Xeline pergi hanya meninggalkan sebuah pesan di WA
Bhima
Terimalah perjodohan dari orang tuamu.
Benar kata ibuku
aku tidak se worth it itu untuk dimiliki oleh seseorang
Semoga selalu bahagia bersama seseorang yang mencintaimu.
by Xeline NH
Trauma masa lalu Xeline membuat ia begitu yakin hal itu akan menarik Bhima pada kehidupan yang begitu gelap dan berantakan. Xeline memutuskan menjauh dari Bhima sejauh mungkin dari segala kenangan yang pernah membuatnya merasa hidup sekaligus hancur.
Bhima tetap disana. Menunggu dalam diam. Bertahun-tahun. Ia mencintai Xeline bukan dalam waktu sebentar. Ia juga tidak memberikan setengah. Cintanya utuh, meski ia ditinggalkan karena keinsecuran Xeline.
"Aku butuh kamu Xeline. Bukan kamu yang sempurna. Tapi kamu yang beserta pecahanmu yang berantakan. Aku hanya ingin kamu tetap disisiku. Selamanya bersamamu. Itulah janjiku padamu."
Akankah takdir bisa menyatukan kembali cinta mereka?
Happy Reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DUOELFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Gama membalas
Semua yang wa tadi itu Bhima. Bukan Aku
Duaaarrrrrr
Seperti terjadi ledakan besar di kepalanya. Kecurigaan Mara akhirnya terjawab. Semua chat di atas memang chat dari Bhima. Bukan Gama.
Mara membalas untuk meyakinkan diri bahwa semua adalah benar.
Benarkah?
Iya
Ketikan Gama begitu jelas di layar ponselnya. Terlihat ia begitu tegas atas apa yang dilakukannya.
Mara membalas wa Gama dengan rasa ingin tahu.
Mengapa bukan kamu yang membalas wa saya? Aku juga ingin tahu, kamu kenapa ngatain kata nyocot ke anak saya. Anak saya salah apa sama kamu mas?
Tadi yang bales chat kamu itu Bhima karena hp-ku dibawa oleh nya. Katanya dipinjam ternyata untuk balesi wa nya kamu
Balasan wa dari Gama membuat Mara tersulut emosi. Ia menatap kata kamu di chat yang dikirim oleh Bhima.
"Kamu. What's? Anak ini bilang ke orang yang lebih tua dengan kata kamu. Bukan dengan ibu, tante atau apalah sebutan untuk perempuan yang lebih tua? Aku merasa tidak habis pikir dengan sikap anak ini. Mengapa ia seakan tidak memiliki rasa sopan santun pada yang orang lebih tua. Begitu arogan," batin Mara.
Gama membalas lagi
Lha ndadak ngomong kayak gitu di wa. Tinggal bilang kalo nggak bisa datang, tinggal bilang saja nggak bisa dateng. Gitu aja kan sudah tho. Centil banget. Aku nggak ada masalah sama Xeline
"Centil? Hanya emoticon lucu gitu centil? Bukankah perempuan biasa bersikap centil bila ia sudah merasa nyaman di komunitasnya? Bukanlah wajar bila seorang bersikap centil? Apa sikap itu merugikan Gama? Nggak kan? Kenapa Gama begitu marah dengan perempuan centil dan memiliki sisi feminim? Apa perempuan di rumah Gama tidak ada yang menunjukkan feminim? Apa hidup kamu penuh dengan kesusahan hingga bila ada yang sedikit bahagia, kamu melihat dengan rasa tidak suka? Benarkah begitu? Ah, kasian sekali kamu Nak," batin Mara.
Perempuan itu kemudian mengirimkan tangkap layar chat yang ada kata nyocot disana
Gama membalas wa
Kenapa ini?
Balas Mara
Yang bilang nyocot ini siapa nak?
Gama membalas
Aku? Kenapa mbak?
"Ah, Gama memanggil dengan kata Mbak sekarang. Lumayan lebih sopan.Tapi whats? Kata-katanya yang atas, mengapa kasar sekali si Gama ini?" pikir Mara.
Ibu Xeline itu mengirim pesan
Kenapa kamu kok ngatain anak saya?
Pesan masuk
Nggak kenapa-napa
Membaca chat itu, kepala Mara serasa mau meledak.
"Astaga bocah ini," batin Mara.
Mara mengirim pesan
Nggak kenapa-napa kamu bilang? Enteng sekali.
Gama membalas
Iya
"Astaga ini bocah," ucap Mara mengelus dada.
Mara membalas
"Kalah nggak kenapa napa, apa alasanmu bilang nyocot ke anak saya?"
Gama membalas
Nggak ada
Mara membalas
Anakku salah apa sama kamu?
Pesan masuk dari Gama
Nggak ada
Mara membalas
Bila anakku tidak salah apa-apa, mengapa kamu mengatai anak saya?
Pesan masuk dari Gama
Tinggal ngomong saja, nggak bisa dateng kerja kelompok gitu ae, malah bilang kayak gitu. Mager nyoo. Kok ndadak drama
Drama?
Kata itu begitu menyulut emosi Mara.
Ibu Xeline mengirim pesan
Itu DRAMA menurutmu? Kirim lokasi rumahmu sekarang juga mas. Akan ku datangi rumahmu
Mara merasa greget banget sama ini bocah. Nggak ada sopan santunnya sama sekali pada orang yang lebih tua.
