Nayla Thalita Firliany 21 tahun, gadis cantik yang biasa di panggil Nayla ini merantau dari Riau ke ibu kota Jakarta untuk menuntut ilmu di salah satu kampus ternama.
Dan Naas Nayla harus kehilangan ke Virginan nya dalam sebuah insiden pemerkosaan saat ia tengah mabuk.
Karena pelaku bukan pria yang Nayla kenal, serta dirinya juga tidak hamil maka Nayla memilih melupakan kejadian itu dan menganggapnya sebagai mimpi buruk semata.
Namun beda halnya dengan Giovani Farmost 29 tahun, seorang Presdir sebuah perusahaan kontruksi yang merasa jika Nayla adalah takdirnya.
Gion panggilan dari Giovani menghalalkan segala cara untuk bisa membuat Nayla selalu di sisihnya
Namun kesalah pahaman yang terjadi di awal pertemuan mereka membuat keduanya tidak pernah akur. Terlebih Nayla yang tidak mencintai Gion membuat Gion selalu cemburu berlebihan.
Lalu apa yang akan terjadi pada kisah mereka berdua?
Simak kisah mereka selanjutnya dalam
I'M JUST FOR YOU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jujuk Aza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Nayla sudah ada di apartemen Gion tiga puluh menit yang lalu, ia menunggu dengan gelisah. Dalam hati ia berbisik, gak mungkin pria itu akan memperkosanya lagi kan? Karena Gion sediri sudah berjanji tidak akan melakukan hal itu jika Nayla tidak mengizinkannya.
Lalu apa yang akan dilakukan pria itu kepadanya? Kenapa dia memintanya datang sekarang? Nayla berargumentasi dengan pemikirannya sambil menunggu Gion yang belum datang.
Gadis itu, menekan bel yang ada disebelah kanan pintu berulang kali, tapi hasilnya tetep nihil, pintu masih tertutup rapat. Seperti tak ada orang disana. Membuat Ia sangat kesal sekali.
"Nih orang nyebelin banget sih!" Omelnya sambil mengendor-gedor pintu yang ada depannya, "Minta datang cepet-cepat, nyatanya sampai sini juga gak ada orang."
Masih dengan emosi, tangan gadis itu beralih merogoh-rogoh tas jinjing warna hitam yang sedari tadi ia bawa, mencari HP guna menelpon pemilik apartemen.
"Saya sudah ada di apartemen bapak, bapak ada dimana?" Tanya Nayla dengan nada marah begitu telpon sudah tersambung. Bahkan saking kesalnya sampai ia tidak mengucap salam terlebih dahulu..
"Iya tunggu, saya bentar lagi sampai" jawabnya penguasa informal.
"Saya sudah menunggu dari tadi," Nayla ngambek.
"Hallo, hallo, hallo..." Nayla sibuk hola-halo, hola-halo saat dirasa tak ada jawaban dari sebrang sana. Lalu ia kembali melihat HP-nya .
"Sial, telponnya malah dimatikan," Umpatnya marah begitu melihat panggilan sudah terputus secara sepihak.
"Nyebelin...!" Nayla menendang pintu yang ada di depannya dengan high heel yang ia kenakan.
"Ngapain kamu tendang-tendang pintu apartemen saya?!" teriak sebuah suara yang membuat Nayla memutar kepalanya kearah sumber bunyi berasal. Seorang pria tengah berjalan menghampiri dirinya dengan katung plastik putih ditangan.
Wajah Nayla memerah seketika, bagai pencuri yang ketangkap, Ia menunduk takut.
"Sory saya terlambat, soalnya mesti belanja dulu," Ujar sang pria menjelaskan tanpa diminta. Membuat Nayla kembali menatap wajah sang Presdir.
"Nih!," Lelaki itu memberikan kantong plastik yang dibawanya pada Nayla, kemudian pria itu memasukkan kode untuk membuka pintu apartemen.
"Ayo masuk!" perintah Gion pada Nayla, saat apartemen sudah terbuka.
"Kamu bisa masak kan?" Tanya Gion begitu mereka sudah ada di ruang tamu, kombinasi warna putih dan grey.
Pria itu mengamati wajah Nayla dengan seksama meminta jawaban dari pertanyaan barusan.
"Bisa, sedikit," Jawab Nayla agak ragu.
Dirinya memang bisa masak, tapi cuma untuk kalangan sendiri saja. Ia, Faya, keluarga dan keluarga bibinya, selebihnya Nayla tidak pernah memasak untuk orang lain.
