Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Palang Merah
Setelah sarapan selesai, Adipati berdiri lebih dulu lalu mengulurkan tangannya.
“Ayo,” katanya lembut. “Kita pulang.”
Selina menatap tangan itu sebentar, lalu menggenggamnya.
“Iya, Mas.”
Mereka keluar kamar bersama, berjalan menuju lift. Di dalam lift, Selina bersandar kecil ke lengan Adipati.
“Mas,” ucap Selina pelan. “Terima kasih ya… dari semalam sampai sekarang.”
Adipati meliriknya.
“Mas cuma lakuin apa yang seharusnya.”
Pintu lift terbuka di lobby. Mereka melangkah ke meja resepsionis.
“Permisi, Mbak,” ujar Adipati sopan. “Kami mau check-out.”
Resepsionis tersenyum profesional.
“Atas nama siapa, Pak?”
“Raden Adipati Wijaya.”
Resepsionis mengetik sebentar, lalu menyerahkan kartu.
“Baik, Pak. Ini sudah selesai. Terima kasih sudah menginap.”
“Terima kasih,” jawab Adipati.
Adipati kembali menggenggam tangan Selina dan membawanya keluar hotel menuju area parkir.
Begitu masuk mobil, Adipati langsung menoleh.
“Gimana? Perut kamu masih sakit?”
Selina mengangguk kecil.
“Masih, Mas. Tapi nggak separah tadi pagi.”
Adipati menyalakan mesin.
“Kalau gitu kita pulang ke rumah Bapak kamu dulu.”
Selina menoleh cepat.
“Ke rumah Bapak?”
“Iya,” jawab Adipati sambil mulai menjalankan mobil. “Biar kamu ada yang jagain. Mas juga harus balik sebentar ke rumah, soalnya nanti ada orang nganterin perabotan.”
Selina terdiam sejenak, lalu menunduk.
“Maaf ya, Mas… jadi ribet gara-gara aku sakit perut.”
Adipati tersenyum kecil tanpa melepas pandangan dari jalan.
“Ngapain minta maaf. Kamu lagi nggak enak badan.”
Selina memainkan ujung bajunya.
“Aku ngerasa ngerepotin kamu.”
Adipati meliriknya sekilas.
“Kamu itu istri mas. Kalau bukan sama mas, mau sama siapa lagi ngerepotinnya?”
Selina tersenyum tipis.
“Iya juga.”
Mobil melaju pelan meninggalkan area hotel. Suasana di dalam mobil terasa tenang.
Selina menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.
“Mas…”
“Iya?”
“Kalau nanti aku udah lebih siap… aku yang bilang ya.”
Adipati tersenyum.
“Mas akan senantiasa menunggu kamu.”
Selina menoleh, menatapnya dengan mata hangat.
“Terima kasih.”
Mobil terus berjalan, membawa mereka pulang—dengan perasaan yang jauh lebih ringan dari pagi tadi.
Mobil Adipati berhenti tepat di depan rumah Pak Bejo. Mesin dimatikan. Adipati menoleh ke Selina.
“Sayang,” ucapnya lembut, “maaf ya, mas nggak bisa turun. Mas harus langsung pulang.”
Selina mengangguk, membuka sabuk pengaman.
“Iya, nggak apa-apa, Mas.”
Ia membuka pintu, lalu menoleh kembali.
“Hati-hati di jalan.”
Adipati tersenyum.
“Kamu juga. Istirahat yang bener.”
Selina menutup pintu, melambaikan tangan kecil. Mobil Adipati perlahan pergi.
Selina masuk ke dalam rumah. Baru beberapa langkah, suara Arya langsung menyambut.
“Wah,” Arya menyeringai genit. “Semalam kamu check-in berdua sama Adipati, ya?”
Selina mendengus.
“Apaan sih, Kak. Jangan mikir aneh-aneh.”
Arya menyandarkan bahu ke dinding.
“Lah, emang kenapa? Kalian kan suami istri. Harusnya wajar.”
Selina melirik kesal.
“Aku lagi datang bulan.”
Arya langsung bereaksi berlebihan.
“Ya ampun!” katanya sambil menepuk dahi. “Udah jauh-jauh ke hotel malah palang merah. Kecewa pasti Adipati.”
“ARYA.” suara Pak Bejo terdengar dari ruang tengah. “Jangan gangguin adik kamu.”
Arya nyengir.
“Maaf, Pak. Soalnya kasihan aja, adek punya suami tapi kayak dianggurin.”
Bu Sri ikut menyela sambil keluar dari dapur.
“Arya, jangan ngomong sembarangan. Adek kamu lagi halangan, bukan nggak niat. Mereka itu udah malem pertama kok.”
Arya membelalak.
“Hah?! Kapan?!”
“Beberapa hari lalu,” jawab Bu Sri santai.
Selina langsung menunduk, wajahnya panas.
Astaga… batinnya panik.
Mereka mikir sejauh itu gara-gara aku nyuci sprei yang dikira kenapa-kenapa… padahal cuma mas Adipati mimpi basah.
Ia berdehem kecil.
“Ehm… aku ke kamar dulu ya. Mau istirahat.”
“Yaudah,” kata Pak Bejo. “Istirahat yang cukup.”
“Iya, Sel,” tambah Bu Sri. “Nanti ibu bikinin minum hangat.”
Selina mengangguk cepat.
“Makasih, Bu.”
