NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 Terlambat

Beberapa tahun lalu, di bukit, tepat di mana Rerindang berdiri tegak menaungi semua yang ada di bawahnya. Seorang pemuda bernama Wiryo yang kini adalah tetua desa, tengah tidur bersandar tepat pada batang Rerindang.

"Wiryo!!" Teriak seorang gadis yang berjalan mendekat dari tangga.

Wiryo tidak segera menjawab, dia hanya mengangkat topi capingnya sedikit, lalu kembali tidur. Mengacuhkannya, dan membuat gadis itu menjadi semakin jengkel.

Pikirnya, "aku sedang tidak ingin diganggu."

Namun tetap saja, setelah Siska sampai di sebelah Wiryo, ia tidak langsung bicara. Ia berdiri di sana, menatap pemuda itu yang pura‑pura tidur dengan caping menutupi wajah.

Embun sore masih menempel di ujung rambutnya, membuatnya tampak seperti baru keluar dari kabut.

Siska menghela napas panjang, lalu duduk beralaskan rumput. Ia mengambil sehelai daun kecil yang jatuh dari Rerindang, dan tanpa ragu menjentikkannya ke pipi Wiryo.

"Bangun, Wir," katanya. Suaranya lembut, tapi ada nada kesal yang terasa manis.

Wiryo mengerjapkan mata, mengangkat capingnya. "Tau dari mana, kalo aku lagi di sini?" gumamnya, setengah malas, setengah pasrah.

Siska duduk di sampingnya, menyandarkan punggung pada batang Rerindang yang besar. katanya. "Kamu tuh, kalo lagi sebel pasti ke tempat yang sama, di sini."

Wiryo tersenyum kecil, senyum yang hanya muncul ketika Siska hadir. "Habis, cuma di tempat ini yang gak berisik"

Siska menoleh cepat. "Jadi kamu pikir, aku berisik?"

Wiryo tidak menjawab. Ia hanya menutup mata lagi, tapi kali ini bukan untuk tidur untuk menyembunyikan senyum yang tidak bisa ia tahan.

Siska mendengus, lalu memukul pelan lengan Wiryo. "Kamu katanya mau bantu ibuku. Emangnya janji bisa selesai kalo kamu tidur di sini?”

Wiryo membuka mata, menatap daun‑daun Rerindang yang bergoyang pelan. "Ya, enggak selesai," katanya. "Tapi, ya gimana. Di sini nyaman banget."

Siska menatapnya lama. "Nyaman karena pohonnya, atau karena aku selalu datang?"

Wiryo terdiam. Pertanyaan itu sederhana, tapi menusuk. Ia menoleh perlahan, menatap wajah Siska yang diterangi cahaya sore yang menembus sela daun.

"Nggak tau," katanya pelan. "Mungkin keduanya."

Siska memalingkan wajah, pipinya memerah. Ia berdiri cepat, menyembunyikan gugupnya dengan nada tegas. "Ayo turun. Hari keburu gelap."

Wiryo bangkit, menepuk celananya. Tapi sebelum mereka melangkah, ia menatap batang Rerindang dan berkata lirih, seolah hanya pohon itu yang boleh mendengar.

"Kalau suatu hari aku hilang arah… aku akan tetap kembali ke sini."

Siska menoleh, tapi Wiryo sudah berjalan menuruni tangga. Ia tidak melihat bagaimana mata Siska melembut, atau bagaimana senyum kecil muncul di sudut bibirnya.

Ia hanya mendengar langkah ringan Siska menyusulnya, langkah yang kelak akan menjadi kenangan paling keras kepala dalam hidupnya.

°°°°°

Hanya saja...

Di sore yang lain, Wiryo datang lagi ke bukit. Langit tetap merah, namun kali ini senada dengan matanya yang kering dan penuh rasa kecewa.

Langkahnya cepat dan pasti, tetapi tidak lagi terasa tenang seperti biasanya.

Ada sesuatu yang patah, dari cara ia menarik napas. Pendek, terburu, seperti seseorang yang sedang mengejar sesuatu namun sudah terlanjur pergi.

Ia berhenti tepat di bawah Rerindang, menatap batang pohon itu seolah menatap wajah seseorang yang tidak lagi bisa ia temui.

"Dia pergi…" gumamnya, suaranya pecah tapi tidak keras. Seolah ia takut angin akan mengulangi kalimatnya.

Wiryo meremas capingnya, menahannya di dada. "Pergi ke kota… gak bilang apa-apa. Gak pamit..."

Ia tertawa kecil tawa yang tidak mempunyai bentuk, tidak punya arah. Hanya harus tetap keluar karena kalau tidak, ia mungkin akan menangis.

