NovelToon NovelToon
Balas Dendam Suamiku!

Balas Dendam Suamiku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pelakor / Keluarga / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dya Veel

Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
​Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.

Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ryan

Kalimat Ryan yang terdengar ringan namun tulus itu justru membuat pertahanan Arini runtuh. Isak tangisnya yang tadinya meledak kini perlahan mereda, menyisakan napas yang tersengal di tengah udara yang kian membeku.

Dengan jemari yang memucat karena dingin, ia menyeka sisa air mata di pipinya, merasa canggung karena tertangkap dalam kondisi paling rapuh oleh sosok dari masa lalunya.

​Ryan tetap diam di sampingnya.

Ia membiarkan kesunyian pemakaman Zorgvlied menjadi saksi, hanya suara deru angin musim dingin yang sesekali lewat di antara nisan-nisan tua.

​"Bagaimana kamu bisa tahu aku di sini?" suara Arini terdengar serak, nyaris tenggelam oleh angin.

​Ryan mengalihkan pandangannya ke arah nisan ganda itu dengan tatapan sendu. "Aku rutin ke sini, Arini. Setidaknya sebulan sekal,"

"Selama aku menetap di Amsterdam, Papa dan Mamamu sudah seperti orang tuaku sendiri. Menjaga tempat peristirahat mereka tetap asri adalah caraku berterima kasih."

​Arini terpaku. Matanya tertuju pada buket melati yang dibawa Ryan. Di tengah musim dingin yang menggigit seperti ini, menemukan bunga kesukaan ibunya itu bukanlah perkara mudah.

Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya, menyadari bahwa saat ia sibuk menderita dalam pernikahan yang kelam di Jakarta, ada orang lain yang justru merawat kenangan keluarganya di sini.

​"Terima kasih, Ryan... Aku tidak menyangka kamu melakukan semua ini," bisik Arini lirih.

​Ryan menghela napas, uap putih mengepul dari bibirnya. Ia menoleh, menatap Arini dengan tatapan yang sulit diartikan.

​"Aku sempat mendengar ucapanmu tadi. Soal janji, soal pernikahan yang kandas," Ryan menjeda, suaranya kini lebih berat.

"Dengar, Arini. Menyerah pada sesuatu yang memang sudah hancur bukan berarti kamu gagal. Itu artinya kamu cukup berani untuk berhenti menyakiti diri sendiri."

​Arini tertunduk, merapatkan jaket pemberian Ryan yang masih menyimpan aroma sandalwood yang menenangkan. "Tapi aku merasa seperti pecundang, Ryan. Aku pulang tanpa membawa apa-apa selain luka."

​Ryan terkekeh pelan, sebuah tawa tipis yang entah bagaimana berhasil mencairkan suasana. Ia bangkit berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya ke hadapan Arini.

​"Pulang dengan luka itu manusiawi. Amsterdam punya caranya sendiri untuk menyembuhkanmu perlahan. Lagipula..."

Ryan tersenyum, "sekarang kamu tidak perlu menghadapi semuanya sendirian lagi,"

"Ayo, suhu mulai turun. Kamu tidak boleh jatuh sakit di hari pertama kepulanganmu."

​Arini menatap uluran tangan itu cukup lama sebelum akhirnya menyambutnya. Dengan lembut, Ryan membantu Arini berdiri, menopangnya agar tidak goyah di atas jalan setapak yang licin.

​"Vino menungguku di depan," gumam Arini pelan saat mereka mulai melangkah.

​"Aku tahu. Aku sudah bertegur sapa dengannya tadi," sahut Ryan tenang.

"Aku antar kamu sampai mobil. Dan tolong, kali ini jangan menghilang lagi tanpa kabar. Masih banyak cerita yang harus kita selesaikan."

​Sambil berjalan berdampingan menuju gerbang, Arini menoleh sekali lagi ke arah makam orang tuanya.

Ryan melirik wanita di sampingnya itu. Ia berdehem sejenak, mencoba mencairkan suasa a sebelum akan bertanya kembali pada wanita itu.

"Besok rabu, kamu free?"

