NovelToon NovelToon
Menikah Dengan SEPUPU

Menikah Dengan SEPUPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Payang

Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.

Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.

Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.

Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Cinta Seorang Ayah Pada Putranya.

Di kediaman keluarga Widjaya, Arya sudah bersiap dengan setelan kemejan dan jas dokternya. Langkahnya ringan menapaki setiap anak-anak tangga yang mengular ke bawah.

"Dinas malam?" Pradipta Widjaya -- kakak sulung Arya -- tersenyum hangat melihat antusias dan semangat kerja adik bungsunya, ia baru saja tiba di rumah orang tua mereka.

"Iya, Mas," Arya balas tersenyum. "Tumben pulang kerja langsung kemari?" tanyanya berbasa-basi.

"Ada sedikit urusan sama Ayah..." Pradipta menepuk sayang pundak adiknya lalu mengarahkan pandangannya pada Gunawan yang tengah duduk tenang di sofa ruang keluarga.

"Arya, Ayah mau bicara sebentar sebelum kamu berangkat ke rumah sakit," Gunawan menatap putra bungsunya itu sembari menepuk pelan sisi kosong di sebelahnya.

Arya mengangguk lalu datang mendekati ayahnya. Walau tinggal serumah, dirinya dan sang ayah hanya sesekali bertemu karena kesibukan mereka masing-masing.

"Apa yang mau Ayah bicarakan?" tanyanya, memberi jarak saat mendudukan dirinya di sebelah ayahnya.

"Kenapa jauh-jauh, takut Ayah memakanmu?" Gunawan menyipitkan sebelah matanya melihat ada jarak di antara mereka.

"Di sini saja," Arya melirik dengan ekor matanya, tahu maksud terselubung ayahnya, dan ia tidak mau itu terjadi. "Langsung saja, Ayah. Arya dengar kok, walau jaraknya sampai satu kilometer," sarkasnya.

Berseberangan dengan Gunawan dan Arya, Pradipta mengulum senyum di tempat duduknya, sudah bisa memprediksi apa yang sebentar lagi akan terjadi.

"Arya, mendekat," panggil Gunawan pelan.

"Tidak mau," tolak Arya.

"Mendekat, cepat!" instruksi Gunawan lagi, mulai tak sabar.

"Tidak ma--"

Sreeet!

Tanpa aba-aba, satu tarikan tangan penuh tenaga menyeret paksa si dokter muda. Arya yang melakukan perlawanan setengah-setengah tentu saja dengan mudah dilumpuhkan.

"Lepas! Lepaskan aku, Ayah!" teriak Arya berontak.

Tak menggubris, Gunawan yang berhasil mengunci tubuh Arya terus membabi buta mendaratkan ciumannya disetiap inchi wajah putra bungsunya itu sekehendak hatinya.

"Aku sudah besar! Sudah jadi dokter!" Arya terus berteriak kegelian, menahan wajah Ayahnya, tapi tak tega bila menggunakan tenaga, khawatir tubuh ayahnya yang sudah menua itu rontok di tangannya.

Di tempat duduknya, Pradipta tertawa lepas menyaksikan pergulatan tak seimbang itu.

Sesuai prediksinya, hal itu memang terjadi. Ayahnya memang suka memperlakukan Arya seperti itu sejak adiknya masih kecil. Ia tahu, jika adik bungsunya itu mau, bisa saja melepaskan diri dengan mudah. "Dasar manja, pura-pura tak mau!" gelaknya sambil menggelengkan kepala.

"Sudah..." lelah Gunawan sembari melepaskan tubuh putranya dari kunciannya, napasnya terdengar ngos-ngosan sembari bersandar pada sandaran sofa di belakangnya.

"Tuh kan..." Arya berdiri, frustrasi melihat kemeja dan jasnya kusut.

"Tinggal ganti, beres...." Gunawan masih mengatur nafasnyanya, berucap tanpa beban rasa bersalah.

"Mau kemana?" tanyanya lagi, saat Arya beranjak menuju tangga.

"Ganti pakaian!" sahut Arya terus menaiki anak-anak tangga menuju lantai atas.

"Kamu lihat kan, dia memang masih kecil," tatapan penuh kasih sayang Gunawan terus mengiringi lompatan-lompatan kecil putra bungsunya tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya hingga Arya menghilang di lantai atas.

"Tapi sok-sok'an mau punya isteri, heuh! Melawan tenaga Ayah yang sudah senja ini saja dia kalah, Ayah nggak yakin dia bisa bikin anak!"

