Daniel merupakan seorang agen rahasia yang sedang menjalani misinya untuk mencari para pengkhianat negara termasuk keturunan mereka. Dalam menjalankan misinya, tanpa sengaja ia menolong seorang gadis bercadar yang sedang dihadang oleh para penjahat saat gadis itu hendak pulang ke rumahnya. Tanpa Daniel ketahui jika gadis bercadar itu adalah targetnya yang selama ini ia cari. Apakah Daniel tega membunuh gadis itu demi misinya ataukah ia harus mengkhianati agen nya sendiri demi cintanya? ikuti cerita mereka penuh dengan misteri dan setiap adegannya sangat menegangkan...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Pelantikan
Setelah beberapa kali menghubungi si kembar, akhirnya suara nyaring keduanya terdengar dari seberang sana. Daniel sengaja tidak ingin menghubungi Alea karena tahu istrinya itu masih marah padanya.
"Hallo kak Daniel! apa kabar...! tanya keduanya saling berebutan.
"Alhamdulillah saya sehat. Apa kabar kalian?" tanya Daniel.
"Kalau kami baik tapi kasihan kak Alea karena ia sedang sakit", ucap Arka sedih.
"Hah sakit? emangnya sakit apa? tanya Daniel cemas.
"Eh jangan kasihtahu kak Daniel...!" bisik Aska.
"Biarin saja...! kak Daniel harus tahu kalau kak Alea ngidam karena hamil...-" mulut Arka langsung dibekap oleh Aska. Keduanya saling debat dengan kata isyarat hingga Daniel sangat bingung. Kata ngidam sempat ia dengar namun kalimat selanjutnya sudah tidak jelas diucapkan Arka.
"Ngidam...? bukankah itu berarti Alea hamil?" tebak Daniel begitu bahagia sekaligus takjub.
Namun berita paling bermakna dalam hidupnya harus ia tutup rapat-rapat sebelum statusnya sebagai putra tuan Roy terbukti secara medis dan dirinya akan menjadi seorang putra presiden terpilih.
"Tunggu sayang...! aku akan menjemputmu setelah ayahku dilantik. Selama itu aku harus tetap merahasiakan pernikahan kita dan para bandit negara itu akan ditangkap dan diadili. Aku yakin mereka lah sebagai aktor dari pembunuhan kedua orangtuamu", gumam Daniel lalu sujud syukur atas karunia Allah yang sudah diimpikannya.
Tok...tok...
"Daniel, apakah kamu tidur nak?" tanya tuan Roy dari depan kamar Daniel. Daniel tersentak sekaligus terharu. Untuk pertama kalinya tuan Roy memanggilnya dengan sebutan nak.
"Tidak tuan", Daniel segera beranjak untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka Daniel mendapati ekspresi wajah tuan Roy penuh binar dengan mata berkaca-kaca. Ia menatap dalam wajah Daniel dengan tangan terangkat untuk memegang kedua pipi Daniel.
"Nak. Terimakasih sudah tumbuh besar dan kembali kepada ayahmu yang bodoh ini...!" Tuan Roy mengusap pipi Daniel penuh emosional.
Daniel ikut hanyut mendengar ungkapan kerinduan ayahnya padanya. " Apakah tuan sudah tahu aku adalah putra kandungmu?" desis Daniel tidak kalah emosional.
Tuan Roy mengangguk dengan air mata berderai. " Jadi kau sudah tahu kalau aku ini ayah kandungmu, hmmm?" pekik tuan Roy lalu memeluk putranya dengan erat.
"Ayah....!" ujar Daniel memeluk tubuh ayah kandungnya dengan penuh kerinduan." Aku juga baru tahu beberapa hari ini ayah. Aku begitu takut mengakuimu ayah karena keadaan yang tidak mendukungku", ucap Daniel.
"Maafkan aku nak....! aku juga sama sepertimu walaupun hatiku tidak menolak kalau kau adalah putraku sampai aku harus buktikan sendiri dengan tes DNA", ucap tuan Roy sambil terisak.
Keduanya makin larut dalam kerinduan. Peter dan beberapa pelayan tuan Roy ikut merasakan kebahagiaan pertemuan ayah dan anak itu. Keduanya saling mengusap air mata mereka sambil tertawa haru.
"Ayo kita rayakan pertemuan ini dengan makan malam yang sangat nikmat putraku", ucap tuan Roy penuh bangga pada putranya.
Daniel mengangguk lalu mempersilahkan ayahnya untuk duduk di kursi utama lalu diikuti dirinya yang duduk di sampingnya.
"Ayo kalian semua ikut makan dengan kami...!" titah tuan Roy yang melepaskan jubah kebesarannya sebagai calon presiden yang akan dilantik sebentar lagi.
