ke Liana. Dia berhasil pulang ke rumah duluan. Yudis kemungkinan bakalan lama di rumah Tiara. Dia gak peduli. Satu hal yang pasti, dia sudah mengetahui di mana Yudis menyembunyikan wanita penggoda itu.
Di sisi lain Yudis tampaknya masih betah berlama-lama di tempat Tiara yang baru. Rumah itu jauh lebih sederhana karena termasuk kawasan biasa. Tapi segala perlengkapannya sudah diisi penuh oleh Yudis.
Dapur serta kamar mandi yang bersih, ruang tamu minimalis, kamar tidur yang nyaman, meja makan kecil lengkap dengan perabotan lain. Tiara bahkan terlihat menyukai tempat tinggal barunya. Senyumnya terus-terusan mengembang, apalagi saat ia menyadari di tengah ruang tamu ada foto pernikahan mereka yang akhirnya bisa dipajang. Ya, foto pernikahan resmi mereka. Karena di rumah sebelumnya Tiara terpaksa menyimpan semua foto-foto itu agar tak terlihat Liana dan dapat memicu genderang perang.
"Besok akan ada orang yang kemari untuk membantu pekerjaan kamu, dan usahakan jangan sering keluar rumah sampai anak kita lahir ya, Ra," ucap Yudis memberi nasehat kepada Tiara.
"Iya, Mas. Aku mengerti, kok," balasnya mengangguk kecil.
"Maaf ya, Ra, kamu jadi harus pindah dulu dari rumah kamu dan kemari." Yudis menatap sayang ke arah wanita itu dan mengelus rambut panjang Tiara.
"Enggak apa-apa, kok. Di sini juga nyaman, aku suka." Tiara menggeleng cepat dan tersenyum. "Tapi..., kita mau sampai kapan ya, Mas kayak gini...." Ia pun menunduk sesaat, jadi kepikiran apakah ini harus berlangsung selamanya? Jujur ia sudah lelah bersembunyi dan gak bisa bebas mencintai orang yang ia cintai serta membina rumah tangga seperti orang lain pada umumnya.
"Sabar ya, Ra," ujar Yudis dengan lembut. "Aku lagi berusaha buat dapetin hak aku, dan setelah itu kita bisa pergi ke luar kota jauh dari mereka," lanjutnya yang sudah memiliki rencana untuk dirinya dan Tiara.
"Aku bakal doain kamu, Mas, supaya bisa berjalan dengan lancar," balas Tiara penuh harapan.
.
.
Malamnya Yudis pun pulang. Liana sudah menunggu pria itu di dalam tentu saja. Ia sedang duduk di ruang tamu, sengaja.
"Kemana saja kamu, Mas? Makan malam sudah lewat," ucapnya dengan nada ketus begitu pria itu masuk ke dalam rumah.
"Maaf, An. Tadi aku mendadak ada urusan ketemu sama klien," jawab Yudis yang masih gak menyadari kalau Liana sudah tahu semuanya.
"Oh, klien?" Namun Liana memberikan tatapan curiganya kepada Yudis.
"Kenapa? Kamu gak percaya?" Pria itu menghela napas. "Aku gak ketemu sama Tiara, An," ucapnya lagi sudah defensif duluan.
"Biasanya, memang selalu begitu 'kan? Kamu selalu ketemu sama Tiara diam-diam di belakang aku." Liana mendengus kecil.
"Kali ini, tolong percaya sama aku, An...." Yudis berusaha membujuk Liana.
Pria itu tampak bersungguh-sungguh. Ah, andai saja Liana gak pernah tau kalau pria itu sebenarnya baru saja memindahkan Tiara ke tempat persembunyiannya yang baru, mungkin Liana akan tertipu dan mempercayai pria itu. Yudis benar-benar pintar sekali bersandiwara dan membohongi wanita. Tapi Liana gak mau langsung konfrontasi.
Liana mengganti wajah gusarnya menjadi sebuah senyuman. Ia berdiri dari tempat duduk, mendekati Yudis yang masih berdiri tak jauh darinya.
"Iya deh, Mas aku percaya," ucapnya seraya memeluk Yudis tiba-tiba. "Maaf ya, Mas. Aku yakin Mas Yudis udah berubah dan gak ketemu lagi sama Tiara." Liana mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Yudis.
"An, aku mau ganti baju dulu, gerah." Yudis dengan cepat menghindari kontak lebih lanjut dengan Liana. "Oh ya, aku belikan ini buat kamu, sebagai permintaan maaf. Aku tau kamu suka banget sama soft ice cream." Yudis gak bicara banyak dan langsung menyodorkan segelas soft cream vanila.
"Kamu masih ingat es krim kesukaan aku...?" Liana sedikit terkejut. Dia gak menyangka Yudis bakal kasih dia makanan yang sangat otentik dengan dirinya saat jaman kuliah. Tapi cepat-cepat ia menepis rasa haru itu. Dia tau yang dilakukan Yudis gak tulus hanya sekedar peralihan.
Liana bakal membiarkan Yudis berpikir dia sudah memaafkan dan menganggap Yudis telah berubah, agar pria itu tidak dapat menyadari rencana yang akan dilakukannya.
Apa yang akan dilakukan oleh Liana?
.
.
Bersambung....
semakin cpt... semakin baik untuk kewarasan mentalmu liana....
beri mereka hadiah terakhir yg tak akn prnah mereka lupakan.... dan akn mnjadi penyesalan seumur hidup untuk laki" bodoh sprti yudis...
dan saat nanti trbukti liana memang hamil.... jgn lgi ada kta mnyesal yg berujung mngusik ketenangan hidup liana dan anknya....🙄🙄
dan untuk liana.... brhenti jdi perempuan bodoh jdi jdi pngemis cinta dri laki" yg g punya hati jga otak...
jgn km sia"kn air matamu untuk mnangisi yudis sialan itu..
sdh tau km tak prnah di anggp.... bhkn km matpun yudis g akn sedih liana....
justru klo yudis km buang.... yg bkalan hidup susah itu dia dan gundiknya...
yudis manusia tak tau diri.... g mau lepasin km krna dia butuh materi untuk kelangsungan hidup gundik dan calon anaknya...
jdi... jgn lm" untuk mmbuang kuman pnyakit...