"Sekarang tugas kamu masakkan saya menu makan siang, dengan belanjaan yang kamu bawa itu!" perintah Gion sambil mengarahkan pandangan matanya pada plastik yang Nayla bawa.
Nayla mengaguk setuju. Karena ia tahu Gion tidak mau dibantah, bahkan tertulis jelas di perjanjian mereka tidak menerima penolakan. Gila gak tuh si Gion, Kayaknya dia emang sengaja mau mengimindasi anak orang deh.
Tidak banyak komentar, Nayla meminta ditunjukkan dapur, tempat ia akan melakukan eksekusi dadakan.
Setelah memenuhi permintaan dirinya. Gion meninggalkan Nayla begitu saja di dapur berwarna putih yang sangat kinclong mirip iklan so klin lantai yang ada di TV.
Dapur Gion sangat bagus, dengan peralatan masak yang mewah. berbeda 180 derajat dengan dapur Nayla di kost.
Berada di dapur sebagus ini, tentu membuat Nayla betah berlama-lama saat memasak.
*
*
*
*
Gion
Setelah mengantarkan Nayla ke dapur Gion pergi ke kamar untuk membersihkan diri, dan mengganti setelan jasnya dengan baju santai.
Ia memang sengaja tidak akan kembali ke kantor setelah ini, tak perduli dengan pekerjaannya yang masih menumpuk. Sekarang ia hanya ingin bersantai bersama budak kecilnya.
Kembali ke dapur, lalu menarik sebuah kursi di bar pantry dan menjatuhkan tubuhnya disana. Mata tajamnya mengamati gerak-gerik Nayla yang sedang memasak menu makan siang.
Dilihat dari sisi manapun, Gion tidak habis pikir, kenapa gadis secantik dan selugu Nayla bisa menjual diri kepada pria hidung belang seperti dirinya.
Nayla gadis yang cantik menurut nya, meski tidak secantik artis-artis ibu kota atau pun wanita yang sering Gion kencani, namun kecantikan Nayla terlihat sangat alami.
Kulitnya putih bersih dan halus, matanya bulat hitam dan jernih, terlihat seperti mata boneka. Dipadukan dengan hidung mancung dan bibir mungil yang penuh membuat dia terlihat sempurna.
Jika Nayla tersenyum, pipinya akan terlihat mengembung dan menjadi chubby, dengan poni yang selalu menutup rata dahinya membuat gadis itu terlihat begitu imut layaknya anak balita. Kadang Gion ingin sekali mencubit pipi itu saking gemasnya.
Tubuhnya sedikit kurus, mungkin beratnya sekitar 41 kg dengan tinggi kira-kira 158 cm. Tapi Nayla mempunyai bentuk tubuh yang indah. Dia memiliki Leher yang jenjang mengoda, ****** bulat berisi dan dada yang lumayan. Tidak terlampau besar, tapi tidak terlalu kecil. Ukuran begitu pas dalam remasan tangan Gion. Menurut dirinya dada dan ****** Nayla pas sesuai seleranya. Begitu sangat mengoda.
Gion tahu semua tentang gadis itu, karena ia pernah memegang dan melihat bentuknya hehehe...
Mesti Nayla selalu mengunakan pakaian yang agak longgar untuk menyembunyikan lekuk tubuhnya dari mata keranjang para lelaki. Tapi Gion tidak pernah tertipu dengan persembunyian itu.
Pertama kali bertemu, saat di kamar hotel malam itu, Gion agak ragu jika gadis sepolos Nayla menyerahkan keperawannya hanya demi rupiah. Namun sebagai pria normal seperti dirinya, mendapat pelukan dan ciuman bertubi-tubi penuh napsu dari seorang wanita cantik, tentu membuat pertahannya jebol juga. Apalagi Gion memang sudah lebih dari tiga bulan lamanya tidak menyentuh makhluk yang berjenis kelamin perempuan.
Apalagi yang setatusnya masih gadis perawan, malah sama sekali tidak pernah. Semua wanita yang Gion kencani maupun yang ia ajak bercinta sudah tidak ada yang perawan lagi. Malah dirinya sempat berfikir, kalau para gadis di Jakarta ini tidak ada yang virgin, kecuali mereka yang masih belia atau mungkin anak-anak. Sadis kan, agak gila mungkin, tapi itu lah kenyataanya.
Gion sudah mengenal berbagai jenis wanita, mulai dari yang rela menyerahkan diri mereka begitu saja, sampai yang memang benar-benar ia cintai. Dan Nayla termasuk jenis yang mana Gion sama sekali tidak tahu.
