Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tak Mau Menyakitinya
"Tentu. Aku akan membantumu. Senin pagi, aku akan membawa pengacara terbaik yang akan mengurus perceraianmu." Radit tak mau munafik, di balik kesedihan Tasya, ia merasa amat bahagia karena Tasya akhirnya yakin untuk bercerai setelah beberapa waktu lalu selalu galau. "Sya, aku akan menemanimu. Kita lewati semua ini bersama-sama ya."
"Terima kasih, Dit." Tasya mengakhiri panggilannya. Ia menatap sekeliling rumah kontrakannya yang kosong, seperti hatinya saat ini.
.
.
.
Setyo tersenyum lebar. Ia lelah namun merasa puas karena gairahnya sudah terpuaskan. "Kamu benar-benar luar biasa, Sis. Ini adalah percintaan terpanas yang pernah kulakukan. Kamu... hebat!"
Sisca tersenyum puas. Ia merapatkan tubuh polosnya ke tubuh Setyo. Dengan nakal, jari telunjuknya menelusuri dada polos Setyo. "Aku anggap ini pujian, Mas. Benar yang kukatakan bukan, Mas Setyo itu... hebat di atas ranjang," kata Siska dengan suara yang dibuat sangat menggoda.
Setyo tertawa lepas. "Ha... ha... ha... aku akui, penilaianmu tak salah. Aku hanya kurang percaya diri. Berkatmu, kepercayaan diriku kembali lagi. Terima kasih ya."
Sayangnya, tawa lepas Setyo tak bertahan lama. Ibu Welas yang baru pulang shopping, langsung menuju kamar Setyo untuk menunjukkan apa yang ia beli. Ia mendengar suara Setyo tertawa lepas, tawa yang sudah lama tak ia dengar sejak anaknya kecelakaan.
Karena penasaran, Ibu Welas membuka pintu yang tidak ditutup sepenuhnya. Betapa terkejutnya Ibu Welas saat melihat putranya sedang memeluk Siska, keduanya nampak tanpa sehelai benang.
Terlalu terkejut, Ibu Welas mematung di depan pintu. Tas belanja yang ia ingin pamerkan pada Setyo seolah terlepas sendiri dari tangannya, disusul suara botol parfum mahal yang pecah. Matanya melotot tajam, hampir keluar dari tempatnya.
"Tyo... Siska... apa yang kalian lakukan?" jerit Ibu Welas dengan suara melengking kencang yang sanggup membuat seisi rumah keluar dari kamarnya.
Setyo dan Siska tersentak kaget. Dengan panik, Setyo menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sementara Siska yang berpura-pura terkejut cepat-cepat memungut pakaiannya yang berserakan lalu memakainya.
"I-ibu? I-ini... tidak seperti yang Ibu pikirkan," kata Setyo dengan tergagap.
"Tidak seperti yang Ibu pikirkan bagaimana? Kamu pikir Ibu buta dan tidak bisa melihat apa yang telah kalian lakukan?" Ibu Welas mengusap wajahnya dengan kasar lalu bertolak pinggang. "Gila, apa yang kalian lakukan benar-benar gila!"
"Aku bisa jelaskan, Bu-"
Ibu Welas memotong ucapan Setyo. "Apa yang mau kamu jelaskan, hah? Baru saja istrimu pergi dari rumah ini, kamu sudah main gila, dengan keponakan Ibu pula!"
"Tante... jangan marahi Mas Setyo, aku mohon." Dengan memelas, Sisca berusaha membela Setyo. "Mas Setyo hanya putus asa."
"Dan Sisca hanya membantuku, Bu." Setyo mengamini ucapan Sisca.
"Putus asa?" Kening Ibu Welas berkerut. "Karena ditinggal istrimu yang durhaka itu, hah?"
"Bukan hanya karena itu, Tante." Sisca mewakili Setyo menjawab. "Tapi karena ucapan Mbak Tasya yang telah melukai hati dan perasaan Mas Setyo."
Mendengar Tasya melukai anaknya, Ibu Welas yang sudah kadung membenci menantunya tersebut kini beralih, dari kecewa karena memergoki Setyo dan Siska bermesraan menjadi emosi karena menantu yang ia benci berani menghina anak kesayangannya. "Apa yang wanita sialan itu katakan?"
Sisca dan Setyo saling tatap. Sisca mengangguk, seakan menyakini Setyo untuk berani berkata jujur. "Tasya... kesepian karena semenjak kecelakaan aku menjadi... impoten."
"Hah? Impoten?" Ibu Welas tak tahu kalau Setyo menjadi impoten. Ia pikir, Setyo hanya perlu terapi agar bisa jalan kembali, namun efek kecelakaan yang putranya rasakan lebih parah dari dugaannya. "Lalu dia... menghinamu?"
"Tidak secara langsung, Tante." Sisca cepat menyambar. "Ia membuat Mas Setyo makin rendah diri. Aku... begini... kami maksudnya... melakukan hal ini karena ingin menyembuhkan penyakit Mas Setyo. Tante... jangan salah paham."