Arini menoleh cepat, "Ya, sepertinya. Lagi pula aku juga tidak tahu harus pergi kemana saja selama disini, huft,"

"Okay, Rabu pagi aku jemput di rumah kamu. Jam sembilan ya," ucap laki-laki dengan mata biru itu.

"Ya, sampai jumpa besok!"

Begitu sampai di depan gerbang pemakaman, Arini melambaikan tangannya kepada Ryan sebelum akhirnya menjauh dan menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan pemakaman.

Ryan memperhatikan punggung Arini yang semakin menjauh. Ia sejujurnya khawatir dengan wanita itu. Sudah 15 tahun berlalu, dan kini mereka sudah tumbuh menjadi orang dewasa.

Banyak yang berubah dari teman lamanya itu, sorot matanya tampak lelah. Tubuhnya lebih kurus, dan senyumannya terlihat sendu. Ada banyak hal yang ini Ryan tanyakan kepada wanita itu. Namun ia rasa ini bukan waktu yang tepat.

Apalagi setelah melihat Arini yang sebelumnya terlihat rapuh di depan makam kedua orang tuanya, sepertinya wanita itu sedang menanggung banyak beban pada dirinya sendiri.

...****************...

Jakarta, Indonesia

Menjelang sore sebuah siaran langsung dari stasiun televisi memberikan informasi terbaru terkait dunia hiburan yang akhir-akhir ini sedang tidak baik-baik saja.

Seorang presenter duduk diatas kursinya sembari membawa secarik kertas yang sudah tertulis runtutan berita yang akan ia bawakan dari sore ini hingga menjelang makan malam nanti.

"Kabar mengejutkan datang dari aktor sekaligus pengusaha muda, Adrian. Setelah beberapa pekan bungkam mengenai keretakan rumah tangganya, pagi ini beredar foto-foto mesra dirinya bersama seorang model pendatang baru, di sebuah resor mewah di Bali," suara presenter itu memecah kesunyian apartemen yang dingin.

​Di layar televisi, terpampang jelas foto Adrian yang tengah merangkul pinggang Erina dengan protektif.

Keduanya tampak tertawa lepas, seolah dunia hanya milik mereka berdua, tanpa peduli pada badai yang mereka tinggalkan di Jakarta.

​"Hingga saat ini, Arini, sang istri sah, diketahui belum memberikan pernyataan resmi dan dikabarkan sedang berada di luar negeri untuk menenangkan diri," lanjut sang presenter.

Adrian mematikan televisi dengan kasar menggunakan remote. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kerja, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.

Di hadapannya, Erina duduk dengan santai sembari menyesap kopi mahal, seolah berita yang baru saja tayang adalah prestasi, bukan skandal.

​"Kamu lihat, Adrian? Publik akhirnya tahu. Kenapa harus sembunyi-sembunyi kalau kita bisa sebahagia ini?" Erina berucap manja, matanya berbinar menatap Adrian.

Pria itu merasa emosi mendengar ucapan gadis itu. "Mudah sekali kamu mengatakannya, apa kamu tidak sadad bahwa karir dan pendidikan kamu juga dipertaruhkan dalam masalah ini?"

"Jika Arini sudah menceraikan saya, bukan hanya saya yang hancur. Tapi kamu juga, Erina!"

Gadis itu mencibir, "Bahkan jika Arini menceraikan kamu, kamu masih punya aset. Kamu tidak akan jatuh miskin!"

"Lagi pula apa yang diambil oleh Arini itu memang hak-nya, bukan?"

"kamu masih punya perusahaan, dan masih ada agensi yang ingin memperjuangkan karir kamu Adrian, buka mata kamu!"

Erina menatap laki-laki itu dengan mata tajam. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi dan berpangku tangan, "Apa jangan-jangan, kamu sudah jatuh cinta dengan wanita itu?"

Adrian tertegun sejenak. Sementara Erina masih menatapnya tajam, seolah meminta jawaban dari Adrian.

"Jadi, kamu ngga bisa jawab?"

Erina akhirnya beranjak dari kursinya, ia lalu meraih tasnya dan berjalan mendekat kearah Adrian.

"Ya, sepertinya memang kedatangan aku sejak awal disini sudah salah."