Ia naik ke kamarnya, menutup pintu pelan, lalu menyandarkan punggung ke sana.
“Ya Allah,” gumamnya sambil menutup wajah. “Mereka jadi salah paham padahal aku masih gadis.”
*
*
Mobil Adipati melaju di jalan. Suasana hening sampai ponselnya berdering. Ia melirik layar, lalu mengangkat telepon dengan nada datar.
“Halo.”
“Kamu jahat, Raden!” suara Sinta terdengar tajam di seberang sana.
Adipati menghela napas pendek.
“Kenapa lagi?”
“Kamu tega bikin aku tidur sama pelayan sialan itu!” bentak Sinta. “Kamu udah gak sayang lagi sama aku! "
Adipati tersenyum tipis, dingin.
“Itu kan keinginan kamu sendiri. Aku cuma mewujudkan rencana yang kamu buat.”
“Bukan begitu!” Sinta meninggi. “Aku maunya tidur sama kamu, bukan sama dia!”
Adipati menepikan mobil sebentar, lalu berbicara lebih tegas.
“Maaf, Sinta. Pria pantang makan sisa.”
“Kamu keterlaluan!” suara Sinta bergetar. “Kamu berubah, Raden. Kamu bukan Raden yang aku kenal.”
Adipati menatap lurus ke depan.
“Iya. Aku memang sudah berubah.”
Ia menarik napas dalam sebelum melanjutkan.
“Mulai sekarang, jangan hubungi aku lagi. Cinta aku cuma untuk Selina.”
Sinta terdiam beberapa detik.
“Kamu bakal nyesel.”
“Mungkin,” jawab Adipati tenang. “Karena aku pernah jatuh cinta sama kamu, itu salah satu penyesalan terbesar ku. ”
Tanpa menunggu balasan, Adipati mematikan panggilan. Ia meletakkan ponsel di kursi samping, lalu kembali menjalankan mobil.
“Sudah cukup,” gumamnya pelan. “Aku tidak mau Sinta mengganggu rumah tangga ku dengan Selina.”
Mobil kembali melaju, meninggalkan masa lalu yang akhirnya benar-benar ia lepaskan.
Mobil Adipati berhenti di depan rumah. Ia memarkir dengan rapi, lalu turun sambil merenggangkan bahu.
“Rumah ini sepi banget,” gumamnya pelan. “Andai aku dan Selina punya banyak anak pasti ramai.”
Belum sempat ia membuka pintu rumah, ponselnya berdering. Adipati melirik layar.
“Halo.”
“Selamat siang, Pak Adipati,” suara pria terdengar di seberang. “Kami dari toko perabotan. Kami sudah di jalan, mau mengantarkan barang-barang pesanan Bapak.”
Adipati mengangguk meski lawan bicara tak melihat.
“Oh, iya. Kira-kira sampai jam berapa?”
“Sekitar lima belas menit lagi, Pak. Ini kami bawa sofa, meja makan, lemari, sama tempat tidur.”
“Baik,” jawab Adipati. “Langsung masuk aja ke halaman. Gerbangnya sudah saya buka. ”
“Siap, Pak. Nanti kami hubungi lagi kalau sudah sampai.”
“Ya. Hati-hati di jalan,” kata Adipati sebelum menutup telepon.
Ia memasukkan ponsel ke saku, menatap rumahnya yang masih terasa kosong.
“Pelan-pelan diisi,” katanya pada diri sendiri. “Biar jadi rumah beneran.”
Tak lama kemudian, suara mesin truk terdengar. Sebuah truk kecil berhenti di depan rumah. Dua orang pekerja turun.
“Permisi, Pak,” salah satu dari mereka menyapa. “Ini rumah Pak Adipati?”
“Iya,” jawab Adipati sambil membuka gerbang. “Silakan masuk.”
Pekerja itu melihat ke dalam rumah.
“Barangnya langsung kami tata, Pak?”
“Iya,” kata Adipati. “Sofa di ruang tamu. Meja makan di dekat dapur. Yang kamar utama… tolong hati-hati.”
“Siap, Pak,” jawab mereka serempak.
Sambil para pekerja mengangkat barang, Adipati berdiri memperhatikan. Sesekali ia memberi arahan.
“Yang itu agak ke kiri sedikit.”
“Mejanya jangan terlalu dekat jendela.”
“Iya, pas. Terima kasih.”
Salah satu pekerja tersenyum.
“Lengkap juga, Pak. Kayaknya rumah baru ya?”
Adipati mengangguk.
“Baru ditempati.”
“Semoga betah, Pak,” ujar pekerja itu tulus.
“Amin,” jawab Adipati pelan.
Setelah semua barang selesai diturunkan, Adipati menandatangani berkas.
“Ini sudah selesai semua, Pak.”
“Terima kasih,” kata Adipati. “Kerjanya rapi.”
Pekerja itu pamit dan kembali ke truk. Rumah kembali hening, tapi kini tak lagi kosong.
Adipati menatap sofa, meja, dan kamar yang mulai terisi. Ia menghela napas panjang, lalu mengeluarkan ponsel, membuka kontak Selina.
Sebentar lagi rumah ini bukan cuma milik mas, batinnya. Tapi tempat keluarga kecil kita dimulai.
Ia tersenyum kecil sebelum masuk ke dalam rumah.
Adipati masuk ke dalam rumah, menutup pintu perlahan. Ia berdiri sejenak di ruang tamu, memandangi sofa baru yang masih berbau kayu dan kain.