"Waktu itu, aku kira dia cuma bercanda," katanya pada dirinya sendiri.

"Aku kira… dia bakal balik naik tangga ini, teriak-teriak manggil namaku kayak biasa."

Angin sore lewat, menggoyangkan daun-daun Rerindang. Suara gesekannya terdengar seperti seseorang yang sedang mengusap punggungnya, menenangkan tanpa kata.

Wiryo menatap ke atas.

"Rerindang. Kenapa dia nggak bilang apa-apa…?!" Ia memanggil pohon itu seperti memanggil teman lama.

"Kenapa dia nggak bilang kalau dia beneran mau pergi?"

Ia menendang tanah di bawah kakinya, bukan marah pada pohon, bukan marah pada Siska.

Tapi marah pada dirinya sendiri yang gagal menangkap orang yang ia cintai.

"Aku bodoh," katanya lirih.

"Aku kira dia bakal selalu datang nyari aku. Selalu naik tangga ini. Selalu… ada." Ia mengusap wajahnya dengan kasar.

"Kenapa aku nggak bilang apa-apa waktu dia nanya: karena pohonnya atau karena aku. Kenapa aku cuma jawab: mungkin dua-duanya… Kenapa aku nggak jujur aja."

Ia menunduk, bahunya jatuh.

"Aku suka dia. Dari dulu. Dari pertama kali dia marah di sini." Ia menatap tanah, suaranya hampir hilang.

Rerindang berdiri diam, tapi bayangannya memanjang, seolah merangkul Wiryo yang sedang runtuh perlahan.

Wiryo duduk bersandar pada batang pohon itu. Tempat yang sama, posisi yang sama, tapi rasanya berbeda.

Tidak ada Siska yang datang menyusul. Tidak ada langkah ringan. Tidak ada suara kesal yang manis.

Hanya angin. Hanya sore yang memerah. Hanya Rerindang yang tetap tegak, menyimpan semua kata yang tidak sempat diucapkan.

Dan untuk pertama kalinya, Rerindang menyaksikan Wiryo menangis pelan, tertahan, seperti hujan yang malu turun.

Hening menggantung lama di antara batang Rerindang dan tubuh Wiryo yang gemetar pelan.

Angin sore mereda, seolah ikut menghela napas.

Suara serangga yang mulai muncul dari balik semak, mengisi kekosongan bukit dan Wiryo, yang ditinggalkan oleh Siska.

Wiryo mengusap matanya, tapi airnya tidak berhenti. Ia bukan menangis keras, ia menangis seperti seseorang yang tidak terbiasa untuk menangis. Orang yang tidak tahu bagaimana caranya merelakan.

"Kenapa harus pergi…" bisiknya, bukan bertanya pada siapa pun, hanya membiarkan kata-kata itu jatuh ke tanah, demi meredam kecewa.

Ia menatap kedua telapak tangannya, seolah mencari jejak Siska di sana.

Tetapi tetap tidak ada. Hanya garis-garis kulit yang terasa lebih kosong dari biasanya.

"Seengaknya, tunggu aku siap," katanya lirih.

Ia tertawa pendek, getir. Ia menunduk, memeluk lututnya.

Rerindang menjatuhkan satu daun tepat di pundaknya pelan, seperti sentuhan yang tidak ingin mengejutkan.

Wiryo menatap daun itu lama. "Aku terlambat bilang... Suka padanya."

Ia menatap jauh ke bawah bukit, ke arah desa yang mulai menyalakan lampu-lampu kecil.

Di sana, kehidupan berjalan seperti biasa tanpa perduli kalau ada satu hati yang sedang patah di atas bukit.

"Kalau dia bahagia di kota…" Wiryo berhenti, suaranya pecah. "Kalau dia menemukan orang yang lebih baik, dan menikah di sana..." suaranya semakin serak.

"…aku harusnya ikut bahagia, kan?"

Tapi ia tidak bahagia. Ia tidak bisa. Ia meraih batang Rerindang, menggenggam kulit kayunya yang kasar. Seolah mencoba terkoneksi dengan Rerindang.

"Kalau aku juga mulai bahagia, dan mungkin nanti aku juga sudah punya orang yang lebih baik,"

"Ingatkan aku, kalau aku pernah sayang sama seseorang."

Angin kembali berhembus, kali ini lebih hangat. Seolah Rerindang menjawab.

Wiryo menutup mata, membiarkan dirinya bersandar penuh pada pohon itu. Tempat yang dulu menjadi saksi tawa, dan kini menjadi tempat ia belajar menerima kehilangan.

Sore perlahan berubah menjadi malam. Dan di bawah Rerindang, seorang pemuda bernama Wiryo belajar, untuk pertama kalinya bahwa cinta tidak selalu akan kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!