"Silahkan kejar istrimu itu, Adrian."

Begitu selesai berbicara, Erina lantas meninggalkan ruangan itu dengan berat hati. Menyisakan Adrian seorang diri disana, terhanyut dalam isi kepalanya sendiri.

Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya, Arini baru saja terbangun oleh cahaya matahari musim dingin yang menembus celah jendela kamarnya.

Tidak ada lagi teriakan Adrian, tidak ada lagi aroma parfum wanita lain di jas suaminya, dan tidak ada lagi rasa sesak yang menghimpit dada.

​Ia meraih ponselnya yang sempat mati selama dua hari ini. Ratusan notifikasi masuk, termasuk berita tentang Adrian dan Erina yang sudah menjadi konsumsi publik.

​Dulu, melihat foto itu mungkin akan membuatnya pingsan. Namun pagi ini, sambil menatap langit Amsterdam yang biru pucat, Arini hanya tersenyum tipis.

Ia teringat ucapan Ryan kemarin, “Menyerah pada sesuatu yang memang sudah hancur bukan berarti kamu gagal.”

​Tepat jam sembilan pagi, bunyi klakson mobil terdengar dari depan rumahnya. Arini bangkit, memoleskan sedikit lipbalm untuk menutupi bibirnya yang pucat, dan mengambil syalnya.

​Di bawah sana, Ryan sudah berdiri menyandar pada mobilnya, mengenakan turtleneck hitam dan mantel panjang. Ia melambaikan tangan begitu melihat Arini keluar.

​"Sudah siap memulai terapi hari ini?" tanya Ryan hangat.

​Arini mengangguk mantap. "Ke mana kita hari ini?"

​"Ke tempat di mana kamu bisa lupa kalau Jakarta itu pernah ada," jawab Ryan tulus sembari membukakan pintu mobil untuknya.

1
Allea
laaa yg selingkuh si andrian kenapa u yg takut arini 😄
stela aza
lanjut thor langsung 3 bab
Ariany Sudjana
semangat Ryan, jangan diam saja, nanti Arini diambil orang lho
lovina
cerita bgni pasti balikan lg. sok kuat tp lemah, cerita pasaran ini akan sm aja dgn cerita lainnya mana mampu author buat beda, kalau hasil imajinasi sndiri pasti beda tp kalau taulah pasti bakal sama, cerita ini kek hanya ganti nama pemeran sj...membosankan ketika ceritanya di buat ribet pdhl konfliknya ringan,
...: manusia bego
total 2 replies
Ariany Sudjana
biarkan saja laki-laki pecundang seperti Adrian, kamu kejar kebahagiaan kamu sendiri Arini
kriwil
pertama tama colok mata nya si elang lalu si andrian 🙄
ig@__02chani: halo kakak 🙋🏻‍♀️ salam kenal.. jika berkenan & suka novel nuansa korea yg santai & humoris boleh mampir jg di novel "Chef Do", saya up tiap hari kak, terima kasih🙏🏻👍
total 1 replies
kriwil
wong tingal jawab ae kok ribet to arini ,malah kesan nya km itu kayak gundik nya🤣
kriwil
fokus cuma diam sampai memuji si gundik lakinya🤣
kriwil
ga rela buat biayain wanita itu nyatanya gundik lakinya udah kenyang dari otong lakimu juga hidup hedon nya si gundik🤣
kriwil
jalang nya aja dapat kertu ulimite lah bini sah cuma seseran🙄
Aretha Shanum
di awal ya pendaftaran
Nurjannah Rajja
Iya kalau di depan pengumuman...
Diumumkan kepada khalayak bahwa akan ada seorang yg akan merasa menyesal dikemudian hari karena kesalahanya sendiri.
Demikian... ttd😁
Mommy Dza
Semangat Author 💪🔥
Mommy Dza
Semangat Arini 💪🔥🤭❤️
gina altira
makan tuh penyesalan
Mommy Dza
IM here Rin ❤️
Mommy Dza
Gak usah takut Rin 🤭
Mommy Dza
Eehh bocor ceritanya
Mommy Dza
Rembes yaahh 😩😅
Mommy Dza
Bisa yaa sekebetulan itu 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!