Mendengar ucapan ayahnya, Pradipta ingin tertawa tapi sekuat tenaga menahanya, tak ingin merusak suasana hati sang ayah yang begitu dicintainya itu.

"Bagaimana, kamu sudah lakukan yang Ayah minta?" Gunawan beralih menatap putra sulungnya itu.

"Iya, sudah, Ayah..." Pradipta memberi anggukan kecil.

"Bagus, pelan-pelan saja. Biar anak itu tidak terguncang jiwanya." Raut Gunawan yang penuh cinta dalam sekejap berubah sendu, hatinya diliputi kesedihan karena mengetahui sesuatu.

"Hati Arya terlalu murni, dia baik, tapi bodoh... dibutakan oleh cinta," parau Gunawan.

"Selama Ayah hidup, Ayah tidak akan pernah biarkan anak-anak Ayah dibodohi apa lagi di manfaatkan oleh manusia-manusia rendahan itu!" rahang Gunawan mengeras dengan aura kuat, matanya tajam penuh tekad.

"Arya!" panggil Pradipta, begitu melihat adiknya kembali menuruni tangga dengan pakaian ganti yang rapi seperti sebelumnya.

"Mas mau liat cincin pertunangan kamu, bukannya hari ini jadwalmu mengambilnya?"

"Tidak jadi, Mas! Elok tiba-tiba terkikir kakinya setelah pulang dari toilet!"

Pradipta melirik ayahnya sesaat, lalu beralih lagi pada Arya yang sudah menapaki anak tangga terakhir. "Terkilir karena terpeleset dari eskalator maksudnya?"

Arya tak heran kakaknya itu bisa tahu akan hal itu, apapun yang terjadi di area mall milik kakaknya, karyawannya pasti melaporkannya, apalagi tadi situasinya cukup heboh.

"Tuh, Mas tau... Nguntit, ya?" Arya berusaha bercanda dengan gaya polos sembari tertawa kecil.

"Lihatkan adikmu? Dia memang sangat bodoh!" gemas Gunawan berbisik pada Pradipta, tapi rasa sayangnya mengalahkan rasa dongkol akibat kebodohan Arya. Naluri seorang ayahnya semakin kuat untuk melindungi putra bungsunya itu.

"Lihat ini," Pradipta memberikan ponselnya pada Arya sudah berdiri di hadapannya.

Arya menerimanya, melihat sesaat apa yang ditunjukan oleh kakaknya. "Apa maksudnya ini?" dahinya mengernyit begitu mengetahui bila itu adalah rekaman CCTV di mall kakaknya.

"Nanti aku terlambat ke rumah sakit, Mas," cemasnya, melirik pada sang kakak.

"Aku sudah menghitung waktunya, kamu tidak akan terlambat," perintah Pradipta yang memang sudah memperhitungkannya.

Walau belum mengerti, Arya menuruti saja keinginan kakaknya.

"Bukannya itu gadis SMU yang aku tolong siang tadi," Arya langsung menajamkan indera penglihatannya saat melihat Melitha apa lagi ada sosok Pandji sedang menggendong dua bocah di punggungnya, dan mereka menaiki eskalator.

Tak berselang lama, ia melihat dirinya sendiri bersama Elok dari arah yang sama melintas di dekat eskalator dan menyeberangi atrium mall menuju toko perhiasan. Belum genap dua menit, ia melihat Elok berjalan sendirian dari toko perhiasan, sesekali menoleh seakan takut pergerakannya tertangkap pengintai.

Tanpa terduga, ia melihat kekasihnya buru-buru melesat menyimpang menuju eskalator setelah sempat menoleh sekali lagi ke belakang.

"Elok, bahaya!" pekiknya tertahan, kaget bercampur tegang. Ia langsung teringat omelan para pengunjung tadi siang saat ia membantu Elok ketika dilihatnya ulah membahayakan kekasihnya itu berlari menaiki eskalator menuju atas dan sempat menyenggol beberapa pengunjung.

"Sekarang lihat rekaman CCTV berikutnya," ucap Pradipta yang sempat ia lupakan keberadaanya, yang sedari tadi bersama sang ayah tidak melepaskan sedetik pun pandangan mereka darinya.

Arya menurut, menekan video rekaman selanjutnya. Ia sempat melirik singkat time stamp pada bingkai video, menyatakan bila video itu memang di rekam sesuai urutan waktu di hari dan tanggal yang sama.

"Oh my God... mas Pandji...." Arya menahan napas saat melihat sosok Pandji masuk ke butik gaun pengantin. "Jadi benar, dia mau menikahi adiknya sendiri?" matanya membola seketika. "Kasihan sekali dia sampai jadi seperti itu," ibanya, lalu beralih pada Pradipta.