"Baik tuan", semuanya menempati kursi mereka masing-masing. Daniel ingin sekali bertanya banyak hal pada ayahnya tentang keluarga Alea namun ia begitu takut jika diantara para pengawal ayahnya ada yang mengetahui keberadaan Alea. Tidak semua yang duduk semeja dengan kita akan setia satu sama lain.
Kepercayaan adalah harga termahal di dunia ini. Daniel dan ayahnya hanya membahas hal-hal yang berkaitan dengan negara. Mungkin ada waktu yang tepat keduanya membahas masalalu yang bisa memisahkan mereka.
...----------------...
Hari pelantikan telah tiba. Pengawalan di setiap sudut kediaman tuan Roy terlihat sangat ketat. Daniel berdiri di samping ayahnya yang bersiap berangkat ke gedung pertemuan para petinggi negara.
"Apakah aku sudah terlihat keren putraku?" tanya tuan Roy tampak tenang.
"Ayah tetap gagah dalam situasi apapun. Aku yakin ayah akan melalui setiap detilnya dengan penuh perhitungan yang mantap tapi ada yang harus ayah ketahui satu hal ayah", ucap Daniel terjedah sesaat.
"Apa itu nak?" tanya tuan Roy sebelum keluar dari kamarnya.
"Ayah sebentar lagi akan menjadi seorang kakek karena aku sudah menikah dan saat ini istriku sedang hamil. Maafkan aku ayah baru bisa memberitahumu sekarang", ucap Daniel.
Tuan Roy terpana dengan senyum bangga menatap putranya. Ia memegang lengan Daniel sambil mengatakan sesuatu. "Kenapa tidak menjemputnya? bukankah ini momen tepat untuk memperkenalkan menantuku pada semuanya?" ucap tuan Roy.
"Maaf ayah. Belum waktunya istriku memperkenalkan diri pada dunia karena resikonya sangat tinggi", ucap Daniel membuat sang ayah menatapnya rumit.
"Siapa istrimu Daniel?" tanya tuan Roy penasaran.
"Dia adalah putri dari....-" ucapan Daniel terhenti mana kala pintu diketuk oleh Peter yang langsung membuka pintu itu dengan cepat.
"Tuan, sudah saatnya kita berangkat", ucap Peter dengan sikap hormat.
"Nanti kita akan teruskan nak. Selamat menjadi seorang ayah", ucap tuan Roy lalu keluar dari kamarnya diikuti Daniel yang setia mendampingi ayahnya.
Mata Daniel tetap waspada menyapu di sekeliling nya. Sebagai agen rahasia FBI, Daniel memiliki insting yang sangat kuat dan terlatih untuk mendeteksi musuh. Ditambah lagi ponsel pintar yang memiliki aplikasi khusus untuk mendeteksi musuh menjadi mudah baginya untuk mengetahui situasi pelik sekalipun.
Daniel memperhatikan setiap orang yang berada di jalan raya menyambut presiden baru mereka. Walaupun penembak jitu ada di mana-mana namun Daniel masih saja merasa jika nyawa ayahnya masih terancam. Mobil terus melaju dengan kecepatan stabil. Tuan Roy melambaikan tangannya ke arah rakyatnya yang menggelar spanduk ucapan selamat padanya.
Daniel tersentak kala bunyi bip diponselnya sebagai tanda bahaya." Alihkan rutenya...!" titah Daniel pada sang sopir.
"Ada apa Daniel...?" tanya tuan Roy ikut cemas.
"Sepertinya ada yang ingin membunuh ayah dan itu adalah....putar balik....!" titah Daniel begitu geram pada sang sopir yang pura-pura budek.
"Maaf tuan....! saya harus mengikuti protokol kenegaraan", ucap sang sopir.
"Apakah kau ingin mati hah....?!" pekik Daniel langsung menodong pistolnya ke arah sang sopir yang langsung menginjak rem mendadak.
Tepat disaat itu, satu basoka meluncur ke arah mobil mereka membuat Daniel harus mengambil alih kemudi. Namun sebelumnya itu ia sudah menendang keluar sang sopir yang dianggapnya berkhianat. Mobil dimundur dengan cepat oleh Daniel. Mobil pengawal dibelakang mereka melakukan hal yang sama sehingga peluru basoka menghantam mobil pengawal yang ada di depannya.
Masyarakat berhamburan mencari perlindungan. Teriakan satu sama lain menjadi tontonan memilukan sang presiden. Daniel berhasil keluar dari jalur utama menuju gedung parlemen. Namun semuanya tidak sesuai ekspektasinya karena di jalur lain sudah ada yang siap menembaki mobil presiden dengan jarak aman.