Pesan masuk dari Gama
Aku ngga di rumah sekarang
Mara membalas
Rumahmu mana nak?
Pesan masuk
jauh
Mara membalas
Sejauh jauhnya rumahmu pasti tetap di kota ini kan? Aku akan mengirim WA ke wali kelasmu untuk meminta alamat rumahmu
Mara mengirim pesan
Drama katamu? Kamu belum mengalami memiliki anak korban bullying yang hampir mati seperti aku rasanya seperti apa nak? Xeline masih bisa hidup saja, aku sudah bersyukur alhamdulillah. Info lokasi rumahmu ya mas Gama. Aku mau membuat drama sekalian di rumahmu. Biar orang tuamu tahu, kamu seperti apa bersikap pada orang tua temanmu. Jangan menantang orang tua yang anaknya memiliki trauma bullying ya. Nggak baik. Proses healing bullying lama lho. Konsultasi ke psikolog juga nggak mura. Sekali konsultasi mahal lho
Agak lama sekali hp Mara terdiam. Bhima yang berulang kali mengirim chat dari nomernya sendiri diabaikan oleh perempuan itu.
Tak lama kemudian Gama membalas
Sudah bu. Saya minta maaf Saya yang salah. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya
Mara membalas
Telat kamu Mas. Saya sudah nggak terima dengan perlakuan kamu. Share lok rumahmu sekarang juga cah bagus
Mara menatap langit rumahnya yang sederhana. Air mata menetes begitu deras dari kedua matanya membasahi pipi. Kepingan kenangan bullying mengenai Xeline dua tahun yang lalu saat di sekolah asrama seperti terputar kembali di depan matanya.
Mara mengambil ponsel dan mengirim pesan pada kakak kelasnya saat masih di putih abu-abu yang saat ini berprofesi sebagai seorang psikolog di kota Gudeg.
Mara mengirim sebuah pesan Mbak Iva
Mbak Iva, maaf mengganggu malam-malam. Anakku terkena bullying verbal saat ini?
Mbak Iva membalas
Benarkah itu dek? Cantikmu belum sembuh benar. Bagaimana keadaannya saat ini?
Marah membalas
Ia sedang tidur di kamar
Mbak Iva membalas
Dik,bagaimana bentuk bullyingnya dik
Mara membalas
by WA
Mbak Iva membalas
Reaksinya tadi saat ia membaca pesan itu gimana dik?
Mara membalas
Ia hanya diam saja dan masuk kamar hingga saat ini
Mbak Iva membalas
Dia sangat pemikir Dik. Aku harap dia bisa tidur nyenyak malam ini. Tolong jaga suhu tubuhnya malam ini. Jangan sampai kedinginan seperti biasa. Bila ada gejala sesak nafas pada malam hari, minumkan air hangat dengan perlahan dan coba minumkan vitamin B12. Bila memungkinkan latihan nafas untuk mengalami kegelisahan seperti biasa. Tolong jaga cantik dengan baik dik. Trauma pasca bullying itu sangat berat untuk orang yang pendiam dan pemikir seperti cantikmu itu. Dia yang dibully, dia yang merasakan kesakitan bullying seperti apa? Sakit baik dari segi fisik dan psikis, tapi dia juga harus yang memaafkan orang yang membully yang kadang tak pernah merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan. Dia akan selalu melawan dirinya sendiri, antara memaafkan atau memiliki dendam dalam hati dan pikirannya. Bila suatu saat dia tidak kuat melawan dirinya sendiri, dia akan difase ngedrop sekali. Efek ke tubuh setiap orang berbeda. Ada yang lemas, sesak nafas, tubuh lemah mulai hingga paling parah pingsan atau tidak sadarkan diri. Solusinya hanya dua. Biarkan dia tidur atau harus naik level dengan konsultasi ke psikiater yang biasanya akan memberi obat dengan dosis tertentu. Kamu tentu juga tahu resikonya bukan? Konsumsi obat dari psikiater berimbas pada kehilangan memori otak sedikit demi sedikit. Dia bahagia, tapi dia tidak ingat dengan masa lalunya sama sekali dan apa yang telah menyakitinya. Jangan biarkan ada bully lagi pada cantikmu dik. Dia masih begitu lemah. Dia belum dalam kondisi survival mode, fighting mode. Sedikit saja bully, ejekan atau apalah, dia bisa dalam kondisi sangat drop. Sering lemas dan pingsan. Jaga cantikmu baik-baik. Aku selalu berdoa untukmu dan cantik.
Mara membalas
Iya mbak
Mara meletakkan ponsel dengan lemah. Ia berjalan ke kamar Xeline untuk melihat kondisi anak perempuannya. Ia meraba dahi, terasa sedikit hangat. Ditutupinya tubuh itu dengan selimut dan bagian kaki ditindih dengan boneka agar tetap dalam kondisi hangat.
Mara kemudian duduk sendiri di sisi jendela. Malam yang gerimis, air mata yang menetas tiada henti, sepeda listrik yang masih dalam posisi lampu merah, tanda belum selesai mengisi daya, Kondisi Xeline yang begitu hangat saat ini, kadang berbeda jam dan bisa menjadi dingin membuat hatinya semakin luruh.
"Oh Tuhan tak seberguna inikah aku di kehidupan ini? Untuk mendatangi pembully anakku saja, aku tak mampu. Ibu macam apa aku ini,"ucap Marah lirih dalam keheningan malam.