Mungkin, Nayla termasuk salah satu dari wanita yang rela melakukan apa saja demi uang? Atau dia tipe wanita-wanita yang sering ia temuin di club-club malam? Para wanita yang menjual dirinya hanya demi menyambung hidup?
Tentu saja itu tidak mungkin. Karena Gion tahu Nayla keponakanya Adam. Dan ia juga tahu bagaiman sosok Adam sebenarnya. Adam bukan lelaki miskin apa lagi pelit.
Meski penampilan Nayla sangat bersahaja, namun gadis itu mampu menunjukkan jika dia tidak pernah kekurangan uang.
Lalu kenapa Nayla melakukan itu semua? Untuk apa? Mungkinkah Nayla termasuk salah satu gadis penganut sek bebas? Para gadis yang melakukan hubungan intim hanya untuk kesenangan sesaat? Itu juga tidak mungkin, karena malam itu jelas dia masih virgin. Gion jadi bingung sendiri karena tidak menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang hinggap di otaknya. Apa sebenarnya yang bisa membuat Nayla jadi p*lacur begitu? Pikir Gion lagi.
"Kenapa bapak menatap saya seperti itu?" tanya Nayla.
Merasa tidak nyaman saat mendapati Gion melihatnya sampai mupeng, yang membuat dia merasa risih. Gadis itu kini sudah berjalan mendekati Gion untuk menaruh beberapa lauk di meja depan dirinya.
"Eh, emm, siapa juga yang menatap kamu?"Gion yang merasa ke-gep karena ketahuan mengamatin orang diam-diam mencoba ngeles.
Nayla tersenyum, "Sudah ketahun masih ngeles juga, gak gentel banget sih," Bisiknya pelan.
"Siapa yang gak gentel? Sorry yah? Saya mah tipe orang yang bertanggung jawab," Gion nge-gas.
Merasa tidak terima dijatuhkan begitu saja oleh gadis biasa seperti Nayla.
"Nah kalau begitu kenapa bapak tidak bertanggung jawab? Padahal sudah ketahuan juga?" tantang Nayla,
Kini mulai berani melawan Gion, karena sedari tadi sang bos selalu selalu berbicara informal padanya.
"Kenapa saya harus bertanggung jawab? Kan kamu juga tidak hamil, kok saya suruh tangung jawab segala?"
Nayla melotot sempurna, kaget, mendengar jawaban Gion yang tidak masuk akal.
"Yang nyuruh bapak tangung jawab karena saya hamil itu siap? Saya kan cuma nyuruh bapak ngakuin kalau bapak itu lagi melototi body saya yang seksi nan cantik bak bidadari dari surga ini!" Ujarnya penuh penekanan dan kekesalan, "Dasar pria mesum, lihat cewek cantik dikit saja langsung melotot sambil mikir yang gak-gak," omel Nayla pelan.
Gion tersenyum sinis mendengar ucapan Nayla, "emang kamu cantik? Pede amat sih jadi orang? Bodi kayak papan gilesan gitu bilang cantik. Bodi triplek, hak anget kalau dipeluk, semua ukurannya serba kecil," balas Gion tak mau kalah.
''Biar begitu nyatanya bapak melototi tubuh saya sambil mupeng, gak mau kedip," pepet Nayla tak mau menyerah.
"Saya cuma mikir saja, mesti tuhan pas nyiptain kamu itu lagi kehabisan bahan baku, jadi hasilnya serba kekurangan gitu. Kurang gemuk, kurang tinggi, kurang cantik, kurang menarik, kurang pinter, kurang ajar pula."
Nayla yang merasa dihina habis-habisan mengepalkan tangannya penuh emosi.
"Mau apa loh? Mau mukul saya? Coba saja kalau berani? Macem-macem sama saya, aku perkosa lagi nanti!" tantang Gion sambil menatap wajah Nayla yang sudah memerah, ia pengen tahu bagaiman reaksi cewek itu kalau sedang marah.
Akhirnya, 'Bhug!' Nayla memukul bahu Gion dengan centong nasi yang dia pegang.
"Apa-apaan sih kamu? Mukul saya pakai centong nasi? Gak sopan tahu?" Bentak Gion sarkas, seraya berkacak pinggang, "Kamu mau saya masukin penjara lagi ya? Dengan tuntutan penganiayaan terhadap majikan?" tanyanya sambil marah.
"Itu semua juga gara-gara bapak, yang bikin saya emosi," Nayla berkacak pinggang juga.