Ibu Welas mengipasi wajahnya dengan telapak tangannya. Semua ini masih ia cerna. Anaknya impoten, menantunya menghinanya lalu anak dan keponakannya melakukan hal itu demi menyebutkan impoten yang dialami. Gila. Ia memang merestui Sisca jadi menantunya tapi bukan dengan cara segila ini. Ia ingin Setyo menceraikan Tasya dahulu baru menikah dengan Sisca secara baik-baik. Itulah mengapa ia mendekatkan mereka berdua agar benih cinta itu tumbuh di antara keduanya.
"Apa yang Sisca katakan benar, Bu." Setyo angkat bicara. "Aku tidak percaya diri saat melakukan hal itu dengan Tasya. Akhirnya aku... menyerah, tak bisa. Wajah Tasya yang kecewa tak bisa ia sembunyikan. Aku sudah mengajaknya berhubungan lagi tapi ia selalu menghindar dengan alasan aku masih sakit. Aku tak punya kepercayaan diri lagi, Bu. Beruntung ada Sisca yang membantuku. Dengan Sisca... aku normal. Aku baik-baik saja."
Mendengar cerita sang anak, rasa benci Ibu Welas terhadap Tasya semakin bertambah. Menantunya yang suka melawan itu sudah berani menghina anaknya, artinya menghinanya juga.
"Siska, keluarlah dari kamar Setyo!" perintah Ibu Welas.
"Tapi Tante-"
"Turuti Tante. Biar Tante memikirkan jalan keluar atas masalah ini." Ibu Welas menunggu sampai Sisca pergi lalu menutup pintu dan berbicara serius dengan Setyo.
"Ibu mau, kamu ceraikan Tasya dan nikahi Sisca. Ibu tak mau orang tua Sisca tahu apa yang sudah terjadi. Bisa malu Ibu nanti!" perintah Ibu Welas.
"Cerai? Aku tak mau bercerai, Bu. Aku justru sedang berusaha menyembuhkan diriku agar rumah tanggaku dengan Tasya kembali harmonis. Aku tidak mau menikahi-"
"Cukup!" Ibu Welas memotong ucapan Setyo. "Keputusan Ibu sudah bulat. Nikahi Sisca setelah kamu menceraikan Tasya. Tak ada nego lagi."
.
.
.
Sesuai janji, senin pagi Radit membawakan seorang pengacara untuk membantu Tasya memproses gugatan cerainya. Pak Dino, pengacara yang Radit sewa, berpenampilan agak nyentrik, dengan jaket kulit dan celana jeans, lebih tampak bak rocker dibanding pengacara hebat.
"Pagi, Ibu Tasya," sapa Pak Dino.
"Pagi, Pak," balas Tasya.
"Saya Dino, yang akan menjadi pengacara Ibu Tasya." Pak Dino menyerahkan kartu namanya, tertera kantor hukum tempat ia bekerja, bernaung di bawah kantor hukum milik salah satu pengacara kondang di tanah air.
Tasya menatap Radit dengan tatapan gelisah. Ia tak punya uang untuk membayar biaya pengacara, untuk pengobatan Dicky saja masih dibantu Radit. Seakan tahu apa yang Tasya khawatirkan, Radit mengangguk sambil tersenyum menenangkan.
"Pak Radit sudah cerita tentang masalah keretakan rumah tangga Ibu Tasya." Pak Dino langsung ke pokok pembahasan. "Selain mertua yang suka ikut campur urusan rumah tangga juga sikap suami Ibu Tasya yang berubah sejak kecelakaan terjadi 2 bulan lalu. Apa ada alasan kuat lain yang membuat Ibu Tasya bersikeras mengajukan cerai?"
"Ada, Pak." Barang bukti video perselingkuhan Setyo dan Sisca pun Tasya serahkan.
Radit ikut melihat video yang Tasya berikan pada Pak Dino. Matanya hampir saja meloncat keluar dari tempatnya. "Gila! Berani sekali mereka!" umpat Radit.
Tasya menatap Radit dengan tatapan tajam. Bukannya berhenti, Radit malah terus berkomentar. "Mereka melakukannya di rumah mertuamu, Sya? Wah, edan!"
Tasya menatap Radit dengan sebal. Radit seakan lupa kalau mereka juga melakukan hal yang sama.
"Barang bukti ini cukup untuk memenangkan persidangan." Pak Dino tersenyum puas. Tasya memiliki kartu As untuk memenangkan persidangan. "Dengan bukti ini, Ibu Tasya bisa mendapatkan harta gono gini dan hak asuh anak, suamimu pasti tak akan berkutik."
"Tapi aku tak mau barang bukti itu dikeluarkan di persidangan, Pak," kata Tasya dengan penuh keyakinan.
Radit dan Pak Dino menatap Tasya dengan heran. "Kenapa, Sya? Bukankah bukti itu adalah kartu As untuk memenangkan persidangan?" tanya Radit.
"Aku tak mau mempermalukannya di depan umum. Pak, tolong lakukan dengan cara lain. Cara yang tidak menyakitinya." Tasya menatap Pak Dino dengan tatapan memohon. "Aku... tak mau menyakitinya, Pak. Bisakah Bapak memenuhi permintaanku ini?"
****
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
ehhhh siapa tuh cewek ujug2 minta transferan
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
apakah itu Radit yg datang yaaa uhhhh.makin panas dong
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
dicky tentu kau sangat menyayangi papamu...
Sisca kesempatan terus ngompor2in Setyo
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️