"Mas, aku boleh minta CCTV di sisi ini juga, tapi hitungan waktunya mundur sekitar tiga puluh menit ya?" menatap penuh harap pada kakaknya. Dirinya penasaran apakah gadis SMU itu juga masuk kesana.

"Boleh," sahut Pradipta menyanggupi.

"Terima kasih, Mas," Arya tersenyum singkat. Begitu ia kembali menatap layar, Elok sudah berdiri di depan butik gaun pengantin, mengenakan high heelsnya kembali yang entah kapan ia lepas sambil menerima telepon, lalu buru-buru meninggalkan tempat itu.

Arya bisa memastikan, itu pasti telepon dari dirinya saat ia melihat time stamp pada bingkai rekaman video.

"Rekaman berikutnya," ucap Pradipta menginterupsi, saat rekaman yang Arya tonton sengaja di potong untuk mempersingkat waktu.

Arya kembali menahan napas ketika rekaman memperlihatkan Elok melakukan hal yang sama seperti ia naik tadi.

Kekasihnya itu menuruni eskalator dan menyenggol beberapa pengunjung mall yang juga menggunakan eskalator yang sama demi cepat mencapai bawah. Seorang wanita hampir terlempar keluar dari eskalator bila pasangannya tidak segera memeluknya erat dan berpegangan pada pegangan besi di sebelahnya, dan itu adalah pasangan suami isteri yang sempat mengatainya bodoh.

"Cukup, aku tak sanggup melihatnya lagi," Arya menyerahkan ponsel ditangannya pada sang kakak, ketika dilihatnya detik-detik Elok terpeleset, meluncur kencang ke bawah membuat semua orang memekik kaget bercampur ketakutan.

"Satu lagi, kamu harus lihat ini, Arya," Pradipta dengan cepat memilih dan menekan rekaman CCTV yang telah ia siapkan.

Lagi-lagi Arya menahan napas, saat melihat dari kejauhan Elok mencengkram lengan Pandji di lorong toilet, tapi pria itu malah menepisnya kasar. Hati Arya ngilu melihatnya. Selama mereka pacaran, ia tidak pernah memperlakukan Elok sekasar itu.

"Ini sepertinya detik-detik saat aku menolong adiknya mas Pandji. Tapi mengapa ia kasar sekali pada Elok? Ada apa diantara mereka?" batinnya bertanya, saat melihat time stamp menunjukan waktu yang kurang lebih sama saat ia dan Melitha berada di toilet pria.

Bersambung✍️

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kyk acara transtv dl. dibawain ama si panda
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sapose neh
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
laki2 tuh klo curhat begini y? harus ada perantara nya
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sambil nyanyi aq bacanya
〈⎳ FT. Zira
kann kann kann.. bener kannn🤧
〈⎳ FT. Zira
pandji yg seorang perwira aja gini, apalagi Arya nanti yak🤭
〈⎳ FT. Zira
kakak adek nasib nnya gini amat... athor nya hahat...😭😭😭 harus ada ganti pokoknya
〈⎳ FT. Zira
main serong biar dapet doku gak sih ini🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
wweehhh😳😳😳
〈⎳ FT. Zira
mau sekeras apa juga pada akhirnya runtuh juga
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
kan Si jalan raya dengan tak Elok itu satu jenis bun🤔 sama2 murahan eh🤸🤸🤸
Teteh Lia
habis sudah kesabaran babang Harry
Teteh Lia
Oh ya ampuun... kejam sekali dirimu, masa suami suruh tidur di lantai.
sari. trg
atur dulu anakmu Bu
sari. trg
waduh! siapa tuh bapaknya?
Zenun
harusnya tanya dulu mengapa Hary bisa bicara gitu, ada bukti apa
Dewi Payang: Harusnya begitu memang.....
total 1 replies
🟢≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥
waduhhh... ternyata oh ternyata Raya berani sekali ya melakukan itu... ishhh ishhh ishhh...
Dewi Payang: Baiklah....😁😍
total 7 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
is is is ternyata jalang teriak jalang oy
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩: is is is... kok mirip elok ya🤭
total 2 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
masih aja loh si ibu. gmn klo si harry yg selingkuh?! pasti kln nge reog
Dewi Payang: klo anak sendiri dimaklumi, kko menantu gak boleh salah🤭
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
woaahhhh ortunya juga mau2 aja menampung
Dewi Payang: Wkwk😂😂 padahal maksud mengadu pengen ortu jadi penengah kalu bisa dibelain ya kak🙈🙈🙈🙈
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!