"Bagaimana pun juga kamu tetep salah, mana ada sejarahnya budak kurang ajar sama tuannya."
"Ada, saya bakal bikin sejarah baru, kenapa? tidak boleh?" Nayla masih tak mau kalah.
"Kamu ini ya, makin lama makin kurang ajar. Nyesel tahu gak saya bebasin kamu dari penjara kemarin!" Bentak Gion.
Pertengkaran mereka terhenti ketika HP Nayla berbunyi. Dengan cepat cewek itu mencari HP dari dalam tas yang dia letakan di atas meja makan, dan mengangkat panggilan itu.
Gion mengamati dengan seksama. Tidak mau melewatkan kejadian itu. Ia berjalan mendekati Nayla yang sedang menerima telpon sambil menghadap kearah dirinya.
Melihat Gion yang maju mendekati dia, Nayla melangkah mundur. Mundur terus, mundur hingga langkah nya terhenti karena punggungnya membentur meja makan. Gion yang terus maju membuat jarak mereka hanya beberapa senti saja.
Melihat sang pria yang begitu dekat membuat Nayla mendada jadi salting. Wajahnya memerah, hingga gadis itu membuang wajahnya kesampaian guna memutus kontak mata mereka berdua.
Sedang Gion, yang tak ingin waktunya dengan sang gadis terganggu, maka ia mengambil HP itu dari tangan Nayla secara paksa dan mematikan panggilan itu secara sepihak kemudian menaruh benda pipih milik cewek itu ke atas meja. Lalu mengukung Nayla dengan kedua tangannya.
Melihat perbuatan Gion yang semena-mena, Nayla kembali menatap wajah Gion lagi, mencoba protes.
Tapi niat itu seketika terhenti karena tatapan tajam mata Gion langsung melesat pada manik mata Nayla, seraya berkata, "Tugas kamu belum selesai jadi jangan coba-coba kabur dari hadapan saya," Ujar Gion pelan tapi tegas, "Dan perlu kamu ingat, kamu adalah budak serta wanita saya, jadi yang boleh nyuruh kamu cuma saya!," Tegas Gion.
Nayla mengerjapkan matanya lucu, tanda dia mencoba mencerna ucapan Gion. Membuat ia menjadi gemas oleh gadis itu. Hingga tak tahan lagi. Gion mengangkat dagu Nayla lalu mencium bibir pink mengoda itu. ******* habis tanpa memberi ampun pemiliknya.
Seketika Nayla mendorong tubuh Gion kuat- kuat hingga ciuman mereka terlepas.
Reflek gadis itu mengelap mulutnya dengan punggung tangan lalu, "Apa-apaan ini? kenapa bapak nyium saya segala?" tanya setengah berteriak, tanda jika dia marah atas perlakuan Gion.
"Itu tugas kedua kamu. Kamu harus ngasih ciuman ke saya sebagai makan pembuka dan penutup, dan satu hal lagi, saat kita hanya berdua seperti ini, kamu dilarang bicara mengunakan bahas Formal, Paham!"
Nayla mengercap-gercap matanya lucu tanda otaknya lagi berfikir.
"Gila, Aturan macam apa itu?" tanya Nayla, saat Gion sudah kembali duduk.
Namun ia tidak berniat untuk menjawab. Gion meminta Nayla duduk disebelahnya guna menemani makan, mesti Nayla masih cemberut tapi ia sama sekali tidak perduli.
Sehabis makan siang Gion tidak mengijinkan Nayla kembali kekantor, dan ia meminta gadis itu untuk menghubungi salah satu temannya guna meminta izin bahwa dia tidak bisa kembali ke kantor.
Gion meminta Nayla menemaninya bekerja di rumah. Karena Nayla sendiri tidak dapat membantu pekerjaannya, maka ia hanya menyuruh gadis itu tiduran di sofa yang ada pada ruang kerjanya. Yang penting mata Gion dapat melihat gadis itu, begitu saja sudah cukup baginya.
Mulanya Nayla asik bermain ponsel, namun lama-kelamaan gadis itu tertidur juga. Melihat posisi tidur gadisnya yang tidak nyaman, Gion memindahkan tubuh gadis itu ke kamar tidur pribadinya.
Menjelang waktu sholat magrib Nayla baru bangun, dan langsung ngomel karena Gion tidak membangukan dirinya sehingga membuat dia melewatkan sholat Asyar. Sekilas membuat ia heran tapi kemudian Gion tersenyum senang. Setelah makan malam baru Nayla diantara pulang ke kost.
*
*
*
*
Jangan lupa
like
komen
dan bagi 🌷